JAKARTA, investor.id– Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lagi 28,03 poin (0,37%) ke level 7.606,6 pada penutupan perdagangan Selasa (29/10/2024). IHSG hari ini jebol lima hari beruntun karena pasar menantikan lanjutan stimulus China. Tapi, deretan saham ini justru naik tajam, salah satunya BUVA.
Sebanyak 249 saham terpantau naik, 305 saham turun, dan 232 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 10,78 triliun. Volume perdagangan sebanyak 28,74 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1.288.679 kali.
Lima sektor saham anjlok pada penutupan pasar hari ini. Pelemahan terdalam terjadi di sektor energi 0,9%. Diikuti pelemahan di sektor perindustrian 0,9%, sektor keuangan 0,7%, sektor barang baku 0,4%, dan sektor transportasi 0,2%.
Sedangkan penguatan terjadi di sektor infrastruktur 1%, sektor teknologi 0,9%, sektor barang konsumsi primer 0,6%, sektor kesehatan 0,4%, dan sektor properti 0,3%.
Sementara itu, saat IHSG hari ini kembali terpuruk, indeks saham Asia bervariasi. Shanghai (China) anjlok 1% dan Straits Times (Singapura) turun 0,1%. Sedangkan Hang Seng (Hong Kong) menguat 0,4% dan Nikkei (Jepang) melesat 0,7%.
Saat IHSG hari ini ditutup melemah lima hari berturut-turut, deretan saham ini justru naik tajam dan masuk top gainers. Sebab, melonjak hingga 23%.
SahamTop Gainers
Deretan saham tersebut adalah PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) melonjak 23,2% menjadi Rp 69, PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI) melesat 20,5% menjadi Rp 123, dan PT Lenox Pasifik Investama Tbk (LPPS) melejit 18,6% menjadi Rp 102.
Diikuti saham PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) naik 18% menjadi Rp 157 dan PT Green Power Group Tbk (LABA) meningkat 13,5% menjadi Rp 468.
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan IHSG dan indeks saham Asia kompak memerah karena pasar tengah menantikan langkah lanjutan stimulus dari China pada pertemuan mendatang.
Pilarmas menjelaskan, badan legislatif tertinggi China dikabarkan akan melakukan pertemuan pada 4-8 November 2024. Pasar berharap akan ada langkah signifikan untuk menangani potensi masalah utang dan kebijakan fiskal.
“Pasar memandang pertemuan tersebut sebagai peningkat harapan bahwa tantangan ekonomi yang lebih besar akan diatasi,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Selasa.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News