JAKARTA, investor.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN membeberkan tantangan yang dihadapi perseroan sepanjang semester I-2024. Bahkan, tantangan ini telah membikin laba bersih PGAS hanya mencapai US$ 65 juta, turun jika dibanding laba bersih pada kuartal I-2024 sebesar US$ 121 juta.
Direktur Utama PGAS Arief S. Handoko mengungkapkan tantangan paling utama yang dihadapi PGN pada paruh pertama 2024 adalah terjadinya ketidakseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) yang pada gilirannya berdampak pada kinerja operasional perusahaan.
“Ini terjadi karena adanya penurunan pasokan dari sumber utama kami yaitu Blok Medco Corridor,” ucap Arief dalam paparan publik, Selasa (17/9/2024).
Dia melanjutkan, menurunnya pasokan dari Blok Medco Corridor garapan Medco E&P Grissik Ltd. tersebut inline dengan alokasi Kementerian ESDM yang ingin mulai mengurangi aliran gas dari Blok Medco pada 2024 dari semula 410 BBtud, menjadi 129 BBtud sampai 2028.
Walau demikian, Arief menegaskan, penurunan atau pengurangan pasokan tersebut hanya terjadi pada blok tertentu atau bersifat daerah. Sebab, suplai gas nasional secara umum masih mencukupi bahkan surplus.
Tak mengherankan jika emiten bersandi saham PGAS itu kemudian mengubah suplai gas yang surplus itu menjadi liquified natural gas/LNG alias gas alam cair untuk selanjutnya diekspor.
“Jadi, saya garis bawahi bukan berarti gas di Indonesia ini kurang secara keseluruhan. Hanya area tertentu saja,” tegas Arief.
Namun pada saat bersamaan, PGAS telah menyiapkan sederet strategi untuk mengatasi kekurangan pasokan gas khususnya dari Blok Medco Corridor. Di antaranya, dengan memperpanjang kontrak pasokan gas pipa eksisting dan kontrak pasokan gas baru.
“Kami tahu ada Petrochina Jabung. Kemudian, di area Natuna ada Conrad West Natuna dan di Sumatra ada Jetstone dan Medco South Sumatra,” bebernya.
Strategi selanjutnya, PGAS juga memanfaatkan kontrak pasokan gas dari wilayah Jawa bagian Timur untuk disalurkan ke wilayah Jawa bagian Barat dengan menggunakan pipa transmisi Cirebon Semarang PC2 yang sedang dibangun dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2025 atau awal 2026.
Pasokan LNG berikutnya, kata Arief, akan disiapkan dari LNG Bontang, kemudian Tangguh, termasuk Donggi Senoro LNG. “Kami juga sudah mengantisipasi opsi untuk impor LNG apabila defisit tersebut tidak bisa dipenuhi dari LNG plant yang ada di Indonesia,” tutur Arief.
Direktur Keuangan PGAS Fadjar Harianto Widodo menambahkan, menurunnya laba bersih PGAS pada kuartal II-2024 dibanding kuartal sebelumnya tidak lepas dari tergerusnya pendapatan PGN dari segmen distribusi.
Pasalnya, terjadi dinamika supply dan demand pada kuartal II-2024. Dinamika itu misalnya, kondisi pasokan yang mengalami undersupply di wilayah Sumatra dan Jawa Barat akibat terjadinya natural decline dari Medco Grissik.
“Di satu sisi demand di kuartal II-2024 menurun akibat adanya hari raya dan libur lainnya sehingga pada April-Mei 2024 permintaannya menurun. Di sisi lain, penurunan labah bersih pada kuartal II-2024 juga akibat kenaikan beban umum administrasi terutama adanya cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang Kalimantan Jawa Gas terhadap Petronas Carigali Muriah Ltd. (PCML),” tandas Fadjar.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News