Carolina Marin tak ingin jadi turis dan hanya melihat Menara Eiffel di Paris. Namun, ambisinya membawa pulang medali harus berakhir dengan tangis. Halaman all [827] url asal
KOMPAS.com - Carolina Marin tak ingin jadi turis dan hanya melihat Menara Eiffel di Paris. Namun, ambisinya membawa pulang medali harus berakhir dengan tangis.
"Betapa kejamnya takdir. Tidak adil, sangat tidak adil," demikian bunyi kalimat pertama dalam sebuah artikel soal Carolina Marin di media Spanyol, Marca.
Carolina Marin harus menutup perjuangannya di Olimpiade Paris 2024 dengan penuh air mata. Pebulu tangkis asal Huelva, Spanyol, itu terhenti bukan karena kalah bertanding.
Cedera lutut memaksa Marin untuk mundur pada laga semifinal tunggal putri Olimpiade Paris 2024 melawan wakil China, He Bing Jiao, Minggu (4/8/2024) di Arena Porte de la Chapelle.
Padahal, Marin berada di atas angin dan seperti di ambang pintu ke final Olimpiade 2024.
Pada set pertama laga melawan He Bing Jiao, Marin menang 21-14. Ia lalu jatuh terjungkal kala papan skor menunjukkan angka 10-6, masih untuk keunggulannya.
Marin mulai merasakan masalah pada lutut kanannya. Naluri pejuang sebagai atlet mendorong Marin untuk tak menyerah.
Ia melanjutkan pertandingan. Namun, lutut kanan Marin hanya bisa menopangnya sampai dua poin berikut. Pada kedudukan 10-8, peraih emas Olimpiade Rio 2016 itu ambruk.
Marin kemudian coba ditenangkan oleh sang pelatih yang telah membinanya sedari kecil, Fernando Rivas.
"Dia menatap saya dan berkata "Ini hancur". Itu adalah perasaan yang dia tahu, dan jika dia mengatakannya kepada saya, maka itu benar," ucap Fernando Rivas dilansir dari situs BWF.
Ambisi Marin untuk membawa pulang medali Olimpiade Paris 2024 pun harus pupus.
"Saya tidak datang ke Paris untuk melihat Menara Eiffel. Saya berada di sini untuk memenangi medali," ucapnya kepada El Pais jelang laga semifinal bulu tangkis Olimpiade 2024.
Marin mengalami cedera serupa dengan apa yang dialaminya pada 2019 silam.
Selepas menjadi peraih medali emas bulu tangkis tunggal putri Olimpiade Rio 2016, Marin memang dua kali didera cedera lutut pada kedua kakinya.
Setelah mengalami cedera lutut kanan pada 2019, Marin lantas harus mengucap selamat tinggal kepada Olimpiade Tokyo 2020 karena masalah lutut kiri.
Cedera lutut kiri dialami Marin hanya dua bulan jelang Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar pada 2021 karena pandemi Covid-19.
Karena riwayat itu, partisipasi di Olimpiade Paris 2024 punya makna yang luar biasa bagi Marin.
Ia bangkit dari dua cedera lutut parah dan bisa menyuguhkan performa kelas tinggi lagi. Serangkaian rehabilitasi dijalani Marin untuk mampu kembali tampil prima.
Marin berlatih untuk melawan trauma dan rasa sakit.
"Jika tidak bergerak, Anda menciptakan lingkaran setan kelemahan yang justru bertentangan dengan apa yang kita cari, yaitu ketahanan," kata pelatih fisik Marin, Guillermo Sanchez, di El Pais.
"Jika tetap diam, ambang rasa sakit meningkat, fobia untuk bergerak meningkat, dan struktur tubuh melemah. Jika Anda berhasil melampaui ambang rasa sakit, kemungkinan untuk mengabaikan perhatian pada area yang sakit meningkat."
"Alarm rasa sakit berkurang. Meskipun informasi sensorik masuk, otak tidak harus mengubahnya menjadi rangsangan yang menyakitkan," demikian pola latihan dan metode berpikir yang diberikan Guillermo Sanchez kepada Marin.
Kerja keras Marin terlihat membuahkan hasil manis di Olimpiade 2024. Ia memuncaki Grup L untuk melangkah ke 16 besar.
Pada babak gugur, Marin lantas menyingkirkan Beiwen Zhang (Amerika Serikat/16 besar) dan Aya Ohori (Jepang/perempat final).
Sampai pada akhirnya cedera lutut mengakhiri kisah "comeback" alias kebangkitan epik Marin pada partai semifinal melawan He Bing Jiao.
Air mata membasahi wajah Marin kala ia memutuskan retired dan melambaikan salam kepada publik Arena Porte de la Chapelle.
Ketika berada di titik terlemah itu, Marin tetap menunjukkan karakter sebagai pejuang. Ia tetap bertahan semampu mungkin dengan kedua kakinya, kendati tersedia kursi roda.
Marin pun mendapatkan penghormatan dari penonton yang memadati Arena Porte de la Chapelle.
Penghormatan berupa raihan medali perunggu dirasa Federasi Bulu Tangkis Spanyol (FESBA) juga perlu diberikan kepada Marin. Diario As menyebut FESBA mengajukan permohonan kepada IOC alias Komite Olimpiade.
Lantaran cedera, Marin memang tidak akan bisa mentas dalam laga perebutan perunggu bulu tangkis tunggal putri Olimpade 2024 melawan andalan Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung.
Namun, Diario As kembali melaporkan bahwa permohonan FESBA untuk turut memberikan medali perunggu kepada Marin, tak disambut oleh IOC.
Dalam sebuah kolom di El Pais, jurnalis Spanyol, Manuel Jabois, menulis bahwa Marin telah memenangi lebih dari sekadar medali Olimpiade Paris 2024.
"Marin tidak pantas mendapatkan perunggu, podium hiburan, atau sirkus populis seperti itu. Jangan menodai legenda bulu tangkis dengan memberinya penghargaan pura-pura. Dia jauh lebih dari itu," tulis Manuel Jabois di El Pais.
Ya, Marin mengajarkan semangat petarung dan pantang menyerah selama Olimpiade Paris. Ia memang datang bukan untuk menjadi turis.
REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Pelatih tunggal putri Spanyol Carolina Marin, Fernando Rivas, mengungkapkan kondisi cedera yang Marin alami saat menjalani laga semifinal Olimpiade Paris 2024, Ahad (4/8/2024). Cedera itu adalah cedera lama ligamen anterior atau yang biasa disebut ACL.
“Carolina tahu bahwa di Olimpiade, Anda bisa menang atau kalah. Namun, (ia tidak menyangka akan kalah) dengan cara seperti ini,” kata Rivas, dikutip dari AFP, Senin (5/8/2024).
Marin mengundurkan diri dari semifinal bulu tangkis Olimpiade Paris dalam keadaan cedera dan berlinang air mata. Ia memutuskan untuk mundur dari turnamen setelah tidak bisa bangkit di pertengahan gim kedua saat melawan He Bing Jao (China). Pelatih dan He bergegas ke sisinya saat dia terbaring di lapangan selama beberapa menit, memegangi kakinya.
Atlet berusia 31 tahun itu akhirnya bangkit dan berjalan hati-hati meninggalkan lapangan, kemudian kembali mengenakan penyangga. Namun, dia hampir tidak bisa bergerak, kehilangan dua poin berikutnya sebelum jatuh ke lapangan lagi, jelas kesakitan, dan menangis tak terkendali.
Setelah pertandingan berakhir, dia menolak menggunakan kursi roda dan tertatih-tatih keluar dari arena diiringi tepuk tangan meriah dari penonton Paris, beberapa di antaranya terharu melihat perjuangannya. Unggulan keempat itu memenangi gim pertama dengan skor 21-14 dan memimpin 10-6 pada gim kedua.
Marin sendiri adalah favorit kuat untuk meraih gelar di dua Olimpiade terakhir, yakni di Tokyo dan Paris. Namun, dalam persiapannya menuju Tokyo, ia menderita cedera ligamen anterior beberapa bulan sebelum ajang tersebut. Itu adalah cedera ACL keduanya.
“Ia kesakitan, itu sensasi yang sudah ia rasakan,” kata Rivas, yang mengisyaratkan bahwa ia mungkin mengalami cedera serius yang sama lagi.
Pengunduran diri Marin yang menyakitkan mengundang simpati dari rekan senegaranya dari Spanyol seperti petenis Carlos Alcaraz, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, legenda basket Pau Gasol, dan bintang film Antonio Banderas. Di sisi lain, He mengaku sedih dengan kondisi yang diderita Marin, meskipun ini berarti ia bakal melesat ke final untuk bertemu pemain nomor satu dunia An Se Young (Korea Selatan).
“Dia bermain dengan sangat baik dan saya sangat pasif. Saya sama sekali tidak memikirkan final,” kata He.
Dengan mundurnya Marin dari Olimpiade, maka tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung berhak atas medali perunggu di Paris. Di semifinal, Tunjung harus mengakui ketangguhan An Se-young dengan skor 21-11, 13-21, 16-21 pada laga di Porta de La Chapelle Arena Paris, Prancis, Ahad.
Tunggal putri yang akrab disapa Jorji itu mampu membuat An yang merupakan tunggal putri nomor satu dunia tak berdaya di gim pertama Pukulan-pukulan silang Jorji berhasil membuat An mati kutu untuk merebut gim pertama dengan keunggulan 10 poin, 21-11.
Namun, momentum ini tak berlanjut di gim kedua setelah An merubah pola permainannya yang membuatnya bermain lebih agresif dan mendominasi permainan untuk menyegel kemenangan 21-13.
"Aku mau bersyukur dulu bisa bertanding sejauh ini, walaupun bukan hasil akhir yang diinginkan karena ya pastinya dengan kemenangan game di awal aku cukup ada kesempatan untuk bisa ngambil game kedua," kata Jorji dalam keterangan resminya, Ahad.
Jorji mengatakan, ia terlalu lama untuk membaca permainan An pada gim kedua yang membuatnya sulit keluar dari tekanan. Hal ini membuat situasi tekanan berbalik kepadanya dan An pun berhasil membawa laga sampai gim ketiga atau gim penentuan.
"Dengan pola yang dia ubah, aku rasa itu nggak bisa bikin aku nyaman, aku terlalu lama untuk adjust-nya itu loh, terus di game kedua dia sangat nyaman dengan pola yang dia ingihnkan, jadi malah jadi terbalik," jelasnya.
Memasuki gim ketiga, start Jorji tidak bagus setelah ia tertinggal delapan poin 3-11 di interval. Pada momen ini, tunggal putri dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah itu hanya ingin bermain lepas dan tak ingin memikirkan apapun hasilnya dari apa yang ia lakukan.
Alhasil, Jorji memetik empat poin beruntun untuk mendekatkan jarak poinnya dengan An, dengan skor 13-16. An mendapatkan permainannya kembali saat ia mengubah skor 17-13 dan berlanjut hingga 20-13 untuk mendapatkan game point.
Tiga poin beruntun dari Jorji sempat menunda kemenangan An pada skor 16-20 sebelum pada akhirnya smes keras An yang gagal diantisipasinya membuat tunggal putri asal Korea Selatan itu keluar sebagai pemenang dengan skor 21-16.
"Dia adalah salah satu pemain kuat banget, dia mau lawan siapapun tetap kekeuh dengan permainan dia, dan bagus banget, mateng banget, dia mau main dengan siapapun dengan pola apapun dia bisa," katanya.
KOMPAS.com - Pelatih bulu tangkis tunggal putri Spanyol, Fernando Rivas, mengungkapkan perasaan Carolina Marin (Spanyol) yang harus berhenti di semifinal Olimpiade Paris 2024.
Hal ini dipastikan setelah Carolina Marin diduga kembali menderita cedera ACL di lutut kanannya saat menghadapi He Bing Jiao (China) di Porte de la Chapelle Arena, Minggu (4/8/2024).
Ini adalah cedera sama seperti yang pernah pebulu tangkis berusia 31 tahun ini alami pada 2019.
Dalam laga semifinal Olimpiade tersebut, Marin sedang dalam keadaan unggul atas Bing Jiao. Di mana ia memenangkan gim pertama, dan memimpin 10-8 di gim kedua.
Ia sempat memaksakan bermain dengan menepi keluar lapangan dan memasang pelindung lutut, kemudian masuk kembali.
Meski telah memasang pelindung lutut, rasa sakit yang dialaminya tak bisa ditahan. Marin langsung bersujud sambil menangis dan beberapa kali memukul lapangan.
Penonton yang hadir memberikan tepuk tangan sebagai bentuk dukungan atas atlet peraih medali emas Olimpiade Rio 2016.
"Carolina sangat terpukul. Ini tidak adil, sangat kejam," ujar Fernando, dikutip dari Marca.
"Kami tidak memiliki kata-kata untuk menggambarkan hal ini, karena level yang ia miliki, bagaimana ia telah berkembang selama kompetisi dan tekad yang ia miliki untuk menghadapi semifinal. Itu sangat sulit," sambung Fernando usai menghantarkan Marin ke ruang ganti.
XINHUA/Jia Haocheng Carolina Marin dari Spanyol bereaksi setelah menderita cedera pada laga semifinal tunggal putri bulu tangkis Olimpiade Paris 2024 melawan He Bingjiao (China) di Paris, Perancis, pada 4 Agustus 2024.
Fernando angkat bicara mengenai perasaan yang diungkapkan Marin kepada dirinya saat tiba di ruang ganti.
"Itu tidak adil, bahwa ia tidak ingin mengakhiri kariernya di sini seperti ini. Carolina pantas untuk menyelesaikan Olimpiade, menang atau kalah, dengan bermain di dalamnya," ujar Fernando.
"Tidak mungkin baginya untuk terus bermain, ia mencoba karena ia telah mencoba segalanya, tetapi itu tidak mungkin," lanjutnya.
Seandainya Marin tidak mengalami cedera saat menghadapi He Bing Jiao (China), ia berpeluang untuk menghadapi An Se-young (Korea Selatan) di babak final, yang berhasil mengalahkan Gregoria Mariska Tunjung.
Dengan cederanya Marin, BWF memastikan bahwa medali perunggu jatuh kepada tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung.
Sementara, Marin menjadi gagal mengulang pencapaiannya di Olimpiade Rio 2016 ketika dia menyabet emas setelah mengalahkan PV Sindhu (India) di partai pemuncak.
Peraih medali emas di Olimpiade Rio 2016 dan mantan juara dunia itu mengaku dirinya telah sepenuhnya pulih dari operasi ligamen lutut. Halaman all [324] url asal
KOMPAS.com - Tunggal putri asal Spanyol Carolina Marin mengincar medali emas Olimpiade keduanya. Dia bertekad bekerja keras untuk mewujudkan hal itu pada Olimpiade 2024.
Peraih medali emas di Olimpiade Rio 2016 dan mantan juara dunia itu mengaku dirinya telah sepenuhnya pulih dari operasi ligamen lutut yang memaksanya absen di Olimpiade Tokyo.
"Saya merasa sangat fit dan sudah tidak merasakan keluhan apa-apa lagi di bagian lutut. Saya yakin, saya sudah berada dalam kondisi terbaik dalam kehidupan olahraga saya," ujar Marin.
Dalam kesempatan itu, dia menyatakan mengulang momen naik ke puncak podium Olimpiade telah memotivasinya saat menjalani masa pemulihan panjang.
"Sejak mengalami cedera, tujuan saya adalah kembali memenangkan medali emas," ujarnya.
Pebulu tangkis Spanyol itu telah menjalani sesi latihan di Institut Olahraga, Keahlian, dan Performa Nasional Prancis (INSEP).
Pelatihnya, Fernando Rivas, menuturkan bahwa Marin telah menjalani sesi latihan yang "paling sulit," dan Marin menjelaskan mengapa hal itu penting.
"Kami telah mempelajari melalui analisis bahwa pertandingan kemungkinan akan menjadi lebih panjang. Saya adalah pemain yang agresif, dan di masa lalu, saya bisa meraih satu poin melalui satu atau dua serangan, tetapi sekarang saya membutuhkan empat atau lima serangan," ujar pemain berusia 31 tahun itu.
"Waktu terus berlalu. Pada 2016, lawan-lawan utama saya seumuran dengan saya, tetapi sekarang ada perbedaan usia yang cukup jauh. Selain itu, saat itu saya bertanding sebagai unggulan teratas, namun sekarang saya unggulan keempat," demikian Marin.