#30 tag 24jam
Mengapa Proklamasi RI pada Hari Jumat, 17 Agustus 1945?
Adalah Bung Karno yang memilih tanggal 17 Agustus 1945. [691] url asal
#hut-ri-ke-79 #upacarahutri #sejarah-kemerdekaan-ri #17-agustus-1945
(Republika - News) 16/08/24 08:01
v/14475490/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan hanya peristiwa Pembebasan Makkah (Fath Makkah) yang terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya di kedelapan Hijriyah. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pun berlangsung pada bulan puasa.
Momen yang amat bersejarah itu terjadi pada 17 Agustus 1945 M atau bertepatan dengan hari Jumat, pukul 10.00 WIB pada 9 Ramadhan 1364 H.
Naskah teks proklamasi dituliskan oleh tangan Sukarno, dengan beberapa perbaikan kalimat atas usulan sejumlah tokoh lainnya, termasuk Ahmad Subardjo. Kemudian, hasil tulisan tangan itu diketik oleh Sayuti Melik. Setelah jadi, hasilnya ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta, keduanya atas nama bangsa Indonesia. Semua momen krusial ini dilakukan pada waktu jam makan sahur di bulan Ramadhan 1364 H.
Mohammad Hatta menuturkan situasi malam itu di rumah Laksamada Tadashi Maeda, seorang Jepang yang bersimpati pada pergerakan nasionalisme Indonesia. Sang laksamana mempersilakan kediamannya dipakai oleh para tokoh Indonesia untuk mereka merumuskan teks Proklamasi RI.
Beberapa jam sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kondisi Bung Karno dan Bung Hatta sesungguhnya dalam keadaan lelah. Mereka baru tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00 WIB.
Sebelumnya, kedua bapak bangsa ini berada di Rengasdengklok, akibat diculik sejumlah pemuda yang memaksa mereka untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, yakni sebelum 17 Agustus 1945. Sebab, anak-anak muda ini--yang menurut Bung Karno dalam pengaruh Sutan Sjahrir--mengetahui bahwa Jepang telah menyerah terhadap Sekutu di Perang Dunia II. Para pemuda ini menganggap, jangan sampai Indonesia diserahkan lagi ke Belanda, sebagai salah satu negara Sekutu, dan akhirny kembali dijajah.
Mengapa hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945?
Cerita bermula ketika Bung Karno--beserta anak dan istri--dan juga Bung Hatta "diculik" ke Rengasdengklok oleh para pemuda revolusioner. Mereka berniat ingin menjauhkan Dwitunggal dari pengaruh Jepang.
Jepang sudah kalah di PD II. Tidak ada gunanya lagi mengandalkan Nippon untuk mewujudkan Indonesia Merdeka. Demikian pemikiran mereka.
Seperti diceritakan dalam buku autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun Cindy Adams, Sukarno lalu "diintimidasi" oleh para pemuda. Mereka mendesak sang bung besar--demikian sebutan dari mereka--agar mengumumkan proklamasi RI sekarang juga: pada 16 Agustus 1945.
Tentu saja, Bung Karno tidak bisa diintimidasi. Seorang pemuda, Wikana, sempat menyampaikan kata-kata yang menyinggung perasaan Bung Karno karena dirinya dianggap pengecut. Langsung saja suami Fatmawati itu naik pitam.
"Mereka langsung diam, dan keheningan mencekam. Tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. Tak ada yang bergerak. Mereka takut. Malu, Marah. Kecewa. Aku mengangkat kepala dan, dengan sengaja, aku menatap mereka. Aku menatap langsung ke wajah mereka sehingga mereka satu demi satu menjatuhkan pandangan mereka," kata Sukarno menuturkan kejadian malam 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok itu, dalam buku autobiografi yang disusun Adams (hlm 253).
"Aku duduk lagi. Butir-butir keringat menggantung di bibir atasku. Tak ada lagi yang menyebut Sukarno pengecut. Aku menangkap mata Farmawati di bagian lain dari kusen pintu. Mukanya kelihatan murung dan tegang. Ia menyaksikan semua kejadian itu dengan sungguh-sungguh," sambung Bung Karno.
Memecah keheningan, Sukarno lalu menyampaikan kepada mereka. Sewaktu para jenderal Nippon mengundang para tokoh bangsa Indonesia--termasuk dirinya--ke Saigon pada 10 Agustus 1945. Ketika itulah, Bung Karno merenungi momen tepat untuk Proklamasi Indonesia Merdeka.
"Yang paling penting di dalam suatu peperangan dan revolusi adalah waktu yang tepat. Di Saigon, aku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno kepada para pemuda.
“Mengapa tanggal 17, tidak lebih baik sekarang saja atau tanggal 16?” tanya Sukarni, seorang pemuda revolusioner.
"Aku percaya pada mistik," jawab Bung Karno, "aku tidak dapat menerangkan yang masuk akal, mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku."
Putra Sang Fajar lalu mengungkapkan bagaimana ilham "17 Agustus" itu sampai kepadanya. Menurut dia, saat memikirkan hal itu di Saigon dirinya seperti merasakan dalam relung hatinya. Tanggal 17 Agustus 1945 itu adalah momen yang baik.
"Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa sampai Lebaran, benar tidak?”
“Ya.”
“Ini berarti saat yang paling suci, bukan?”
“Ya.”
"Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang manis. Jumat suci. Dan hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia," tegas Bung Karno.
Sosok Habib di Balik Lagu-Lagu Kebangsaan RI
Husein Mutahar, seorang keturunan Rasulullah SAW, menggubah lagu-lagu kebangsaan. [562] url asal
#habib #keturunan-rasulullah #ulama #husain-mutahar #hutri #lagu-kebangsaan #pencipta-lagu #husein-mutahar
(Republika - Khazanah) 12/08/24 13:39
v/14297672/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Agustus merupakan momen yang utama untuk mengenang para pahlawan. Dari begitu banyak bunga bangsa yang telah berjuang demi Tanah Air, sebagian besarnya merupakan Muslimin. Di antaranya ialah kalangan habib atau orang-orang Indonesia yang nasabnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
Sayyid Muhammad Husein Mutahar tidak hanya dikenal sebagai penggerak Pramuka dan penggagas Paskibraka. Ia juga dikenang sebagai seorang musisi andal dan pencipta lagu-lagu kebangsaan. Beberapa contoh lagu gubahannya yang bertema nasional ialah "Syukur", "Hari Merdeka", "Himne Pancasila", dan "Terima Kasih kepada Pahlawanku."
Lagu "Syukur" diciptakan Husein Mutahar pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tanggal lahirnya lagu itu tepat pada 7 September 1944 di Semarang, Jawa Tengah.
Lagu yang dinyanyikan dalam tempo perlahan dan suasana khidmat ini merupakan cerminan dari laku keprihatinan. Dengan karyanya itu, ia mengangkat kembali simpati akan nasib dan penderitaan rakyat yang terjajah.
Adapun lagu "Hari Merdeka" diciptakan Mutahar di Yogyakarta pada 17 Agustus 1945. Lagu ini kerap dinyanyikan setiap tanggal dalam peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.
Makna dari lagu ini adalah suatu ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Dengan berkah dan rahmat-Nya, bangsa Indonesia memperoleh nikmat kemerdekaan.
Sepanjang hidupnya, Habib Husein Mutahar telah mencurahkan banyak waktunya untuk bermusik. Lagu-lagu perjuangan yang diciptakannya memberikan tekanan pada aspek sosial serta bercerita tentang jati diri dan kesatuan bangsa.
Lewat lagu, Mutahar merefleksikan kembali fase-fase sulit dalam perjuangan Indonesia. Khususnya pada tahap peperangan fisik yang di dalamnya banyak bunga bangsa berguguran saat berjihad.
Tidaknya hanya menciptakan lagu kebangsaan atau lagu nasional, Mutahar juga menulis lagu bertemakan alam, kepanduan, dan kepramukaan. Lagu-lagu ciptaannya sangat mudah dihafal dan dinyanyikan semua lapisan masyarakat.
Lagu mars "Hari Merdeka" misalnya digubah dengan karakteristik bersemangat dan berapi-api. Adapun judul-judul seperti "Gembira", "Tepuk Tangan Silang-Silang", "Tiba Saat Berpisah", "Yo Ha Yo", serta "Riangkan Dia" adalah sejumlah lagu anak-anak yang digubahnya.
Selama hidupnya, Husein Mutahar setidaknya telah menggubah sebanyak 116 lagu. Namun, dari jumlah tersebut kemungkinan masih ada lagu-lagu karya Mutahar yang lain yang belum sempat ditemukan. Kini, sang pahlawan memang telah tiada. Akan tetapi, karya-karyanya akan terus hidup sepanjang masa.
Keturunan Rasulullah ...
Seperti dilansir dari Harian Republika, tokoh Rabithah Alawiyah Habib Zen Umar bin Smith (wafat 2022) menerangkan, al-Mutahar merupakan nama salah satu cabang dari keturunan cucu Rasulullah SAW, yakni garis nasab Husein bin Ali.
"Betul, al-Mutahar adalah salah satu nama marga dari keturunan Bani Alawi (Alawiyin) yang diturunkan dari Sayyidina Husein, cucu Rasulullah SAW," kata Habib Zen, sebagaimana dikutip dari Harian Republika edisi cetak.
Sayyid M Husein Mutahar dikenang terutama dari karya-karyanya dalam bidang musik. Sebagai seorang komposer, dirinya berkiprah besar dalam sejarah musik Indonesia.
Namun, kontribusinya sebenarnya lebih dari apa yang dibayangkan banyak orang. Lelaki yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, itu juga merupakan salah satu tokoh pejuang kemerdekaan RI, kepanduan (pramuka), dan diplomat.
Ia pun tercatat sebagai yang turut membidani lahirnya Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Pada masa revolusi, sosok kelahiran 5 Agustus 1916 itu pernah terlibat dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang, 15 hingga 20 Oktober 1945. Kapabilitasnya meliputi banyak bidang humaniora.
Dirinya fasih berbicara dan menulis dalam delapan bahasa, termasuk bahasa Arab, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, dan Spanyol. Tak mengherankan bila Mutahar menduduki berbagai jabatan penting, semisal pegawai pada Departemen Luar Negeri (1949-1979), Direktur Jenderal Pemuda dan Pramuka pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1966-1968), hingga Duta Besar RI untuk Vatikan (1969-1973).