Presiden Rusia Vladimir Putin memuji potensi ekonomi negara-negara anggota BRICS dan mengusulkan beberapa inisiatif termasuk pembentukan bursa biji-bijian [324] url asal
IDXChannel - Presiden Rusia Vladimir Putin memuji potensi ekonomi negara-negara anggota BRICS dan mengusulkan beberapa inisiatif termasuk pembentukan bursa biji-bijian bersama dan platform investasi BRICS. Hal ini disampaikannya saat berbicara dalam KTT BRICS di Kazan, Rusia, Rabu (23/10).
Aliansi BRICS yang awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan ini telah melebarkan sayapnya dengan merangkul Iran, Mesir, Ethiopia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Turki, Azerbaijan, dan Malaysia juga telah secara resmi mengajukan permohonan untuk menjadi anggota; diikuti sejumlah negara lain telah menyatakan minat mereka untuk bergabung.
“Pusat aktivitas bisnis secara bertahap bergeser ke arah pasar-pasar berkembang, sebuah model multipolar yang meluncurkan gelombang pertumbuhan baru – terutama di negara-negara di Selatan dan Timur dan, tentu saja, di negara-negara BRICS – kini sedang dibentuk,” kata Putin.
Putin menambahkan, “pendekatan yang seimbang” terhadap masalah iklim harus dipromosikan untuk “menangkal upaya-upaya menggunakan agenda iklim untuk menyingkirkan pesaing pasar.”
KTT BRICS yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri oleh 36 negara, termasuk China, India, Uni Emirat Arab dan Afrika Selatan. Pertemuan tingkat tinggi ini menunjukkan kegagalan upaya yang dipimpin Amerika untuk mengisolasi Rusia karena tindakannya di Ukraina.
Kremlin memuji KTT itu sebagai “pertemuan kebijakan luar negeri terbesar yang pernah diselenggarakan” oleh Rusia.
Kremlin telah menjadikan BRICS sebagai penyeimbang tatanan global yang didominasi Barat dan melipatgandakan upayanya untuk mendekati negara-negara di Global South setelah mengirim pasukan ke Ukraina pada Februari 2022.
Rusia secara khusus mendorong diciptakannya sistem pembayaran baru yang akan menawarkan alternatif terhadap jaringan pesan bank global SWIFT dan memungkinkan Moskow menghindari sanksi Barat dan berdagang dengan mitranya.
Sehari menjelang pembukaan KTT BRICS itu, Putin – yang akan melangsungkan lebih dari selusin pertemuan bilateral – berunding dengan Xi, Modi dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.
Sementara pada hari Kamis (24/10), Putin juga dijadwalkan bertemu dengan Sekjen PBB Antonio Guterres, yang akan melakukan kunjungan pertamanya ke Rusia dalam lebih dari dua tahun. Guterres telah berulang kali mengkritik tindakan Rusia di Ukraina.
Ekonomi global ke depannya diperkirakan akan memberi porsi lebih besar kepada negara-negara yang lebih miskin tetapi berpopulasi lebih banyak dari negara maju. [756] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Laporan terbaru International Monetary Fund atau IMF mengungkap peluang bahwa dunia akan semakin bergantung pada kelompok ekonomi berkembang BRICS untuk mendorong ekspansi, dibandingkan negara-negara barat yang lebih kaya seperti G7.
Hal itu tercantum dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2024 yang diterbitkan IMF atau Dana Moneter Internasional pada awal pekan ini. Laporan tersebut berjudul "Policy Pivot, Rising Threats" yang berarti Pergeseran Kebijakan, Meningkatnya Ancaman.
Terdapat sejumlah perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari laporan terakhir IMF pada enam bulan lalu. Salah satu yang paling kentara, terdapat peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dalam lima tahun mendatang dari negara-negara BRICS.
Temuan potensi ekonomi BRICS itu mengacu pada paritas daya beli. Berdasarkan perhitungan itu pula, kontribusi ekonomi dari negara-negara maju di kelompok Group of Seven (G7), seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang justru direvisi turun.
"China akan menjadi kontributor teratas bagi pertumbuhan global selama lima tahun ke depan, dengan bagiannya 22% lebih besar daripada semua negara G7 secara keseluruhan, menurut perhitungan Bloomberg menggunakan perkiraan IMF terbaru," dikutip dari Bloomberg pada Jumat (25/10/2024).
Setelah China, India diperkirakan akan menambah hampir 15% dari total bagiannya terhadap perekonomian global. Hal itu menjadikan negeri Bharat sebagai salah satu raksasa pertumbuhan global lainnya.
Bloomberg juga menemukan bahwa beberapa perkiraan untuk negara-negara lain juga menggambarkan bagaimana ekonomi dunia menjadi lebih bergantung pada pasar berkembang, terutama berdasarkan ukuran daya beli dengan pendekatan upaya penyesuaian harga.
Bukan hanya itu, ekonomi dunia juga memberi porsi yang lebih besar kepada negara-negara yang lebih miskin tetapi berpenduduk lebih banyak dibandingkan negara-negara maju.
Bloomberg memperkirakan bahwa Mesir akan menambah 1,7% pada pertumbuhan global dalam kurun 2024—2029, sama dengan Jerman dan Jepang. Lalu, Vietnam diperkirakan akan memberikan kontribusi 1,4%, laju kenaikan yang sama dengan Prancis dan Inggris.
Negeri Paman Sam yang perkasa selama 25 tahun terakhir, terutama pada periode pascapandemi, menjadikannya kontributor terbesar bagi pertumbuhan dunia di antara negara-negara maju.
Namun demikian, China belum mampu mempertahankan pangsa ekonomi globalnya dalam hal paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) dibandingkan dengan trajektori India dan China sebagai negara dengan populasi terbanyak di dunia.
Adapun, dua negara G7 dengan ekonomi terkecil, yakni Kanada dan Italia diperkirakan masing-masing berkontribusi kurang dari 1% terhadap pertumbuhan ekonomi dunia hingga 2029 mendatang.
Laju ekonomi Kanada dan Italia itu lebih rendah dibandingkan negara-negara yang jauh lebih miskin tetapi populasinya lebih besar, seperti Bangladesh, Mesir, atau Filipina.
Kontribusi negara-negara terhadap pertumbuhan ekonomi global. / dok. Bloomberg
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global
IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2025 dan memperingatkan meningkatnya risiko, dari perang hingga proteksionisme perdagangan.
IMF memperkirakan produk domestik bruto (PDB) global akan meningkat 3,2% tahun depan. Proyeksi ini lebih rendah 0,1 poin persentasi dari rilis WEO sebelumnya pada Juli 2024.
Adapun, outlook pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak berubah pada 3,2%, sedangkan inflasi global diperkirakan melambat menjadi 4,3% pada 2025 dari 5,8% tahun ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, IMF telah memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia cenderung landai dalam jangka menengah. Hal ini membuat negara-negara kekurangan sumber daya untuk mengurangi kemiskinan dan menghadapi perubahan iklim.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan risiko-risiko global semakin meningkat dan ekonomi global sedang dalam ketidakpastian yang semakin besar.
"Ada risiko geopolitik, dengan potensi eskalasi konflik regional, yang dapat memengaruhi pasar komoditas. Ada peningkatan proteksionisme, kebijakan-kebijakan proteksionis, gangguan-gangguan dalam perdagangan yang juga dapat mempengaruhi aktivitas global," ujar Gourinchas seperti dikutip Bloomberg, Rabu (23/10/2024).
Meskipun prospek IMF tidak secara eksplisit menyebutkan pilpres AS pada November mendatang, perhelatan politik AS tersebut akan pertemuan tahunan menteri keuangan dan gubernur bank sentral dunia di markas besar IMF dan World Bank di Washington, yang berjarak hanya tiga blok dari Gedung Putih.
Proyeksi IMF terhadap Ekonomi Indonesia
IMF memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan mencapai 5,0%. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berada di tren 5%.
Sayangnya, perkiraan IMF ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan. Misalnya, pada 2025 laju ekonomi diperkirakan hanya mencapai 5,1%.
Bahkan, IMF memproyeksikan bahwa pada 2029 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap di 5,1%.
Seperti diketahui, 2029 merupakan akhir masa jabatan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan wakil presidennya, Gibran Rakabuming Raka.
Padahal, Prabowo bercita-cita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8%. Proyeksi IMF itu seolah menunjukkan bahwa ambisi Prabowo masih cenderung sulit tercapai.
Adapun, indikator lainnya yang diproyeksikan oleh IMF adalah inflasi Indonesia akan stabil di 2,3% pada 2024. Lalu, neraca transaksi berjalan 2024 diperkirakan -1,0%, dan tingkat pengangguran pada 2024 sebesar 5,2%. (Aprianto Cahyo Nugroho)