REPUBLIKA.CO.ID, Gemerlap keindahan dan kenikmatan di dunia hanya secuil dari kekuasaan Allah SWT. Demi menjadikan seorang Muslim memiliki keberlimpahan rezeki yang berlimpah, tentu tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.
Ada beberapa hal yang yang membuat seorang Muslim dapat dikejar atau dijemput langsung oleh rezeki yang berkah. Faktor-faktor berikut ini bisa membuat rezeki datang sendiri menjemput seorang hamba yang istiqamah dalam keimanan dan ketakwaan serta dalam menjalankan amal ibadah.
Pertama ialah memiliki keimanan yang tinggi kepada Allah SWT. Senantiasa bertauhid kepada Allah SWT dalam setiap waktu kehidupannya, dan juga meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Allah SWT berfirman:
"...Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS At Thalaq ayat 2-3)
Kedua, yaitu memelihara sholat dan memerintahkan anggota keluarga untuk juga menjaga sholat mereka. Allah SWT berfirman:
"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Taha ayat 132)
Banyak memohon ampunan..
Ketiga, yakni banyak memohon ampunan kepada Allah SWT. Terus-menerus meminta ampunan kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad memberikan pesan tentang khasiat beristighfar. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda:
"Siapa yang membiasakan diri memohon ampunan (beristighfar), niscaya Allah SWT memberi jalan keluar untuknya atas semua kesulitan, kelapangan atas semua keresahan, dan memberi rezeki-Nya dari tempat yang tidak diduga-duga." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dalam Al Musnad, At Thabrani dalam Al Mu'jam Al Awsath, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro, dan selainnya)
Keempat, bertawakal kepada Allah SWT atas segala urusan dan keadaan yang sedang dialami. Dala hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA, dikatakan sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Abu Tamim Al Jaisyani, dia mendengar Umar RA berkata bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, yang pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang." (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Ahmad)
Kelima, ialah menjaga ikatan tali silaturahmi. Poin kelima ini sering kali diabaikan karena mungkin terlalu sibuk bekerja. Namun, penekanan untuk menjaga silaturahmi bisa dilakukan melalui media apapun. Bisa dengan menelpon bertanya kabar, atau hal mudah lainnya.
Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang ingin dilapangkan rizekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan tali kekerabatan." (HR. Bukhari)
REPUBLIKA.CO.ID, Meski sudah dijamin oleh Allah SWT, setiap orang mempunyai kadar rezeki masing-masing. Satu sama lain, ada yang kadar rezekinya melimpah adapula yang sedikit. Namun itu semua sudah sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Apa hikmah dibalik perbedaan kadar rezeki?
Irwan Kurniawan dalam bukunya Mengetuk Pintu Rezeki mengatakan masing-masing orang mempunyai kemampuan berbeda-beda. Kesempatan orang menjadi produktif pun tak sama. Demikian pula dengan peluang mendapat pekerjaan yang berbeda.
Irwan mengatakan sesungguhnya Allah SWT memberikan rezeki dan kehidupan yang lapang kepada sekelompok orang bukan semata-mata karena pantas mendapatkannya. Sebaliknya, Allah memberikan rezeki yang sempit kepada sekelompok orang tertentu bukan karena kekurangannya saja.
Menurut Irwan, Allah memberikan takaran perbedaan tersebut untuk menguji karunia-Nya yang diberikan kepada mereka dan kekayaan yang dianugerahkan kepada mereka. Dengan begitu, dapat dilihat bagaimana mereka dapat bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
Irwan menambahkan, dengan takaran rezeki yang berbeda, Allah akan melihat apakah manusia mengkufuri nikmat Allah. Allah menguji manusia dengan kesempitan yang diberikan oleh Allah Swt. Apakah mereka bisa menerima dan sabar atas kesempitan yang didapatkan. Sebaliknya, mereka tidak menerima dengan kesempitan hidup dan rezeki yang dirasakannya.
Ujian dalam kesempitan hidup..
Allah lewat firman-Nya dalam Surah al-Anbiya' ayat 35 telah menunjukkan tentang ujian lewat kesempitan hidup. Ayat tersebut berbunyi:
Kullu nafsin żā'iqatul-maut(i), wa nablūkum bisy-syarri wal-khairi fitnah(tan), wa ilainā turja‘ūn(a).
Artinya: "Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan."
Irwan menambahkan hikmah dibalik perbedaan takaran rezeki adalah menciptakan keseimbangan dalam kehidupan dan menumpas kecenderungan-kecenderungan untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Namun sejatinya Allah telah mengukur setiap takaran rezeki yang diberikan kepada manusia.
Surah asy-Syura ayat 27 telah menyebutkan bagaimana Allah memberikan takaran rezeki. Ayat tersebut berbunyi:
Wa lau basaṭallāhur rizqa li‘ibādihī labagau fil-arḍi wa lākiy yunazzilu biqadarim mā yasyā'(u), innahū bi‘ibādihī khabīrum baṣīr(un).
Artinya: "Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran (tertentu). Sesungguhnya Dia Maha Teliti lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya."
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Kemurahan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya hendak dipahami oleh setiap Muslim. Allah Ta'ala mengatur segala aspek kehidupan, termasuk rezeki, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna.
Meskipun manusia memiliki tanggung jawab untuk bekerja dan berusaha, namun pada akhirnya rezeki datang atas kehendak dan kebaikan Allah SWT. Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan manusia untuk bersyukur atas rezeki yang diberikan-Nya serta menjalankan kewajiban berbagi kepada sesama sebagai tanda terima kasih atas nikmat yang telah diberikan.
Dalam Surat Hud ayat 6, Allah SWT berfirman, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."
Riwayat hadits juga menjelaskan soal kepastian rezeki bagi setiap hamba. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sungguh ruh qudus (Jibril) telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai telah sempurna rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara menjemput rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya." (HR. Abu Nu'aim, tercantum dalam Shahih Al Jami')
Meski rezeki manusia sudah pasti terjamin, ada beberapa hal yang dinilai bisa mencegah atau mempersempit turunnya rezeki kepada seorang hamba. Alquran dan hadits telah memberi pesan terkait perbuatan yang bisa mencegah rezeki turun. Berikut penjelasannya.
1. Tidak Berdoa dengan Sungguh-sungguh
Suatu hari Nabi Muhammad SAW memasuki masjid dan menemukan Abu Umamah sendirian dan tampak cemas dan tertekan. Dia mengatakan kepada Rasul, "Kecemasan dan utang membebani aku." Lalu Nabi SAW mengajarkan kepadanya tentang doa agar dijauhkan berbagai hal yang buruk.
Nabi SAW memintanya untuk mengucapkan doa berikut ini di saat mau tidur dan selepas bangun tidur:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan dari ketakutan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari penindasan." (HR. Abu Daud)
2. Memutus Ikatan Silaturahim
Putusnya ikatan silaturahim, dalam hal ini ikatan kekerabatan keluarga, juga menjadi salah satu penyebab yang mencegah rezeki turun. Seperti sulit mencari nafkah dan sulit dalam berwirausaha. Karena itu, faktor ini perlu direnungi oleh setiap Muslim yang sedang dirundung kesulitan.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Siapa yang ingin dilapangkan pintu rizeki untuknya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturrahim." (HR. Bukhari)
3. Kikir
Ketika seorang Muslim selalu gelisah dalam hidup, maka tidak menutup kemungkinan ini karena dia bersikap kikir atas apa yang dimilikinya. Padahal Alquran telah mengabadikan janji Allah SWT bagi para hamba yang menafkahkan hartanya di jalan kebaikan.
Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba' ayat 39)
4. Malas
Tawakal kepada Allah SWT bukan berarti malas berusaha. Seorang Muslim tidak bisa mendapatkan rezeki dengan sikap malas dan enggan berusaha. Siapa yang berusaha maka ia akan mendapatkannya. Siapa yang menabur maka ia akan menuainya.
"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al Mulk ayat 15)
Ulama Yusuf Al Qaradhawi menjelaskan, siapa yang berjalan di bumi dengan penuh kerendahan hati maka ia memperoleh rezeki dari apa yang telah Allah berikan kepadanya. Adapun siapa yang lalai atau malas maka dia sepantasnya tidak mendapatkan rezeki, kecuali ia mengambil hak orang lain. Karena itu, Islam menyerukan untuk berjuang dan bekerja, dan memberi peringatan terhadap sikap malas dan menganggur.
5. Beribadah Tanpa Keikhlasan
Mungkin ada sebagian Muslim yang tampak selalu beribadah tapi menyertakan hatinya. Menghadirkan qolbu dalam setiap ibadah termasuk kunci mendatangkan kemudahan. Rezeki terhalang datang ketika seorang Muslim tidak menghadirkan hati pada setiap amal ibadah yang dilakukan.
Dalam riwayat Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Allah berfirman, 'Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan (batin). Aku akan hilangkan kemiskinanmu. Jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan masuki hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menghilangkan kemiskinanmu.'" (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi menjadi waktu berharga bagi umat Islam untuk memulai aktivitas. Banyak keberkahan dan terbukanya pintu rejeki yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya pada pagi hari. Maka dari itu salah satu ibadah disunahkan adalah mengerjakan sholat sunah isyroq dan sholat sunah Dhuha.
Imam Al Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan bahwa setelah sholat Subuh hingga matahari terbit dilarang bagi seorang Muslim melakukan sholat sunah. Namun demikian ketika telah terbit matahari setinggi galah yakni setelah matahari terbit dan telah naik satu tombak (tujuh hasta atau 2,5 meter) sebagaimana awal waktu shalat Dhuha maka dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunah dua rakaat yakni sholat isyroq.
فإذا طلعت الشمس ، وارتفعت قيد رمح فصل ركعتين وذلك عند زوال وقت الكراهة للصلاة ، فإنها مكروهة من بعد فريضة الصبح إلى ارتفاع الشمس.
Ketika telah keluar matahari dan telah tinggi kira-kira setinggi galah maka sholatlah dua rakaat (sholat isyroq), dan itu dilakukan ketika setelah hilang waktu larangan sholat. Maka sholat sunah itu dilarang sejak setelah sholat fardhu subuh sampai setinggi galah.
Lalu setelah memasuki waktu Dhuha, maka disunahkan untuk melakukan sholat sunah Dhuha baik sebanyak empat rakaat, enam rakaat ataupun delapan rakaat. Di mana pelaksanaannya dikerjakan dua rakaat dua rakaat.
فإذا أضحى النهار ، ومضى منه قريب من ربعه. فصل صلاة الضحى (أربعا) أو (ستا) أو (ثماني) مثنى ، مثنى ، فقد نقلت هذه الأعداد كلها عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، والصلاة خير كلها ، فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل .
Ketika telah masuk Dhuha waktu siang, telah lewat dari waktu siang hampir seperempatnya maka sholat dhuha lah empat rakaat, atau enam rakaat, atau delapan rakaat. Caranya dua rakaat, dua rakaat. Maka sudah diriwayatkan semuanya dari Rasulullah SAW. Sholat sunah itu baik semuanya, maka barangsiapa orang yang mengharap maka perbanyak sholat sunah dan siapa yang ingin menyedikitkan maka sedikitlah.