#30 tag 24jam
Kembangkan Bisnis Wisata Golf, Cermati Target dan Strategi Intra Golflink (GOLF)
PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) mengintip peluang untuk memacu bisnis golf tourism. [923] url asal
#emiten #ipo #ekuitas-emiten #pt-intra-golflink-resorts-tbk-golf #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan) 27/07/24 13:07
v/12297864/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Golf identik sebagai olahraga kaum kelas atas. Tapi pasca pandemi covid-19, masyarakat yang berminat untuk bermain golf semakin meluas. Dari sini, PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) mengintip peluang untuk memacu bisnisnya.
GOLF merupakan perusahaan yang berdiri pada tahun 2005 di bidang industri hospitality dalam bentuk kepemilikan dan pengelolaan lapangan golf. Saat ini GOLF memiliki tiga lapangan melalui dua anak usaha dan satu entitas asosiasi.
Pertama, Palm Hill Golf Club - Bogor yang dikelola oleh PT Sentul Golf Utama (SGU). Kedua, New Kuta Golf - Bali yang dikelola PT New Kuta Golf and Ocean View (NKG). Ketiga, Black Rocks Hotel & Golf Club - Belitung yang digarap oleh PT Belitung Golf and Resorts (BGR).
SGU dan NKG merupakan anak usaha GOLF, sedangkan BGR adalah entitas asosiasi. Mulai tahun 2022, GOLF melakukan ekspansi dan transformasi. Di samping industri hospitality, GOLF melebarkan sayap bisnisnya menjadi perusahaan properti terpadu.
Guna memuluskan rencana tersebut, langkah penting yang ditempuh GOLF adalah menghimpun dana dari pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO). GOLF pun go public dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2024.
Dalam aksi korporasi ini, GOLF melepas sebanyak 1,95 miliar saham atau 10,01% dari seluruh modal. Harga penawaran dibanderol sebesar Rp 200 per saham, sehingga dari IPO ini GOLF meraup dana segar sebesar Rp 390 miliar.
Sebanyak 87,53% dari dana tersebut dipakai GOLF sebagai setoran modal kepada NKG. Kemudian, NKG akan menggunakan dana itu untuk beberapa keperluan, yang mayoritasnya sebagai belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk membangun hotel bintang enam Luxury Boutique Hotel.
Hotel tersebut berlokasi di Hole 15 - The Cliff Hanger, Kawasan Pecatu Indah Resort, Jimbaran, Bali. Selain itu, NKG juga mengalokasikan capex untuk pembangunan New Kuta Golf Villa yang berada di kawasan yang sama.
Sekretaris Perusahaan Intra GolfLink Resorts, S. Hari Cahyanto mengatakan GOLF ingin mengintegrasikan golf dengan pariwisata. Sehingga dengan beragam aset yang dimiliki dan dikelola, GOLF bisa menjadi destinasi bagi para pemain golf maupun wisatawan domestik dan mancanegara.
"Prioritas GOLF pada bisnis, khususnya golf tourism yaitu meningkatkan nilai aset entitas anak dan asosiasi di area golf course untuk menangkap seluruh potensi pasar ke depannya," kata Hari kepada Kontan.co.id, Jumat (26/7).
Target dan strategi GOLF yang mengusung wisata golf (golf tourism) sebelumnya telah ditegaskan oleh Komisaris Utama Intra GolfLink Resorts Darma Mangkuluhur Hutomo. Dia mengatakan, IPO menjadi bagian dari strategi GOLF menggelar ekspansi dan mengembangkan bisnis golf tourism di Indonesia.
Darma bilang, golf tourism punya prospek menjanjikan, terutama setelah pandemi covid-19. "Membuka peluang besar untuk ekspansi dan investasi di golf tourism. Ini menjadi fokus kami, sekaligus untuk memperkuat infrastruktur, fasilitas dan ekosistem pendukungnya," kata Darma dalam konferensi pers IPO, Rabu (19/6).
Putra dari Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto itu menyatakan bahwa GOLF tidak hanya menyasar pasar domestik, melainkan ingin menjadi destinasi bagi para pe-golf mancanegara. Pasalnya, golf tourism Indonesia saat ini masih tertinggal dibanding negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand dan Vietnam.
Memacu Bisnis Properti
Sebagai bagian dari strategi mengembangkan golf tourism, langkah awal GOLF setelah IPO adalah memacu bisnis properti untuk menumbuhkan infrastruktur dan ekosistem. GOLF bersiap memasarkan salah satu proyek yang dimilikinya, yakni The Links Golf Villa.
Dari proyek yang digarap oleh NKG ini, GOLF membidik pendapatan pra-penjualan alias marketing sales hingga Rp 465 miliar. Direktur Utama Intra Golflink Resorts Dwi Febri Astuti menjelaskan proyek ini akan dibagi menjadi dua tahap.
Pada tahap pertama, GOLF menargetkan bisa meraup marketing sales sebesar Rp 165 miliar hingga akhir tahun 2024. Kemudian GOLF membidik marketing sales sekitar Rp 300 miliar di akhir tahun 2025 dari proyek The Links Golf Villa tahap kedua.
Hari menambahkan, saat ini NKG sedang dalam tahap persiapan dan peluncuran The Links Golf Villa tahap pertama akan dimulai pada Agustus 2024. "Pengembangan bisnis real estat menjadi peluang ekspansi strategis GOLF untuk memperluas portofolio dan sumber pendapatannya," kata Hari.
Berkaca dari kinerja keuangan tahun 2023, pendapatan GOLF masih didominasi oleh bisnis golf dengan kontribusi 53,18%. Sisanya berasal dari segmen real estat sebesar 25,12%, restoran sebanyak 14,76% dan pendapatan lainnya 6,94%.
Adapun, pada tahun lalu GOLF membukukan pendapatan sebesar Rp 177,58 miliar atau tumbuh 59,07% dibandingkan tahun 2022. Sedangkan laba bersih GOLF melonjak sebanyak 135,68% secara tahunan menjadi Rp 60,17 miliar pada tahun 2023.
Hari menyampaikan, pada tahun ini GOLF belum membidik target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang agresif. Sebab, proyek-proyek unggulan GOLF masih dalam masa pembangunan dan pengembangan, yang masih membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun ke depan.
"Seiring potensi pertumbuhan pada industri pariwisata olahraga, diversifikasi pada industri real estat, ditambah ekspansi melalui Luxury Boutique Hotel dan villa, kami memproyeksikan kinerja GOLF ke depannya akan bertumbuh positif," tutup Hari.
Tipis di Atas Harga IPO
Bagai bola golf yang melesat kencang, harga saham PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) melaju hingga auto rejection atas saat debut di hari perdana. Harga GOLF melejit 35% ke posisi Rp 270 per saham pada Senin (8/7).
Pada hari kedua, kenaikan harga sudah terbatas, hanya 0,74% ke area Rp 272, yang menjadi level harga tertinggi sejauh ini. Sebab, sejak hari ketiga, pergerakan harga GOLF merosot.
Hingga akhir pekan ini, Jumat (26/7) GOLF menutup perdagangan dengan pelemahan 0,94% ke posisi Rp 210 per saham. Level ini hanya sedikit di atas harga penawaran GOLF saat menggelar IPO yakni Rp 200 per saham.
Adapun, kepemilikan GOLF masih dikuasai oleh PT Bali Pecatu Graha yang juga menjadi pengendali, dengan menggenggam 88,49%. PT Mandalapratama Permai mengempit 1,50% dan sisanya sebanyak 10,01% saham GOLF dimiliki masyarakat.
Superior Prima Sukses (BLES) Poles Bisnis Lewat Jualan Bata Ringan dan Semen Mortar
PT Superior Prima Sukses Tbk resmi melantai di bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2024. [655] url asal
#ekuitas-emiten #aset-emiten #superior-prima-sukses-bles #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 12/07/24 19:17
v/10550756/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Superior Prima Sukses Tbk resmi melantai di bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2024. Emiten dengan kode saham BLES ini akan memoles bisnis lewat penjualan bata ringan dan semen mortar.
BLES didirikan pada tanggal 3 November 2011 yang berkedudukan di Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan usaha utama emiten ini yakni menjalankan usaha industri barang dari semen dan kapur untuk konstruksi, mencakup usaha pembuatan bahan keperluan konstruksi seperti ubin, bata/dinding, pipa beton dan beton praktekan, dan sebagainya.
Adapun bata ringan memiliki fungsi serupa seperti bata merah dan batako. Di pasaran bata ringan juga sering disebut dengan hebel yang memiliki bobot lebih ringan dari batu fondasi lainnya.
Merek unggulan bata ringan yang diproduksi BLES yaitu Blesscon dan Superiore Block. BLES memproduksi bata ringan berjenis AAC yang memiliki daya serap air rendah, sehingga keunggulannya ruangan akan selalu terasa kering dan nyaman untuk ditinggali.
Di samping memproduksi bata ringan, BLES juga menjual semen mortar melalui pihak ketiga. Semen mortar merupakan versi semen instan yang bisa langsung dipakai tanpa memberikan beberapa campuran material bangunan yang lain.
Semen mortar ini termasuk jenis semen perekat yang merupakan jenis semen plester untuk merekatkan bata ringan. Perseroan menjual produk semen mortar dengan 2 merek yaitu Blessbond dan Superiore Bond.
Dari sisi produksi, saat ini BLES memiliki 4 pabrik di 4 lokasi dengan 5 lini produksi. Rinciannya pabrik Sragen memiliki 2 lini produksi, dan masing-masing pabrik lainnya berada di Mojokerto, Lamongan, dan Sidoarjo.
Tahun ini BLES pun berencana membangun pabrik kelimanya di Banjarnegara, Jawa Tengah. Ekspansi ini sejalan dengan langkah perseroan yang menghimpun dana modal lewat penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Sekretaris Perusahaan PT Superior Prima Sukses Tbk Andrew mengatakan, kapasitas pabrik baru BLES yakni sekitar 900.000 meter kubik hingga 1 juta meter kubik per tahun. Pabrik baru tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp 200 miliar - Rp 250 miliar.
“Pabrik kelima ini kami rencanakan mulai beroperasi pada tahun 2025,” ungkap Andrew saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Senin (8/7).
Di sisi lain, BLES juga berencana meningkatkan kapasitas produksi dua pabrik eksisting mereka yang berlokasi di Mojokerto dan Lamongan. Kapasitas produksi keempat pabrik BLES sekitar 3,2 juta meter kubik per tahun hingga tahun 2023.
Andre menyebutkan, di akhir tahun 2024, BLES menargetkan kapasitas produksi dari total keempat pabrik tersebut sebesar 4,6 juta meter kubik per tahun.
Tak hanya peningkatan kapasitas produksi, BLES terus berupaya memperluas jaringan pemasaran produknya. BLES ingin memperkuat kehadiran produknya di wilayah luar Pulau Jawa seperti di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Direktur Komersial PT Superior Prima Sukses Tbk Henrianto memaparkan, BLES berencana menambah porsi kiriman batu bata ringan untuk proyek IKN di tahun 2024.
“Sebenarnya kami sudah suplai, tetapi memang belum terlalu besar. Kami masuk dari proyek-proyek yang tengah berjalan,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Sayangnya, Henrianto belum menyampaikan besaran kiriman BLES ke IKN dan seberapa besar target pertambahannya di tahun ini. Yang jelas nilainya masih kecil, jauh dari pengiriman untuk wilayah Pulau Jawa.
Kendati demikian, BLES optimistis memiliki prospek usaha yang baik dalam meningkatkan pendapatan lewat penjualan batu bata ringan sebagai bahan utama dalam pembangunan. Hal itu karena menilai sektor properti di Indonesia tetap kokoh berdiri.
Dengan pemangkasan suku bunga acuan BI akan mendorong penurunan suku bunga perbankan (kredit) yang dapat mendorong ekspansi kredit dan investasi. Selain itu, adanya penyesuaian tarif insentif PPN DTP diperkirakan tetap mampu menjadi daya tarik untuk terus menggerakan transaksi di sektor properti.
Emiten terafiliasi dengan konglomerat Hermanto Tanoko ini memproyeksikan dapat mencapai pertumbuhan penjualan bersih secara eksponensial sebesar 28% secara tahunan di tahun 2024 dan 36% secara tahunan di tahun 2025. Tahun 2023 lalu, penjualan bersih BLES tumbuh 22,20% secara tahunan menjadi Rp 1,36 triliun.
Hingga bulan April 2024, BLES memiliki sekitar 15.000 pelanggan terdaftar. Perseroan menargetkan penambahan pelanggan menjadi 20.000-25.000 di akhir tahun 2024. Perusahaan besar yang jadi pelanggan BLES salah satunya adalah PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP).