#30 tag 24jam
2 item, 1 hal
7 Dosen UGM Masuk Daftar 2% Ilmuwan Berpengaruh di Dunia
Mereka yang masuk dalam kategori berdasarkan hasill riset dan dampak sitasi karya ilmiah dalam dunia akademik. [867] url asal
#ilmuwan-ugm #worlds-top-2-scientist-2024 #ilmuwan-teratas-dunia #dosen-ugm #ugm
(MedCom) 23/09/24 11:18
v/15435161/
Jakarta: Sebanyak tujuh dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientist 2024 yang dirilis oleh Stanford University dan Elsevier. Mereka yang masuk dalam kategori sebagai ilmuwan berpengaruh di dunia berdasarkan dari hasill riset dan dampak sitasi karya ilmiah dalam dunia akademik atau yang paling banyak dikutip maupun jadi rujukan.Ketujuh dosen UGM tersebut adalah:
- Prof Abdul Rohman dari Fakultas Farmasi
- Prof Muh Aris Marfai dari Fakultas Geografi
- Prof Ahmad Maryudi dari Fakultas Kehutanan
- Dr Ganjar Alfian dari Sekolah Vokasi
- Eka Noviana, Ph.D., dari Fakultas Farmasi
- Muhammad Akhsin Muflikhun Ph.D., dari Fakultas Teknik
- Prof Jumina dari Fakultas MIPA.
“Tentu hal ini dapat digunakan untuk refleksi dan motivasi bagi kita dalam memberikan kontribusi dan pengabdian pada masyarakat luas melalui pemanfaatan dan pengembangan bidang keilmuan,” kata Aris dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 23 September 2024.
Aris yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) menuturkan, selama ini lebih banyak melakukan publikasi di bidang ilmu geografi. Terutama terkait geomorfologi, kebencanaan, informasi geospasial dan kepesisiran.
“Lebih dari 300 publikasi yang telah dihasilkan selama ini, baik berupa jurnal internasional, jurnal nasional, buku, buku chapter, buku ajar, dan prosiding seminar,” kata dia.
Berdasarkan hasil penelusuran Google Scholar, ada 15 publikasi teratas berupa jurnal internasional bereputasi atas dengan data disitasi antara 150-250 kutipan tiap publikasi. “Dari data Google Scholar total kutipan dari seluruh publikasi kami mencapai 5713. Sebagian besar disitasi oleh publikasi lain di luar negeri,” beber dia.
Aris menilai predikat yang diperoleh ini bukanlah tujuan. Namun semata-mata sebagai konsekuensi atas kemauan, dedikasi, dan pengabdian terus menerus pada ilmu pengetahuan untuk kebermanfaatan yang luas pada masyarakat.
Ahmad Maryudi juga mengaku senang bisa masuk daftar tersebut. Menurutnya, ada banyak indikator yang digunakan untuk membuat daftar tersebut. Jumlah publikasi hanya salah satu saja.
“Indikator yang cukup krusial adalah sejauh mana karya-karya kita mewarnai penelitian-penelitian lain di seluruh dunia, yang dicerminkan dari seberapa sering karya kita dirujuk atau disitasi. Jadi perhitungan benar-benar didasarkan pada seberapa sering kita mewarnai karya-karya peneliti lain,” papar dia.
Maryudi menuturkan untuk sub-bidang kehutanan tercatat ada 32.813 peneliti yang masuk daftar. Beruntung, dirinya berada diperingkat 201 dunia.
“Riset adalah jati diri saya. Predikat ini tentunya akan semakin memotivasi saya untuk terus berkarya. Tentunya melaksanakan riset-riset yang bermanfaat. Tidak semua riset bisa langsung diterapkan secara langsung,” kata Maryudi yang banyak melakukan riset di bidang politik-kebijakan kehutanan dan lingkungan, khususnya tentang aktor dan relasi kuasa.
Sebagai satu-satunya perempuan dari tujuh dosen UGM yang masuk daftar ilmuwan berpengaruh di dunia, Eka Noviana, terang-terangan tidak menyangka namanya masuk daftar tersebut. Apalagi dia mengaku tengah memulai awal karier sebagai peneliti.
“Suatu kehormatan bagi saya bisa masuk dalam list tersebut. Sebagai early career researcher, saya pribadi merasa masih sangat jauh dari figur peneliti berpengaruh. Semoga kedepannya saya bisa terus berkembang menuju kesana,” kata dia.
Sebagian besar publikasi Eka terkait pengembangan alat uji berbasis kertas untuk pengujian atau diagnostik cepat rendah biaya dan dapat digunakan dengan mudah oleh pengguna. Dari risetnya tersebut, ia mendapat 1.615 sitasi dari publikasi peneliti lain.
“Sitasi banyak berasal dari luar negeri karena bidang paper-based analytical devices ini banyak digeluti oleh peneliti-peneliti dari berbagai negara seperti Brazil, Italia, Thailand, Jepang,” kata dia.
Sementara itu, ilmuwan lainnya Abdul Rohman selama 5 tahun terakhir ini banyak menghasilkan riset dan publikasi terkait dengan analisis kehalalan produk makanan dan kosmetika yang banyak disitasi di jurnal internasional.
Lain halnya dengan Jumina, ia lebih banyak melakukan riset dan publikasi di bidang sintesis senyawa obat, uji aktivitasnya sebagai antikanker, dan pembuktian mekanisme aksinya melalui molecular docking. Jumlah publikasi internasionalnya sebanyak 149 yang diterbitkan di jurnal internasional terindeks Scopus.
“Jumlah sitasi pada jurnal internasional terindeks scopus ada 1326, jumlah sitasi oleh jurnal luar dan dalam negeri ada 1766. Kebanyakan sitasi ada pada paper drug development dan kaliksarena,” kata dia.
Sedangkan, Muhammad Akhsin Muflikhun ada 797 sitasi di jurnal internasional yang terindeks Scopus, sedangkan di Google Scholar ada 1013 sitasi. Umumnya sitasi dari publikasinya mengenai Composite Manufacturing and technology, Additive manufacturing, Macro-Micro-Nano Manufacturing.
Ganjar Alfian lebih banyak melakukan publikasi terkait penerapan dari kecerdasan artifisial dan Internet of Things (IoT) untuk bidang manufaktur, kesehatan, rantai pasok, dan transportasi. Berdasarkan data dari Scopus, hingga saat ini terdapat total 1903 sitasi.
“Artikel yang paling banyak disitasi berkaitan dengan bidang kecerdasan artifisial terapan dan Internet of Things. Selain itu, hampir semua artikel yang telah dipublikasikan disitasi oleh penulis yang berafiliasi dengan institusi luar negeri,” kata dia.
Ganjar berharap pencapaian ini semakin memotivasi dirinya untuk terus melakukan lebih banyak penelitian terapan dan menghasilkan publikasi yang sejalan dengan visi Sekolah Vokasi UGM. “Harapannya, hasil-hasil tersebut dapat langsung diaplikasikan dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar dia.
World’s Top 2% Scientists 2024 merupakan sistem perangkingan ilmiah yang disusun berdasarkan analisis dampak sitasi di berbagai bidang keilmuan menggunakan data dari database Scopus. Lembaga ini secara rutin memilih 100.000 ilmuwan dari keseluruhan ilmuwan global yang berkiprah di berbagai Lembaga akademik dunia.
| Baca juga: UGM dan Peneliti Dunia Ungkap Rahasia Karst Banggai yang Belum Terjamah |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Dosen UGM Terpilih Jadi Anggota Ahli Forensik Satwa Liar Internasional SWFS
Sendi berharap dengan keanggotaan penuhnya ini dapat memperkuat penanganan kejahatan satwa liar di Indonesia. [580] url asal
#dosen-ugm #ugm #satwa-liar #society-for-wildlife-forensic-science #swfs #dwi-sendi-priyono
(MedCom) 23/08/24 11:13
v/14550574/
Jakarta: Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwi Sendi Priyono, terpilih sebagai anggota penuh pertama dari Indonesia di Society for Wildlife Forensic Science (SWFS). Ini adalah organisasi internasional untuk ilmu forensik satwa liar.Sendi berharap dengan keanggotaan penuhnya ini dapat memperkuat penanganan kejahatan satwa liar di Indonesia. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa namun juga menjadi pusat perdagangan satwa ilegal.
Ahli DNA forensik satwa liar itu menuturkan dengan keanggotaan ini juga bisa membawanya berkolaborasi dengan ahli internasional. Hal ini untuk mengembangkan metode lebih efektif dalam menangani kejahatan satwa liar dan mendukung upaya pelestarian spesies yang terancam punah di Indonesia.
“Motivasi utama saya bergabung dengan SWFS adalah untuk memperluas jaringan profesionalnya dan mengakses pengetahuan terbaru dalam bidang forensik satwa liar, khususnya dalam pendekatan DNA,” kata Kepala Laboratorium Sistematika Hewan di Departemen Biologi Tropika UGM itu dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 23 Agustus 2024.
Dia menuturkan posisi Indonesia yang menjadi pusat megabiodiversitas dunia membuat tantangan penanganan kejahatan satwa liar semakin kompleks. Menurutnya, perdagangan satwa ilegal seringkali melibatkan barang sitaan yang tidak utuh, sehingga sulit diidentifikasi secara morfologi.
“Keterampilan dalam pengujian DNA menjadi sangat penting,” ujar dia.
Sendi mengungkapkan menjadi anggota penuh SWFS bukan hal mudah. Dia harus melalui proses seleksi ketat yang melibatkan penilaian terhadap portofolionya dalam bidang DNA forensik satwa liar dan mendapatkan minimal dua rekomendasi dari ahli forensik satwa liar internasional.
Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah memenuhi standar tinggi yang ditetapkan oleh SWFS. “Keterlibatan saya dalam membantu berbagai kasus dengan pihak seperti Mabes Polri, Badan Intelijen dan Keamanan Polri, serta hasil kerja yang telah dipublikasikan secara ilmiah, akhirnya membantu saya mendapatkan keanggotaan penuh ini,” ungkap dia.
Keahlian Sendi dalam teknik identifikasi DNA forensik tidak muncul begitu saja. Sebelum menjadi dosen di UGM, ia telah lama berkecimpung dalam dunia konservasi satwa liar di berbagai NGO.
“Teknologi DNA forensik satwa liar sebenarnya bukan hal baru di dunia konservasi secara global, namun belum banyak diadopsi di Indonesia karena keterbatasan SDM dan fasilitas,” beber dia.
Sendi ingin memberikan kontribusi ilmiah yang diperlukan dengan latar belakang keilmuan yang dimiliki. Hal itu untuk mendukung tindakan hukum terhadap pelanggaran perdagangan satwa liar di Indonesia.
Dia bercerita, ia dan timnya menggunakan teknik DNA forensik untuk menganalisis berbagai bukti forensik dari kasus-kasus satwa liar. “Kami menggunakan teknik DNA untuk mengidentifikasi spesies dan mengkonfirmasi apakah barang bukti tersebut berasal dari spesies yang dilindungi,” jelasnya.
Salah satu kasus yang paling berkesan baginya ketika berhasil mengidentifikasi asal geografis gading gajah yang diselundupkan. “Hasil analisis ini berperan krusial dalam proses hukum dan mendukung upaya pelestarian dengan menyediakan bukti ilmiah yang kuat,” ujar dia.
Sebagai anggota penuh SWFS, Sendi kini terlibat dalam pengembangan standar forensik satwa liar, berbagi pengetahuan, dan berpartisipasi dalam proyek-proyek global. Ia berencana mengembangkan proyek yang fokus pada pembuatan database forensik satwa liar yang komprehensif di Indonesia, serta meningkatkan kapasitas lokal melalui pelatihan dan workshop.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat penegakan hukum dan upaya pelestarian dengan menyediakan alat yang lebih baik untuk analisis forensik,” harap dia.
Meskipun menghadapi tantangan besar seperti keterbatasan fasilitas dan teknologi, serta minimnya database DNA satwa endemik, Sendi tetap optimistis tentang masa depan forensik satwa liar di Indonesia. Ia percaya dengan dukungan internasional dan kolaborasi yang semakin kuat, kapasitas lokal dalam menangani kasus-kasus satwa liar akan terus meningkat.
“Dukungan dari lembaga internasional dan pengalaman yang saya dapat dari keanggotaan SWFS akan memperkuat upaya pelestarian dan penegakan hukum di Indonesia,” ujar Sendi.
| Baca juga: Pengamat UGM Nilai Target Nol Emisi Karbon di IKN Sulit Tercapai |
(REN)