NUSA DUA, investor.id–Sejumlah negara importir mulai menyiapkan alternatif substitusi minyak sawit untuk memenuhi permintaan di pasar domestiknya. Contoh, China kemungkinan lebih banyak membeli minyak kedelai ketimbang minyak sawit. Hal itu antara lain karena harga minyak sawit yang diperkirakan tidak lagi murah akibat kekhawatiran penurunan suplai di pasar global.
Dalam diskusi sesi ketiga bertema Palm Oil Industry Prospect: Regional Perspective saat ajang The 20th Indonesian Palm Oil Conference and 2025 Price Outlook atau IPOC 2024 di Nusa Dua, Bali, Jumat (08/11/2024), terungkap bahwa kekhawatiran akan penurunan suplai minyak sawit di pasar global cenderung meningkat. Hal tersebut telah mendorong para importir melakukan langkah-langkah antisipasi atau menyiapkan alternatif guna mencari substitusi minyak sawit.
Kekhawatiran itu terutama dipicu oleh rencana Pemerintah Indonesia meningkatkan produksi biodiesel dan meningkatnya harga sawit yang salah satunya akibat pungutan ekspor (PE) minyak sawit di Indonesia yang dinilai terlalu tinggi. Artinya, para importir khawatir suplai minyak sawit Indonesia menjadi tidak menentu.
Akibatnya, prediksi para analis pun menyebutkan, ketergantungan negara-negara importir terbesar sawit, yang merupakan tujuan utama ekspor Indonesia, akan sangat berkurang tahun depan. Situasi itu tentu menjadi early warning bagi negara-negara produsen dan eksportir minyak sawit.
Ryan Chen, Direktur China CNF Business, Oils & Oil Seeds pada Cargil Investments (China), mengatakan, ada kecenderungan pasar China beralih dari minyak sawit ke minyak nabati lain. Saat ini, dalam pasar domestik China tersedia pilihan pasokan minyak nabati lain, khususnya minyak kedelai. Apalagi, harganya bisa berpotensi lebih murah. “Saya kira, dalam hal harga, sudah berakhir era minyak sawit paling murah,” kata Ryan Chen. Tahun ini, pemintaan minyak nabati China akan stagnan, setelah naik pada 2023.
Permintaan minyak sawit China, untuk produk olein dan stearin, diperkirakan turun sekitar 30% tahun ini karena beberapa faktor, terutama menyangkut harga. Pangsa minyak sawit terhadap total permintaan minyak nabati China diperkirakan menurun ke 12,8% tahun ini, dibandingkan 17,5% di 2023. Impor minyak olein tahun ini bisa menurun ke 2,3 juta ton, dibandingkan 4,2 juta ton pada 2023. Pada 2025, impor olein China akan stagnan sekitar 2,3-2,4 juta ton.
Pasar Non-China
Sementara itu, di pasar non-China, terutama India dan Pakistan, permintaan minyak sawit diproyeksikan meningkat. Namun demikian, ada kekhawatiran atas suplai minyak sawit dari Indonesia yang kemungkinan terjadi penurunan dan kebijakan PE yang bisa menaikkan harga.
BV Mehta, Direktur Eksekutif dari The Solvent Extractors’ Association di India, menyebutkan, permintaan minyak nabati akan terus meningkat, tapi produksi domestik tidak bisa menutupi seluruh permintaan. Konsumsi domestik India sekitar 30 juta ton, hanya sekitar 13 juta ton yang bisa dipenuhi dengan produksi lokal.
India masih akan tergantung pada impor minyak nabati, namun kebijakan biodiesel di Indonesia telah menimbulkan kekhawatiran di pasar soal suplai sawit. Abdul Rasheed Jan Mohammad, CEO Westbury Group, perusahaan Pakistan, juga mengatakan hal serupa. Apalagi, sekitar 99% pasokan minyak sawit Pakistan berasal dari Indonesia, ketergantungan negara itu sangat besar ke Indonesia.
Alphonsus Inyang, Presiden National Palm Produce Association of Nigeria (NPPAN), mengatakan, ada kesempatan untuk investasi dan perdagangan minyak nabati di Afrika. “Kita mengundang para investor untuk berinvestasi di Nigeria dan perdagangan minyak nabati karena permintaan minyak nabati di Afrika meningkat terus,” jelas dia.
Editor: Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News