#30 tag 24jam
Kisah Para Srikandi Kuliner Binaan Apical di Jakut, Bangun UMKM Beromzet Jutaan - kumparan.com
Membangun UMKM olahan ayam dan street food tidaklah mudah. Apical bersama Sudinakertransgi bergerak memberi pendampingan untuk pemilik UMKM di Jakut. Ini ceritanya. [1,112] url asal
(Kumparan.com) 18/10/24 19:32
v/16662562/
Aroma ayam goreng menyeruak dari warung ayam geprek milik Lina. Di warung Papang Oo Chicken di Cilincing, Jakarta Utara, Lina Herlina menyajikan ayam goreng, ayam bakar, sampai spicy wing yang lezat, sekaligus bisa menjadi penopang perekonomian keluarga.
Usaha ayam goreng ini dimulai masa pandemi COVID-19 pada 2021 lalu, saat konsumen usaha kuenya mulai menurun. Lina bercerita, sebelum punya Papang Oo Chicken, dirinya menerima pesanan kue dan sempat menjalankan usaha pakaian jadi.
“Aku putar otak apa yang tetap berjalan, akhirnya ya sudah ayam geprek. Memang masyarakat tuh dengan (menu) ayam itu masih antusias, ya. Cepet saji juga, enggak lama (masaknya) gitu,” kata Lina kepada kumparan, 27 Agustus lalu.
“Untuk memulainya itu takut, takut gagal. Terus coba-coba (kasih tester) ke tetangga, terus mereka responsnya baik. Ya sudah, mulai jualan di rumah. Setelah (berjalan) setahun, lah, baru saya (jualan) keluar, di (ruko pinggir) jalan,” tambahnya.
Seporsi ayam geprek dan ayam bakar dijual seharga Rp 13 ribu, sementara spicy wing seharga Rp 10 ribu dan sudah sepaket dengan nasi. Awalnya, Lina memulai usaha ini dengan modal Rp 150 ribu.
Kini, Papang Oo Chicken semakin besar dan menjangkau lebih banyak pasar. Selain datang langsung ke gerai, pelanggannya juga bisa memesan via WhatsApp. Lina mengatakan, dalam sehari ada sekitar 100 potong olahan ayam yang habis terjual. Per hari, pendapatan kotornya mencapai Rp 500-900 ribu, bahkan bisa Rp 1,5 juta.
“Semakin dikenal, lah. Kadang ada yang bertanya, ‘Papang Oo Chicken apa, sih?’ Dipikir itu nama daerah gitu. Pas dia tahu, datang, artinya olahan ayam. Alhamdulillah, awalnya saya cuma ayam geprek, ayam bakar, terus spicy wing, rencana ke depannya akan ada rice bowl, insya Allah,” ujar Lina.
Kesuksesan Lina mengelola Papang Oo Chicken tak lepas dari dukungan keluarga. Sang suami sejak awal mendukung ide Lina dan membantu pengadaan barang sehari-hari. Anak-anak Lina juga turun tangan untuk membantu di dapur warungnya.
Mereka menjadi support system terbaik kala Lina merasa lelah berjualan. Tak jarang mereka sering bergantian menjaga warung. Suka dan duka jadi dinikmati bersama.
“Kadang suka sampai–gimana hari ini kalau lagi ramai enggak? Hari ini ada pesanan gak? Kadang mereka kompak, anak-anak itu kompak. Ketika kita ada pesanan, jadi masing-masing mereka sudah mengerti, yang ini ngapain, yang ini ngapain. Alhamdulillah pokoknya,” kata Lina.
“Kalau yang namanya penjualan, tuh, lagi sepi, kayaknya berasa banget itu lelahnya. Tapi ya udah semangat harus buka, kan semua ada prosesnya. Pernah nasi termos saya, termosnya nyemplung ke got. Ya, udah, masak lagi,” tambahnya.
Papang Oo Chicken yang kini terus berkembang tak lepas dari peran Apical pengolah minyak nabati terkemuka dengan jejak global yang berkembang dan Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Sudinakertransgi) Jakarta Utara.
Hubungan baik ini sudah dibangun sejak Lina mendapat pelatihan sebelum membuka usaha kue. Lina ikut satu pelatihan yang digelar oleh Sudinakertransgi dan disponsori Apical. Menurutnya, pelatihan bersama Apical dan Sudinakertransgi membuat dirinya lebih percaya diri karena dapat ilmu soal mutu ayam terbaik hingga soal marketing produk.
“Dari sekian (UMKM) ini, aku yang dipilih. Sampai sekarang mereka tetap support. Setiap mereka ada acara lagi di Sudinaker, aku itu dipanggil. Bukan di situ aja, pernah juga pelatihannya di kantornya tentang kualitas ayam dengan pengenalan dengan Frybest (minyak goreng padat produksi Apical),” ujar Lina.
Tidak hanya itu, pada 26 September 2024 lalu, Apical juga memberikan bantuan kepada Papang Oo Chicken berupa mesin penggorengan deep fryer.
Dukungan ini merupakan komitmen Apical untuk terus mendampingi UMKM binaannya. Mesin deep fryer tidak hanya dapat membantu mempermudah proses penggorengan tapi juga lebih efisien dalam hal waktu dan lebih konsisten, sehingga dapat menghasilkan tekstur gorengan ayam yang lebih renyah.
Nah, selain Papang Oo Chicken, UMKM binaan Apical lain yang juga mendapat pelatihan adalah Rahma Street Food. Di gerai ini, Siti Rahmawati pemiliknya menjual frozen food dan kudapan siap saji lainnya.
Usaha Rahma, begitu Ia akrab disapa dimulai pada 2018 saat toko susu dan pampers miliknya mulai sepi peminat. Dia dan suami lantas beralih ke usaha makanan, yakni kebab.
“Suami saya (bilang), ‘Ya sudah kamu latihan bikin kebab. Cari kafe-kafe yang bisa ngajarin kamu kebab. Kamu cobanya tuh ke mall-mall, biar tahu gimana rasanya.’ Nah, dari situ aku udah belajar dari proses yang berbayar, proses gratis. Aku coba jual, aku implementasi ke usahanya,” kata Rahma dalam kesempatan berbeda pada Jumat, 27 Agustus lalu.
Beberapa trial dan error pun dilakukan Siti untuk mendapat formula kebab terbaik. Mulanya, dia menggunakan sayur di kebab frozen, namun ternyata hasilnya kurang baik. Dia lalu memutuskan kebab frozen hanya diisi daging untuk menjaga mutu. Menu panganan frozen dan ready to eat yang disajikan Rahma pun kian beragam.
"Ada yang dimsum frozen, ada yang dimsum ready to eat. Untuk hotang dan corndog pun aku bikin frozen sama ready to eat,” lanjutnya.
Rahma Street Food terus berkembang pesat. Promosi yang awalnya dari mulut ke mulut, kian dikenal luas lewat penjualan online.
Rahma menuturkan, usahanya melejit di masa pandemi dengan omzet mencapai Rp 1 juta per hari. Setelah pandemi mereda, Siti putar otak promosi lewat bazar-bazar.
“Kalau sekarang, frozen-nya aja itu kan aku kerjasama tiga toko frozen. Satu toko itu kurang lebih sebulan sekitar 200 boks (estimasi), ya kurang lebih omzet Rp 15-20 juta (satu bulan),” kata dia.
Melejitnya usaha frozen food milik Rahma tak lepas dari dukungan Apical bersama Sudinakertransgi yang memberikan pelatihan. Banyak hal baru yang membuat Rahma bisa mengarahkan bisnisnya jadi lebih baik.
“Di situ aku diajarkan cara bagaimana menentukan bisnis yang kita jalani dan bagaimana, sih, bisnis ini ke depannya? Lima tahun ke depan nih bisnis mau jadi apa? Terus diajarkan bagaimana cara melihat pangsa pasar produk kita dan bagaimana menghadapi kompetitor-kompetitor di pasar,” jelasnya.
“Jadi, mereka mengajarkan itu, pemasaran kita, tuh, seperti di Instagram. Jadi membantu untuk penjualan online-nya dan pelan-pelan membantu untuk penjualan offline-nya juga. Dan aku juga pernah diajak sama Apical untuk acara temu UMKM di Kementerian Koperasi. Jadi, di situ aku melihat, oh, ternyata Apical itu melindungi, enggak hanya sekali, dua kali, tapi benar-benar mendampingi.
Di Jakarta, total ada sebanyak 30 UMKM yang dibina oleh Apical. CSR Manager Apical Sugiantoro mengatakan bahwa jumlah pedagang kaki lima terus tumbuh di kawasan urban seperti Jakarta.
Pelatihan yang diberikan pada UMKM ini, kata Sugiantoro, bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Banyak pelaku usaha yang merupakan ibu-ibu, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat membantu mereka menopang ekonomi rumah tangga.
“Dimulai dari yang paling basic adalah kewirausahaan. Jadi, mereka dilatih wirausaha, bagaimana menjadi wirausaha yang tangguh, yang memahami prospek bisnisnya, mereka bisa memetakan kelemahan bisnisnya di mana kemudian 5-10 tahun ke depan mereka mau seperti apa,” kata Sugiantoro kepada kumparan.
“Setelah itu baru kita mulai dari aspek teknisnya, skill-nya. Misalnya bagaimana mereka menggoreng dengan benar, bagaimana mereka menggunakan bahan-bahan yang benar dan seterusnya,” imbuh dia.
Program SLV: Komitmen Apical Wujudkan Penghidupan Berkelanjutan Petani - kumparan.com
Apical menginisiasi program penghidupan berkelanjutan di tingkat desa dengan berkolaborasi bersama para pemangku kepentingan. [942] url asal
#program-slv #apical #petani #sustainability #desa
(Kumparan.com) 08/10/24 14:09
v/16153822/
Apical, pengolah minyak nabati terkemuka dengan jejak global yang berkembang, menaruh perhatian bagi kehidupan masyarakat desa yang lebih sejahtera. Apical menginisiasi program penghidupan berkelanjutan di tingkat desa dengan berkolaborasi bersama para pemangku kepentingan.
Program bernama Sustainable Living Villages (SLV) ini merupakan program kolaborasi dengan mitra, komunitas, dan warga desa, untuk meningkatkan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan dan memberdayakan masyarakat dengan mendorong inklusi, dan meningkatkan mata pencaharian sekaligus memastikan keberlanjutan lingkungan.
Fokus program SLV selaras dengan pilar strategis ke-1 dan ke-4 yang tertuang dalam Apical2030, yakni Kemitraan Transformatif dan Kemajuan Inklusif.
Program ini berfokus pada empat hal prioritas, yakni meningkatkan ketahanan mata pencaharian masyarakat melalui pemberdayaan, mempromosikan perlindungan dan konservasi hutan, mendorong transformasi rantai pasok, dan mendorong kolaborasi dengan pemda dan pemangku kepentingan terkait.
Saat ini, program SLV sudah diterapkan di 6 desa di Aceh Singkil dan 3 desa di Kutai Timur dengan total desa terdampak yakni 9 desa.
Di Aceh Singkil, Apical menjalankan program SLV sejak Februari 2023 dengan menggandeng Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) dan Pemda Aceh Singkil. Apical dan IDH berkomitmen untuk mendorong dampak sosial yang positif bagi masyarakat dan lingkungan, dan menandai awal dari kemitraan tiga tahun di 6 desa di wilayah ini.
Aceh Singkil dipilih karena memainkan peran penting dalam melindungi Ekosistem Leuser, 2,6 juta hektare hutan tropis dan rumah bagi spesies Sumatera seperti orang utan, badak, harimau Sumatera, dan gajah.
Selain itu di Aceh Singkil, konversi ilegal yang cepat untuk perkebunan kelapa sawit merupakan tantangan bagi keberlanjutan ekosistem penting ini. Namun, deforestasi tidak langsung membawa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan dampak turun ke penghidupan petani.
Selain upaya menjaga lingkungan, program SLV di Aceh Singkil berfokus pada peningkatan mata pencaharian alternatif masyarakat melalui budidaya madu Trigona.
Pemda Aceh Singkil pun mengapresiasi program kolaborasi Apical dan IDH ini karena diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat di tingkat desa.
“Pemerintah Aceh Singkil menyambut baik dan menghargai semua pihak, IDH, Apical, dan masyarakat yang memulai dan aktif terlibat dalam program SLV. Kami berharap bahwa Program SLV akan membantu meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi yang positif untuk semua,” jelas Sekretaris Distrik Aceh Singkil, Azmi, saat penandatanganan MoU pada Januari 2023.
Hal senada juga disampaikan oleh Head of Sustainability Apical, Chandramohan Nair. Ia optimistis program SLV dapat memenuhi kesejahteraan masyarakat di Aceh Singkil.
"Kami memahami bahwa setiap komunitas memiliki kekhawatiran yang berbeda dan bahwa program tanggung jawab sosial perusahaan tidaklah universal. Dengan SLV, kami berharap dapat mengurangi kemiskinan, meningkatkan dan memberdayakan mata pencaharian masyarakat dengan memperkuat kesenjangan pengetahuan dan pembangunan kapasitas,” kata dia.
Pada Agustus 2024, Apical, IDH, dan Muspida Aceh Singkil, merayakan pencapaian penting dengan penyerahan surat tanda daftar budidaya (STDB) ke 160 petani swadaya kelapa sawit. Selain itu, momen ini menandai panen perdana madu Trigona di Kantor Kabupaten Danau Paris, Aceh Singkil.
Panen madu Trigona merupakan langkah mendiversifikasi mata pencaharian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Para petani pun merasa terbantu dengan adanya program pelatihan yang komprehensif soal budidaya, pemanenan, hingga pemasaran madu Trigona.
Selain bertujuan meningkatkan ekonomi petani kecil dan melindungi hutan, program SLV di Aceh Singkil terus mendorong transformasi rantai pasokan dan mendukung kolaborasi lanskap melalui Perjanjian Produksi, Perlindungan, dan Inklusi (PPI).
Inisiatif ini diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan lokal dengan membangun kapasitas dan memberdayakan masyarakat melalui kemitraan dengan berbagai organisasi seperti Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Forum Konservasi Leuser (FKL).
Tak berhenti di Aceh Singkil, program SLV juga diterapkan di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Program ini diresmikan pada awal September lalu dengan menggandeng Earthworm Foundation dan Pemkab Kutai Timur untuk lima tahun di tiga desa, yakni Tepian Indah, Tepian Langsat, dan Tepian Makmur.
Daerah ini terkenal dengan keanekaragaman hayati yang kaya dan sejarah penting dalam produksi minyak sawit, yang menjadi tumpuan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Di Kutai Timur, program SLV berfokus untuk membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk praktik pertanian dan perkebunan sawit berkelanjutan, mengembangkan mata pencaharian alternatif melalui budidaya kakao, dan melindungi lanskap alam dengan menguatkan komitmen para pemangku kepentingan terhadap konservasi dan restorasi hutan.
Praktik pertanian dan perkebunan berkelanjutan akan mendukung petani dalam memperoleh Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), yang penting untuk kepatuhan hukum, akses pendanaan pemerintah, dan mencapai sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO) serta Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Selain itu, petani akan didorong untuk beralih ke pupuk alternatif berbasis non-kimia guna meningkatkan teknik pertanian mereka.
Program SLV di Kutai Timur juga mencakup pembuatan demplot pertanian kakao untuk membantu mendiversifikasi sumber pendapatan petani. Sebab Kakao, menjadi komoditas prioritas di Kutai Timur, karena terkenal dengan kualitasnya. Selain itu, program ini juga akan mendukung akses pasar bagi para petani.
CSR Manager Apical, Agus Wiastono, menjelaskan program SLV tidak hanya akan memperkuat perekonomian lokal tetapi juga menanamkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Kami sangat antusias memulai perjalanan ini bersama mitra kami untuk membawa perubahan transformatif dan berkelanjutan bagi masyarakat Kutai Timur," ujar dia saat peluncuran program SLV di Kutai Timur.
Sementara itu, Dean Affandi selaku Ketua Program Lapangan Earthworm Foundation di Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi ini dalam menjaga alam dan mendukung masyarakat melalui praktik rantai pasokan yang berkelanjutan.
Dengan dukungan Apical, Earthworm Foundation akan mendorong perencanaan penggunaan lahan partisipatif (PLUP), proses kolaboratif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk membuat rencana penggunaan lahan yang adil, layak, dan berkelanjutan.
Program ini menargetkan perlindungan 10.000 hektar lahan dan penanaman 90.000 pohon untuk konservasi dan restorasi hutan.
Pemkab Kutai Timur pun menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya kolaborasi Apical dan Earthworm Foundation ini.
"Program ini sejalan dengan visi dan misi Kutai Timur untuk meningkatkan daya saing ekonomi berbasis sektor pertanian dan merancang program yang berwawasan lingkungan. Kami berharap program ini dapat menjadi model yang bisa diterapkan di daerah lain," ungkap Kepala Bidang Perekonomian dan SDA Bappeda Kutai Timur, Ripto Widargo.
Apical Dua Kali Raih Penghargaan Sustainable Supply Chain di ESGBusiness Awards - kumparan.com
Prestasi gemilang kembali ditorehkan Apical, pengolah minyak nabati terkemuka dengan jejak global yang berkembang. [711] url asal
(Kumparan.com - News) 26/09/24 16:03
v/15589514/
Prestasi gemilang kembali ditorehkan Apical, pengolah minyak nabati terkemuka dengan jejak global yang berkembang. Untuk kedua kalinya, Apical meraih penghargaan Sustainable Supply Chain Partnership pada ESGBusiness Awards 2024 di Singapura, Selasa (24/9).
Penghargaan yang pernah diterima Apical pada 2023 ini diberikan kepada para pelaku usaha yang berkolaborasi erat dengan pemasok untuk meningkatkan kinerja sosial dan lingkungan, mempromosikan praktik pengadaan yang bertanggung jawab, meningkatkan transparansi, dan mendukung keberlanjutan jangka panjang di seluruh rantai pasok.
Strategi Apical berfokus pada kolaborasi yang erat dengan pemasok, diperkuat praktik tata kelola yang kuat, keterlibatan proaktif, kepatuhan terhadap standar peraturan, kebijakan, dan komitmen terhadap inklusivitas petani kecil.
Kerangka kerja A-SIMPLE Apical yang mematuhi kebijakan Nol Deforestasi, Nol Gambut, dan Nol Eksploitasi atau NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation) dalam industri minyak sawit memastikan implementasi kebijakan keberlanjutan yang efektif, dan mempromosikan praktik berkelanjutan di seluruh operasi dan rantai pasoknya.
Saat ini, Apical telah mencapai skor terverifikasi 93% dalam NDPE Implementation Reporting Framework (NDPE IRF) untuk kategori CPO Delivering dalam rantai pasok minyak sawit Indonesia.
Apical berkolaborasi erat dengan berbagai pemangku kepentingan untuk secara sistematis mengidentifikasi dan menerapkan komitmen keberlanjutan.
Perusahaan telah menjalin kemitraan dengan organisasi seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Palm Oil Collaboration Group (POCG), organisasi non-pemerintah, dan komunitas lokal untuk mengarahkan dampak lingkungan dan sosial yang positif di seluruh rantai pasoknya.
Selain itu, pelanggan secara aktif terlibat dalam kemajuan dan inisiatif keberlanjutan Apical, serta kepatuhannya terhadap peraturan baru seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR). Apical siap memasok minyak sawit yang sesuai EUDR kepada para pelanggan di Uni Eropa.
Apical memberdayakan petani kecil melalui dua inisiatif utama, yakni program SMallholder Inclusion for better Livelihood & Empowerment (SMILE) dan program Sustainable Living Villages(SLV).
Program SMILE meningkatkan mata pencaharian petani dengan meningkatkan produktivitas melalui praktik pertanian berkelanjutan sambil mempromosikan pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan standar minyak sawit berkelanjutan.
Hingga saat ini, Apical bekerja sama dengan Asian Agri dan KAO Corporation telah melibatkan 3.436 petani kecil independen, dengan 1.373 di antaranya mencapai sertifikasi RSPO.
Program SLV jangka panjang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan mengangkat komunitas melalui inisiatif yang ditargetkan sesuai dengan kebutuhan unik setiap komunitas. Program ini telah berjalan di sembilan desa di Aceh Singkil, Aceh, dan Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Program ini berfokus pada empat hal prioritas, yakni meningkatkan ketahanan mata pencaharian masyarakat, mempromosikan perlindungan dan konservasi hutan, mendorong transformasi rantai pasok, dan mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Saat ini, program ini sedang diimplementasikan di sembilan desa di dua lokasi tersebut.
Salah satu program dalam rangka meningkatkan ketahanan mata pencaharian masyarakat adalah program ternak lebah madu Trigona di Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil yang telah berjalan satu tahun dan dipanen pada 21 Agustus lalu.
Head of Sustainability di Apical Group, Chandramohan Nair, mengatakan, pencapaian ini menandai tonggak penting dalam perjalanan keberlanjutan perusahaan.
“Keberlanjutan selalu menjadi bagian integral dari bisnis kami dan kami mendorong transformasi lingkungan dan sosial yang positif di seluruh rantai pasok kami," jelasnya, Kamis (26/9).
"Merupakan suatu kehormatan untuk menerima penghargaan ini, yang memvalidasi kolaborasi kami dan upaya tak kenal lelah dalam memproduksi dan memperdagangkan minyak sawit berkelanjutan. Kami berharap dapat terus memajukan komitmen keberlanjutan kami dalam kemitraan dengan para pemangku kepentingan di seluruh industri," imbuhnya.
Kemenangan Apical di ESG Business Awards 2024 menyoroti komitmennya terhadap praktik minyak sawit berkelanjutan.
Pencapaian ini memperkuat visi perusahaan untuk menjadi pengolah minyak nabati berkelanjutan yang tepercaya, sejalan dengan filosofi bisnis 5C-nya, yakni memprioritaskan komunitas, negara, iklim, dan pelanggan, yang semuanya berkontribusi pada kesuksesan perusahaan.
Penghargaan Sustainable Supply Chain Partnership di ESGBusiness Awards pernah diterima Apical pada 2023. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas berbagai upaya berkelanjutan perusahaan dalam mengembangkan pemrosesan minyak nabati yang terintegrasi dan menghasilkan berbagai macam produk bernilai tambah.
Dalam bisnisnya, Apical meyakini bahwa praktik-praktik keberlanjutan merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dari keberhasilan, sehingga selalu diterapkan di seluruh kegiatan perusahaan.
Memiliki pengilangan mid-stream yang terintegrasi secara vertikal dan fasilitas pemrosesan hilir bernilai tambah, Apical memiliki peran penting dalam mendukung industri makanan, oleokimia dan energi terbarukan yang dibutuhkan banyak sektor.
Apical mengoperasikan pabrik pengilangan kelapa sawit, pabrik oleokimia, pabrik biodiesel dan fasilitas penghancur inti sawit di beberapa lokasi strategis di dunia.
Pendekatan bisnis Apical terkait manajemen rantai pasoknya didasarkan pada azas kepatuhan pada peraturan, pendekatan inklusif terhadap petani sawit dan pelibatan berbagai pemangku kepentingan.