NEW YORK, investor.id - Harga minyak turun pada Jumat (12/7/2024). Hal itu karena investor mempertimbangkan sentimen konsumen Amerika Serikat (AS) yang melemah dengan meningkatnya harapan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 37 sen menjadi US$ 85,03 per barel. Sedangkan Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 41 sen (0,5%) menjadi US$ 82,21 per barel.
Pada pekan ini, harga minyak Brent turun lebih dari 1,7% setelah empat minggu mengalami kenaikan. Sementara itu, harga minyak WTI mencatat penurunan mingguan sebesar 1,1%.
Survei bulanan oleh University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS jatuh ke level terendah dalam delapan bulan pada Juli, meskipun ekspektasi inflasi membaik untuk tahun depan dan seterusnya.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, indeks harga produsen (PPI) naik 0,2% pada bulan Juni, sedikit lebih tinggi dari yang diharapkan, karena biaya jasa meningkat. Meskipun demikian, investor berharap The Fed bisa mulai memangkas suku bunga pada September.
"Pasar tidak takut dengan The Fed saat ini," kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group.
Suku bunga yang lebih rendah diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar.
"Angka inflasi AS yang mendingin dapat mendukung kasus bagi The Fed untuk memulai proses pelonggaran kebijakan lebih cepat. Ini juga menambah serangkaian kejutan negatif dalam data ekonomi AS, yang menunjukkan pelemahan yang jelas dari ekonomi AS," kata kata Yeap Jun Rong, ahli strategi pasar.
Sementara itu, harga minyak mendapat dukungan dari permintaan bensin AS, yang menurut data pemerintah pada hari Rabu mencapai 9,4 juta barel per hari (bpd) dalam minggu yang berakhir 5 Juli, tertinggi sejak 2019 untuk minggu yang mencakup liburan Hari Kemerdekaan. Permintaan bahan bakar jet pada basis rata-rata empat minggu berada pada tingkat terkuat sejak Januari 2020.
Stok Minyak
Permintaan bahan bakar yang kuat mendorong kilang AS untuk meningkatkan aktivitas dan menarik dari stok minyak mentah. Data pemerintah menunjukkan input bersih minyak mentah dari kilang di Pantai Teluk AS naik minggu lalu menjadi lebih dari 9,4 juta bpd untuk pertama kalinya sejak Januari 2019.
Tanda-tanda permintaan yang lebih lemah dari China, importir minyak terbesar di dunia, dapat mengimbangi prospek dari Amerika Serikat dan membebani harga.
"Koreksi turun baru-baru ini sudah jelas berakhir, meskipun kecepatan kenaikan lebih lanjut mungkin terhambat oleh jatuhnya impor minyak mentah China, yang anjlok 11% pada bulan Juni dibandingkan tahun sebelumnya," kata Tamas Varga dari broker minyak PVM.
Jumlah rig minyak aktif AS, indikator awal output masa depan, turun satu menjadi 478 minggu ini, terendah sejak Desember 2021, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes (BKR.O) pada hari Jumat.
Money Manager meningkatkan posisi net long mereka dalam futures minyak mentah dan opsi AS pada minggu yang berakhir 9 Juli, kata Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC).
Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News