Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 0,15 persen (month-to-month/mtm) pada Oktober 2024 yang di antaranya dipengaruhi oleh ... [356] url asal
Surabaya (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 0,15 persen (month-to-month/mtm) pada Oktober 2024 yang di antaranya dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan unggas serta harga emas.
“Ini (realisasi inflasi Jatim) sedikit lebih tinggi dibandingkan nasional (sebesar 0,08 persen),” kata Kepala BPS Jawa Timur Zulkipli dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.
Zulkipli menjelaskan pada Oktober terjadi kenaikan harga pakan unggas di sebagian wilayah Jawa Timur sehingga mendorong produsen untuk menaikkan harga jual produk hasil peternakan khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras.
Selain pakan unggas, pada bulan itu juga terjadi kenaikan pada harga emas dunia yang pada akhirnya mempengaruhi harga emas di Indonesia seperti emas Antam yang berada di kisaran Rp1,5 juta per gram.
Dengan terjadinya inflasi pada Oktober maka inflasi tahun kalender Oktober 2024 terhadap Desember 2023 sebesar 0,81 persen (year-to-date/ytd) dan inflasi tahun ke tahun (yoy) Oktober 2024 terhadap Oktober 2024 sebesar 1,66 persen.
“Ini masih pada kisaran aman yang ditetapkan pemerintah,” ujar Zulkipli.
Ia melanjutkan, seluruh 11 kabupaten/kota pun mengalami inflasi dengan yang tertinggi adalah Sumenep yaitu sebesar 0,36 persen sedangkan yang terendah adalah Gresik sebesar 0,07 persen.
Untuk daerah lain yaitu Bojonegoro mengalami inflasi 0,22 persen, Madiun 0,2 persen, Tulungagung 0,25 persen, Kediri 0,16 persen, Malang 0,2 persen, Jember 0,14 persen, Probolinggo 0,2 persen, Banyuwangi 0,26 persen, dan Surabaya 0,11 persen.
Zulkipli menuturkan apabila dilihat berdasarkan kelompok pengejaran, kelompok penyumbang inflasi tertinggi adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,41 persen (mtm) dengan andil pada inflasi Oktober 0,12 persen sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 1,12 persen (mtm) dengan andil 0,07 persen.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang menjadi penahan inflasi Oktober adalah kelompok transportasi karena mengalami deflasi hingga 0,7 persen (mtm).
Zulkipli mengatakan kelompok transportasi mengalami deflasi karena PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM non subsidi yang berlaku mulai Oktober 2024.
Inflasi Jawa Timur mencapai 1,73% y-on-y pada September 2024, dipicu kenaikan harga komoditas seperti beras. Inflasi tertinggi di Sumenep, terendah di Kediri. [407] url asal
Provinsi Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 1,73% secara year to year (y-on-y) pada September 2024. Hal ini masih dipicu oleh kenaikan berbagai harga komoditas, termasuk harga beras.
Kepala BPS Jatim Dr Ir Zulkipli mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas pada September 2024 secara umum menunjukkan kenaikan.
Sebagaimana pengamatan BPS dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang terjadi di 11 kabupaten/kota.
"Terjadi inflasi y-on-y sebesar 1,73 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,40 pada September 2023 menjadi 106,21 pada September 2024," ujar Zulkipli dalam keterangan resminya, Rabu (3/10/2024).
Indeks kelompok pengeluaran yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y kali ini antara lain kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang 2,33 persen dari total IHK.
Beberapa komoditas yang mendominasi penyumbang inflasi antara lain beras sebesar 0,24 persen; Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,09 persen; kopi bubuk dan gula pasir masing-masing 0,06 persen; dan minyak goreng sebesar 0,05 persen.
Sementara itu jika ditinjau dari cakupan kabupaten/kota, inflasi tertinggi masih terjadi di Kabupaten Sumenep dan inflasi terendah yakni di Kota Kediri.
"Inflasi tertinggi sebesar 2,45 persen terjadi di Sumenep dengan IHK sebesar 108,58 dan inflasi terendah terjadi di Kota Kediri sebesar 0,88 persen dengan IHK sebesar 105,37," ujar Zulkipli.
Kendati demikian, inflasi year-on-year pada September 2024 ini mengalami penurunan jika dibandingkan periode sebelumnya. Seperti pada Agustus 2024 yang inflasinya sebesar 2,05% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 106,34.
Juli 2024 terjadi inflasi year on year di Jatim sebesar 2,13 persen. Beras dan cabai rawit menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar [520] url asal
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan pada Juli 2024 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,41 di Provinsi Jawa Timur. Beras dan cabai rawit menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar.
"Inflasi y-on-y ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya indeks kelompok pengeluaran," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur Zulkipli dalam keterangan tertulis yang dilihat detikJatim, Sabtu (3/8/2024).
Ada beberapa kelompok dan komoditas yang menjadi andil inflasi di Jatim pada periode ini. Komoditas tersebut salah satunya cabai rawit.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y pada Juli 2024, antara lain beras, emas perhiasan, cabai rawit, SKM, gula pasir, mobil, akademi atau perguruan tinggi, sekolah dasar, nasi dengan lauk, jagung manis, SKT, sepeda motor, kopi bubuk, daun bawang, kentang, tahu mentah, ikan mujair, tempe, SPM, dan bensin," ujar Zulkipli.
Adapun rincian dari komoditas yang dominan memberikan sumbangan pada inflasi y-on-y, yakni beras 0,58 persen, cabai rawit 0,11 persen, sigaret kretek mesin (SKM) 0,08 persen, gula pasir sebesar 0,07 persen, jagung manis dan sigaret kretek tangan (SKT) masing-masing 0,04 persen.
Kemudian kopi bubuk, bawang daun, kentang, tahu mentah, dan ikan mujair masing-masing 0,03 persen, sigaret putih mesin (SPM), minyak goreng, pisang, daging sapi, cabai merah, dan kue basah masing-masing 0,02 persen, serta susu cair kemasan dan anggur masing-masing 0,01 persen.
Selain komoditas yang menjadi andil, Zulkipli juga merinci kelompok-kelompok yang menjadi penyumbang inflasi, di antaranya kelompok makanan, minuman dan tembakau 3,62 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,62 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,45 persen.
Selanjutnya ada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,95 persen, kelompok kesehatan 1,96 persen, kelompok transportasi 1,38 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 1,19 persen. Kemudian kelompok pendidikan 1,97 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,94 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 5,57 persen.
BPS mengungkapkan, dari 38 kabupaten/kota Jawa Timur, Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 3,45 persen dengan IHK sebesar 108,80. Sementara inflasi terendah terjadi di Kota Kediri sebesar 1,53 persen dengan IHK sebesar 105,66.