#30 tag 24jam
Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham Penghuni IDX High Dividend 20
Ada beberapa emiten yang memiliki kencenderungan membagian dividen di akhir tahun. [558] url asal
#idx-high-dividend-20 #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan - Terbaru) 15/10/24 19:56
v/16512987/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Performa IDX High Dividend 20 tengah mengalami tren penguatan. Berdasarkan data statistik Bursa, Rabu (15/10) indeks ini mencatatkan pertumbuhan positif 1,45% secara year to date (ytd).
Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengatakan prospek emiten yang menghuni pada indeks ini berpotensi mencatatkan kinerja yang positif dari segi fundamental maupun pergerakan harga saham. Hal ini didasari oleh kestabilan ekonomi di Indonesia pasca pemangkasan suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Abdul mengungkapkan, untuk emiten-emiten perbankan masih menjadi incaran para investor karena melihat pertumbuhan shareholder dari masing-masing emiten seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada bulan September lalu.
Di sisi lain, sektor bahan baku dan energi juga akan terdampak positif dari stimulus China pada penghujung tahun 2024 nanti.
"Mayoritas emiten di dalam konstituen IDX High Dividen 20 memiliki fundamental yang cukup baik, serta pergerakan yang tidak terlalu fluktuatif," kata Abdul kepada Kontan, Selasa (15/10).
Adapun sentimen pendukung dapat dilihat dari ketahanan ekonomi di Indonesia sepanjang semester-I 2024, di mana saham-saham perbankan mencatatkan kinerja yang positif di saat era suku bunga tinggi.
"Lalu saham-saham pada sektor basic material yang terdampak positif dari kenaikan harga emas dunia, dan nilai tukar rupiah juga ikut turut memberikan kontribusi terhadap sektor konsumer," ujarnya.
Adapun emiten-emiten yang berpotensi membagikan dividen pada akhir tahun, seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan potensi dividen mencapai Rp 203,8 per lembar saham dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan potensi dividen mencapai Rp 66 per lembar saham.
Abdul merekomendasikan untuk buy saham ADRO di harga Rp 3.880 dengan target harga Rp 4.000-Rp 4.060 dan buy saham UNVR pada harga Rp 2.350 dengan target harga Rp 2.490-Rp 2.600.
"Angka potensi dividen diperoleh dari rata-rata 3 tahun terakhir," jelasnya.
Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, pertumbuhan kinerja IDX High Dividend 20 yang tumbuh tipis tersebut dikarenakan ada sejumlah saham yang turun signifikan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 14,06% ytd dan 25,57 ytd.
Kendati begitu, Sukarno menjelaskan, secara prospek emiten yang berada dalam indeks ini masih bagus. Dirinya memproyeksikan indeks ini masih bisa tumbuh positif hingga akhir tahun.
Sentimen pendukungnya ialah transisi pemerintahan baru yang diyakini disambut pelaku pasar dan berharap akan memberikan dampak positif ke pertumbuhan ekonomi seiring kebijakan yang dikeluarkan nanti.
"Emiten yang biasanya bagi dividen di sisa akhir tahun yaitu BBCA, ADRO, ITMG dan UNVR," ucap Sukarno kepada Kontan, Selasa (15/10).
Para investor bisa mencermati indeks ini terutama saham yang masih mengalami penurunan seperti BBRI, TLKM, ASII, SMGR, ANTM. Sebab secara fundamental cukup solid dan valuasi sudah lebih menarik.
Sukarno merekomendasikan untuk mencermati sejumlah saham yang tergabung pada indeks ini, meliputi BBRI dengan target harga Rp 6.000 per saham, ANTM di target harga Rp 1.640 per saham, TLKM pada target harga Rp 3.400 per saham.
Kemudian, cermati juga saham SMGR di target harga Rp 4.450 per saham, AMRT di target harga Rp 3.500 per saham, INKP pada target harga Rp 9.700 per saham, lalu ADRO di target harga Rp 3.990 per saham dan ASII dengan target harga Rp 5.400 per saham.
Diantara Saham Penghuni IDX High Dividen 20, Mana yang Masih Menarik?
Performa dari kinerja indeks IDX High Dividend 20 tercatat positif sejak awal tahun 2024. [525] url asal
#tlkm #bursa-efek-indonesia #bmri #antm #idx-high-dividend-20 #bbca #saham-tlkm #saham-bbri #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 14/10/24 07:20
v/16434321/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks IDX High Dividend 20 menghasilkan return positif di tahun 2024 ini. Hingga Jumat (11/10), Indeks IDX High Dividend 20 ini naik 0,52% secara tahun berjalan atau year to date (ytd).
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, pertumbuhan kinerja IDX High Dividend 20 yang tumbuh tipis tersebut dikarenakan ada sejumlah saham yang turun signifikan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 14,41% ytd dan 25,57 ytd.
"Sedangkan keduanya memiliki bobot yang cukup besar terhadap indeks ini, dari BBRI bobot sebelumnya 16% turun menjadi 14,8% dan TLKM sebelumnya 15,9% turun menjadi 13,5%," kata Sukarno kepada Kontan, Jumat (11/10).
Sukarno memperkirakan indeks ini masih bisa tumbuh positif hingga akhir tahun 2024, terutama potensi penurunan kedua saham tersebut bisa berakhir mengingat valuasinya sudah lebih menarik setelah turun signifikan.
"Nah ketika kedua saham ini pulih kembali, maka potensi tumbuh di indeks ini cukup besar seiring pertumbuhan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," ujarnya.
Sukarno juga melihat ada sejumlah emiten yang menjadi penopang indeks tersebut. Antara lain TPIA, ADRO, PTBA, INDF, UNTR, BMRI, BBCA, INDF, AMRT, KLBF, ITMG dan INKP.
Sukarno menyarankan investor bisa mencermati indeks ini terutama pada saham yang masih mengalami penurunan. Seperti BBRI, TLKM, ASII, SMGR dan ANTM, yang secara fundamental cukup solid dan valuasi sudah lebih menarik.
Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto melihat performa dari IDX High Dividend yang tumbuh tipis tersebut dikarenakan kurangnya minat pelaku pasar pada saham-saham yang tergabung dalam indeks tersebut.
"Saham pada indeks ini sedang mengalami tekanan jual asing sejak adanya sentimen stimulus ekonomi China. Selain itu, secara umum saham-saham High Dividend 20 memang momentumnya hanya saat pembagian dividen, jadi sebelum ada momentum tersebut minat pelaku pasar masih kurang," ujar William kepada Kontan, Minggu (13/10).
William berpendapat kinerja indeks ini masih bisa tumbuh positif hingga akhir tahun 2024. Pasalnya, performa indeks ini akan bergerak bersamaan dengan rilis laporan keuangan dan rencana pembagian dividen.
"Jadi selama keduanya masih bertumbuh, kinerja indeks ini akan naik karena minat beli saham dari pelaku pasar," jelasnya.
Menurutnya, tidak ada metode khusus yang perlu disiapkan oleh para investor. Hanya saja, investor perlu memerhatikan pergerakan tren saham dan pembagian dividen yang ada dalam indeks ini.
William merekomendasikan buy untuk saham BBCA, BMRI, TLKM, BBRI dan ASII dengan masing-masing target harga Rp 11.000 per saham., Rp 7.200 per saham., Rp 3.300 per saham., Rp 5.500 per saham. dan Rp 5.500 per saham.
Sementara itu, Sukarno merekomendasikan untuk mencermati sejumlah saham yang tergabung pada indeks ini, meliputi BBRI dengan target harga Rp 6.000 per saham, ANTM di target harga Rp 1.640 per saham, TLKM pada target harga Rp 3.400 per saham.
Kemudian, cermati juga saham SMGR di target harga Rp 4.450 per saham, AMRT di target harga Rp 3.500 per saham, INKP pada target harga Rp 9.700 per saham, lalu ADRO di target harga Rp 3.990 per saham dan ASII dengan target harga Rp 5.400 per saham.
Performa IDX High Dividen 20 Naik Tipis, Simak Rekomendasi Sahamnya
Performa dari kinerja indeks IDX High Dividend 20 tercatat positif sejak awal tahun 2024. [530] url asal
#tlkm #bursa-efek-indonesia #bmri #antm #idx-high-dividend-20 #bbca #saham-tlkm #saham-bbri #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 13/10/24 19:28
v/16409554/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Performa dari kinerja indeks IDX High Dividend 20 tercatat positif sejak awal tahun 2024. Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (11/10), performa indeks ini meningkat 0,52% secara tahun berjalan atau year to date (ytd).
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, pertumbuhan kinerja IDX High Dividend 20 yang tumbuh tipis tersebut dikarenakan ada sejumlah saham yang turun signifikan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 14,41% ytd dan 25,57 ytd.
"Sedangkan keduanya memiliki bobot yang cukup besar terhadap indeks ini, dari BBRI bobot sebelumnya 16% turun menjadi 14,8% dan TLKM sebelumnya 15,9% turun menjadi 13,5%," kata Sukarno kepada Kontan, Jumat (11/10).
Sukarno memperkirakan indeks ini masih bisa tumbuh positif hingga akhir tahun 2024, terutama potensi penurunan kedua saham tersebut bisa berakhir mengingat valuasinya sudah lebih menarik setelah turun signifikan.
"Nah ketika kedua saham ini pulih kembali, maka potensi tumbuh di indeks ini cukup besar seiring pertumbuhan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," ujarnya.
Sukarno juga melihat ada sejumlah emiten yang menjadi penopang indeks tersebut. Antara lain TPIA, ADRO, PTBA, INDF, UNTR, BMRI, BBCA, INDF, AMRT, KLBF, ITMG dan INKP.
Sukarno menyarankan investor bisa mencermati indeks ini terutama pada saham yang masih mengalami penurunan. Seperti BBRI, TLKM, ASII, SMGR dan ANTM, yang secara fundamental cukup solid dan valuasi sudah lebih menarik.
Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto melihat performa dari IDX High Dividend yang tumbuh tipis tersebut dikarenakan kurangnya minat pelaku pasar pada saham-saham yang tergabung dalam indeks tersebut.
"Saham pada indeks ini sedang mengalami tekanan jual asing sejak adanya sentimen stimulus ekonomi China. Selain itu, secara umum saham-saham High Dividend 20 memang momentumnya hanya saat pembagian dividen, jadi sebelum ada momentum tersebut minat pelaku pasar masih kurang," ujar William kepada Kontan, Minggu (13/10).
William berpendapat kinerja indeks ini masih bisa tumbuh positif hingga akhir tahun 2024. Pasalnya, performa indeks ini akan bergerak bersamaan dengan rilis laporan keuangan dan rencana pembagian dividen.
"Jadi selama keduanya masih bertumbuh, kinerja indeks ini akan naik karena minat beli saham dari pelaku pasar," jelasnya.
Menurutnya, tidak ada metode khusus yang perlu disiapkan oleh para investor. Hanya saja, investor perlu memerhatikan pergerakan tren saham dan pembagian dividen yang ada dalam indeks ini.
William merekomendasikan buy untuk saham BBCA, BMRI, TLKM, BBRI dan ASII dengan masing-masing target harga Rp 11.000 per saham., Rp 7.200 per saham., Rp 3.300 per saham., Rp 5.500 per saham. dan Rp 5.500 per saham.
Sementara itu, Sukarno merekomendasikan untuk mencermati sejumlah saham yang tergabung pada indeks ini, meliputi BBRI dengan target harga Rp 6.000 per saham, ANTM di target harga Rp 1.640 per saham, TLKM pada target harga Rp 3.400 per saham.
Kemudian, cermati juga saham SMGR di target harga Rp 4.450 per saham, AMRT di target harga Rp 3.500 per saham, INKP pada target harga Rp 9.700 per saham, lalu ADRO di target harga Rp 3.990 per saham dan ASII dengan target harga Rp 5.400 per saham.
Daftar Saham Royal Dividen Mercy Harga Bajaj Awal Oktober 2024
Pilah-pilih saham royal dividen mercy harga bajaj ala Lo Kheng Hong pada awal Oktober 2024. [39] url asal
#saham #royal #dividen #mercy-harga-bajaj #lo-kheng-hong #dividen-2024 #idx-high-dividend-20 #saham-murah #saham-lo-kheng-hong #untr #idx-untr #asii #idx-asii #saham-asii #adro #smgr #inkp #itmg #per
(Bisnis.Com - Market) 01/10/24 13:00
v/15808757/
Bisnis.com, JAKARTA — Berburu saham-saham yang dikenal royal dalam membagikan dividen dengan valuasi mercy harga bajaj ala Lo Kheng Hong.
Rapor indeks IDX High Dividend 20 mencetak return positif untuk periode berjalan tahun ini hingga akhir September 2024.
Dividen UNTR, AALI, HEXA Guyur Pemegang Saham Oktober 2024
Tebaran dividen tunai dan dividen interim kembali meramaikan pasar saham pada Oktober 2024. [818] url asal
#dividen #united-tractors #astra-agro-lestari #hexindo #untr #aali #hexa #dividen-untr #dividen-hexa #saham-royal-dividen #idx-high-dividend-20 #aksi-korporasi-dividen-aali
(Bisnis.Com - Market) 01/10/24 12:23
v/15754408/
Bisnis.com, JAKARTA — Tebaran dividen tunai dan dividen interim kembali meramaikan pasar saham pada Oktober 2024. Kali ini dividen interim bakal mengalir dari kocek emiten-emiten dari sektor komoditas dan industri terkait dengan komoditas.
Sedikitnya ada tiga emiten yang baru saja mengumumkan dividen tunai dan dividen interim untuk para pemegang sahamnya. Tiga emiten tersebut ialah PT United Tractors Tbk. (UNTR), PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), dan PT Hexindo Adiperkasa Tbk. (HEXA).
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen UNTR menyampaikan akan membagikan jumlah dividen interim tahun buku 2024 senilai total Rp2.422.416.693.712 atau Rp2,42 triliun.
"Dividen interim per saham adalah sebesar Rp667 per saham," kata Corporate Secretary UNTR Sara K. Loebis, Jumat (27/9/2024).
UNTR menjelaskan data keuangan per 30 Juni 2024 yang digunakan untuk membagikan dividen adalah laba bersih sebesar Rp9,53 triliun, dengan saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp70,51 triliun.
Dibandingkan dengan dividen interim UNTR pada tahun buku 2023, jumlah dividen interim tahun buku 2024 yang akan dibagikan UNTR ini berjumlah lebih kecil. Pada tahun buku 2023, UNTR membagikan dividen interim sebesar Rp701 per saham atau dengan total Rp2,54 triliun.
UNTR menyampaikan jadwal cum dividen interim di pasar reguler dan negosiasi adalah pada 7 Oktober 2024. Lalu, cum dividen interim di pasar tunai pada 9 Oktober 2024.
Sebagai informasi, cum date berasal dari singkatan cumulative date. Cum date merupakan sebuah tanggal yang menentukan bagi para investor yang berhak mendapatkan dividen dari sebuah emiten. Bila pembelian saham setelah melewati jadwal cum date investor tidak memiliki hak untuk mendapatkan dividen.
Jadwal cum date hanya berlangsung selama satu hari jadi pada hari ini investor akan berlomba supaya namanya tercatat sebagai penerima hak dividen. Terdapat kemungkinan pada tanggal cum date harga sebuah saham akan meningkat.
Adapun pembayaran dividen akan dilakukan UNTR ke pemegang saham pada 24 Oktober 2024.
Masih dari emiten Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) juga mengumumkan rencana untuk menebar dividen interim tahun buku 2024 kepada para pemegang sahamnya pada 24 Oktober 2024.
Dalam keterbukaan informasi BEI, manajemen AALI menyampaikan perseroan akan membagikan dividen interim untuk periode tahun buku 2024. Total nilai dividen yang dibagikan adalah Rp161,6 miliar.
"Dividen per saham adalah sebesar Rp84 per saham," kata Corporate Secretary AALI Tingning Sukowignjo, Rabu (25/9/2024).
Dividen itu sejalan dengan raihan laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk AALI per 31 Agustus yang tercatat sebesar Rp642,93 miliar. Di sisi lain, AALI memiliki saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp17,35 triliun hingga 31 Agustus 2024.
Apabila dibandingkan dengan dividen interim tahun lalu, jumlah dividen per saham yang dibagikan AALI tahun ini lebih tinggi dari dividen interim tahun buku 2023 yang sebesar Rp82 per saham.
Selain UNTR, dividen interim dari emiten alat berat juga bakal dibagikan oleh HEXA. Manajemen Hexindo menyampaikan dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) telah disetujui penggunaan laba bersih sebesar US$38,99 juta atau US$0,046 per saham sebagai dividen interim.
"Pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih yang berakhir pada 31 Maret 2024 sejumlah US$38,99 juta sebagai dividen, atau sebesar 70% dari laba bersih sebesar US$55,71 juta," tulis Manajemen HEXA, Selasa (24/9/2024).
Lebih lanjut, HEXA menjadwalkan cum date dividen pada pasar reguler dan negosiasi pekan depan, yaitu pada 2 Oktober 2024. Cum dividen di pasar tunai dijadwalkan pada 4 Oktober 2024. Sementara itu, pembayaran dividen HEXA akan dilakukan pada 25 Oktober 2024.
Manajemen HEXA juga mengungkapkan per Maret 2024, Hexindo berhasil melakukan penjualan sebesar US$612,3 juta, yang sebagian besar berasal dari penjualan & penyewaan alat berat sebesar US$398,61 juta atau setara dengan 65% dari total penjualan.
Meski begitu, HEXA memperkirakan kinerja keuangan tahun penuh 2024 akan melandai. HEXA juga memproyeksikan penjualan untuk tahun penuh 2024 dapat mencapai US$572,8 juta dengan laba bersih yang diperkirakan sebesar US$44,06 juta.
Sebelum tiga emiten tersebut, PT Eastparc Hotel Tbk. (EAST) dan PT Betonjaya Manunggal Tbk. (BTON) bakal lebih dulu menebar dividen untuk para pemegang sahamnya.
EAST bakal membagikan dividen interim II tahun buku 2024 sebesar Rp1,25 per saham pada 3 Oktober 2024. Dividen itu berasal dari saldo laba EAST pada akhir semester I/2024 yang tercatat senilai Rp15,42 miliar dengan laba per saham Rp3,74.
Adapun, dividen interim akan ditebar BTON pada 10 Oktober 2024. BTON membagikan dividen tunai senilai total Rp7,2 miliar atau Rp10 per saham. Nilai tersebut mencerminkan 41,07% dari laba bersih BTON pada tahun buku 2023.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Kinerja Indeks IDX High Dividend 20
analis memberikan rekomendasi saham dan prospek kinerja indeks IDX High Dividend 20 [1,012] url asal
#idx-high-dividend-20 #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan) 12/07/24 09:53
v/10511975/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja IDX High Dividend 20 tercatat masih minus sejak awal tahun 2024. Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja indeks ini secara year to date (ytd) masih turun 5,04%.
Sejumlah kinerja emiten konstituennya juga mengalami koreksi. Penurunan paling dalam dialami PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang terkoreksi 37,34% ytd.
Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terkoreksi 20,23% ytd. Disusul, PT Astra International Tbk (ASII) turun 20,18% ytd, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 19,49%. Lalu, ada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 17,85%.
Dua perbankan big four juga terpantau tengah terkoreksi kinerjanya sejak awal tahun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 15,46% dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 9,4%.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, penyebab penurunan saham para emiten di indeks ini disebabkan oleh musim bayar dividen yang sudah lewat.
Pada saat yang sama, imbal hasil IHSG secara ytd juga masih landai, walaupun trennya saat ini sudah mulai kembali positif. Kinerja IHSG naik 0,38% secara ytd.
“Penurunan harga saham konstituen IDX High Dividend 20 yang memerah karena harga komoditas atau volume penjualannya turun. Untuk sektor perbankan, rasio non performing loan (NPL) naik dan masih dilego investor asing,” katanya kepada Kontan, Kamis (11/7).
Prospek ke depan kinerja para emiten konstituen IDX High Dividend 20 tersebut bergantung pada kinerja keuangan mereka di semester II.
“Sentimen jangka pendeknya adalah laporan keuangan semester I yang akan keluar dalam tiga minggu ini,” paparnya.
Selain itu, jika IHSG kembali naik dan aliran dana asing kembali masuk ke Tanah Air, kinerja saham para emiten dan IDX High Dividend 20 juga akan terapresiasi.
“Pasti (naik). Jika asing masuk, mereka akan membeli saham berkapitalisasi pasar besar,” ungkapnya.
Budi mengatakan, saat ini masih banyak saham yang harganya masih rendah dan bisa dilirik oleh investor. Yaitu, ASII, BBRI, BBNI, ADRO, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
“ADRO dan ITMG juga menarik, karena dividend yield mereka besar dan valuasi yang juga rendah,” katanya.
Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi melihat, konstituen dalam IDX High Dividend 20 yang sahamnya merah terdampak sentimen kinerja masing-masing emiten. Mereka juga terkena langsung dampak dari perubahan ekonomi makro serta kebijakan moneter.
“Sehingga, investor cenderung melakukan perpindahan investasi dari emiten-emiten tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/7).
Audi mencontohkan, SMGR mencatatkan perlambatan laba bersih sebesar -15,99% secara tahunan, sehingga berdampak pada harga saham turun 37,34% ytd. Hal serupa terjadi juga kepada ANTM, ITMG dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
“Sedangkan, yang terpengaruh sentimen pengetatan kebijakan moneter dan perubahan ekonomi makro, yakni ASII yang harga sahamnya turun 20,18% ytd dan UNVR 17,85% ytd,” ungkapnya.
Di semester II 2024, dengan potensi terjadinya normalisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan pelonggaran kebijakan moneter, akan menjadi pendorong kinerja para konstituen dalam IDX High Dividend 20.
“Pada akhirnya, potensi pertumbuhan laba masih dapat terjadi dan kembali meningkatkan nilai pembagian dividen,” paparnya.
Sektor Keuangan, Energi, dan Telekomunikasi dilihat masih menarik untuk dikoleksi dengan peluang penguatan kinerja yang akan mendorong peningkatan nilai dividen.
Audi pun merekomendasikan beli untuk BMRI, BBRI, BBCA, ASII, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 6.900 per saham, Rp 5.500 per saham, Rp 10.600 per saham, Rp 5.400 per saham, dan Rp 3.750 per saham.
Sementara, dia juga memberikan rekomendasi hold untuk saham ADRO dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 2.880 per saham dan Rp 3.010 per saham.
Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan melihat, ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan mengapa kinerja IDX High Dividend 20 melemah. Pertama, bagi investor shorterm atau trader, minat mereka untuk memanfaatkan momentum dividen atau berburu saham dividen akan dilakukan menjelang pembagian dividen.
“Sehingga, ketika pembagian dividen telah selesai, permintaan dari trader terhadap saham dengan dividen tinggi akan turun,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/7).
Kedua, performa konstituen IDX High Dividend 20 di kuartal I 2024 mengalami penurunan performa laba secara tahunan, seperti TLKM, ASII, SMGR, ICBP, INDF.
“Hal ini tentu menjadi sentimen negatif, karena performa laba sangat mempengaruhi besaran dividen yang akan di dapat,” paparnya.
Ketiga, dampak aliran dana asing yang keluar dari sejumlah saham konstituen IDX High Dividend 20. BBRI, ASII, TLKM, BBNI, dan KLBF tercatat masuk menjadi 10 besar saham yang dilepas asing sejak awal tahun.
Di sisi lain, kinerja saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 82,86% ytd. Disusul PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) naik 20,17% ytd, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 7,18% ytd, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 5,79% ytd, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 4,51% ytd.
“Saham konstituen IDX High Dividend 20 yang masuk 10 besar saham yang dibeli asing tercatat menjadi kontributor penopang terbesar terhadap kinerja indeks, seperti TPIA, BBCA, dan ADRO,” ungkapnya.
Di semester II 2024, kinerja IDX High Dividend 20 masih akan dipengaruhi oleh sentimen pasar dan aktivitas transaksi investor asing.
Alfred memproyeksikan, di semester II 2024, kinerja IDX High Dividend 20 akan bergerak menguat seiring dengan pergerakan IHSG.
Di sisi lain, ekspektasi dimulainya penurunan suku bunga bank sentral juga masih akan menjadi sentimen kuat yang mempengaruhi aktivitas investor asing.
“Sentimen penurunan suku bunga terhadap saham high dividen akan lebih kuat, sebab penurunan tingkat suku bunga akan meningkatkan minat pasar terhadap saham-saham high dividen,” paparnya.
Alfred pun melihat, saham-saham perbankan, seperti BBRI, BMRI, dan BBNI masih punya prospek kenaikan hingga akhir tahun 2024. Hal itu didorong oleh masih kuatnya performa mereka ke depan, sehingga masih akan menjadi sentimen kuat bagi apresiasi harga sahamnya.
Begitu juga konstituen yang memiliki rekam jejak pembayaran dividen dengan rasio di atas 50% yang konsisten, seperti TLKM, ADRO, SMGR, dan ASII.
“Penurunan suku bunga akan membuat tingkat imbal hasil dividen yang diberikan oleh saham-saham tersebut menjadi lebih menarik,” ungkapnya.
Kinerja IDX High Dividend 20 Masih Minus, Simak Prospek Selanjutnya
IDX High Dividend 20 tercatat masih minus 5,04% sejak awal tahun 2024 saat IHSG sudah naik tipis. [980] url asal
#ihsg #idx-high-dividend-20 #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #idx-composite-ihsg #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 11/07/24 20:33
v/10451996/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja IDX High Dividend 20 tercatat masih minus sejak awal tahun 2024. Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja indeks ini secara year to date (YtD) masih turun 5,04%.
Sejumlah kinerja emiten konstituennya juga mengalami koreksi. Penurunan paling dalam dialami saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang terkoreksi 37,34% YtD.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terkoreksi 20,23% YtD. PT Astra International Tbk (ASII) turun 20,18% YtD. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 19,49%. Lalu, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 17,85%.
Dua perbankan big four juga terpantau tengah terkoreksi kinerjanya sejak awal tahun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 15,46% dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 9,4%.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, penyebab penurunan saham para emiten di indeks ini disebabkan oleh musim bayar dividen yang sudah lewat.
Pada saat yang sama, imbal hasil IHSG secara YtD juga masih landai, walaupun trennya saat ini sudah mulai kembali positif. Kinerja IHSG naik 0,38% secara YtD.
“Penurunan harga saham konstituen IDX High Dividend 20 yang memerah karena harga komoditas atau volume penjualannya turun. Untuk sektor perbankan, rasio nonperforming loan (NPL) naik dan masih dilego investor asing,” katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (11/7).
Prospek ke depan kinerja para emiten konstituen IDX High Dividend 20 tersebut bergantung pada kinerja keuangan mereka di semester II. “Sentimen jangka pendeknya adalah laporan keuangan semester I yang akan keluar dalam tiga minggu ini,” paparnya.
Selain itu, jika IHSG kembali naik dan aliran dana asing kembali masuk ke Tanah Air, kinerja saham para emiten dan IDX High Dividend 20 juga akan terapresiasi. “Pasti (naik). Jika asing masuk, mereka akan membeli saham berkapitalisasi pasar besar,” ungkapnya.
Budi mengatakan, saat ini masih banyak saham yang harganya masih rendah dan bisa dilirik oleh investor. Yaitu, ASII, BBRI, BBNI, ADRO, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
“ADRO dan ITMG juga menarik, karena dividend yield mereka besar dan valuasi yang juga rendah,” katanya.
Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi melihat, konstituen dalam IDX High Dividend 20 yang sahamnya merah terdampak sentimen kinerja masing-masing emiten. Mereka juga terkena langsung dampak dari perubahan ekonomi makro serta kebijakan moneter.
“Sehingga, investor cenderung melakukan perpindahan investasi dari emiten-emiten tersebut,” ujar Audi kepada Kontan.co.id, Kamis (11/7).
Audi mencontohkan, SMGR mencatatkan perlambatan laba bersih sebesar -15,99% secara tahunan, sehingga berdampak pada harga saham turun 37,34% YtD. Hal serupa terjadi juga kepada ANTM, ITMG dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
“Sedangkan, yang terpengaruh sentimen pengetatan kebijakan moneter dan perubahan ekonomi makro, yakni ASII yang harga sahamnya turun 20,18% YtD dan UNVR 17,85% YtD,” ungkapnya.
Di semester II 2024, dengan potensi terjadinya normalisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan pelonggaran kebijakan moneter, akan menjadi pendorong kinerja para konstituen dalam IDX High Dividend 20.
“Pada akhirnya, potensi pertumbuhan laba masih dapat terjadi dan kembali meningkatkan nilai pembagian dividen,” paparnya.
Sektor Keuangan, Energi, dan Telekomunikasi dilihat masih menarik untuk dikoleksi dengan peluang penguatan kinerja yang akan mendorong peningkatan nilai dividen.
Audi pun merekomendasikan beli untuk BMRI, BBRI, BBCA, ASII, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 6.900 per saham, Rp 5.500 per saham, Rp 10.600 per saham, Rp 5.400 per saham, dan Rp 3.750 per saham. sementara, rekomendasi hold diberikan Audi untuk saham ADRO dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 2.880 per saham dan Rp 3.010 per saham.
Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan melihat, ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan mengapa kinerja IDX High Dividend 20 melemah. Pertama, bagi investor short term atau trader, minat mereka untuk memanfaatkan momentum dividen atau berburu saham dividen akan dilakukan menjelang pembagian dividen.
“Sehingga, ketika pembagian dividen telah selesai, permintaan dari trader terhadap saham dengan dividen tinggi akan turun,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/7).
Kedua, performa konstituen IDX High Dividend 20 di kuartal I 2024 mengalami penurunan performa laba secara tahunan, seperti TLKM, ASII, SMGR, ICBP, INDF.
“Hal ini tentu menjadi sentimen negatif, karena performa laba sangat mempengaruhi besaran dividen yang akan di dapat,” paparnya.
Ketiga, dampak aliran dana asing yang keluar dari sejumlah saham konstituen IDX High Dividend 20. BBRI, ASII, TLKM, BBNI, dan KLBF tercatat masuk menjadi 10 besar saham yang dilepas asing sejak awal tahun.
Di sisi lain, kinerja saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 82,86% YtD. Disusul PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) naik 20,17% YtD, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 7,18% YtD, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 5,79% YtD, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 4,51% YtD.
“Saham konstituen IDX High Dividend 20 yang masuk 10 besar saham yang dibeli asing tercatat menjadi kontributor penopang terbesar terhadap kinerja indeks, seperti TPIA, BBCA, dan ADRO,” ungkapnya.
Di semester II 2024, kinerja IDX High Dividend 20 masih akan dipengaruhi oleh sentimen pasar dan aktivitas transaksi investor asing.
Alfred memproyeksikan, di semester II 2024, kinerja IDX High Dividend 20 akan bergerak menguat seiring dengan pergerakan IHSG. Di sisi lain, ekspektasi dimulainya penurunan suku bunga bank sentral juga masih akan menjadi sentimen kuat yang mempengaruhi aktivitas investor asing.
“Sentimen penurunan suku bunga terhadap saham high dividend akan lebih kuat, sebab penurunan tingkat suku bunga akan meningkatkan minat pasar terhadap saham-saham high dividend,” papar dia.
Alfred pun melihat, saham-saham perbankan, seperti BBRI, BMRI, dan BBNI masih punya prospek kenaikan hingga akhir tahun 2024. Hal itu didorong oleh masih kuatnya performa mereka ke depan, sehingga masih akan menjadi sentimen kuat bagi apresiasi harga sahamnya.
Begitu juga konstituen yang memiliki rekam jejak pembayaran dividen dengan rasio di atas 50% yang konsisten, seperti TLKM, ADRO, SMGR, dan ASII.
“Penurunan suku bunga akan membuat tingkat imbal hasil dividen yang diberikan oleh saham-saham tersebut menjadi lebih menarik,” ungkap Alfred.