#30 tag 24jam
Mitratel (MTEL) Beberkan Cara Kerja FTS Haps Aalto, untuk IoT hingga Keamanan
Mitratel menyampaikan bahwa Haps Aalto merupakan sebuah pesawat nirawak yang dapat mengangkut berbagai inovasi teknologi [736] url asal
#mitratel #mtel #bts-terbang #fts #teknologi-bts-terbang-mitratel #mitratel-mtel-beberkan-cara-kerja-fts-haps-aalto #bukan-bts-terbang
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/08/24 06:40
v/13471669/
Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menjelaskan bahwa pesawat nirawak bertenaga surya milik Aalto tidak sama dengan base transceiver station (BTS) Terbang. Teknologi Zephyr High Altitude Platform Station (Zephyr HAPS) lebih cocok disebut Flying Tower System (FTS), yang dapat membantu sensor Internet of Things (IoT) hingga Keamanan.
Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno mengatakan bahwa teknologi ini kemungkinan bukan tentang menempatkan BTS di atas pesawat.
BTS milik operator seluler tetap dapat diletakan di bawah sementara Haps hanya mengangkut antena serta perangkat-perangkat untuk memantulkan sinyal internet yang ditembakan dari bawah.
“Sehingga kami mengambil terminologi FTS,” kata Agus, Senin (5/7/2024).
Agus mengatakan bahwa saat ini teknologi jaringan non-terrestrial terbagi atas beberapa teknologi mulai dari satelit GEO yang berada di ketinggian 36.000 kilometer di atas permukaan bumi, Medium Earth Orbit (MEO) di ketinggian 2.000-36.000 Km, LEO pada ketinggian 500-2.000 Km, dan Haps di ketinggian 20-50 kilometer.
Agus menjelaskan makin rendah ketinggian terbang suatu teknologi maka kemampuan dalam mengantarkan bandwidth atau internet ke suatu titik akan makin bagus dan latensi makin kecil.
“Jadi kalau Haps bisa masuk maka akan banyak kasus pemanfaatan (use case) yang bisa dilahirkan,” kata Agus.
Mitratel mencoba melakukan sejumlah eksplorasi mengenai manfaat teknologi ini ke depan. Alhasil, perusahaan menemukan bahwa FTS Aalto dapat dipakai tidak hanya untuk konektivitas internet bergerak (seluler) saja, juga untuk kebutuhan lain.
Sebagai contoh, teknologi ini dapat membantu pemerintah dalam melakukan pengawasan dan keamanan, jaringan untuk sensor-sensor IoT yang berada di daerah rural, melahirkan kota cerdas, dan lain sebagainya.
Dengan berada pada ketinggian tertentu dan terbang dalam waktu lama, Haps dapa memantau pergerakan obyek yang berada di bawahnya dengan daya tangkap gambar (foto) yang lebih tajam dibandingkan dengan satelit. Alhasil, pemerintah dapat mengetahui obyek masuk dan keluar dari teknologi ini.
“Penggunanya dari segmen ritel, enterprise, pemerintahan hingga operator telekomunikasi,” kata Agus.
Agus menuturkan solusi ini cocok untuk daerah rural dan pedalaman yang selama ini membutuhkan ongkos besar untuk menghadirkan jaringan internet di wilayah tersebut.

Haps Aalto akan memangkas ongkos operator dalam menggelar serat optik ke daerah rural.
Selain menawarkan beragam solusi baru, Haps Aalto juga berpeluang membuka lebih banyak lapangan kerja karena teknologi ini membutuhkan beberapa dukungan seperti pusat kontrol, landasan pacu hingga bengkel.
“Kebutuhan komunikasi data di tengah laut dan lain sebagainya juga saat ini LEO, GEO dan lain sebagainya, dengan Haps seharusnya menjadi lebih baik karena lebih rendah,” kata Agus.
Haps Aalto vs LEO
Tidak jauh berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, kedua wahana ini sama-sama terbang di stratosfer atau lapisan bumi di bawah atmosfer.
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, karena mereka terbang lebih tinggi, Namun Haps Aalto tidak kalah luas. Agus menyebutkan bahwa 1 Haps memiliki cakupan hingga 200 kilometer.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS) karena pesawat ini tidak butuh roket untuk meluncur ke langit..
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.
Kerja sama Haps Japan Corporation dengan Airbus menargetkan komersialisasi Haps pada 2026 secara global.
BTS Terbang Haps Airbus Aman Bagi Penerbangan RI?
Mitratel dan Airbus perlu memastikan HAPS BTS Terbang yang sedang dikembangkan aman bagi penerbangan Indonesia. Keduanya meneken MoU untuk komersialisasi Haps. [609] url asal
#bts-terbang #mitratel #penerbangan #airbus #bts-terbang-mitratel #bts-terbang-haps-airbus-mtel-bakal-aman-bagi-penerbangan-ri
(Bisnis.Com - Teknologi) 02/08/24 13:54
v/13002033/
Bisnis.com, JAKARTA - Pakar keamanan sibe meminta pemerintah memastikan bahwa Haps Zephyr yang dikembangkan oleh Airbus nantinya tidak mengganggu keamanan penerbangan Indonesia.
Haps Zephyr akan terbang pada ketinggian 60.000 kaki atau 20 kilometer di atas permukaan bumi. Jauh lebih rendah dari Starlink yang terbang di ketinggian 500 kilometer. Ketinggian terbang Haps mendekati ketinggian terbang pesawat yang sekitar 30.000 - 40.000kaki.
Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja mengatakan konsep dari HAPS Aalto milik Airbus saat ini masih perlu dibuktikan. Meski Aalto mengeklaim berada di ketinggian 60.000 kaki dan aman dari penerbangan, perlu dibuktikan keamanan perangkat tersebut di Indonesia.
Tidak hanya itu, lanjutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas, tentunya akan menggunakan Haps dalam jumlah banyak, yang membuat wilayah udara Indonesia dikelilingi banyak Haps.
“Belum terbukti. Selain itu, badan penerbangan internasional di bawah PBB (ICAO) juga pernah menyampaikan bahwa objek terbang yang tidak terdeteksi, yang terbang di angkasa [kecuali satelit], itu susah,” kata Ardi kepada Bisnis, Jumat (2/8/2024).
Ardi juga khawatir bahwa bahan karbon fiber yang terdapat di Haps sulit dilacak oleh radar pesawat. Hal ini membuat Haps berpotensi menjadi objek yang tidak terlacak, seperti yang dikhawatirkan International Civil Aviation Organization (ICAO).
“Beberapa negara di Eropa dan Australia belum menyetujui,” kata Ardi.
Sepakat, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi meyakini bahwa Haps memiliki potensi yang besar untuk mendorong pemerataan jaringan internet di Indonesia. Haps juga dapat menggantikan BTS yang selama ini sulit untuk dihadirkan di daerah pedalaman yang terjal.
Hanya saja, Heru berpendapat, potensi tersebut belum terlihat, nampak dari negara-negara global yang hingga saat ini juga masih mengembangkan teknologi BTS terbang tersebut.
“Kita belum tahu secara real apakah ini nanti bisa menggantikan BTS? berapa banyak? keandalannya bagaimana? dimana? semua pertanyaan itu akan bisa terjawab kalau sudah trial termasuk apakah operator akan mengadopsi teknologi tersebut atau tidak?” kata Heru.
Sementara itu, Dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Ian Josef Matheus Edward mengatakan bahwa BTS terbang dapat menjadi alternatif dalam memberikan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau atau daerah rural.
Namun, untuk mengimplementasikan teknologi ini pemerintah dan Mitratel perlu melakukan uji coba terlebih dahulu dan memastikan bahwa frekuensi Haps tidak mengganggu pemain eksisting.
“Frekuensi yang digunakan sudah diperoleh dan diujicobakan tanpa mengganggu yang ada,” kata Ian kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).
Ian menambahkan meski demikian dengan posisi Haps yang lebih rendah dibandingkan Starlink, maka redaman latensi akan makin kecil sehingga waktu respons perangkat akan lebih baik dibandingkan dengan internet berbasis Starlink.
Sebelumnya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, menjalin nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr yang merupakan Flyng Tower System (FTS) atau biasa disebut BTS Terbang, menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Pesawat nirawak ini mampu terbang di ketinggian 18-20 kilometer, yang kemudian memberikan layanan internet dengan latensi lebih rendah.
Dalam laman resminya, Aalto mengeklaim latensi Zephyr 5-10 milidetik jauh lebih rendah dibandingkan dengan Starlink yang berkisar 50 milidetik ke atas.
Aalto juga menyebut Haps dapat menjadi solusi konektivitas 4G dan 5G di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, dikutip Kamis (1/8/2024).