JAKARTA, KOMPAS.com -Backpacker, petualang yang membawa barang ringkas, biasanya memanfaatkan transportasi umum untuk berkelana.
Kini, muncul komunitas Bikepackers yang memanfaatkan sepeda sebagai transportasi utama untuk bertualang.
Komunitas yang digagas oleh Ilmi, Tim Activation sekaligus Project Manager Bikepackers Polygon, ini mengajak para backpackers dan pesepeda untuk bertualang bersama.
"Keuntungan bikepacker itu bisa datang ke tempat-tempat hidden gem yang sulit diakses dengan mobil atau motor," ujar Ilmi saat ditemui Kompas.com di Indofest 2024, Sabtu (6/7/2024).
Backpacker bisa dengan mudah bertualang ke jalur sempit menggunakan sepeda, lalu mengakhirinya dengan berkemah di tempat tujuan.
Keuntungan serupa juga bisa dirasakan oleh penggemar sepeda. Orang yang hobi berwisata atau olahraga dengan sepeda, bisa menjelajah rute baru dengan bikepacker.
"Pesepeda kebanyakan enggak tahu cara memasang tenda. Begitu juga sebaliknya. Orang yang suka naik gunung biasanya membawa bawaan lebih banyak, padahal kalau bersepeda, harus meringkas bawaannya biar lebih efisien," ungkap Ilmi.
Pendaki harus tahu cara membawa barang selama bertualang dengan sepeda. Hal-hal ini, kata Ilmi, diedukasi saat bergabung dalam komunitas.
Makin populer saat pandemi Covid-19
Komunitas ini pertama kali digagas saat pandemi Covid-19 pada 2021 lalu, saat makin banyak orang mengikuti pola hidup sehat. Salah satunya lewat hobi bersepeda.
"Anak-anak gunung enggak bisa naik gunung saat pandemi, akhirnya bergabung dan hadirlah komunitas ini," kata Ilmi.
PEXELS/Marek Piwnicki Ilustrasi bikepacker atau backpacker dengan sepeda.Bikepackers pertama kali hadir di Makassar dengan mengajak penggemar sepeda dan pendaki, bertualang bersama ke tempat-tempat terpencil.
Sebelum bertualang, semua peserta dibekali dasar-dasar bertahan hidup di alam sampai manajemen perjalanan menggunakan sepeda. Ilmi mengajak para anggota komunitas backpacker untuk bergabung dalam Bikepackers.
Sejauh ini, Bikepackers sudah hadir di 10 kota, meliputi Makassar, Bandung, Bogor, Bali, Tangerang, Bali, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Malang. Mereka terbilang rutin mengadakan perjalanan, setidaknya sekali dalam dua bulan.
"Awalnya, kami itu acara besar, lama-lama menginisiasi komunitas ini. Rutenya kami bantu carikan dan akhirnya menjadi gerakan baru di dunia petualangan," tutur Alda, Brand Marketing Polygon Bikes.
Menurut Ilmi, tak mudah menemukan wadah pencinta sepeda dan bertualang di Indonesia.
"Banyak orang yang keliling Indonesia, keliling dunia pakai sepeda, tetapi belum ada komunitasnya," ujar Ilmi.
Peminatnya pun kian bertambah seiring didirikan tiga tahun lalu sampai saat ini, terlihat dari makin banyaknya kota dan anggota komunitas yang bergabung.
Kompas.com/Krisda Tiofani Sepeda gravel Rodalink untuk dua medan atau rute, cocok untuk bikepacking."Teman-teman yang bosan gowes, balap sepeda, atau naik sepeda gunung, banyak bergabung dalam komunitas ini karena menjadi alternatif," tambah Ilmi.
Sepeda wajib yang dimiliki oleh anggota komunitas adalah sepeda gravel dan sepeda gunung.
Bagi pemula, bisa memakai sepeda elektronik atau e-bike untuk memudahkan perjalanan pertamanya.
Petualangan berdurasa dua hari satu malam ini biasanya menjelajah rute sejauh 40 kilometer dengan berbagai aktivitas.
"Kami buat kegiatan, akhirnya ramai dan banyak yang datang untuk mencoba. Paling penting, kami selalu menjaga keamanan (safety)," kata Ilmi.
Bila tertarik mengikuti komunitas Bikepackers, kamu bisa datang dan bertanya ke Rodalink di kota-kota setempat.