#30 tag 24jam
Dampak Kemenangan Trump di Pilpres AS: Dolar Menguat-Negara Berkembang Waswas
Donald Trump menang dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS). Lalu, bagaimana dengan dampaknya terhadap pasar global? [781] url asal
#pilpres #amerika #swiss #presiden-trump #citi #biden-harris #korea #rand-afrika-selatan #komisi #yuan-china #iran #pemilihan-umum #pemerintah-as #s-amp-p-500 #gary-gensler #yen #bursa-as #india #eropa #edison-resear
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 07/11/24 08:56
v/17647985/
Jakarta - Donald Trump menang dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS). Lalu, bagaimana dengan dampaknya terhadap pasar global?
Dikutip dari Reuters, Kamis (7/11/2024), Edison Research menilai, kondisi ini dapat menjadi kemenangan bagi nilai tukar dolar AS dan pasar saham. Namun, kemenangan Trump dapat berdampak kurang baik bagi obligasi, negara berkembang, energi bersih, dan investasi berkelanjutan.
Mata Uang
Posisi Trump sebagai presiden AS akan memperkuat nilai tukar dolar AS. Para investor mengharapkan kebijakan Trump terhadap inflasi dan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, itu berarti bank sentral AS, Federal Reserve perlu mempertahankan suku bunga tinggi untuk mencegah ekonomi menjadi 'terlalu panas' yang pada akhirnya membuat dolar AS menguat.
Pada saat yang sama, rencana Trump mengenakan tarif pada perdagangan membuat Eropa membayar lebih banyak untuk pertahanan, dan kewaspadaannya terhadap lembaga multilateral kemungkinan menekan pertumbuhan di negara lain, sehingga meningkatkan daya tarik dolar AS.
Analis Citi memperkirakan penurunan tajam nilai tukar euro hingga di bawah level kunci US$ 1 jika tarif dan pemotongan pajak domestik diberlakukan. Nilai tukar Yuan China juga diperkirakan merosot lebih dalam, seperti pada 2018-2020 ketika nilainya terdepresiasi dengan cepat.
Trump diharapkan mengambil langkah yang lebih luwes terhadap regulasi kripto, sehingga harga Bitcoin bisa melonjak. Mata uang kripto terbesar di dunia ini naik ke titik tertinggi sepanjang masa pada Rabu kemarin
Saham
Sejumlah janji kampanye Trump dipandang mendatangkan dampak positif bagi pasar modal karena bisa menyebabkan pertumbuhan dan inflasi yang lebih kuat. Janji itu antara lain mengurangi regulasi dan penerapan pajak yang lebih rendah untuk perusahaan besar, lebih banyak produksi minyak, dan imigrasi yang ketat.
Sektor-sektor seperti bank, teknologi, pertahanan, dan bahan bakar fosil kemungkinan diuntungkan. Berdasarkan estimasi Goldman Sachs, tarif pajak perusahaan dipangkas menjadi 15% dari 21% dan bisa menaikkan laba S&P 500 4%.
Pada saat yang sama, kebijakan proteksionisme dan sikap kerasnya terhadap China akan menaikkan biaya, mengurangi keuntungan, dan merugikan perusahaan multinasional. Sektor-sektor yang terpapar perubahan tarif, seperti semikonduktor, otomotif, dan energi bersih kemungkinan bergejolak.
Obligasi
Sementara itu, investor semakin khawatir tentang skala utang pemerintah AS dan defisit fiskalnya. Kondisi ini berangkat dari kekhawatiran bahwa hal itu akan mendorong biaya pinjaman, atau imbal hasil Treasury. Rencana belanja Trump dapat menambah US$ 7,5 triliun pada defisit selama 10 tahun, jauh lebih besar dari yang diusulkan Kamala Harris.
Imbal hasil Treasury naik hampir 50 basis poin pada Oktober, ketika pasar memperkirakan kemungkinan kemenangan Trump. Tekanan inflasi dari kebijakan Trump akan membuat Fed memiliki lebih sedikit ruang untuk memangkas suku bunga, yang akan membuat imbal hasil Treasury tetap tinggi.
Tekanan yang lebih besar pada mata uang euro, yen, franc Swiss, dan lainnya, serta inflasi yang lebih tinggi akan mengurangi ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga sesuai kebutuhan.
Komoditas
Trump akan berusaha memaksimalkan pengeboran minyak dan gas AS sebagai upaya menjamin negara tersebut tetap menjadi produsen teratas dunia. Pasokan yang kuat dapat membantu menjaga harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS yang sudah turun 4% sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, Trump kemungkinan meningkatkan sanksi minyak terhadap Iran yang dapat memangkas sebagian besar pasokan minyak mentah dunia. Ia juga akan mengisi Cadangan Minyak Strategis ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kacang kedelai juga menjadi incaran. Para pedagang AS telah berlomba-lomba untuk mengirimkan panen yang memecahkan rekor menjelang pemilihan umum di tengah kekhawatiran akan ketegangan perdagangan baru dengan China, importir kedelai terbesar di dunia.
Negara Berkembang
Sebelum pemilihan umum, kekhawatiran atas kebijakan Trump telah membebani ekonomi negara berkembang. Selain tarif terhadap China, Trump berencana mengenakan tarif 200% terhadap impor kendaraan Meksiko. Peso Meksiko dapat melemah terhadap dolar AS.
Potensi hambatan lainnya adalah Calon Wakil Presiden Trump, JD Vance telah mengusulkan pajak 10% atas pengiriman uang yang akan mempengaruhi ekonomi Amerika Latin. Rand Afrika Selatan, pasar riil dan saham Brasil di negara-negara ini rentan jika terjadi kenaikan tarif, seperti halnya produsen chip di Taiwan, Korea Selatan, dan negara-negara lain yang memproduksi untuk perusahaan teknologi China.
Penjualan obligasi pemerintah dan penguatan dolar AS juga akan menyedot uang dari pasar berkembang dan memaksa kebijakan moneter yang lebih ketat di banyak negara. Namun, negara dengan pertumbuhan domestik seperti India atau Afrika Selatan dapat memperoleh manfaat dan menjadi tempat berlindung di lingkungan global yang tidak stabil.
Investasi Berkelanjutan
Kemenangan Trump membuka peluang tindak lanjut janji kampanye untuk mencabut peraturan ramah lingkungan yang membatasi pengeboran minyak dan gas serta penambangan batu bara. Kondisi ini dapat meningkatkan saham di sektor-sektor tersebut.
Trump juga akan mencabut semua dana yang tidak terpakai berdasarkan Undang-Undang Pengurangan Inflasi, Undang-Undang iklim khas pemerintahan Biden-Harris yang mencakup subsidi ratusan miliar dolar AS untuk kendaraan listrik, energi surya, dan angin.
Trump juga berjanji untuk memecat Gary Gensler sebagai Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS. Hal ini akan menjadi kemunduran bagi kemampuan dana berkelanjutan AS.
(shc/ara)
6 Faktor Utama Ramalan Bitcoin dari Bank Standard Chartered
Menurut ramalan Bitcoin dari Standard Chartered harga kripto besar itu bisa mencapai US$200 ribu, siapapun yang kelak menjadi presiden AS. [583] url asal
#bitcoin #btc #etf #gary-gensler #presiden-as #sec #standard-chartered #suku-bunga #the-fed
(BlockChain-Media) 21/09/24 16:00
v/15345332/
Geoff Kendrick, Kepala Penelitian Aset Digital Global di Bank Standard Chartered, mengemukakan 6 faktor ramalan Bitcoin, di mana harga BTC dapat mencapai US$200 ribu pada akhir tahun 2025, terlepas dari hasil pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 2024.
Berikut 6 faktor utama yang dapat mendorong ramalan Bitcoin menuju rekor tertinggi baru dalam beberapa tahun mendatang, menurut Standard Chartered, dilansir dari artikel Cointelegraph.
Harga BTC Diramalkan Jadi US$120 Ribu, Ini Kata Standard Chartered Bank
Pertama, Potensi pencabutan Staff Accounting Bulletin-121 (SAB-121). Aturan di AS ini secara efektif menghalangi bank untuk menyimpan aset digital untuk klien mereka. Kendrick percaya bahwa dengan potensi pencabutan aturan ini oleh mantan Presiden Donald Trump, pasar Bitcoin dapat mengalami lonjakan signifikan. Kebijakan baru yang lebih mendukung bagi institusi keuangan dalam menyimpan aset digital dapat membuka pintu bagi lebih banyak investasi, menurut ramalan Bitcoin ini.
Aturan keuangan itu adalah pedoman yang dikeluarkan oleh Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat, yang berfokus pada pengakuan dan pengukuran aset digital oleh lembaga keuangan. Diterbitkan pada tahun 2021, SAB-121 memberikan arahan kepada perusahaan tentang bagaimana mereka harus memperlakukan aset digital yang mereka simpan untuk klien, termasuk kripto.
Itu mengharuskan bank untuk mencatat aset digital tersebut sebagai liabilitas, bukan sebagai aset, karena bank dianggap sebagai pemegang amanat untuk aset tersebut. Kelak jika dicabut, bank dapat mengklasifikasikan aset digital ke dalam neraca keuangan mereka, yang dapat memicu adopsi aset digital oleh institusi keuangan. Pencabutan atau revisi dari SAB-121 diharapkan dapat meningkatkan minat dan partisipasi bank dalam menyimpan dan mengelola aset digital, termasuk kripto Bitcoin.
Kedua, Kenaikan Inflasi. Kendrick mencatat bahwa ekspektasi inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda kenaikan, kendati The Fed telah memangkas suku bunga pada 18 September 2024 lalu. Dengan inflasi yang meningkat kata Kendrick, ramalan Bitcoin sebagai aset pelindung nilai menjadi semakin relevan, mirip dengan emas. Jika inflasi terus meningkat, permintaan untuk Bitcoin sebagai aset pelindung nilai dapat meningkat secara substansial, memperkuat ramalan Bitcoin yang positif.
BlackRock: Bitcoin Jadi Pelindung dari Ketidakstabilan Global
Ketiga, Arus masuk positif ke dalam ETF Spot Bitcoin. Kendrick juga mengindikasikan bahwa pasar akan melihat lebih banyak lagi ETF sejenis di banyak negara, bukan hanya di AS saja. Dengan lebih banyak produk investasi yang tersedia bagi investor institusi dan ritel, hal ini dapat mendorong harga Bitcoin lebih tinggi. Kendrick bahkan memprediksi bahwa Solana kemungkinan besar akan menjadi aset yang menarik perhatian sebagai ETF berikutnya, menambah dinamika ramalan Bitcoin.
Analisis: ETF Solana dan Potensi Lonjakan Harga yang Menggiurkan
Kelima, Kendrick menambahkan bahwa perubahan kepemimpinan di SEC AS dapat memberikan dampak positif terhadap industri kripto. Dia mencatat bahwa kepemimpinan Ketua SEC Gary Gensler memiliki dampak negatif, dan potensi pengganti Gensler dapat membawa perubahan yang lebih mendukung bagi pasar kripto, yang berimplikasi pada ramalan Bitcoin.
Gary Gensler Diduga Rekrut Pegawai Berdasarkan Afiliasi Politik di SEC
Keenam, dalam analisis ekonomi makro, Kendrick mengamati bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun kini berada di atas imbal hasil obligasi dua tahun untuk pertama kalinya dalam beberapa kuartal. Hal ini dianggap sebagai indikasi positif untuk ramalan Bitcoin, mengingat ekspektasi inflasi yang meningkat dan penurunan imbal hasil riil.
Donald Trump dan Manuver Kripto Terbarunya
Ramalan Bitcoin Jadi US$200 RibuKendrick juga memperkirakan bahwa jika Donald Trump naik lagi ke Gedung Putih, harga Bitcoin dapat mencapai sekitar US$125.000 pada akhir tahun 2024. Namun, dia tetap optimis bahwa harga Bitcoin akan mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar US$200.000 pada akhir tahun 2025, terlepas dari siapa yang menduduki kursi kepresidenan. Ramalan Bitcoin ini memberikan pandangan menarik tentang potensi masa depan kripto utama ini. [ps]
Gary Gensler Diduga Rekrut Pegawai Berdasarkan Afiliasi Politik di SEC
Ketua Komisi Perdagangan dan Sekuritas (SEC) AS, Gary Gensler, diduga melakukan praktik perekrutan pegawai berdasarkan afiliasi politik. [577] url asal
#gary-gensler #kongres-as #kripto #sec
(BlockChain-Media) 12/09/24 21:55
v/14976865/
Ketua Komisi Perdagangan dan Sekuritas (SEC) AS, Gary Gensler, diduga melakukan praktik perekrutan pegawai baru berdasarkan afiliasi politik. Hal itu disampaikan oleh tiga komite Kongres AS sekaligus. Sejak menjabat, Gary Gensler dikenal proaktif dalam mengatur aset kripto di Amerika Serikat, terutama mengenai kasus XRP sebagai sekuritas.
Surat yang ditujukan kepada Gary Gensler pada 10 September 2024 atas nama Kongres itu, meminta investigasi terkait dugaan perekrutan pegawai SEC yang didasarkan pada afiliasi politik, yang dianggap melanggar Undang-Undang Reformasi Layanan Sipil tahun 1978.
Surat tersebut secara khusus menyoroti perekrutan Dr Haoxiang Zhu sebagai Direktur Divisi Perdagangan dan Pasar SEC pada November 2021. Dugaan muncul setelah terungkap adanya surel tertanggal 18 Mei 2021, di mana Dr Zhu diduga meyakinkan Gary Gensler mengenai kesesuaiannya dengan spektrum politik yang diinginkan. Enam bulan kemudian, Zhu diangkat sebagai direktur.
“Saya percaya saya berada di spektrum politik yang benar, dan saya senang memberikan rincian sebanyak yang diperlukan agar Anda merasa nyaman,” tulis Zhu dalam surel tersebut kepada Gary Gensler.
Kasus ini memicu kekhawatiran bahwa SEC, di bawah kepemimpinan Gary Gensler, mungkin telah mempertimbangkan ideologi politik dalam keputusan perekrutan, yang bertentangan dengan prinsip netralitas lembaga federal.
“Jika tuduhan ini benar, maka SEC di bawah Gary Gensler telah melanggar Undang-Undang Reformasi Layanan Sipil dan berpotensi mengisi lembaga tersebut dengan pegawai yang memiliki ideologi tertentu,” tulis surat yang ditandatangani oleh Ketua Komite Judiciary, Jim Jordan, Ketua Komite Financial Services, Patrick McHenry, dan Ketua Komite Oversight, James Comer itu.
Surat ini juga menyebutkan bahwa beberapa pegawai senior SEC yang dipekerjakan sejak 2021, selama kepemimpinannya, berasal dari organisasi yang dinilai berhaluan kiri, seperti American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations (AFL-CIO) dan Consumer Federation of America. Hal ini memperkuat kecurigaan bahwa ideologi politik memainkan peran dalam proses perekrutan di SEC selama masa jabatan Gary Gensler.
Gary Gensler, Ketua SEC Diminta Mundur
Komite-komite DPR meminta agar SEC, di bawah kepemimpinan Gary Gensler, memberikan dokumen dan komunikasi terkait keputusan perekrutan, pemecatan, atau mutasi terhadap direktur atau staf senior di kantor SEC sejak April 2021. Mereka juga menuntut informasi terkait evaluasi atau pertimbangan afiliasi politik dalam proses perekrutan pegawai, termasuk yang berkaitan dengan Dr Zhu.
Batas waktu untuk SEC, di bawah pimpinan Gary Gensler, menyerahkan dokumen yang diminta adalah 24 September 2024. Komite Judiciary memiliki wewenang untuk mengawasi masalah yang berkaitan dengan kebebasan sipil untuk memandu reformasi legislatif potensial. Komite Financial Services memiliki yurisdiksi untuk mengawasi SEC, sementara Komite Oversight bertanggung jawab atas pengawasan terhadap layanan sipil federal.
“Pengawasan ini penting untuk memastikan SEC di bawah Gary Gensler mematuhi hukum federal dalam perekrutan pegawai sipil dan mengidentifikasi sejauh mana afiliasi politik mempengaruhi keputusan personel di SEC,” tulis surat tersebut.
Surat ini juga ditembuskan kepada anggota peringkat Komite Judiciary, Jerrold Nadler, anggota peringkat Komite Financial Services, Maxine Waters, serta anggota peringkat Komite Oversight, Jamie Raskin.
Sebelumnya, Asosiasi Blockchain AS meminta agar ketua komisi yang sangat berpengaruh itu, mengundurkan diri serta menghentikan keterlibatannya dalam keputusan terkait penegakan hukum terhadap aset digital yang dianggap sebagai sekuritas. Mereka menyoroti bahwa sang ketua memiliki pandangan yang berbeda, di mana semua aset digital selain Bitcoin dianggap sebagai sekuritas, yang dinilai menunjukkan adanya bias yang dapat mengancam hak proses yang adil bagi pihak-pihak yang sedang diselidiki.
Sejak menjabat, Gary Gensler dikenal proaktif dalam mengatur aset kripto di Amerika Serikat, terutama mengenai kasus XRP sebagai sekuritas, serta perseteruannya dengan berbagai bursa kripto, termasuk Coinbase dan Binance. Donald Trump bahkan menyatakan bahwa jika terpilih kembali sebagai presiden, ia akan segera mencopot Gary Gensler dari posisinya. [ps]