DEPOK, KOMPAS.com - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota Depok, Rizal (21), menawarkan cita rasa kampung halamannya melalui segelas dawet yang dijajakannya.
Pemuda ini kerap menjajakan dawat khas Banjarnegara ini di Jalan Ridwa Rais, Beji, Kota Depok. Dia berjualan dengan menggunakan gerobak warna biru yang dilengkapi dengan gambar Semar dan Gareng.
Rizal memutuskan untuk merantau dari kampungnya di Banjarnegara ke Depok khusus untuk berjualan dawet khas daerahnya ke masyarakat.
Dawet merupakan minuman tradisional berbahan dasar tepung beras, santan, gula merah, potongan nangka dan ditambah dengan es batu.
Namun, yang membuat dawet Rizal istimewa adalah bahan-bahan yang digunakan, terutama gula merahnya yang dibawa langsung dari Banjarnegara.
"Kenikmatan dawet itu ada pada kualitas bahan-bahannya. Kalau pakai gula merah dari Banjarnegara rasanya beda, punya cita rasa yang khas dan tidak bisa digantikan dengan yang lain," ujar Rizal saat ditemui Kompas.com, Senin (29/7/2024).
Setiap pukul 04.00 WIB, Rizal memulai harinya dengan mempersiapkan segala keperluan untuk berjualan.
Dalam satu hari, 15 kilogram gula merah yang dibawa langsung dari Banjarnegara diolah sebagai bahan pemanis untuk dawet miliknya.
Proses pembuatannya dilakukan dengan penuh ketelitian, dari mencampur tepung beras hingga menghasilkan cendol yang kenyal dan menyegarkan.
Rizal mengatakan, untuk mendapatkan warna hijau pada dawetnya didapatkan dari perasan daun suji. Sedangkan wangi harum cendolnya berasal dari perasan daun pandan.
Dia berani memakai bahan-bahan alami untuk memastikan kualitas cendol dawet khas Banjarnegara tak hilang.
“Biasanya banyak orang yang mengaku cendol asli Banjarnegara, padahal pas dicoba beda. Tapi, saya jamin kalau orang Banjarnegara coba, pasti bisa nilai, sesuai sama lidahnya,” ungkap Rizal.
Keaslian rasa dari Banjarnegara yang Rizal bawa, membuat pembeli yang datang tak hanya dari sekitar kota Depok, tetapi juga dari berbagai kota.
Mereka penasaran dengan rasa autentik dawet Banjarnegara yang dijajakan Rizal.
“Banyak orang luar Depok. Pas pertama kali coba, mungkin merasa enak, langsung balik lagi,” ujarnya.
Dalam satu hari, kurang lebih 150 gelas cendol Banjarnegara miliknya habis terjual. Dengan jumlah itu, dia mendapatkan keuntungan sebesar Rp 400.000 dalam satu hari.
Salah satu pelanggan setia Rizal, Adi (33), berani menjamin dawet yang dijual Rizal memiliki citra rasa khas Banjarnegara.
Setiap kali merasakan kerinduan yang mendalam terhadap kampung halamannya, Adi selalu mencari segelas dawet Banjarnegara dari Rizal.
“Ini baru dawet khas Banjarnegara. Antara manisnya gula kelapa dan gurihnya santan cocok, sangat sempurna,” tutur Adi.
Bagi Adi, dawet Rizal bukan hanya sekadar minuman. Ini adalah jembatan penghubung antara kehidupan masa kecilnya di Banjarnegara dan kehidupannya sekarang di Depok.
Dengan kehadiran dawet Rizal, para perantau di Depok tidak perlu merasa terlalu jauh dari kampung halaman mereka. Segelas dawet yang dijual Rizal bisa membawa mereka pulang, setidaknya dalam kenangan dan rasa.
Setiap tegukan dawet yang dijualnya, menjadi bukti nyata bahwa tradisi dan rasa asli dari Banjarnegara masih bisa dinikmati hingga kini.