#30 tag 24jam
Gus Wafi Tantang Sebutkan Ulama Besar yang Batalkan Nasab Ba Alawi
Gus Wafi menunggu hal itu sampai Dajjal keluar dua kali. [578] url asal
#gus-wafi #nasab-ba-alawi #nasab-habaib #begal-nasab-habaib #habaib
(Republika - Khazanah) 13/07/24 17:32
v/10656651/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gus Wafi mengidentifikasi 12 hal yang dipermasalahkan penuduh nasab Ba Alawi tak tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Namun itu semua dapat dirangkum menjadi dua hal besar, sebagaimana terurai berikut ini.
Pertama, klaim tak tertulis
Maksudnya adalah pada abad ke-4, 5, 6, 7, 8, 9, nama Ubaidillah tak tercatat sebagai anak Ahmad bin Isa al-Muhajir.
Jauh sebelum klaim tersebut menyebar luas, mayoritas riwayat nasab, dan ini merupakan kaidah ilmu nasab yang diterapkan sejak lama, bahwa Ahmad al-Muhajir memiliki anak yang bernama Abdullah. Kemudian karena Abdullah ini tawadhu sekali, dia merasa tidak pantas menyandang nama itu, sehingga dia menyebut dirinya sebagai hamba Allah yang kecil atau Ubaidillah. Hal ini sudah berkali-kali disampaikan ulama Ba Alawi dari berbagai zaman.
Di Indonesia, Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Taufiq bin Abdulqodir Assegaf berkali-kali menyampaikan hal yang sama. Dia menjelasakan nasab tersebut agar orang-orang mengetahui silsilah Ba Alawi sekaligus mengajarkan kepada banyak orang untuk selalu tawadhu, seperti yang dilakukan Ubaidillah.
Kedua, para penuduh nasab Ba Alawi tak tersambung kepada Rasulullah mengeklaim bahwa Imam Ahmad bin Isa tidak memiliki gelar al-muhajir
Padahal, mayoritas sejarawan yang membahas riwayatnya menyebut bahwa sang imam memang melakukan hijrah bersama anaknya yang bernama Abdullah alias Ubaidillah ke Hadhramaut.
Gus Wafi kemudian menyebut sebuah kaidah, kalau ingin menjawab pertanyaan, maka harus diketahui apa maksud pertanyaan tersebut sekaligus apa tujuannya. Kalau tujuannya ingin mengetahui ilmu nasab, maka kita sampaikan, tak ada satupun ulama nasab di dunia, dari dulu hingga sekarang, bahkan zamannya al-imam al Ubaidili dalam Tahdzibul Ansab, sampai pada sekarang Sayid Murtadha az-Zabidi atau al Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam tsabatnya, yang mengharuskan ada kitab sezaman. “Kita tidak akan menemukan hal itu,” kata Gus Wafi.
Kalaupun kitab semacam itu, maksudnya yang menerangkan orang-orang dalam rantai nasab yang dibahas, hal itu adalah syawahid mutaabi’, atau dalam ilmu hadits disebut pendukung, bukan referensi utama.
Gus Wafi menyebutkan 4 cara menetapkan nasab (kaifiyatu itsbatin nasab). “Apakah tertulis kitab sezaman? Tidak ada,” tegas pendakwah jebolan Pesantren Sidogiri tersebut.
Bahkan yang metodenya diambil oleh si penuduh dalam Kitab al-Mu’qibu karangan Sayid Mahdi ar-Rajai, atau dalam kitab Umdatut Thalib karangan Ibnu Inabah, atau at-Thathaqi dalam kitab al-Ashili, atau al-Muntaqilah at-Thalibiyah, atau Tahdzibul Ansab lil Ubaidili, atau Sirru Silsilatil Alawiyah li Abi Nashr al-Bukhari, “Apakah ada (harus menyebut kitab sezaman) mana kitab sezaman? Tidak ada yang menyebutkan itu” kata Gus Wafi.
Lihat halaman berikutnya >>>
Kedua, ada bayyinah syar’iyyah ahli nasab
Maksudnya adalah penjelasan dan bukti dari orang paham nasab yang menjelaskan nasab orang tersebut.
Ketiga, pengakuan seorang ayah.
Si ayah menjelaskan, nak, kakek dahulu adalah si a, kemudian ke atasnya lagi siapa dan seterusnya.
Keempat syuhrah wal istifadhah
Mana saja dari cara yang tersebut di atas yang terpenuhi, maka selesai sudah nasabnya.
Karena nasab ini, ada yang menyangsikan bahwa Ibnu Hajar bukan ahli nasab. Buktinya tidak punya kitab nasab. Namun pertanyaanya, apakah ahli nasab harus punya kitab nasab? Kalau demikian, maka banyak ahli nasab yang dibatalkan juga. Nasab orang lain bisa juga dibatalkan. Bahkan ahli nasabnya dibatalkan. Tidak ada syarat ahli nasab harus punya kitab nasab.
Ibnu Hajar itu ahli fikih, sedangkan ilmu nasab itu secuil dari ilmu fikih. Jadi wajar kalau dia disebut ahli nasab.
Karena itu, banyak ahli nasab mengakui nasab Ba Alawi. Makanya saya selalu bilang (tantang, - red), sebutkan satu saja ulama ahlus sunnah wal jamaah yang banyak menjadi referensi di berbagai kawasan, yang membatalkan nasab Ba Alawi? “Saya tunggu sampai Dajjal keluar dua kali”
Kisah Gus Wafi Terlibat Debat Nasab Ba Alawi
Gus Wafi menjelaskan Nasab Ba Alawi jelas tersambung kepada Nabi Muhammad [693] url asal
#gus-wafi #habaib #nasab-ba-alawi #nasab-habaib #dzuriyah-nabi-muhammad #dzuriyat-rasulullah
(Republika - Khazanah) 13/07/24 14:16
v/10642983/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Beberapa waktu terakhir, konten digital diramaikan dengan sekelompok orang yang mempermasalahkan nasab Ba Alawi. Mereka menganggap habaib yang ada sekarang bukanlah keturunan Nabi Muhammad. Dasarnya adalah sebuah kajian yang diklaim ilmiah.
Dalam wawancara dengan Nabawi TV, pegiat kajian keislaman sekaligus alumnus Pesantren Sidogiri Jawa Timur M Fuad Abdul Wafi (Gus Wafi) menceritakan bagaimana kisahnya terlibat dalam perdebatan nasab Ba Alawi.
Suatu malam, pegiat kajian turos ini berdiskusi bersama orang-orang Kristen, Yahudi, atheis, dan sejumlah kelompok seputar isu-isu kemanusiaan. “Sama sekali belum terpikir mendiskusikan nasab,” kata Gus Wafi.
Kemudian datanglah beberapa teman kepadanya. “Niatnya bersilaturahmi,” ujar pendakwah tersebut. Setelah berdiskusi panjang teman tersebut mengeluarkan pernyataan, “Sekarang habaib sudah kalah, tidak ada yang berani berdebat dengan si penuduh (bahwa nasab Ba Alawi tak bersambung kepada Nabi Muhammad),” kata Wafi.
Alumnus Sidogiri tersebut kaget. Dia bertanya-tanya, apa masalahnya sehingga para habaib dianggap ‘kalah’. “Ya ini ustaz, tentang nasab Ba Alawi,” kata si teman yang datang ke rumah.
Si penuduh tadi sudah membuat karya yang diklaim ilmiah berbentuk buku. Kesimpulan karya tersebut adalah meragukan ketersambungan nasab para habaib kepada Rasulullah SAW.
Ulama hebat dahulu salah semua?
Ketika mengetahui hal tersebut, yang ada di benak Gus Wafi adalah sebagai berikut
Pertama kalau kajian tersebut benar, apa iya guru-guru yang dahulu mendidik saya, sekaligus ulama yang arif yang allamah, salah semua?
“Baik yang di Sidogiri atau yang lain, berarti salah semua dong,” kata Gus Wafi dalam wawancara tersebut.
Kedua, Nahdlatul ulama yang di dalamnya banyak kiai yang sangat mengagumi Ba ‘Alawi
Ini ada banyak orang. Contohnya almaghfur lahu KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil dan KH Abdul Alim bin Abdul Jalil pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, atau Syaikhuna Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Lihat halaman berikutnya >>>
Kalau mau menggunakan ulama di Nusantara, ada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Mahfud bin Abdul Manan at-Tarmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, yang alim bahkan allamah (menguasai sejumlah ilmu). Salah satu kitab yang ditulisnya kemudian dipelajari di seluruh pesantren adalah Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, itu mengakui saadah Ba Alawi.
Kemudian Gus Wafi berpikir, kalau kajian yang membatalkan nasab Ba Alawi diakui, maka konsekuensinya sangat berat, mereka dianggap salah selama ini.
Ketika itu Gus Wafi curiga sekaligus penasaran. Maka dia meminta kitab tersebut. “Adakah yang bawa atau file PDF-nya. Ada teman yang hadir saat itu memberikan kitab yang dimaksud. Baik saya akan pelajari, kasih saya waktu satu pekan untuk mengkaji ini,” kata Gus Wafi.
Temuan yang mengejutkan
Setelah sepekan mengkaji buku hasil kajian yang katanya ilmiah itu, Gus Wafi mengaku mendapatkan banyak kesalahan. “Bahkan di halaman pertama, ketika membuat narasi, bahwa kajian yang dimaksud merupakan bagian dari amar maruf nahi munkar, karena menggali nasab yang bagi si penuduh masih bercampur dan syubhat, di situ penulis meyakini, kajian tersebut bukan pakai data ilmiah tapi nafsu pribadi si penuduh,” ujar Gus Wafi.
Alasannya, berdasarkan tradisi ulama yang ada, tidak ada tradisi mengkaji nasab, termasuk di dalamnya mengkaji ikhtilat nasab, termasuk amar maruf nahi munkar. “Kalau kita buka Kitab al-Hawi karya al-hafidz as-Suyuthi, al-imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al haditsiyah atau Fatawa al-kubro, dan ulama yang lain, ketika ada orang mengaku dzuriyah Rasulullah SAW, kemudian tidak bisa dibuktikan, apakah ulama langsung menghajar, memfitnah, merobohkan statemennya, lalu mengajak debat seluruh dunia? Tidak ada,” kata Gus Wafi.
Yang dilakukan ulama adalah berhenti atau tawakuf. “Misalkan antum bukan keturunan rasulullah, andaikan terus menarasikan bahwa dia keturunan Rasulullah, nanti amir yang memberikan semacam tahdzir, kepada si pengaku. Sedangkan ulama dia diam. Itulah kesepakatan para ulama,” kata Gus Wafi.
Al-Hafidz as-Suyuthi dan Imam Ibnu Hajar yang luar biasa alim menjelaskan, ketika menghadapi orang yang mengaku dzuriyat Nabi Muhammad, kemudian tidak bisa dibuktikan, maka masuk kepada masyhurun nasab.
Maksudnya, kalau ada orang yang terkenal di kalangan umum nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW, tapi tak diketahui secara syariat, berarti nasabnya masyhurun nasab wa mahjul fi ilmin nasab. Nasabnya populer, tapi belum diketahui dalam ilmu nasab.
“Tidak ada ulama yang mengatakan, ini nasabnya masyhur, tapi harus diteliti, harus dihujat, tidak ada seperti itu,” kata Gus Wafi.
“Jadi istilah amar maruf nabi munkar dalam membahas nasab adalah kebohongan yang nyata,” tambahnya.