Bisnis.com, JAKARTA – Saham produsen Tolak Angin PT Industri Farmasi dan Jamu Sido Muncul Tbk. (SIDO) diborong jumbo pemodal kakap jelang berakhirnya 2024. Hal itu meski di tengah prospek industri yang dibayangi pelemahan daya beli masyakat.
SIDO ditutup stagnan di level Rp610 hingga jeda perdagangan Selasa (29/10/2024). Banderol tersebut mewakili penurunan 13,48% dalam 6 bulan terakhir, meski secara year to date (YtD) mahar SIDO masih mencatatkan return positif 16,19%.
Bisnis.com, JAKARTA — Daya beli masyarakat yang melemah bak masuk angin dan musim hujan yang mundur dari perkiraan dinilai dapat menjadi faktor yang memengaruhi performa PT Industri Jamu dan FarmasiSido MunculTbk. (SIDO) pada kuartal IV/2024.
Kendati begitu, ekspansi yang terus berlanjut dan cakupan distribusi yang kian luas baik di dalam maupun luar negeri menjadi katalis bagi kinerja emiten jamu dan farmasi ini.
Pelemahan daya beli masyarakat sebenarnya sudah berimpak pada kinerja kuartal III/2024 SIDO. Pada periode tersebut, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp730 miliar atau terkoreksi 13,4% dibandingkan kuartal sebelumnya (quartal-to-quartal/QtQ), meski masih tumbuh 3,2% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pelemahan kinerja penjualan itu terjadi pada semua segmen dengan herbal menjadi kontributor terbesarnya. Sebab, penjualan produk ‘sejuta umat’, Tolak Angin, melandai di tengah melemahnya daya beli konsumen.
“Penjualan yang lebih lemah di semua segmen. Segmen Herbal, kontributor terbesarnya, turun 11,3% QtQ, didorong oleh penjualan Tolak Angin yang lebih rendah di tengah melemahnya daya beli konsumen,” jelas Clara Nathania, analis Sucor Sekuritas, dalam risetnya yang dirilis viaBloomberg, Jumat (25/10/2024).
Penurunan kinerja pada sisitop linejuga diikuti dengan koreksibottom linesecara triwulanan. SIDO mencetak laba bersih sebesar Rp170 miliar pada kuartal III/2024 atau turun 22,2% QtQ, tetapi tumbuh kuat yakni 22,5% YoY seiring adanya efisiensi beban operasional.
Kendati demikian, Sido Munculmasih mencatatkan kinerja impresif sepanjang tahun berjalan. Hingga sembilan bulan pertama 2024, SIDO mampu mengalap pendapatan senilai Rp2,63 triliun. Realisasi meningkat 11,2% YoY.
Pada periode itu, semua segmen bertumbuh. Penjualan segmen herbal meningkat 6,2% YoY yang didorong oleh produk kapsul lunak dan Esemag.
Pada segmen makanan dan minuman (F&B), penjualan SIDO melonjak hingga 20,2% YoY dengan ditopang oleh pertumbuhan kuat produk minuman energi, sedangkan pemasaran segmen farmasi SIDO tercatat naik 11,6% YoY didukung oleh produk sirup.
Tak hanya di dalam negeri, pertumbuhan tersebut juga terjadi di penjualan ekspor SIDO. Bahkan, realisasinya pada sembilan bulan 2024 bertumbuh sebesar 75% YoY atau berkontribusi hingga 8% terhadap total penjualan perseroan. Angka kontribusi itu lebih tinggi ketimbang dua tahun terakhir, yakni sekitar 6% pada 2023 dan 4% pada 2022.
Ekspor produk SIDO ke Malaysia pada periode itu tercatat tumbuh signifikan yakni sekitar 58% YoY. Pengapalan produk Sido Muncul ke Filipina bahkan melonjak hingga 108%, sedangkan ke Nigeria naik 38% YoY di tengah tantangan kondisi ekonomi negara tersebut.
Kenaikan volume penjualan SIDO itu terjadi seiring dengan penguatan saluran distribusi yang terdiri darigeneral trade(berkontribusi sebesar 80% terhadap penjualan),modern trade(15%) dane-commerce(5%).
Sejalan dengan pertumbuhan signifikan padatop line, SIDO mencatatkan laba bersih sebesar Rp778 miliar atau meningkat 32,7% YoY pada sembilan bulan pertama 2024.
Tantangan Sido Muncul pada Kuartal IV/2024
Sederet analis memerinci beberapa tantangan yang akan dihadapiSIDOpada kuartal IV/2024. Berlanjutnya pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi kendalanya.
Clara Nathania mengakui potensi itu. Sucor Sekuritas bahkan menurunkan estimasi laba
Sido Muncul untuk 2024 dan 2025 menjadi masing-masing Rp1,0 triliun dan Rp1,1 triliun. “Karena kekhawatiran tentang daya beli yang lemah dan musim hujan yang tertunda yang dapat memengaruhi kinerja 4Q24,” tulisnya dalam riset tersebut.
Sebagai catatan, puncak permintaanTolak Anginsecara tahunan umumnya terjadi pada musim hujan. Pada periode itu, permintaan akan minuman herbal dan hangat.
Selain itu, Sucor Sekuritas memproyeksikan pendapatan SIDO pada periode tersebut mencapai Rp3,6 triliun dan Rp3,9 triliun atau tumbuh masing-masing sebesar 2,3% dan 6,9% YoY.
Sarkia Adelia, analis Panin Sekuritas, dalam risetnya juga mengakui tantangan pelemahan daya beli bagi kinerja SIDO. Selain itu, dia menilai faktor ketidakpastian ekonomi menjadi tantangan lain bagi emiten jamu dan farmasi ini.
Sementera itu, Jonathan Guyadi dan Belva Monica, analis Samuel Sekuritas Indonesia, menilai malaise daya beli masyarakat telah menyebabkan tekanan pada margin kotor (gross margin. Pada kuartal III/2024, margin kotor perseroan tercatat sebesar 52,6% atau berada di bawah capaian triwulan II/2024 sebesar 56,8% dan kuartal III/2023 yakni 55,2%.
“Karena permintaan melemah, terutama untuk produk unggulan SIDO, Tolak Angin, khususnya karena daya beli yang menurun,” tulisnya.
Ekspansi Lintas Negara dan Cakupan Distribusi Jadi Katalis SIDO
Kendati begitu, performa SIDO dinilai dapat ditopang oleh sederet katalis pada kuartal terakhir tahun ini. Salah satunya adalah penguatan saluran distribusi dan penetrasi pasar, serta permintaan ekspor yang masih berlanjut.
Sarkia Adelia mengatakan, SIDO juga memiliki sentimen positif dari potensi pertumbuhan produk herbal memasuki musim hujan. Di samping itu, ada potensi permintaan segmen F&B memasuki puncak Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada 2024.
Panin Sekuritas sendiri masih merekomendasikan ‘hold’ untuk saham SIDO, tetapi menurunkan target harga ke Rp680 dari sebelumnya sebesar Rp730.
“...mempertimbangkan daya beli masyarakat dan juga ketidakpastian kondisi ekonomi,” tulis Sarkia dalam riset yang dirilis, Kamis (24/10/2024).
Lini produk Sido Muncul (SIDO)
Clara Nathania menjelaskan manajemen SIDO tetap optimistis untuk mencapai pertumbuhan lebih dari 10% baik untuktop linemaupunbottom lineantara lain lantaran didukung oleh pemulihan permintaan domestik, perluasan penjualan ekspor ke Vietnam dan Kamboja pada kuartal terakhir.
“Serta cakupan distribusi yang lebih luas, baik domestik maupun luar negeri,” tulisnya.
Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham SIDO dengan target hargasebesar Rp730. “Kami menyukai SIDO karena arus kas yang kuat dan posisi neraca yang kokoh.”
Selain potensi peningkatan ekspor, Jonathan Guyadi dan Belva Monica menilai bahwa penjualan produk pada segmen herbal berpotensi meningkat pada akhir tahun berkat fenomena La Nina, musim hujan, dan tren pengobatan mandiri yang meningkat di tengah pelemahan daya beli.
Samuel Sekuritas Indonesia merekomendasikan ‘beli’ untuk saham SIDO dengan target harga senilai Rp830.
Sementara itu, Analis Sinarmas Sekuritas Vita Lestari menjelaskan permintaan produk segmen herbal dan suplemen berpotensi menguat. Selain itu, segmen F&B SIDO diharapkan akan terus tumbuh.
“Didorong oleh peralihan konsumen dari minuman dingin ke minuman hangat berbahan dasar jahe, termasuk susu jahe dan kopi,” jelas Vita dalam risetnya, Jumat (25/10/2024).
Sinarmas Sekuritas menyematkan rating ‘buy’ pada saham SIDO dengan target harga sebesar Rp740 hingga 2025.
“Kami mengantisipasi bahwa SIDO akan mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang kuat pada 4Q24.”
Berdasarkan dataRTI Business, harga sahamSIDOturun 1,60% ke level Rp615 pada penutupan perdagangan Jumat (25/10/2024). Dalam sepekan terakhir harga saham perseroan melemah 8,21% dan terkoreksi 7,52% dalam tiga bulan terakhir.
Namun, sepanjang tahun berjalan atauyear-to-date(YtD), sahamSIDOmeningkat sebesar 17,14%.
berdasarkan data dari terminalBloomberg, Jumat (25/10/2024), mayoritas analis yang mengulas sahamSIDO, memberikan pandangan positif terhadap emiten jamu dan farmasi tersebut.
Dari total 27 analis dalam konsensus, 20 analis (74,1%) merekomendasikanbuy, sedangkan tujuh analis (25,9%) lainnya menyematkan rating ‘hold’.
Berdasarkan konsensus analis tersebut, target harga sahamSIDOberada di level Rp780,48 dalam 12 bulan ke depan. Artinya, masih terdapat potensi kenaikan 26,9% dari harga saham pada penutupan perdagangan pekan lalu.
Bisnis.com, JAKARTA — Memasuki musim hujan yang menjadi puncak permintaan Tolak Angin, ada yang borong puluhan juta saham emiten farmasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) sepanjang perdagangan bulan ini.
SIDO ditutup stagnan di level Rp670 hingga perdagangan Jumat (18/10/2024), yang juga mewakili return positif 27,62% secara year to date (YtD). Dalam sepekan terakhir, mahar SIDO juga mencatatkan kenaikan 3,08%.
Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah arus borong saham emiten produsen Tolak Angin PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), BlackRock Inc. justru berbalik arah melepas sebagian kepemilikannya.
Prospek Sido Muncul ditengarai semakin cerah tersengat sentimen La Nina dan musim hujan yang biasanya menjadi pengungkit kinerja penjualan Tolak Angin.
Bisnis.com, JAKARTA — Menghadapi musim puncak permintaan Tolak Angin di musim hujan, saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) kian prospektif, dikuatkan juga dengan katalis jangka panjang.
SIDO ditutup menguat 3,82% hingga perdagangan Rabu (11/9/2024). Secara year-to-date (YtD), banderol itu mewakili return positif 33,33%. SIDO kini diproyeksikan menyentuh Rp834,32 dalam 12 bulan, menurut rata-rata konsensus analis Bloomberg. Angka itu menunjukkan potensi return 22,7%.
Bisnis.com, JAKARTA — Seiring rekor baru laba bersih emiten farmasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) pada semester I/2024, BlackRock Inc. berbalik arah dari sikapnya sepanjang kuartal II/2024.
Pada semester I/2024, produsen Tolak Angin itu mengantongi pendapatan Rp1,89 triliun atau naik 14,67% dari capaian Rp1,65 triliun pada periode yang sama tahun lalu.