KOMPAS.com – Hari Raya Kuningan memiliki sejumlah fakta menarik yang memperkaya pemahaman tentang makna dan tradisi dalam agama Hindu.
Selain menjadi bagian dari rangkaian dengan Hari Suci Galungan, Hari Raya Kuningan memiliki makna khusus secara spiritual.
Berikut sejumlah fakta menarik Hari Raya Kuningan yang bisa disimak.
1. Memohon keselamatan
KOMPAS.com/KRISNA DIANTHA AKASSA Sameton Hindhu Dharma Bali Swiss melakukan Pujab Trisandya dalam peringatan Hari Raya Kuningan di Desa Hilfikon, Kota Aarau, Swiss, Sabtu (18/6/2022).Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Banten, Ida Bagus Alit Wiratmaja, Hari Raya Kuningan kerap disebut Tumpek Kuningan.
“Hari Raya Kuningan sering disebut Tumpek Kuningan, dan 'kuning' dalam kata Kuningan memiliki arti berwarna kuning dan terhitung masuk wuku yang ke-12,” tutur Ida Bagus kepada Kompas.com, Selasa (24/9/2024).
Sama halnya dengan Hari Suci Galungan, Hari Raya Kuningan juga memiliki maknanya sendiri.
Makna Hari Raya Kuningan atau Tumpek Kuningan adalah untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, serta perlindungan dan tuntunan lahir-bathin.
2. Berbeda dengan Hari Suci Galungan
Freepik/tawatchai07 Selamat Hari Raya Galungan 2024. Inilah kumpulan ucapan Hari Raya Galungan 2024 yang penuh makna dan nuansa kekeluargaan.Walaupun Hari Suci Galungan dan Hari Raya Kuningan masih menjadi satu rangkaian, tapi kedua hari raya ini memiliki beberapa perbedaan, salah satunya dari waktu sembahyang.
Ida Bagus menuturkan, Hari Raya Kuningan dirayakan dengan jeda 10 hari dari waktu perayaan Hari Suci Galungan, berdasarkan perhitungan kalender Bali.
“Berdasarkan kalender Saka Bali, Hari Suci Galungan jatuh tepat pada Rabu Kliwon (Wuku) Dungulan, sedangkan Hari Raya Kuningan jatuh tepat pada Sabtu Kliwon (Wuku) Kuningan," jelasnya.
3. Turun dan pulangnya para dewa dan leluhur
AFP/SONNY TUMBELAKA Warga berdoa saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.Hari Raya Kuningan diyakini sebagai waktu para dewa dan pitara (leluhur) untuk turun ke bumi, lalu kembali ke surga.
Menurut Ida Bagus, para dewa dan pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari atau sekitar pukul 12.00 siang. Pada waktu itulah para umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali, melakukan persembahyangan.
4. Diperingati setiap hari Sabtu
AFP/SONNY TUMBELAKA Warga berdoa saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.Setiap perayaannya, Hari Suci Galungan akan jatuh setiap hari Rabu. Sama halnya dengan Hari Raya Kuningan yang jatuh setiap hari Sabtu.
Tidak hanya itu, sama seperti Hari Suci Galungan, Hari Raya Kuningan juga diperingati setiap 210 hari sekali atau enam bulan sekali.