JAKARTA, KOMPAS.com - Bermula sebagai perwakilan maskapai penerbangan British Airways pada 1971, Golden Rama Tours & Travel saat ini berdiri sebagai agen perjalanan wisata konvensional.
"Pada pertengahan 1970-an, mereka (British Airways) enggak butuh lagi service seperti yang mereka minta dari Golden Rama sehingga kami menjadi travel agent conventional, beberapa tahun setelah berdiri," ujar President Director Golden Rama Tours & Travel, Madu Sudono di kantor Golden Rama Tours & Travel, Jakarta Pusat, Senin (29/7/2024)
Transformasi terbesar yang dilakukan oleh agen perjalanan berusia 53 tahun ini terjadi pada 1991, ketika Golden Rama Tours & Travel menjadi agen perjalanan lebih besar.
Bahkan, tercatat sebagai kontributor terbesar maskapai penerbangan Garuda Indonesia pada 1992.
Tantangan bisnis datang tak lama setelahnya, kala gelombang krisis ekonomi 1998 terjadi di Indonesia.
Namun, Madu mensyukuri bahwa awal tahun 2000, Golden Rama Tours & Travel bisa bangkit dan masuk dalam perhitungan 10 besar agen perjalanan di Indonesia.
"Dari tahun 2000 itu sampai sekarang, boleh dibilang selama selama 20 tahun kemarin menjadi, kami menjadi one of the leaders in travel industry," ucap Madu.
Persaingan OTA
ThinkStock Pemesanan paket wisata dan tiket pesawat secara online.Strategi bisnis yang mengacu pada kenyamanan pelanggan, tak lantas membuat bisnis agen perjalanan premium ini mulus tanpa hambatan.
Madu menuturkan, dalam 10 tahun terakhir saja, agen perjalanan konvensional seperti yang dikelolanya, mesti berhadapan dengan pendatang baru, online travel agent (OTA atau agen perjalanan daring).
"Pada saat itu, kami merasa bahwa ini merupakan sebuah ancaman ya, tetapi di Indonesia, bidang ini dan pasarnya justru bertumbu besar," kata Madu.
Kompas.com/Krisda Tiofani Madu Sudono, President Director Golden Rama Tours & Travel dan tim dalam pertemuannya dengan media di kantor Golden Rama Tours and Travel, Senin (29/8/2024).Kekhawatirannya membawa Madu melihat peluang lebih besar, bahwasannya segmen yang ditarget OTA, berbeda dengan Golden Rama Tours & Travel.
"Memang ada overlap, tetapi boleh dibilang segmennya sangat beda. Kami lebih menyasar pasar premium karena mungkin cikal bakalnya dari perwakilan maskapai (penerbangan) asing," tutur Madu.
Agen perjalanan ini lebih banyak menawarkan paket wisata dan tiket pesawat ke luar negeri daripada domestik.
"Tetapi kembali lagi, kami mengutamakan service quality, kepuasan pelanggan sehingga saya yakin banget, kami melayani itu segmen yang berbeda dengan OTA," ujar Madu.
"Pun karena pasarnya bertambah, segmennya juga bertumbuh sehingga kami tetap eksis," lanjutnya.
Justru dari adanya persaingan baru, Madu menuturkan, ancaman tersebut berubah menjadi pacuan mengubah strategi bisnis menjadi basis digital.
Saat ini, Golden Rama Tours & Travel sudah mencatat keberangkatan tur wisata kelompok dengan lebih 42.000 wisatawan, yang ditunjang oleh 13 cabang di seluruh Indonesia, serta kemitraan global dengan Egencia di 70 negara dan 2.500 konsultan perjalanan di dunia.