#30 tag 24jam
B-1B: Pesawat Pengebom AS yang Dipamerkan di Korea
B-1B Lancer adalah pesawat pengebom strategis AS dengan kapasitas muatan 34 ton, Terlibat dalam latihan bersama dengan Korsel dan Jepang dan memperingat Korut [660] url asal
#pesawat-pengebom-as #pesawat-pengebom #amerika-serikat #korea-utara #korea-selatan #jepang
(MedCom - Internasional) 05/11/24 12:11
v/17503539/
Jakarta: Pada tanggal 3 November 2024, pesawat pengebom strategis B-1B Lancer milik Amerika Serikat ikut serta dalam latihan udara bersama dengan Korea Selatan dan Jepang.Latihan ini dilaksanakan di Semenanjung Korea sebagai respons atas uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) terbaru yang dilakukan oleh Korea Utara.
Latihan tersebut memperkuat komitmen aliansi militer antara AS, Korea Selatan, dan Jepang dalam menghadapi ancaman nuklir dan rudal dari Korea Utara.
Spesifikasi Teknis B-1B Lancer
.jpg)
Gambar: B-1B Dilihat dari Depan. (Domain Publik)
B-1B Lancer adalah pesawat pengebom strategis dengan panjang 44,5 meter, lebar sayap 41,8 meter, dan tinggi 10,4 meter.
Berat kosong pesawat ini adalah 87.100 kg, dengan berat maksimum saat lepas landas mencapai 216.400 kg. Pesawat ini ditenagai oleh empat mesin General Electric F101-GE-102 turbofan, masing-masing memberikan daya dorong sebesar 30.000 pon.
B-1B dapat mencapai kecepatan maksimum lebih dari 1.300 km/jam (Mach 1.25) dan memiliki jangkauan operasional hingga 12.000 km tanpa pengisian bahan bakar di udara.
Pesawat ini dirancang untuk terbang di ketinggian rendah dengan kecepatan tinggi untuk menghindari deteksi radar, menjadikannya sangat sulit dijangkau oleh sistem pertahanan udara musuh.
Selain itu, kemampuan untuk melakukan pengisian bahan bakar di udara memungkinkan misi jarak jauh yang lebih lama.
Kemampuan Persenjataan B-1B
B-1B Lancer memiliki kapasitas muatan hingga 34 ton persenjataan dan dilengkapi dengan tiga ruang senjata internal serta enam cantelan eksternal, yang memungkinkannya membawa berbagai jenis senjata.Senjata yang dapat dibawa meliputi bom berpemandu presisi, rudal jelajah, bom cluster, dan bom konvensional.
Untuk serangan presisi, B-1B dapat membawa Joint Direct Attack Munition (JDAM), yang meningkatkan akurasi serangan dalam segala kondisi cuaca.

Gambar: Rudal AGM-158 JASSM. (Dok. Angkatan Udara AS)
Selain itu, B-1B dapat membawa rudal AGM-158 JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile), rudal jelajah jarak jauh dengan jangkauan hingga 370 km, yang efektif untuk menghancurkan target bernilai tinggi dari jarak aman.
Pesawat ini juga dapat membawa bom cluster CBU-87 Combined Effects Munition, yang dirancang untuk menghancurkan target luas dan menciptakan berbagai jenis efek ledakan.

Gambar: B1-B Menjatuhkan Bom Mk-82. (Jaglavaksoldier/Youtube)
Bom konvensional seperti Mk-82 dan Mk-84 juga digunakan oleh B-1B untuk serangan langsung pada target strategis dan taktis.
B-1B juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik yang canggih untuk melindungi diri dari ancaman rudal dan deteksi radar musuh.
Sistem ini mencakup perangkat jamming, flare, dan chaff, yang membantu mengacaukan radar musuh dan menghindari rudal yang masuk, sehingga meningkatkan kemampuan bertahan dalam situasi pertempuran intens.
Kemampuan Operasional dan Modernisasi

Gambar: B-1B Dilihat dari Belakang. (Oletjens)
B-1B Lancer dirancang untuk melaksanakan misi pengeboman strategis dan taktis. Kemampuan operasionalnya yang fleksibel memungkinkan pesawat ini beradaptasi dengan berbagai jenis misi, termasuk serangan jarak jauh, dukungan udara jarak dekat, dan misi penindasan pertahanan udara musuh.
Pesawat ini sering kali digunakan untuk menunjukkan kekuatan udara AS di kawasan yang penuh ketegangan.
Modernisasi B-1B mencakup peningkatan sistem avionik, termasuk radar Synthetic Aperture Radar (SAR) untuk deteksi dan penargetan yang lebih baik.
Sistem komunikasi digital baru memungkinkan koneksi real-time dengan jaringan militer, meningkatkan efektivitas misi.
Modernisasi lainnya termasuk integrasi senjata pintar terbaru seperti JASSM dan peningkatan sistem peperangan elektronik untuk menghadapi ancaman modern.
B-1B juga telah dilengkapi dengan sistem penanggulangan rudal inframerah dan perangkat perang elektronik yang lebih canggih.
Program peningkatan ini memastikan B-1B tetap relevan dan efektif dalam lingkungan tempur yang terus berubah.
Kehadiran B-1B dalam latihan bersama dengan Korea Selatan dan Jepang pada November 2024 adalah respons tegas terhadap uji coba rudal balistik Korea Utara.
Dengan peningkatan teknologi dan modernisasi yang terus dilakukan, B-1B Lancer tetap menjadi bagian penting dari strategi pertahanan udara Amerika Serikat, siap menghadapi tantangan di seluruh dunia, termasuk kawasan penuh konflik seperti Asia Timur, Timur Tengah, dan Eropa Timur.
Baca Juga:
B-52: Pesawat Pengebom Nuklir AS untuk Melindungi Israel Lawan Iran
B-2 Spirit: Pesawat Siluman AS yang Bom Houthi di Yaman
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WAN)
B-52: Pesawat Pengebom Nuklir AS untuk Melindungi Israel Lawan Iran
B-52 Stratofortress dapat membawa 32.000 kg senjata, termasuk bom konvensional, rudal jelajah, dan senjata nuklir, menjadikannya pesawat pembom yang ditakuti [719] url asal
#pesawat-pengebom-as #pesawat-pengebom #amerika-serikat #israel #iran
(MedCom - Internasional) 04/11/24 11:20
v/17455468/
Jakarta: Boeing B-52 Stratofortress adalah pesawat pembom berat jarak jauh yang telah menjadi andalan Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) sejak tahun 1955.Pesawat ini dirancang sebagai pembom strategis dengan kemampuan untuk membawa berbagai jenis senjata, termasuk senjata konvensional dan nuklir, dengan daya jangkau yang luar biasa.
Pesawat ini telah tiba di Israel pada 3 November 2024 sebagai antisipasi AS dalam melindungi Israel dari serangan balasan Iran yang telah dijanjikan atas serangan Israel pada 26 Oktober 2024, berikut informasi tentang B-52.
Spesifikasi Teknis B-52
B-52 Stratofortress memiliki panjang sekitar 48,5 meter dan lebar sayap 56,4 meter, dengan tinggi sekitar 12,4 meter. Berat kosong pesawat ini adalah 83.250 kg, dan berat maksimum saat lepas landas dapat mencapai 219.600 kg..jpg)
Gambar: Mesin Turbofan B-52. (Landmark9254)
Pesawat ini ditenagai oleh delapan mesin Pratt & Whitney TF33-P-3/103 turbofan, masing-masing menghasilkan daya dorong sebesar 17.000 pon.
B-52 dapat mencapai kecepatan maksimum sekitar 1.000 km/jam dan memiliki jangkauan tempur hingga 14.200 km tanpa pengisian bahan bakar di udara.
Kemampuan untuk terbang di ketinggian lebih dari 15.000 meter menjadikannya sulit dijangkau oleh sistem pertahanan udara musuh.
Selain itu, pesawat ini juga memiliki kemampuan untuk melakukan pengisian bahan bakar di udara, yang memungkinkan misi jarak jauh yang lebih lama.
Kemampuan Persenjataan B-52
B-52 memiliki kapasitas muatan hingga 32.000 kg dan dapat membawa berbagai jenis senjata, termasuk bom konvensional, bom berpemandu presisi, rudal jelajah, dan senjata nuklir.Pesawat ini mampu membawa hingga 20 AGM-86 ALCM (Air Launched Cruise Missile), yang memiliki jangkauan lebih dari 2.400 km, memungkinkan serangan dari jarak aman.

Gambar: Bom Mk-84. (Dok. Angkatan Laut AS)
Untuk bom konvensional, B-52 dapat membawa bom Mk-82 dan Mk-84, serta bom berpemandu JDAM (Joint Direct Attack Munition) yang memungkinkan serangan presisi.
JDAM meningkatkan akurasi serangan, bahkan dalam kondisi cuaca buruk. Selain itu, B-52 dapat membawa bom cluster CBU-87 dan bom pembakar untuk menghancurkan target luas atau target keras.
B-52 juga dapat membawa rudal anti-kapal AGM-84 Harpoon untuk misi maritime strike, dengan jangkauan sekitar 125 km.

Gambar: Bom Nuklir B83. (Dok. Angkatan Udara AS)
Dalam misi nuklir, B-52 dapat membawa hingga delapan bom gravitasi nuklir B61 atau B83 yang memiliki opsi hulu ledak yang dapat disesuaikan.
B-52 dilengkapi sistem peperangan elektronik canggih, termasuk pengacak radar, flare, dan chaff untuk mengacaukan rudal musuh. Perangkat jamming onboard juga membantu mengganggu sistem komunikasi dan radar musuh, memberikan perlindungan tambahan selama misi.
Kemampuan Operasional dan Modernisasi
Selama lebih dari enam dekade, B-52 telah digunakan dalam berbagai operasi militer, seperti Perang Vietnam, Perang Teluk, operasi di Afghanistan, dan kampanye melawan ISIS di Timur Tengah.Pesawat ini dikenal karena kemampuannya melakukan serangan berkelanjutan dan dukungan udara dalam operasi tempur besar.
Kemampuan operasional B-52 yang fleksibel memungkinkan adaptasi untuk berbagai misi, termasuk pemboman strategis, dukungan udara jarak dekat, dan penindasan pertahanan udara musuh.
Pesawat ini dapat membawa senjata dengan konfigurasi yang disesuaikan, memungkinkan pelaksanaan misi dari pemboman besar-besaran hingga serangan presisi.
Modernisasi B-52 mencakup peningkatan sistem avionik dengan radar AESA untuk deteksi dan penargetan yang lebih baik.
Sistem komunikasi digital yang baru memungkinkan koneksi langsung dengan jaringan komunikasi militer untuk efektivitas misi yang lebih tinggi.
Modernisasi lainnya mencakup integrasi senjata pintar terbaru seperti JDAM dan LRSO, serta penggantian mesin untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan memperpanjang usia operasional.
Teknologi countermeasure modern, seperti sistem penanggulangan rudal inframerah dan perangkat perang elektronik, juga ditambahkan untuk menjaga relevansi pesawat ini di lingkungan tempur modern.
Peran Strategis B-52
B-52 adalah simbol kekuatan udara Amerika Serikat dan berfungsi sebagai elemen kunci dalam strategi pertahanan nuklir AS.Pesawat ini memiliki kemampuan untuk membawa dan meluncurkan rudal jelajah nuklir, yang memberikan opsi serangan balasan yang efektif dalam situasi krisis.
Fleksibilitas dan daya jangkau yang tinggi menjadikan B-52 sebagai pilihan utama untuk misi penyerangan strategis jarak jauh.
Selain perannya sebagai deterrent nuklir, B-52 juga sering digunakan dalam misi-misi konvensional. Kemampuan membawa berbagai jenis senjata dan sistem pertahanan membuat B-52 tetap menjadi salah satu pesawat pembom yang paling ditakuti di dunia.
Demikian informasinya, semoga bermanfaat.
Baca Juga:
B-2 Spirit: Pesawat Siluman AS yang Bom Houthi di Yaman
THAAD: Sistem Antirudal AS untuk Melindungi Israel dari Iran
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(SUR)
Pesawat Pengebom B-2 AS Gempur Fasilitas Penyimpanan Senjata Houthi
Pesawat pengebom siluman B-2 AS menyerang tempat penyimpanan senjata yang terkait dengan pemberontak Houthi di Yaman. [303] url asal
#pesawat-as #pesawat-pengebom-as #gudang-senjata-houthi #pesawat-pengebom-as #houthi-yaman
(Bisnis.Com) 17/10/24 15:01
v/16602811/
Bisnis.com, JAKARTA - Pesawat pengebom siluman B-2 Amerika Serikat menyerang tempat penyimpanan senjata yang terkait dengan pemberontak Houthi di Yaman.
Aksi tersebut merupakan upaya terbaru untuk AS menumpulkan serangan kelompok dukungan Iran yang telah mengguncang pelayaran komersial di Laut Merah.
Mengutip Bloomberg pada Kamis (17/10/2024) Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin mengatakan, serangan tersebut menghantam lima fasilitas bawah tanah yang diperkeras. Dia mengatakan penggunaan pesawat pengebom B-2 dimaksudkan untuk menyampaikan pesan.
“Ini adalah demonstrasi unik dari kemampuan Amerika Serikat untuk menargetkan fasilitas-fasilitas yang berusaha dijauhkan oleh musuh-musuh kita, tidak peduli seberapa dalam terkubur di bawah tanah, dikeraskan, atau dibentengi,” kata Austin.
Adapun, pesawat B-2 terbang menuju sasarannya dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri. Ini menandai pertama kalinya sejak Januari 2017 pembom siluman berbentuk sayap itu melakukan misi tempur.
Saat itu, dua pesawat B-2 terbang dalam misi pulang pergi selama 30 jam untuk mengebom kamp pelatihan ISIS di Libya.
Setiap B-2 mampu membawa sebanyak 20 ton bom, termasuk 80 amunisi berpemandu GPS seberat 500 pon.
Komando Pusat AS mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa bunker tersebut berisi “misil, komponen senjata dan amunisi lainnya yang digunakan untuk menargetkan kapal militer dan sipil di seluruh wilayah.”
Komando Pusat menambahkan bahwa personel Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS ambil bagian dalam operasi tersebut dan sejauh ini tidak ada indikasi adanya korban sipil.
AS dan Israel telah berulang kali menyerang kelompok Houthi, yang mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden setelah Israel memulai kampanyenya melawan militan Hamas di Jalur Gaza setelah serangan 7 Oktober.
Namun meski banyak serangan terhadap kelompok tersebut, sekutu sejauh ini tidak mampu menghentikan serangannya. Dalam penilaian bulan Juni, pejabat intelijen Amerika mengatakan serangan Houthi terhadap kapal komersial di Laut Merah menyebabkan penurunan 90% pengiriman kontainer melalui wilayah tersebut antara bulan Desember dan Februari.
Pelapor PBB: Amerika Danai Genosida!
Bom buatan Amerika dipakai dalam serangan ke Masjid al-Tabi'in. [1,020] url asal
#bom-as-di-gaza #israel-pakai-bom-as #amerika-danai-genosida #amerika-bantu-israel #dana-as-ke-israel #genosida-di-gaza
(Republika - News) 13/08/24 07:06
v/14344445/
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK– Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, mengecam terus dikucurkannya dana dari pemerintah Amerika Serikat untuk militer Israel. Hal ini menurutnya, membuat AS terlibat mendanai genosida yang tengah dilakukan Israel di Jalur Gaza.
Menurutnya, “pendanaan AS untuk genosida Israel” “meningkat” karena tentara Israel “menggunakan bom yang semakin mematikan.” Komentarnya muncul setelah pembantaian terbaru yang dilakukan Israel terhadap keluarga pengungsi yang berlindung di Sekolah Tabi’in dan masjid di dalamnya di Kota Gaza pada Sabtu. Pemboman itu menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai beberapa lainnya.
“Bom yang digunakan kemarin dalam pembantaian #AlTabinSchool mengiris tubuh hingga tidak dapat dikenali lagi,” tulis Albanese pada X. “Mereka sekarang diidentifikasi berdasarkan beratnya: 70 kg tas = 1 orang dewasa,” ia menambahkan.
CNN mengkonfirmasi bahwa bom berdiameter kecil GBU-39 digunakan dalam serangan itu, mengutip mantan teknisi penjinak bom Angkatan Darat AS.
Sebelumnya, Direktur Jenderal kantor media pemerintah Gaza, Ismail Al-Thawabta, mengatakan bahwa militer Israel mengebom masjid di sekolah tersebut, yang menampung para pengungsi, dengan tiga rudal, masing-masing berisi 900 kilogram bahan peledak. Ledakan itu mengenai 250 jamaah shalat subuh dan membuat syahid sekitar 100 diantaranya.
Koresponden Aljazirah di Gaza, Anas al-Sharif, menggambarkan kejadian itu sebagai bencana besar. Jenazah para syuhada terbakar dan berserakan di area shalat dan halaman sekolah akibat kekuatan pemboman.
Bersamaan dengan pemboman itu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan bahwa Gedung Putih akan memberi Israel 3,5 miliar dolar AS pada Israel untuk membeli senjata dan peralatan militer Amerika. Mengutip beberapa pejabat, CNN pertama kali melaporkan bahwa dana tersebut berasal dari rancangan undang-undang pendanaan tambahan untuk Israel senilai 14,1 miliar dolar AS yang disahkan Kongres AS pada bulan April.
Ironisnya, laporan soal aliran dana Israel itu di tengah pernyataan Wakil Presiden AS Kamal Haris, kandidat presiden pada pemilu tahun ini, yang mendesak gencatan senjata. “Sekali lagi, terlalu banyak warga sipil yang terbunuh. Maksud saya, Israel punya hak untuk memburu teroris Hamas. Namun seperti yang telah saya katakan berkali-kali, saya yakin mereka juga mempunyai tanggung jawab penting untuk menghindari jatuhnya korban sipil,” kata Harris, kemarin.
Rudal-rudal AS berulang kali terbukti digunakan Israel untuk melakukan pembantaian massal di Gaza. Pada Mei 2024, militer Israel menggunakan bom buatan AS dalam serangan udara mematikan di kompleks sekolah PBB di Gaza. Hal ini menurut pejabat dan mantan pejabat pertahanan AS yang menganalisis gambar sisa-sisa bom yang didokumentasikan oleh NPR di lokasi tersebut.
Amunisi yang digunakan adalah bom berdiameter kecil GBU-39, menurut seorang pejabat Pentagon dan mantan pejabat Angkatan Udara AS Ini adalah jenis bom yang sama, menurut The New York Times, yang digunakan Israel dalam serangan udara bulan lalu yang menewaskan puluhan warga sipil yang mengungsi di sebuah kamp tenda di Nuseirat, kota Rafah di Gaza selatan.
Pada 15 Juli 2024, setidaknya 22 warga Palestina syahid dan 100 lainnya luka-luka dalam serangan di sebuah sekolah yang dikelola PBB di Gaza tengah yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi para pengungsi. Para saksi mata mengatakan kepada BBC Arab bahwa tidak ada pejuang bersenjata di sana dan anak-anak termasuk di antara korban. Bom GBU-39 kembali terbukti digunakan dalam serangan itu.
Sebelumnya, pada 13 Juli 2014 serangan udara Israel terhadap kamp al-Mawasi di Gaza selatan telah menewaskan sedikitnya 90 orang dan melukai 300 lainnya. Serangan pada hari Sabtu di “zona aman” yang ditetapkan Israel, terletak di sebelah barat Khan Younis di Gaza selatan, melibatkan jet tempur dan drone, menurut para saksi. Serpihan rudal AS GBU-39 kembali ditemukan di lokasi penyerangan.
Pada 9 Juli 2024, IDF mengebom sekolah Al-Awda di Abasan al-Kabira dekat kota Khan Younis, di Jalur Gaza, Palestina. Gedung yang dikelola UNRWA yang telah diubah menjadi tempat penampungan pengungsi, menampung pengungsi dari invasi Israel.
Setidaknya 31 warga Palestina syahid dalam serangan itu sementara lebih dari 53 orang terluka; sebagian besar korbannya adalah wanita dan anak-anak. Banyak dari korban adalah pengungsi dari Rafah setelah serangan Israel di Rafah.
Serangan tersebut merupakan serangan keempat terhadap sekolah Palestina yang dilakukan oleh IDF selama empat hari sebelumnya. Pakar senjata mengidentifikasi pecahan serangan itu sebagai bom GBU-39 seberat 250 pon.
Serangan Israel ke masjid dan sekolah Al-Tabi’in pada Sabtu lalu juga disebut menggunakan rudal buatan Amerika Serikat. Seratus jamaah shalat subuh syahid dalam serangan brutal tersebut.
Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat telah membuat pernyataan yang jarang dalam mengutuk AS pada serangan itu.
Juru bicara presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, mendesak AS – sekutu diplomatik dan pemasok senjata terpenting Israel – untuk “mengakhiri dukungan buta yang mengarah pada pembunuhan ribuan warga sipil tak berdosa, termasuk anak-anak, wanita, dan orang-orang yang tidak bersalah dan orang tua”.
Beberapa kelompok hak asasi manusia dan mantan pejabat Departemen Luar Negeri telah mendesak pemerintahan Biden untuk menunda pengiriman senjata ke Israel, dengan alasan pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia.
Dua belas mantan pejabat AS, termasuk mantan pejabat Departemen Luar Negeri Josh Paul, Annelle Sheline, Stacy Gilbert dan Hala Rharrit, mengatakan dalam sebuah pernyataan bulan lalu bahwa “kedok diplomatik Amerika, dan aliran senjata yang terus menerus ke Israel telah memastikan keterlibatan kami yang tidak dapat disangkal dalam pembunuhan tersebut. dan kelaparan yang memaksa penduduk Palestina yang terkepung di Gaza.”
Awal bulan ini, sekelompok 38 pakar hak asasi manusia independen meminta negara-negara anggota PBB untuk memberlakukan embargo senjata dan menargetkan sanksi terhadap Israel menyusul keputusan penting Mahkamah Internasional (ICJ) baru-baru ini.
Para ahli menyerukan embargo senjata, diakhirinya semua iklan komersial yang dapat merugikan Palestina, dan menargetkan sanksi, termasuk pembekuan aset, terhadap individu dan entitas Israel yang terlibat dalam pendudukan ilegal, segregasi rasial, dan kebijakan apartheid.
Pada Juni, kelompok yang terdiri dari 30 ahli, termasuk beberapa Pelapor Khusus PBB, menegaskan kembali tuntutan mereka untuk segera menghentikan pengiriman senjata dan amunisi ke Israel.
“Sejalan dengan seruan baru-baru ini dari Dewan Hak Asasi Manusia dan para ahli independen PBB kepada negara-negara untuk menghentikan penjualan, transfer, dan pengalihan senjata, amunisi, dan peralatan militer lainnya ke Israel, produsen senjata memasok Israel,” kata para ahli tersebut.
Sebuah laporan yang telah lama ditunggu-tunggu pada bulan Mei mengatakan “menilai secara masuk akal” bahwa Israel menggunakan senjata buatan AS dengan cara yang tidak sejalan dengan hukum kemanusiaan internasional, Anadolu melaporkan.
Laporan: Bom Buatan AS Dipakai Israel untuk Mengebom Sekolah di Gaza
Lebih dari 30 orang dilaporkan terbunuh dalam serangan yang dilancarkan Israel itu. [438] url asal
#israel-bom-sekolah #israel-bom-pengungsi #pengungsi-palestina #palestina #bom-as #bom-amerika
(Republika - News) 12/07/24 13:36
v/10526279/
REPUBLIKA.CO.ID, JALUR GAZA -- Rezim Zionis menggunakan amunisi yang dipasok Amerika Serikat untuk mengebom sekolah yang dikelola PBB di Kota Khan Yunis di Gaza selatan baru-baru ini. Demikian menurut pemberitaan CNN pada Rabu malam berdasarkan penyelidikannya.
Menurut Aljazirah, lebih dari 30 orang terbunuh dan puluhan orang lainnya terluka dalam pengeboman di sekolah yang menjadi pengungsian bagi warga Palestina pada Selasa.
CNN sebelumnya telah mengulas sejumlah video yang terkait dengan pengboman sekolah lainnya di kamp Nuseirat di Jalur Gaza. Berdasarkan hal itu, pihaknya melaporkan bahwa serangan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan amunisi buatan AS.
Lebih dari 40 warga Palestina terbunuh dalam serangan terhadap sekolah milik Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) pada 6 Juni.
Menurut IRNA, rezim Zionis juga melakukan kejahatan serupa yakni menyerang sekolah al-Awda yang berada di timur Khan Yunis dan menyebabkan lebih dari 30 orang tewas.
Warga Palestina yang mengungsi dari wilayah lain di Gaza selama lebih dari sembilan bulan serangan Israel berlangsung, berlindung di sekolah tersebut.
Kelompok perjuangan Palestina, Hamas, menggambarkan serangan mematikan itu sebagai puncak genosida rezim Zionis di wilayah yang dikepung tersebut.
Hamas menyatakan bahwa rezim Zionis masih melakukan perang, genosida dan pembunuhan, tanpa menghiraukan akibat dari kejahatan tersebut.
Rumah sakit
Sementara itu Dua rumah sakit akan melanjutkan operasinya di Kota Gaza pada Kamis setelah terpaksa berhenti beroperasi akibat serangan Israel dan adanya perintah evakuasi.
“Rumah Sakit Baptis Al-Ahli dan Rumah Sakit Bantuan Umum akan melanjutkan layanannya pada hari Kamis,” kata kantor layanan media dalam sebuah pernyataan, Kamis.
Kedua fasilitas kesehatan tersebut sebelumnya terpaksa menghentikan layanan pada Selasa (9/7) menyusul perintah evakuasi dari otoritas Israel untuk penduduk Kota Gaza.
Tentara Israel juga melancarkan serangkaian serangan udara di sekitar kedua rumah sakit tersebut, sehingga mustahil bagi mereka untuk memberikan layanan medis kepada pasien.
Pasukan Israel juga dilaporkan dengan sengaja dan sistematis menargetkan rumah sakit di Jalur Gaza sebagai bagian dari serangan mematikan yang sedang berlangsung di daerah kantong tersebut.
Mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, Israel telah menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang terus berlanjut di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Lebih dari 38.300 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, serta hampir 88.300 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.
Sembilan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza telah hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan daerah tersebut.
Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang keputusan terbarunya memerintahkan Israel untuk segera menghentikan operasi militernya di kota selatan Rafah, tempat di mana lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum negara itu diserbu pada 6 Mei.