JAKARTA, investor.id - PT Esta Indonesia Tbk (NEST) berencana membangun pabrik produksi baru untuk menggenjot ekspor. Strategi tersebut diharapkan mampu menjadi katalis positif bagi kinerja perseroan di 2024.
Direktur Utama Esta Indonesia Hoo Anton Siswanto mengungkapkan bahwa pabrik tersebut sudah memasuki tahap konstruksi dan diestimasikan tuntas dalam waktu yang tidak lama, sehingga akan dapat mendongkrak ekspor perseroan.
Baca juga: Saham IPO Esta Indonesia (NEST) Diborong Investor China
“Perseroan biasanya mengekspor maksimal 50 ton sarang burung walet per tahun dengan negara tujuan utama ekspor Tiongkok tepatnya perusahaan Xiamen Yan Palace Bird’s Nest Industry Co., Ltd,” ucap Hoo seusai mengantarkan NEST melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (8/8/2024).
Selain mengekspor ke Tiongkok, dirinya menyebut, perseroan juga biasa mengekspor ke negara lain seperti Singapura, Amerika, Australia dan Jepang.
Penetrasi ekspor NEST yang ke depan kian agresif ini bakal disokong dengan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 164,5 miliar yang akan digunakan NEST untuk membeli 6 Rumah Burung Walet (RBW) di Poso, Sulawesi Tengah dengan komposisi sekitar 7,47%.
Baca juga: Mesin Baru Pertumbuhan Grup Astra (ASII)
Kemudian, sekitar 18,67% dari capex tersebut, perseroan gunakan sebagai setoran modal ke entitas anak yang selanjutnya dibelanjakan untuk membeli tanah dan bangunan sebagai kantor operasional.
Sisanya, dana akan dialokasikan sebagai modal kerja gun mendukung pertumbuhan NEST yang di antaranya untuk membeli bahan baku, membayar gaji, membeli alat dan bahan pendukung kegiatan operasional, serta membiayai kegiatan operasional.
Baca juga: Harga Batu Bara Melesat karena Ada Sentimen Positif Ini
Menurut Hoo, ekspansi perseroan tersebut didasari atas potensi pasar yang masih besar. Terdapat dua negara di dunia yang berperan penting dalam industri sarang burung walet yaitu Indonesia dan China.
Indonesia merupakan produsen bahan baku yang menguasai lebih dari 75% produksi sarang burung walet dunia yang berkekuatan besar. Sementara China merupakan konsumen terbesar di dunia dengan serapan sekitar 80%.
“Perseroan sendiri merupakan eksportir sarang burung walet pertama (pioneer) yang dapat mengirim sarang burung langsung ke China,” ungkap Hoo.
Melihat besarnya pangsa pasar kebutuhan konsumsi sarang burung walet terutama dari China dan tren ekspor sarang burung dari Indonesia ke China yang melejit sejak 2019 sebesar 126.891 kilogram menjadi 408.311 kilogram pada 2023, maka China menjadi target pasar ekspor sarang burung walet dunia.
Baca juga: Harga CPO Menguat Lagi Ditopang Ekspor Meningkat
Selain permintaannya yang besar, harga tawar di China juga lebih tinggi ketimbang negara-negara tujuan ekspor lainnya. “Kami percaya, bisnis ini mampu tumbuh dan menjadi eksportir sarang burung walet terbesar di Indonesia dan dunia,” ujar Hoo.
Saham NEST mengalami Auto Rejection Atas alias ARA akibat kenaikan harga yang signifikan pada hari pertama pencatatannya di BEI, Kamis (8/8/2024). Pada perdagangan perdananya, saham NEST melonjak 35% dari harga penawaran awal sebesar Rp 200 per saham menjadi Rp 270 per saham.
Kenaikan tersebut mencerminkan antusiasme dan permintaan yang tinggi dari investor terhadap saham NEST yang mengakibatkan saham mencapai batas atas pergerakan harga harian yang diperbolehkan BEI.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News