SEOUL, investor.id – Perusahaan pertahanan, akademisi, dan lembaga penelitian Korea Selatan (Korsel) berkolaborasi untuk mengembangkan pesawat nirawak (drone) pengumpul udara yang dirancang untuk mencegat dan mengambil balon sampah yang diterbangkan Korea Utara (Korut) di udara.
Menurut pejabat dari industri pertahanan yang dikutip Jumat (11/10/2024), balon yang dikirimkan Korut mungkin membawa senjata biologis atau kimia. Dengan adanya pengembangan ini, drone akan dideteksi dan dibuang dengan aman oleh pesawat nirawak tersebut.
Setelah dikomersialkan, pesawat nirawak ini juga dapat berpatroli di langit sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah balon dari Korut.
Industri dalam negeri, lembaga akademis, dan organisasi penelitian diharapkan untuk mengajukan usulan kebijakan untuk proyek ini kepada pemerintah bulan depan, menurut laporan kantor berita Yonhap.
Dipimpin oleh Institut Penelitian Pertahanan Universitas Nasional Jeonbuk, kolaborasi tersebut di antaranya mencakup Institut Penelitian Energi Atom Korea, UAM Tech, Universitas Hanseo, Akademi Militer Korea, dan firma penelitian virus BioLT.
Kang Eun-ho, yang bertugas sebagai kepala Lembaga Penelitian Pertahanan di Universitas Nasional Jeonbuk, merupakan mantan kepala Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korsel.
"Kami berencana mengusulkan proyek tersebut kepada Komite Pertahanan Nasional Majelis Nasional bulan depan, dengan menekankan perlunya menganalisis ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh balon sampah Korea Utara dan membangun sistem respons yang cepat," tambahnya, dikutip Jumat.
Menurut Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan, Korut telah mengirim lebih dari 5.500 balon sampah ke Korsel antara Mei hingga September 2024. Balon-balon ini memicu 22 peringatan di Korsel. Beberapa dari balon udara tersebut dilengkapi dengan alat pembakar, sehingga menyebabkan kebakaran di berbagai wilayah di wilayah ibu kota.
Militer Korsel ragu-ragu mencegat balon-balon tersebut di udara karena kekhawatiran akan potensi jatuhnya bahan berbahaya. Namun, kemungkinan Korut menggunakan balon-balon ini untuk mengangkut zat-zat radioaktif atau patogen seperti kolera telah menimbulkan kekhawatiran yang terus meningkat.
Drone yang diusulkan akan mencakup dua jenis. Pertama, multi-copterdrone yang dapat terbang stabil untuk mendeteksi dan mengumpulkan balon. Kedua, drone lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) akan ditempatkan di area yang telah rusak akibat balon.
Multi-copter akan dilengkapi dengan detektor radiasi bersensitivitas tinggi, peralatan pengumpulan sampel, lengan robotik, dan perangkat penangkap seperti rudal. Setiap drone diharapkan beroperasi setidaknya selama tiga jam per serangan.
Satu drone akan ditugaskan untuk menangkap satu balon untuk memastikan pengumpulan yang efisien. Setelah ditangkap, balon akan diangkut ke fasilitas terdekat untuk analisis dan pembuangan terperinci.
Proses penelitian dan pengembangan diharapkan memakan waktu tiga tahun, dengan perkiraan anggaran tahunan sebesar 10 miliar won atau sekitar Rp 115,3 juta. Tetapi masih ada kekhawatiran tentang efektivitas solusi baru akan siap beberapa tahun kemudian, mengingat ancaman langsung yang ditimbulkan oleh balon.
Tim peneliti menjelaskan, teknologi canggih diperlukan untuk membangun pesawat nirawak yang mampu beroperasi dalam kondisi cuaca buruk dan harus mampu membawa peralatan berat. Selain itu, lokasi pengujian khusus perlu dibangun untuk uji coba.
Setelah teknologi dikomersialkan, pemerintah Korsel berencana menyebarkan pesawat nirawak sebagai garis pertahanan pertama di sepanjang perbatasan. Di samping itu, akan ada pangkalan kontrol dan pelatihan yang didirikan di lokasi-lokasi seperti area reklamasi Saemangeum.
Kang menekankan pentingnya mengamankan pendanaan cepat melalui proyek tanggap darurat nasional. Ia juga sempat menyebutkan, peralatan dan platform yang dikembangkan ini berpotensi diekspor ke negara-negara lain yang menghadapi ancaman serupa.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News