#30 tag 24jam
Ini Respons Ketua Perhimpunan Bank Asing Soal Rencana Ekspansi CICC di RI
Perbina menilai CICC akan membidik pasar perusahaan-perusahaan Cina yang beroperasi di Indonesia. [647] url asal
#cicc #ekspansi #bank-asing #give-me-perspective
(Katadata - FINANSIAL) 15/08/24 18:20
v/14453989/
Perhimpunan Bank-bank Internasional Indonesia (Perbina) merespons rencana bank investasi terbesar asal Cina, China International Capital Corp (CICC), menetapkan Indonesia sebagai salah satu tujuan ekspansinya di Asia Tenggara. Perbina menilai CICC akan membidik pasar perusahaan-perusahaan Cina yang beroperasi di Indonesia.
Batara Sianturi, Ketua Perbina sekaligus CEO Citi Indonesia, mengatakan Perbina menyambut baik investasi dari bank asing, baik dari Amerika Serikat (AS), Eropa, maupun Asia. Menurutnya, investasi dari bank-bank multinasional tersebut memberikan diversifikasi dan variasi solusi yang bermanfaat.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan investasi, baik di sektor riil maupun sektor keuangan, termasuk dari bank-bank Cina, yang memiliki peran dalam mendukung perusahaan-perusahaan Cina yang beroperasi di Indonesia.
“Jadi, kami telah melihat tren ini. Perusahaan Jepang datang ke sini untuk mendukung perusahaan-perusahaan multinasional Jepang di Indonesia, hal yang sama terjadi dengan perusahaan Eropa, Amerika,” katanya kepada wartawan di Park Hyatt Jakarta, Kamis (15/8).
Lebih lanjut, Batara menjelaskan bahwa Indonesia merupakan tujuan investasi yang sangat menarik bagi bank asing. Oleh karena itu, ia mengatakan sektor keuangan cenderung mengikuti perkembangan sektor riil. Ketika sektor riil berkembang, baik itu melalui investasi dari perusahaan multinasional asal Cina, Korea, atau Jepang, maka lembaga keuangan dari negara-negara tersebut pasti akan mendukung.
Di samping itu, Batara juga mengatakan bahwa setiap bank memiliki peran yang spesifik, baik itu bank lokal, bank regional, maupun bank global. Tidak ada satu bank pun yang dapat menangani semua hal sendirian.
Misalnya, bank dari Korea atau Jepang cenderung mendukung perusahaan multinasional asal negara mereka yang beroperasi di Indonesia. Ia menilai bank asing tersebut juga memiliki konektivitas yang kuat dengan negara asalnya, sehingga kantor pusat perusahaan tersebut mungkin sudah mendapatkan dukungan dari bank lokal di Korea atau Jepang.
“Dan di sini juga akan di-support oleh anak perusahaan Korea yang beroperasi di Indonesia untuk perusahaan-perusahaan multinasional Korea yang beroperasi di Indonesia,” tuturnya.
Perlu Siapkan Modal Inti Minimal Rp 10 Triliun
Sebelumnya, CICC dikabarkan tengah mencari pasar baru lantaran aktivitas transaksi di Cina dan Hong Kong berjalan lambat. Meningkatnya tensi geopolitik dan melemahnya ekonomi Tiongkok membuat aktivitas transaksi penggalangan dana di Hong Kong dan Cina lesu.
Kabar rencana masuknya CICC ke Indonesia sudah santer terdengar. Akan tetapi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan belum menerima permohonan resmi dari CICC untuk membuka kantor perwakilan di Indonesia. OJK juga baru mendengar informasi tersebut dari pemberitaan media asing.
"Berdasarkan informasi yang kami miliki belum terdapat permohonan atau pernyataan resmi dari CICC kepada OJK mengenai rencana ekspansi pembukaan kantor di Indonesia," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae kepada Katadata.co.id, Juli lalu.
Dian menjelaskan, pembukaan Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) harus merujuk pada Peraturan OJK 12/03 Tahun 2021. Aturan tersebut mengatur bahwa pendirian KCBLN itu harus berbadan hukum Indonesia. Bank tersebut juga harus menyediakan modal inti minimal Rp 10 triliun.
"Berdasarkan hasil penelitian OJK, bank dapat beroperasi secara efisien, menghasilkan laba, serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional jika modal inti yang dimiliki berada pada rentang Rp 10 triliun," tutur Dian.
Kompetisi Bakal Semakin Ketat
Masuknya bank besar asal Cina ini akan memperketat persaingan dengan bank-bank lokal maupun bank asing yang sudah lebih dulu ada di Indonesia. Kompetisi untuk memperebutkan pasar kredit bisa dipastikan bakal semakin ketat. Akan tetapi, masuknya bank asing tidak selalu berarti negatif.
Pengamat perbankan Ryan Kiryanto menilai semakin banyak pemain-pemain yang bagus di pasar perbankan suatu negara, tingkat persaingan di pasar akan semakin sehat. "Siapa yang diuntungkan dengan masuknya asing? Konsumen. Karena kita sebagai nasabah, itu punya pilihan-pilihan," kata Ryan.
Menurutnya bank asing bisa jadi akan membawa teknologi canggih maupun menawarkan produk simpanan dan fasilitas kredit yang menarik bagi nasabah. Hal itu justru bisa memberikan inspirasi bagi bank-bank lokal untuk mengadopsi teknologi atau produk yang bagus. Alhasil, persaingan menjadi lebih terbuka dan lebih sehat.
"Bank-bank lokal akan terus memperbarui dirinya, melakukan improvement agar daya saing bank-bank lokal itu tidak tertekan, tidak menurun ketika masuknya bank-bank asing tadi," tuturnya.
Siap-siap, Bank Investasi Cina Mengincar Pasar Indonesia
Bank CICC mencari pasar baru lantaran meningkatnya tensi geopolitik dan melemahnya ekonomi Tiongkok membuat aktivitas transaksi penggalangan dana di Hong Kong dan Cina menjadi lesu. [1,227] url asal
#bank #cina #cicc #investasi #give-me-perspective
(Katadata - IN-DEPTH & OPINI) 24/07/24 14:59
v/11934850/
Perbankan Indonesia bakal kedatangan pendatang baru. Bank investasi terbesar asal Cina, China International Capital Corp (CICC), telah menetapkan Indonesia sebagai salah satu tujuan ekspansinya di Asia Tenggara.
CICC mencari pasar baru lantaran aktivitas transaksi lokal berjalan lambat. Meningkatnya tensi geopolitik dan melemahnya ekonomi Tiongkok membuat aktivitas transaksi penggalangan dana di Hong Kong dan Cina lesu.
Riset KPMG berjudul "Chinese Mainland and Hong Kong IPO Markets: 2024 Mid-year Review" menunjukkan nilai penggalangan dana dari penawaran umum perdana saham seri A di bursa-bursa Cina turun 75% secara tahunan menjadi 56,5 miliar yuan (Rp 125,85 triliun) pada semester I 2024. Sementara itu, jumlah perusahaan yang melaksanakan IPO turun 70% menjadi 52 perusahaan.
Pasar IPO di Hong Kong juga mencatat penurunan walaupun tidak sedalam di Cina daratan. Pada semester I tahun ini, nilai penggalangan dana IPO di Hong Kong mencapai HKD 11,6 miliar (Rp 24,07 triliun), turun 35% secara tahunan. Adapun jumlah perusahaan yang melaksanakan IPO turun 15% menjadi 27 perusahaan.
Tentu saja penurunan aktivitas penggalangan dana di Cina daratan dan Hong Kong ini berpengaruh pada bisnis CICC. Sekadar gambaran, 74% pendapatan bank ini pada 2023 disumbangkan oleh operasinya di dalam negeri sedangkan bisnis di luar negeri berkontribusi sebesar 26%.
Kondisi ini berlawanan dengan pasar Indonesia. Pada 2023, Indonesia menjadi jawara untuk pencatatan umum perdana saham di kawasan Asia Tenggara dan Hong Kong dengan kontribusi 51%. Nilai IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun lalu mencapai US$3,55 miliar atau sekitar Rp 55,87 triliun dari 79 perusahaan.
Namun, pelaksanaan IPO di Indonesia hingga semester I tahun ini melambat menjadi hanya 25 perusahaan dengan nilai penggalangan dana Rp 4,07 triliun. Deloitte memprediksi kondisi ini terjadi karena investor masih wait and see (menunggu) kebijakan dari pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Mengapa Indonesia Jadi Target Ekspansi CICC?
Bank investasi yang didirikan pada 1995 ini sudah memiliki kantor cabang di tujuh pusat keuangan global, antara lain di Hong Kong, New York, London, dan Singapura. Menurut laporan Reuters, CICC membuka kantor perwakilan di Vietnam untuk memperluas jangkauannya di Asia Tenggara pada Juni lalu.
Di pasar-pasar utamanya di Cina dan Hong Kong, CICC telah mengurangi gaji para bankir dan mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Laba dan harga saham bank investasi ini juga turun secara signifikan.
Bank-bank investasi Tiongkok lainnya juga terkena dampak yang sama, sehingga mendorong bank-bank asal Cina ini untuk mengejar prospek komersial di pasar-pasar Asia Pasifik lainnya.
Asia Tenggara memiliki prospek yang cerah berkat pertumbuhan ekonomi kawasan ini, populasi yang muda dan berketerampilan tinggi, serta infrastruktur yang terus berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, Asia Tenggara telah menjadi pusat investasi dunia.
CICC juga melihat potensi besar dalam pendanaan swasta untuk perusahaan-perusahaan startup digital, termasuk yang sudah berstatus unicorn di Asia Tenggara. Hal ini tidak lepas dari peran kedua pemegang sahamnya, raksasa teknologi di Cina yakni Tencent dan Alibaba, yang gencar berinvestasi di startup digital.
Bank investasi tertua di Cina ini juga membidik potensi peningkatan investasi lintas batas dari perusahaan-perusahaan Tiongkok. Sektor yang dibidik bank beraset Rp 1.276 triliun ini terutama sektor konsumen, teknologi, media, telekomunikasi, fintech, logistik, dan kendaraan listrik.
Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia gencar mendorong investasi kendaraan listrik dari produsen otomotif Cina. Nama-nama besar seperti Wuling dan BYD bahkan sudah membangun pabrik di sini.
Selain di sektor kendaraan listrik, perusahaan-perusahaan Cina juga gencar berinvestasi di sektor hilirisasi mineral, dengan membangun smelter. Ini berarti peluang yang besar bagi bank-bank asal Cina untuk masuk dan menawarkan pembiayaan bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok yang ingin berinvestasi di Indonesia.
Selain menyediakan pembiayaan, bank-bank negeri Panda ini bisa menawarkan jasa sebagai penasihat keuangan untuk transaksi merger atau akuisisi, serta menjadi arranger untuk kredit sindikasi.
Perlu Siapkan Modal Inti Minimal Rp 10 Triliun
Meski kabar rencana masuknya CICC ke Indonesia santer terdengar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan belum menerima permohonan resmi dari CICC untuk membuka kantor perwakilan di Indonesia. OJK juga baru mendengar informasi tersebut dari pemberitaan media asing.
"Berdasarkan informasi yang kami miliki belum terdapat permohonan atau pernyataan resmi dari CICC kepada OJK mengenai rencana ekspansi pembukaan kantor di Indonesia," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae kepada Katadata.co.id, Selasa (23/7).
Dian menjelaskan, pembukaan Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) merujuk pada Peraturan OJK 12/03 Tahun 2021. Aturan tersebut mengatur bahwa pendirian KCBLN itu harus berbadan hukum Indonesia. Bank tersebut juga harus menyediakan modal inti minimal Rp 10 triliun.
"Berdasarkan hasil penelitian OJK, bank dapat beroperasi secara efisien, menghasilkan laba, serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional jika modal inti yang dimiliki berada pada rentang Rp 10 triliun," tutur Dian.
Sementara itu, Ekonom dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai CICC melihat prospek perbankan di Indonesia yang masih dalam fase pertumbuhan sebagai daya tarik bagi investor asing. "Loan to GDP ratio atau rasio total kredit yang disalurkan terhadap PDB itu kurang lebih 35%. Jadi, ruang untuk bertumbuh masih besar," ujar Ryan kepada Katadata.co.id.
Rasio pendanaan terhadap PDB atau funding to GDP ratio Indonesia juga sekitar 40%. Yang terpenting, pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) industri perbankan RI di kisaran 4%-5%, tertinggi di ASEAN.
"Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, siapa pun presidennya. Ke depannya akan agresif membangun infrastruktur, manufaktur, kemudian menarik investasi. Ini termasuk proyek-proyek strategis nasional dengan segala dampak ekonominya," kata Ryan. Hal ini membuat peluang bagi bank-bank asing untuk ikut meraih cuan dengan mengucurkan pendanaan ke sektor-sektor tersebut.
Kompetisi Bakal Semakin Ketat
Masuknya bank besar asal Cina ini akan memperketat persaingan dengan bank-bank lokal maupun bank asing yang sudah lebih dulu ada di Indonesia. Kompetisi untuk memperebutkan pasar kredit bisa dipastikan bakal semakin ketat.
Akan tetapi, masuknya bank asing tidak selalu berarti negatif. Ryan menilai semakin banyak pemain-pemain yang bagus di pasar perbankan suatu negara, tingkat persaingan di pasar akan semakin sehat. "Siapa yang diuntungkan dengan masuknya asing? Konsumen. Karena kita sebagai nasabah, itu punya pilihan-pilihan," kata Ryan.
Ryan mengatakan bank asing bisa jadi akan membawa teknologi canggih maupun menawarkan produk simpanan dan fasilitas kredit yang menarik bagi nasabah. Hal itu justru bisa memberikan inspirasi bagi bank-bank lokal untuk mengadopsi teknologi atau produk yang bagus. Alhasil, persaingan menjadi lebih terbuka dan lebih sehat.
"Bank-bank lokal akan terus memperbarui dirinya, melakukan improvement agar daya saing bank-bank lokal itu tidak tertekan, tidak menurun ketika masuknya bank-bank asing tadi," tuturnya.
Dengan modal inti minimum Rp 10 triliun, bank asing seperti CICC yang membuka kantor cabang di Indonesia akan masuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2. Kelompok ini memiliki kisaran modal Rp 6 triliun hingga Rp 14 triliun. Artinya, bank Cina ini nantinya akan bertarung dengan bank-bank skala menengah hingga bank skala besar.
Ryan menilai, bank-bank lokal justru bisa mengambil keuntungan dengan menjadikan bank asing ini sebagai mitra kerja. Jadi, ujung-ujungnya tidak selalu harus bersaing.
"Tidak ada kerugiannya bank asing masuk ke Indonesia. Yang penting dia masuk, dia ikut membiayai pembangunan ekonomi di Indonesia," ujar dia.
Perbankan Indonesia sudah menganut prinsip globalisasi sehingga bank asing bisa ekspansi ke pasar Indonesia. Sebaliknya, sah-sah saja jika bank lokal juga membuka kantor di luar negeri.
Ryan berharap OJK nantinya memberikan arahan agar bank asing tersebut bisa ikut membiayai ekonomi produktif. "Pasti ada guidance-nya, tidak dilepas begitu saja (oleh OJK)," lanjutnya.
Bank Investasi Cina Mengincar Pasar Indonesia
Bank CICC mencari pasar baru lantaran meningkatnya tensi geopolitik dan melemahnya ekonomi Tiongkok membuat aktivitas transaksi penggalangan dana di Hong Kong dan Cina menjadi lesu. [1,227] url asal
#bank #cina #cicc #investasi #give-me-perspective
(Katadata - IN-DEPTH & OPINI) 24/07/24 14:00
v/12670688/
Perbankan Indonesia bakal kedatangan pendatang baru. Bank investasi terbesar asal Cina, China International Capital Corp (CICC), telah menetapkan Indonesia sebagai salah satu tujuan ekspansinya di Asia Tenggara.
CICC mencari pasar baru lantaran aktivitas transaksi lokal berjalan lambat. Meningkatnya tensi geopolitik dan melemahnya ekonomi Tiongkok membuat aktivitas transaksi penggalangan dana di Hong Kong dan Cina lesu.
Riset KPMG berjudul "Chinese Mainland and Hong Kong IPO Markets: 2024 Mid-year Review" menunjukkan nilai penggalangan dana dari penawaran umum perdana saham seri A di bursa-bursa Cina turun 75% secara tahunan menjadi 56,5 miliar yuan (Rp 125,85 triliun) pada semester I 2024. Sementara itu, jumlah perusahaan yang melaksanakan IPO turun 70% menjadi 52 perusahaan.
Pasar IPO di Hong Kong juga mencatat penurunan walaupun tidak sedalam di Cina daratan. Pada semester I tahun ini, nilai penggalangan dana IPO di Hong Kong mencapai HKD 11,6 miliar (Rp 24,07 triliun), turun 35% secara tahunan. Adapun jumlah perusahaan yang melaksanakan IPO turun 15% menjadi 27 perusahaan.
Tentu saja penurunan aktivitas penggalangan dana di Cina daratan dan Hong Kong ini berpengaruh pada bisnis CICC. Sekadar gambaran, 74% pendapatan bank ini pada 2023 disumbangkan oleh operasinya di dalam negeri sedangkan bisnis di luar negeri berkontribusi sebesar 26%.
Kondisi ini berlawanan dengan pasar Indonesia. Pada 2023, Indonesia menjadi jawara untuk pencatatan umum perdana saham di kawasan Asia Tenggara dan Hong Kong dengan kontribusi 51%. Nilai IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun lalu mencapai US$3,55 miliar atau sekitar Rp 55,87 triliun dari 79 perusahaan.
Namun, pelaksanaan IPO di Indonesia hingga semester I tahun ini melambat menjadi hanya 25 perusahaan dengan nilai penggalangan dana Rp 4,07 triliun. Deloitte memprediksi kondisi ini terjadi karena investor masih wait and see (menunggu) kebijakan dari pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Mengapa Indonesia Jadi Target Ekspansi CICC?
Bank investasi yang didirikan pada 1995 ini sudah memiliki kantor cabang di tujuh pusat keuangan global, antara lain di Hong Kong, New York, London, dan Singapura. Menurut laporan Reuters, CICC membuka kantor perwakilan di Vietnam untuk memperluas jangkauannya di Asia Tenggara pada Juni lalu.
Di pasar-pasar utamanya di Cina dan Hong Kong, CICC telah mengurangi gaji para bankir dan mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Laba dan harga saham bank investasi ini juga turun secara signifikan.
Bank-bank investasi Tiongkok lainnya juga terkena dampak yang sama, sehingga mendorong bank-bank asal Cina ini untuk mengejar prospek komersial di pasar-pasar Asia Pasifik lainnya.
Asia Tenggara memiliki prospek yang cerah berkat pertumbuhan ekonomi kawasan ini, populasi yang muda dan berketerampilan tinggi, serta infrastruktur yang terus berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, Asia Tenggara telah menjadi pusat investasi dunia.
CICC juga melihat potensi besar dalam pendanaan swasta untuk perusahaan-perusahaan startup digital, termasuk yang sudah berstatus unicorn di Asia Tenggara. Hal ini tidak lepas dari peran kedua pemegang sahamnya, raksasa teknologi di Cina yakni Tencent dan Alibaba, yang gencar berinvestasi di startup digital.
Bank investasi tertua di Cina ini juga membidik potensi peningkatan investasi lintas batas dari perusahaan-perusahaan Tiongkok. Sektor yang dibidik bank beraset Rp 1.276 triliun ini terutama sektor konsumen, teknologi, media, telekomunikasi, fintech, logistik, dan kendaraan listrik.
Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia gencar mendorong investasi kendaraan listrik dari produsen otomotif Cina. Nama-nama besar seperti Wuling dan BYD bahkan sudah membangun pabrik di sini.
Selain di sektor kendaraan listrik, perusahaan-perusahaan Cina juga gencar berinvestasi di sektor hilirisasi mineral, dengan membangun smelter. Ini berarti peluang yang besar bagi bank-bank asal Cina untuk masuk dan menawarkan pembiayaan bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok yang ingin berinvestasi di Indonesia.
Selain menyediakan pembiayaan, bank-bank negeri Panda ini bisa menawarkan jasa sebagai penasihat keuangan untuk transaksi merger atau akuisisi, serta menjadi arranger untuk kredit sindikasi.
Perlu Siapkan Modal Inti Minimal Rp 10 Triliun
Meski kabar rencana masuknya CICC ke Indonesia santer terdengar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan belum menerima permohonan resmi dari CICC untuk membuka kantor perwakilan di Indonesia. OJK juga baru mendengar informasi tersebut dari pemberitaan media asing.
"Berdasarkan informasi yang kami miliki belum terdapat permohonan atau pernyataan resmi dari CICC kepada OJK mengenai rencana ekspansi pembukaan kantor di Indonesia," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae kepada Katadata.co.id, Selasa (23/7).
Dian menjelaskan, pembukaan Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) merujuk pada Peraturan OJK 12/03 Tahun 2021. Aturan tersebut mengatur bahwa pendirian KCBLN itu harus berbadan hukum Indonesia. Bank tersebut juga harus menyediakan modal inti minimal Rp 10 triliun.
"Berdasarkan hasil penelitian OJK, bank dapat beroperasi secara efisien, menghasilkan laba, serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional jika modal inti yang dimiliki berada pada rentang Rp 10 triliun," tutur Dian.
Sementara itu, Ekonom dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai CICC melihat prospek perbankan di Indonesia yang masih dalam fase pertumbuhan sebagai daya tarik bagi investor asing. "Loan to GDP ratio atau rasio total kredit yang disalurkan terhadap PDB itu kurang lebih 35%. Jadi, ruang untuk bertumbuh masih besar," ujar Ryan kepada Katadata.co.id.
Rasio pendanaan terhadap PDB atau funding to GDP ratio Indonesia juga sekitar 40%. Yang terpenting, pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) industri perbankan RI di kisaran 4%-5%, tertinggi di ASEAN.
"Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, siapa pun presidennya. Ke depannya akan agresif membangun infrastruktur, manufaktur, kemudian menarik investasi. Ini termasuk proyek-proyek strategis nasional dengan segala dampak ekonominya," kata Ryan. Hal ini membuat peluang bagi bank-bank asing untuk ikut meraih cuan dengan mengucurkan pendanaan ke sektor-sektor tersebut.
Kompetisi Bakal Semakin Ketat
Masuknya bank besar asal Cina ini akan memperketat persaingan dengan bank-bank lokal maupun bank asing yang sudah lebih dulu ada di Indonesia. Kompetisi untuk memperebutkan pasar kredit bisa dipastikan bakal semakin ketat.
Akan tetapi, masuknya bank asing tidak selalu berarti negatif. Ryan menilai semakin banyak pemain-pemain yang bagus di pasar perbankan suatu negara, tingkat persaingan di pasar akan semakin sehat. "Siapa yang diuntungkan dengan masuknya asing? Konsumen. Karena kita sebagai nasabah, itu punya pilihan-pilihan," kata Ryan.
Ryan mengatakan bank asing bisa jadi akan membawa teknologi canggih maupun menawarkan produk simpanan dan fasilitas kredit yang menarik bagi nasabah. Hal itu justru bisa memberikan inspirasi bagi bank-bank lokal untuk mengadopsi teknologi atau produk yang bagus. Alhasil, persaingan menjadi lebih terbuka dan lebih sehat.
"Bank-bank lokal akan terus memperbarui dirinya, melakukan improvement agar daya saing bank-bank lokal itu tidak tertekan, tidak menurun ketika masuknya bank-bank asing tadi," tuturnya.
Dengan modal inti minimum Rp 10 triliun, bank asing seperti CICC yang membuka kantor cabang di Indonesia akan masuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2. Kelompok ini memiliki kisaran modal Rp 6 triliun hingga Rp 14 triliun. Artinya, bank Cina ini nantinya akan bertarung dengan bank-bank skala menengah hingga bank skala besar.
Ryan menilai, bank-bank lokal justru bisa mengambil keuntungan dengan menjadikan bank asing ini sebagai mitra kerja. Jadi, ujung-ujungnya tidak selalu harus bersaing.
"Tidak ada kerugiannya bank asing masuk ke Indonesia. Yang penting dia masuk, dia ikut membiayai pembangunan ekonomi di Indonesia," ujar dia.
Perbankan Indonesia sudah menganut prinsip globalisasi sehingga bank asing bisa ekspansi ke pasar Indonesia. Sebaliknya, sah-sah saja jika bank lokal juga membuka kantor di luar negeri.
Ryan berharap OJK nantinya memberikan arahan agar bank asing tersebut bisa ikut membiayai ekonomi produktif. "Pasti ada guidance-nya, tidak dilepas begitu saja (oleh OJK)," lanjutnya.
Raksasa Keuangan China CICC Berencana Buka Kantor di Indonesia
China International Capital Corp (CICC) berencana memperluas bisnisnya di Asia Tenggara. Bank investasi tersebut bakal membuka kantor di Indonesia dan Malaysia. [181] url asal
#cicc #china #kantor #indonesia #bank-investasi
(IDX-Channel - Banking) 04/07/24 15:20
v/9674435/
IDXChannel - China International Capital Corp (CICC) berencana memperluas bisnisnya di Asia Tenggara. Bank investasi tersebut bakal membuka kantor di Indonesia dan Malaysia.
Dilansir dari Reuters pada Kamis (4/7/2024), bank investasi yang sebagian dimiliki pemerintah tersebut baru saja membuka kantor perwakilan di Vietnam bulan lalu.
“CICC berencana memperluas kehadirannya di pasar (Asia Tenggara) lainnya pada masa mendatang,” kata Kepala Departemen Perbankan Investasi Wang Shuguang, kepada Reuters.
Didirikan pada 1995, CICC merupakan bank investasi tertua di China dan salah satu firma keuangan terbesar di Negeri Tirai Bambu tersebut.
“CICC melihat peluang bisnis di negara-negara dan pasar-pasar ini dan ingin membuka kantor agar bisa lebih dekat dengan klien lokal,” kata Wang, yang mengepalai lebih dari 2 ribu bankir investasi di CICC.
Wang tidak mengungkapkan berapa banyak CICC berencana untuk berinvestasi atau berapa banyak orang yang akan dipekerjakan untuk memperluas jangkauannya ke Asia Tenggara. Dia juga tidak menyebutkan target pendapatan atau kesepakatan apa pun dari wilayah tersebut.
Sektor bank investasi China saat ini tertekan lesunya aktivitas pembuatan kesepakatan. Negeri Tirai Bambu tersebut juga menghadapi lambatnya perekonomian dan meningkatnya ketegangan geopolitik. (WHY)
