#30 tag 24jam
Indeks Bisnis UMKM BRI Q3: Ekspansi Melambat, Perlu Penguatan Daya Beli
Pada Q3-2024 Indeks Bisnis UMKM masih berada pada level 102,6 (di atas 100), yang berarti ekspansi bisnis UMKM masih berlanjut. [1,285] url asal
#komponen-indeks-bisnis-umkm #ekspansi #pebisnis-umkm #2024 #perayaan-nataru #bank-rakyat-indonesia #pemerintah #supari #bisnis-umkm #indeks-bisnis-umkm #selisih #penurunan #perlambatan #nilai-penjualan #panen-raya
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 05/11/24 12:00
v/17500601/
Jakarta - PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempublikasikan Indeks Bisnis UMKM Triwulan III 2024 pada Senin (4/11). Dalam publikasi tersebut, bahwa bisnis UMKM pada Triwulan III 2024 melambat, terlihat dari Indeks Bisnis UMKM yang berada pada level 102,6 atau lebih rendah dibandingkan dengan Triwulan II 2024 sebelumnya yakni 109,9.
Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan pada Q3-2024 Indeks Bisnis UMKM masih berada pada level 102,6 (di atas 100), yang berarti ekspansi bisnis UMKM masih berlanjut.
"Hal ini ditopang oleh aktivitas masyarakat kembali normal pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Idul Fitri, Waisak dan Idul Adha, ditambah libur sekolah, adanya peningkatan panen komoditas Perkebunan, aktivitas proyek-proyek pemerintah dan swasta semakin meningkat menjelang akhir tahun serta banyak acara pesta (pernikahan) dan aktivitas partai politik menjelang pilkada," jelas Supari dalam keterangan tertulis, Selasa (5/11/2024).
Meski demikian, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, ekspansi bisnis UMKM pada Q3-2024 melambat, tercermin dari penurunan Indeks Bisnis UMKM dari 109,9 menjadi 102,6.
"Penunuran ini disebabkan turunnya daya beli masyarakat, normalisasi permintaan pasca perayaan HBKN, normalisasi produksi pertanian pasca panen raya, kenaikan harga barang input, dan persaingan yang semakin ketat," imbuhnya.
Supari menjelaskan sebanyak lima komponen Indeks Bisnis UMKM memiliki indeks di atas 100, sementara tiga komponen lainnya menurun di bawah 100. Indeks terendah terlihat pada komponen volume produksi/penjualan (indeks terkait 94,1), komponen nilai penjualan (indeks terkait 96,1), dan komponen penggunaan tenaga kerja (indeks terkait 99,2).
Normalisasi permintaan barang dan jasa pasca HBKN dan menurunnya produksi pangan pasca panen raya, serta naiknya harga barang input menyebabkan volume produksi dan penjualan UMKM mengalami penurunan. Meskipun rata-rata harga jual mencatat kenaikan, namun penurunan volume produksi/penjualan yang cukup dalam menyebabkan nilai penjualan juga turut menurun.
Menjelang musim tanam tanaman pangan dan perayaan Nataru, pemesanan dan persediaan barang input masih mengalami kenaikan (indeks terkait tetap di atas 100), namun lebih lambat dari Q2-2024. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga barang input serta prospek usaha yang tidak seoptimis kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, persediaan barang jadi masih meningkat, dengan laju yang tidak sepesat kuartal sebelumnya, sejalan dengan menurunnya produksi. Sedangkan kegiatan investasi juga melambat, karena keterbatasan dana yang sebagian terserap oleh naiknya harga barang input.
Dilihat secara sektoral, ekspansi bisnis UMKM pada Q3-2024 sebagian besar mengalami perlambatan. Beberapa sektor usaha, seperti: sektor pertanian serta sektor hotel dan restoran, bahkan menunjukkan kontraksi.
Aktivitas sektor pertanian pun mengalami penurunan menyusul pasca panen raya tanaman pangan pada Q2-2024 dan musim kemarau yang cukup kering di sejumlah daerah. Sektor hotel dan restoran juga mengalami kontraksi pasca HBKN dan libur sekolah pada kuartal sebelumnya, yang membuat permintaan terhadap jasa akomodasi menurun signifikan.
Sementara itu, sektor pertambangan masih ekspansi sejalan dengan musim kemarau yang kondusif bagi sektor ini, terutama penambangan pasir untuk kegiatan konstruksi dan permintaan air bersih. Ekspansi pada sektor industri, perdagangan dan pengangkutan terutama ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual dan permintaan yang masih relatif kuat, setelah aktivitas kerja dan sekolah kembali normal pasca HBKN.
Namun ekspansi aktivitas sektor-sektor tersebut melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kenaikan aktivitas sektor jasa-jasa sejalan dengan banyaknya pesta seperti pernikahan dan peningkatan kegiatan partai politik jelang Pilkada. Indeks Bisnis tertinggi terjadi pada sektor konstruksi (indeks terkait 116,3) yang ditopang oleh meningkatnya aktivitas proyek-proyek pemerintah dan swasta menjelang akhir tahun serta cuaca yang kondusif.
Pada Q4-2024, pebisnis UMKM yakin akan ekspansi usahanya ke depan, tercermin pada Indeks Ekspektasi Bisnis UMKM sebesar 122,3. Namun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, level Indeks Ekspektasi Bisnis Q3-2024 mengalami penurunan, yang memberikan sinyal laju kenaikan aktivitas usaha yang lebih moderat. Penurunan optimisme ini terutama karena melemahnya daya beli masyarakat, persaingan yang semakin ketat, serta awal musim tanam tanaman pangan.
Sejalan dengan aktivitas bisnis UMKM yang melambat, sentimen pebisnis UMKM terhadap perekonomian dan usaha secara umum juga ikut menurun. Hal ini tercermin pada Indeks Sentimen Bisnis (ISB) UMKM Q3-2024 yang berada pada level 115,1. Komponen Indeks Situasi Sekarang (ISS) turun -7,5 poin menjadi 94,1, sementara Indeks Ekspektasi (IE) melemah -4,0 poin menjadi 136,0. ISS yang melemah ke bawah level 100, sejalan dengan melambatnya ekspansi bisnis UMKM pada Q3-2024.
Seiring dengan melambatnya pertumbuhan usaha dan melemahnya sentimen pebisnis UMKM, penilaian UMKM terhadap kemampuan pemerintah dalam menjalankan tugas-tugas utamanya ikut menurun. Hal ini tercermin pada Indeks Kepercayaan pelaku UMKM kepada Pemerintah (IKP) Q3-2024 yang melemah -4,6 poin (indeks terkait 125,9).
Dilihat dari komponen penyusunnya, hampir semua komponen IKP pada Q3-2024 melemah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pebisnis UMKM memberikan penilaian tertinggi terhadap kemampuan pemerintah menciptakan rasa aman dan tenteram (indeks terkait 144,2) serta menyediakan dan merawat infrastruktur (indeks terkait 138,2). Sedangkan penilaian terendah diberikan oleh pelaku UMKM terhadap kemampuan pemerintah menstabilkan harga barang dan jasa (indeks terkait 110,5).
"Hal ini tampaknya berkaitan dengan harga barang input yang terus meningkat dan menggerus keuntungan usaha, sehingga dirasakan sangat memberatkan bagi sebagian pelaku bisnis UMKM," papar Supari.
Informasi Tentang Survei
Sebagai informasi, Survei Kegiatan Usaha dan Sentimen Bisnis UMKM BRI memiliki sampel lebih dari 7.084 responden UMKM yang tersebar di semua sektor ekonomi dan di 33 provinsi. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified systematic random sampling, sehingga dapat merepresentasikan sektor usaha, provinsi dan skala usaha.
Survei ini dilakukan oleh BRI Research Institute pada tanggal 20 September 2024 sampai dengan 02 Oktober 2024. Wawancara dilakukan melalui telepon dengan pengawasan mutu yang ketat sehingga data yang terkumpul valid dan reliable.
Informasi yang dikumpulkan dalam survei ini adalah persepsi pelaku usaha UMKM terhadap perkembangan dan prospek perekonomian secara umum, sektor usaha responden serta perkembangan dan proyeksi kinerja usaha responden. Informasi ini digunakan untuk menyusun Indeks Bisnis UMKM (IB), Indeks Sentimen Bisnis (ISB) serta Indeks Kepercayaan Pelaku (IKP) usaha UMKM kepada pemerintah.
Indeks-indeks ini melengkapi indeks serupa yang disusun oleh Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik di mana surveinya dilakukan terhadap pelaku usaha kategori menengah dan besar. Di samping itu juga dikumpulkan informasi mengenai kondisi usaha responden untuk keperluan monitoring dan sekaligus menjadi early warning system (EWS) terhadap keberlangsungan usaha debitur UMKM.
Dalam survei ini, responden menjawab sejumlah pertanyaan, di mana untuk setiap pertanyaan responden dapat memberikan jawaban positif (Lebih Tinggi atau Lebih Baik), jawaban negatif (Lebih Rendah atau Lebih Buruk), dan jawaban netral (Sama Saja atau Tetap). Indeks difusi dihitung dari selisih persentase jawaban positif dengan persentase jawaban negatif ditambah 100. Dalam hal ini jawaban netral diabaikan.
Nilai tengah indeks difusi adalah 100, dan rentang indeks difusi akan berada pada kisaran nol sampai dengan 200. Jika semua responden memberikan jawaban negatif, maka indeks difusi akan bernilai nol. Dan sebaliknya jika semua responden memberikan jawaban positif, maka indeks difusi akan bernilai 200.
Indeks difusi di atas 100 menunjukkan bahwa jawaban positif melebihi jawaban negatif. Sebaliknya indeks difusi di bawah 100 mengindikasikan jawaban negatif lebih banyak dibandingkan dengan jawaban positif.
(ega/ega)
Indeks Bisnis UMKM BRI Triwulan III 2024 Berada di Level 102,6
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempublikasikan Indeks Bisnis UMKM Triwulan III 2024 pada Senin (4.11.2024). Ekspansi bisnis UMKM pada Triwulan III 2024... | Halaman Lengkap [1,127] url asal
#bri #indeks-bisnis-umkm #indeks-ekspektasi-harga-umum #bumn #sindonews-stories
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 05/11/24 09:17
v/17561845/
JAKARTA - PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempublikasikan Indeks Bisnis UMKM Triwulan III 2024 pada Senin (4/11/2024). Dalam publikasi tersebut diketahui bahwa ekspansi bisnis UMKM pada Triwulan III 2024 melambat, tercermin dari Indeks Bisnis UMKM yang berada pada level 102,6 atau lebih rendah dibandingkan dengan Triwulan II 2024 sebelumnya yakni 109,9.Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa pada Q3-2024 Indeks Bisnis UMKM masih berada pada level 102,6 (di atas 100), yang berarti ekspansi bisnis UMKM masih berlanjut. Hal tersebut ditopang oleh aktivitas masyarakat kembali normal pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Idul Fitri, Waisak dan Idul Adha, ditambah libur sekolah.
"Selain itu adanya peningkatan panen komoditas perkebunan, aktivitas proyek-proyek pemerintah dan swasta semakin meningkat menjelang akhir tahun serta banyak acara pesta (pernikahan) dan aktivitas partai politik menjelang pilkada,? tutur Supari.
Namun apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, ekspansi bisnis UMKM pada Q3-2024 melambat, tercermin dari penurunan Indeks Bisnis UMKM dari 109,9 menjadi 102,6. ?Penunuran ini disebabkan turunnya daya beli masyarakat, normalisasi permintaan pasca perayaan HBKN, normalisasi produksi pertanian pasca panen raya, enaikan harga barang input, dan persaingan yang semakin ketat,? ujar Supari.
Sebanyak lima komponen Indeks Bisnis UMKM memiliki indeks di atas 100, sementara tiga komponen lainnya menurun di bawah 100. Indeks terendah terlihat pada komponen volume produksi/penjualan (indeks terkait 94,1), komponen nilai penjualan (indeks terkait 96,1), dan komponen penggunaan tenaga kerja (indeks terkait 99,2).
Normalisasi permintaan barang dan jasa pasca HBKN dan menurunnya produksi pangan pasca panen raya, serta naiknya harga barang input menyebabkan volume produksi dan penjualan UMKM mengalami penurunan. Meskipun rata-rata harga jual mencatat kenaikan, namun penurunan volume produksi/penjualan yang cukup dalam menyebabkan nilai penjualan juga turut menurun.
Menjelang musim tanam tanaman pangan dan perayaan Nataru, pemesanan dan persediaan barang input masih mengalami kenaikan (indeks terkait tetap di atas 100), namun lebih lambat dari Q2-2024. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga barang input serta prospek usaha yang tidak seoptimis kuartal sebelumnya. Persediaan barang jadi masih meningkat, dengan laju yang tidak sepesat kuartal sebelumnya, sejalan dengan menurunnya produksi. Kegiatan investasi juga melambat, karena keterbatasan dana yang sebagian terserap oleh naiknya harga barang input.
Dilihat secara sektoral, ekspansi bisnis UMKM pada Q3-2024 sebagian besar mengalami perlambatan. Beberapa sektor usaha, seperti: sektor pertanian serta sektor hotel dan restoran, bahkan menunjukkan kontraksi. Aktivitas sektor pertanian mengalami penurunan menyusul pasca panen raya tanaman pangan pada Q2-2024 dan musim kemarau yang cukup kering di sejumlah daerah. Sektor hotel dan restoran juga mengalami kontraksi pasca HBKN dan libur sekolah pada kuartal sebelumnya, yang membuat permintaan terhadap jasa akomodasi menurun signifikan.
Sementara itu, sektor pertambangan masih ekspansi sejalan dengan musim kemarau yang kondusif bagi sektor ini, terutama penambangan pasir untuk kegiatan konstruksi dan permintaan air bersih. Ekspansi pada sektor industri, perdagangan dan pengangkutan terutama ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual dan permintaan yang masih relatif kuat, setelah aktivitas kerja dan sekolah kembali normal pasca HBKN.
Namun ekspansi aktivitas sektor-sektor tersebut melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kenaikan aktivitas sektor jasa-jasa sejalan dengan banyaknya pesta seperti pernikahan dan peningkatan kegiatan partai politik jelang Pilkada. Indeks Bisnis tertinggi terjadi pada sektor konstruksi (indeks terkait 116,3) yang ditopang oleh meningkatnya aktivitas proyek-proyek pemerintah dan swasta menjelang akhir tahun serta cuaca yang kondusif.
Pada Q4-2024, pebisnis UMKM tetap yakin akan ekspansi usahanya ke depan, tercermin pada Indeks Ekspektasi Bisnis UMKM sebesar 122,3. Namun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, level Indeks Ekspektasi Bisnis Q3-2024 mengalami penurunan, yang memberikan sinyal laju kenaikan aktivitas usaha yang lebih moderat. Penurunan optimisme ini terutama karena melemahnya daya beli masyarakat, persaingan yang semakin ketat, serta awal musim tanam tanaman pangan.
Sejalan dengan aktvitas bisnis UMKM yang melambat, sentimen pebisnis UMKM terhadap perekonomian dan usaha secara umum juga ikut menurun. Hal ini tercermin pada Indeks Sentimen Bisnis (ISB) UMKM Q3-2024 yang berada pada level 115,1. Komponen Indeks Situasi Sekarang (ISS) turun -7,5 poin menjadi 94,1, sementara Indeks Ekspektasi (IE) melemah -4,0 poin menjadi 136,0. ISS yang melemah ke bawah level 100, sejalan dengan melambatnya ekspansi bisnis UMKM pada Q3-2024.
Seiring dengan melambatnya pertumbuhan usaha dan melemahnya sentimen pebisnis UMKM, penilaian UMKM terhadap kemampuan pemerintah dalam menjalankan tugas-tugas utamanya ikut menurun. Hal ini tecermin pada Indeks Kepercayaan pelaku UMKM kepada Pemerintah (IKP) Q3-2024 yang melemah -4,6 poin (indeks terkait 125,9). Dilihat dari komponen penyusunnya, hampir semua komponen IKP pada Q3-2024 melemah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Pebisnis UMKM memberikan penilaian tertinggi terhadap kemampuan pemerintah menciptakan rasa aman dan tenteram (indeks terkait 144,2) serta menyediakan dan merawat infrastruktur (indeks terkait 138,2).
Sedangkan penilaian terendah diberikan oleh pelaku UMKM terhadap kemampuan pemerintah menstabilkan harga barang dan jasa (indeks terkait 110,5). ?Hal ini tampaknya berkaitan dengan harga barang input yang terus meningkat dan menggerus keuntungan usaha, sehingga dirasakan sangat memberatkan bagi sebagian pelaku bisnis UMKM,? tutur Supari.
Informasi Tentang Survei
Survei Kegiatan Usaha dan Sentimen Bisnis UMKM BRI memiliki sampel lebih dari 7.084 responden UMKM yang tersebar di semua sektor ekonomi dan di 33 provinsi. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified systematic random sampling, sehingga dapat merepresentasikan sektor usaha, provinsi dan skala usaha. Survei ini dilakukan oleh BRI Research Institute pada tanggal 20 September 2024 sampai dengan 02 Oktober 2024.
Wawancara dilakukan melalui telepon dengan pengawasan mutu yang ketat sehingga data yang terkumpul valid dan reliable. Informasi yang dikumpulkan dalam survei ini adalah persepsi pelaku usaha UMKM terhadap perkembangan dan prospek perekonomian secara umum, sektor usaha responden serta perkembangan dan proyeksi kinerja usaha responden. Informasi ini digunakan untuk menyusun Indeks Bisnis UMKM (IB), Indeks Sentimen Bisnis (ISB) serta Indeks Kepercayaan Pelaku (IKP) usaha UMKM kepada pemerintah.
Indeks-indeks ini melengkapi indeks serupa yang disusun oleh Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik di mana surveinya dilakukan terhadap pelaku usaha kategori menengah dan besar. Di samping itu juga dikumpulkan informasi mengenai kondisi usaha responden untuk keperluan monitoring dan sekaligus menjadi early warning system (EWS) terhadap keberlangsungan usaha debitur UMKM.
Dalam survei ini responden menjawab sejumlah pertanyaan, di mana untuk setiap pertanyaan responden dapat memberikan jawaban positif (Lebih Tinggi atau Lebih Baik), jawaban negatif (Lebih Rendah atau Lebih Buruk), dan jawaban netral (Sama Saja atau Tetap). Indeks difusi dihitung dari selisih persentase jawaban positif dengan persentase jawaban negatif ditambah 100. Dalam hal ini jawaban netral diabaikan.
Nilai tengah indeks difusi adalah 100, dan rentang indeks difusi akan berada pada kisaran nol sampai dengan 200. Jika semua responden memberikan jawaban negatif, maka indeks difusi akan bernilai nol. Dan sebaliknya jika semua responden memberikan jawaban positif, maka indeks difusi akan bernilai 200.
Indeks difusi di atas 100 menunjukkan bahwa jawaban positif melebihi jawaban negatif. Sebaliknya indeks difusi di bawah 100 mengindikasikan jawaban negatif lebih banyak dibandingkan dengan jawaban positif.
Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah, Saham INCO, BRPT, JSMR Turun ke Zona Merah
Pergerakan indeks Bisnis-27 dibuka melemah pada Jumat (2/8/2024) mengikuti jejak IHSG. [340] url asal
#ihsg-hari-ini #ihsg #indeks-bisnis #bisnis27 #brpt #inco #jsmr #saham #pergerakan-saham #rekomendasi-saham
(Bisnis.Com - Market) 02/08/24 09:45
v/12982184/
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka pada zona merah dengan melemah ke level 567,45 pada perdagangan hari ini, Jumat (2/8/2024). Saham BRPT, INCO, hingga JSMR ikut melemah ke zona merah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini turun 4,94 poin sesaat setelah pembukaan atau 0,87% ke level 565,08. Indeks bergerak di kisaran 564,30 hingga 567,63 sesaat setelah pembukaan perdagangan.
Dari 27 konstituen, terdapat 2 saham yang dibuka di zona hijau, 3 saham stagnan, dan 22 saham lainnya parkir di zona merah.
Saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menjadi salah satu saham yang melemah pada saat pembukaan. Saham BRPT turun 1,79% atau 20 poin ke level Rp1.100. Selanjutnya, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) juga turun 1,57% ke level Rp3.770 per saham sesaat setelah pembukaan perdagangan.
Emiten lainnya yang juga melemah dalam indeks ini di antaranya JSMR, BRIS, MEDC, dan CTRA. Saham-saham tersebut menguat masing-masing 1,39%, 1,16%, 1,49%, dan 1,59%.
Sementara itu, saham-saham yang menguat dalam indeks ini adalah saham-saham seperti ICBP yang naik 0,68% ke level Rp11.075, dan saham PGAS yang naik 0,63% ke level Rp1.600.
Adapun, konstituen yang bergerak stagnan di Indeks Bisnis-27 pada penutupan hari ini adalah salah satunya saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) pada level Rp2.970 per saham.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada Jumat (2/8/2024) pada level 7.304. Sesaat setelah pembukaan perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada rentang 7.264 hingga 7.305.
Sebanyak 1,08 miliar saham ditransaksikan dengan nilai transaksi mencapai Rp483,3 miliar.
Tercatat, 129 saham menguat, 211 saham melemah, dan 597 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar IHSG terpantau pada posisi Rp12.364 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Indeks Bisnis UMKM BRI Triwulan II 2024, Mulai Membaik dan Prospektif
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempublikasikan Indeks Bisnis UMKM Triwulan II 2024 pada Kamis (01/08). [809] url asal
#perbankan #bri #indeks-bisnis #umkm
(Bisnis.Com - Finansial) 01/08/24 10:04
v/12851868/
Bisnis.com, JAKARTA – PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempublikasikan Indeks Bisnis UMKM Triwulan II 2024 pada Kamis (01/08). Dalam publikasi tersebut terlihat bahwa ekspansi bisnis UMKM mulai membaik, tercermin dari Indeks Bisnis UMKM pada Triwulan II 2024 tercatat di level 109,9, atau meningkat dari 102,9 pada kuartal sebelumnya.
Terkait dengan hal tersebut, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari menjelaskan bahwa ekspansi bisnis UMKM yang mulai membaik ditopang oleh empat faktor utama. “Pertama, adanya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang mendorong peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa-jasa serta didukung oleh adanya THR yang meningkatkan daya beli pekerja. Kedua, kondisi El-Nino mereda, adanya panen raya tanaman pangan dan harga beberapa komoditas perkebunan membaik yang berdampak pada peningkatan kinerja sektor pertanian serta memberikan spillover effects terhadap sektor lain. Selanjutnya peningkatan sektor konstruksi seiring dengan mulai bergulirnya proyek-proyek pemerintah dan didukung oleh cuaca yang semakin kondusif. Dan terakhir libur HBKN dan sekolah memberikan dampak yang positif bagi sektor pariwisata dan sektor terkait,” urai Supari.
Supari juga menambahkan kondisi likuiditas dan rentabilitas UMKM pada Triwulan II 2024 juga membaik, sejalan dengan membaiknya ekspansi bisnis UMKM karena faktor musiman. Namun demikian, meskipun ekspansi bisnis UMKM mulai membaik, sebagian pelaku UMKM tetap mengeluhkan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga barang input dan persaingan yang semakin ketat serta menilai ekspansi tersebut sebagian didorong oleh faktor musiman HKBN & panen raya.
“Oleh karena itu, seiring dengan berlalunya HBKN dan panen raya, ekspansi bisnis UMKM diperkirakan akan kembali mengalami normalisasi sebagaimana ditunjukkan oleh indeks ekspektasi bisnis UMKM yang menurun menjadi 126,4 pada Q2-2024 dari 129,9 pada kuartal sebelumnya. Namun, indeks ekspektasi tetap di atas 100 mengindikasikan bisnis UMKM masih prospektif,” ujar Supari.
Sejalan dengan kegiatan usaha yang mulai membaik, sentimen pebisnis UMKM juga turut membaik terutama didorong oleh membaiknya penilaian pelaku UMKM terhadap kondisi terkini (Indeks Situasi Sekarang). Peningkatan sentimen tersebut terjadi di hampir semua sektor usaha dan untuk 3 bulan mendatang pelaku UMKM tetap optimis kondisi ekonomi secara umum, sektor usaha dan usahanya akan membaik.
“Kepercayaan pelaku UMKM terhadap kemampuan pemerintah menjalankan tugas-tugas utamanya tetap tinggi (IKP berada pada level 130,5, jauh diatas 100). Penilaian tertinggi diberikan untuk komponen yang menyatakan kemampuan pemerintah menciptakan rasa aman dan tenteram,” jelas Supari.
BRI hingga akhir Triwulan II 2024 masih menjadi penyalur kredit teritinggi kepada segmen UMKM di Indonesia. Pada paparan Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2024 di Jakarta (25/7), Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa hingga akhir Juni 2024, Perseroan berhasil menyalurkan kredit kepada segmen UMKM senilai Rp1.095,64 triliun atau setara 81,69% dari total penyaluran kredit BRI.
“Salah satu bentuk komitmen BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yakni dengan tetap mendorong penciptaan lapangan pekerjaan khususnya pada segmen UMKM melalui penyaluran kredit yang berkualitas,” ujar Sunarso.
Apabila dirinci, penyaluran kredit BRI kepada segmen UMKM senilai Rp1.095,64 triliun terdiri dari segmen mikro sebesar Rp623 triliun, segmen kecil Rp232,3 triliun, segmen konsumer Rp198,8 triliun dan segmen menengah senilai Rp41,5 triliun.
Informasi tentang Survei
Survei Kegiatan Usaha dan Sentimen Bisnis UMKM BRI memiliki sampel lebih dari 7.000 responden UMKM yang tersebar di semua sektor ekonomi dan di 33 provinsi. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified systematic random sampling, sehingga dapat merepresentasikan sektor usaha, provinsi dan skala usaha. Survei ini dilakukan oleh BRI Research Institute pada tanggal 24 Juli 2024 sampai dengan 9 Juli 2024. Wawancara dilakukan melalui telepon dengan pengawasan mutu yang ketat sehingga data yang terkumpul valid dan reliable.
Informasi yang dikumpulkan dalam survei ini adalah persepsi pelaku usaha UMKM terhadap perkembangan dan prospek perekonomian secara umum, sektor usaha responden serta perkembangan dan proyeksi kinerja usaha responden. Informasi ini digunakan untuk menyusun Indeks Bisnis UMKM (IB), Indeks Sentimen Bisnis (ISB) serta Indeks Kepercayaan Pelaku (IKP) usaha UMKM kepada pemerintah.
Indeks-indeks ini melengkapi indeks serupa yang disusun oleh Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik di mana surveinya dilakukan terhadap pelaku usaha kategori menengah dan besar. Di samping itu juga dikumpulkan informasi mengenai kondisi usaha responden untuk keperluan monitoring dan sekaligus menjadi early warning system (EWS) terhadap keberlangsungan usaha debitur UMKM.
Dalam survei ini responden menjawab sejumlah pertanyaan, di mana untuk setiap pertanyaan responden dapat memberikan jawaban positif (Lebih Tinggi atau Lebih Baik), jawaban negatif (Lebih Rendah atau Lebih Buruk), dan jawaban netral (Sama Saja atau Tetap). Indeks difusi dihitung dari selisih persentase jawaban positif dengan persentase jawaban negatif ditambah 100. Dalam hal ini jawaban netral diabaikan. Nilai tengah indeks difusi adalah 100, dan rentang indeks difusi akan berada pada kisaran nol sampai dengan 200.
Jika semua responden memberikan jawaban negatif, maka indeks difusi akan bernilai nol. Dan sebaliknya jika semua responden memberikan jawaban positif, maka indeks difusi akan bernilai 200. Indeks difusi di atas 100 menunjukkan bahwa jawaban positif melebihi jawaban negatif. Sebaliknya indeks difusi di bawah 100 mengindikasikan jawaban negatif lebih banyak dibandingkan dengan jawaban positif.
Indeks Bisnis-27 Tersulut Saham Migas MEDC, AKRA, PGAS Cs
Pergerakan indeks Bisnis-27 tersulut saham migas MEDC, AKRA, PGAS pada akhir pekan Jumat (26/7/2024). [336] url asal
#pgas #medc #akra #saham-migas #bisnis27 #indeks-bisnis #saham #pergerakan-saham #idx-pgas #idx-medc #idx-akra
(Bisnis.Com - Market) 26/07/24 16:42
v/12196555/
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 ditutup pada zona hijau dengan menguat ke level 567,60 pada perdagangan hari ini, Jumat (26/7/2024). Saham migas seperti MEDC, AKRA, hingga PGAS naik ke zona hijau.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini naik 3,05 poin pada saat penutupan atau 0,54% ke level 567,60. Indeks bergerak di kisaran 566,26 hingga 569,93 sepanjang perdagangan.
Dari 27 konstituen, terdapat 16 saham yang ditutup di zona hijau, 4 saham stagnan, dan 7 saham lainnya parkir di zona merah.
Saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) menjadi salah satu saham yang menguat pada saat penutupan. Saham AKRA naik 2,98% atau 45 poin ke level Rp1.555. Selanjutnya, saham PT Medco Internasional Tbk. (MEDC) juga naik 4,33% ke level Rp1.325 per saham hingga penutupan perdagangan.
Emiten lainnya yang juga menguat dalam indeks ini di antaranya BRPT, ASII, MYOR, hingga PGAS. Saham-saham tersebut menguat masing-masing 2,9%, 2,67%, 2,76%, dan 1,61%.
Sementara itu, saham-saham yang melemah dalam indeks ini adalah saham-saham seperti CTRA yang turun 0,82% ke level Rp1.210, EXCL melemah 0,46%, hingga JSMR yang turun 1,37%.
Adapun konstituen yang bergerak stagnan di Indeks Bisnis-27 pada penutupan hari ini adalah salah satunya saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) pada level Rp1.375 per saham.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada akhir pekan, Jumat (26/7/2024) pada level 7.288. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada rentang 7.256 hingga 7.298.
Sebanyak 13,35 miliar saham ditransaksikan dengan nilai transaksi mencapai Rp8,3 triliun.
Tercatat, 341 saham menguat, 254 saham melemah, dan 342 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar IHSG terpantau pada posisi Rp12.362 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Indeks Bisnis-27 Terkoreksi, Saham BRIS & JSMR Jadi Penopang
Indeks Bisnis-27 dibuka turun ke posisi 567,61 dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level 569,85. [273] url asal
#bisnis-27 #bris #asii #jsmr #bursa-efek-indonesia #indeks-bisnis #amrt #excl #saham-bris #saham-asii #harga-saham
(Bisnis.Com - Market) 19/07/24 09:57
v/11282742/
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka turun pada perdagangan hari ini, Jumat (19/7/2024) tertekan beberapa saham yang melemah seperti AMRT, BMRI, EXCL hingga ASII.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks hasil kerja sama dengan Bisnis Indonesia tersebut dibuka turun ke posisi 567,61 dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level 569,85.
Selama 5 menit perdagangan, indeks bergerak di rentang 565,87 hingga 568,98. Sebanyak 13 saham turun 4 saham stagnan dan 10 lainnya bergerak naik.
Saham yang menekan indeks paling besar yaitu PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dengan turun 1,74% ke posisi Rp2.830 per saham disusul saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) yang melemah 1,15% ke level Rp6.475 per saham.
Kemudian, saham PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Astra International Tbk. (ASII) juga turun masing-masing sebesar 0,89% dan 0,66%. EXCL berada di level Rp2.220 per saham dan ASII di level Rp4.510 per saham.
Saham lain yang melemah adalah KLBF, INKP, INCO, BBNI, BBCA, MAPI, TLKM, ICBP. Sementara saham stagnan adalah TOWR, MEDC, ANTM, dan AKRA.
Di sisi lain, saham yang mengalami kenaikan saat indeks memerah adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) yang naik 3,88% ke level Rp2.490 per saham disusul saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) yang naik 1,46% ke level Rp5.200 per saham.
Saham lain yang naik yaitu SMGR, MIKA, ADRO, PGAS, BRPT, MYOR, CTRA dan UNTR.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Indeks Bisnis-27 Perkasa Kala IHSG Keok, ANTM hingga ADRO Cuan
Indeks Bisnis-27 menguat ditopang deretan emiten konstituen mulai dari ANTM hingga ADRO. [285] url asal
#bisnis-27 #antm #adro #adaro #telkom #tlkm #saham #ihsg-hari-ini #pergerakan-indeks #indeks-bisnis #asii #bmri #icbp
(Bisnis.Com - Market) 17/07/24 16:42
v/11082736/
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 ditutup ke zona hijau dengan menguat 0,74% ke level 561,54 pada perdagangan tengah pekan Rabu (17/7/2024).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini naik 4,14 poin. Indeks bergerak di kisaran 560,08 hingga 564,63 sepanjang perdagangan.
Dari 27 konstituen, terdapat 14 saham yang ditutup di zona hijau, 4 saham stagnan, dan 9 saham lainnya parkir di zona merah.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memimpin penguatan indeks dengan naik 4,84% atau 150 poin ke level Rp3.250. Selanjutnya, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) naik 2,99% ke level Rp1.380.
Emiten lainnya yang menguat di antaranya ADRO, ASII, BMRI, dan ICBP yang menguat masing-masing 1,05%, 1,83%, 1,57%, dan 2,63%.
Sementara itu, saham-saham yang melemah adalah saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang turun 3,65% atau 40 poin ke level Rp1.055. Disusul PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) yang turun 1,58% ke level Rp1.055.
Konstituen lainnya yang melemah di antaranya BBCA, AMRT, JSMR, dan INKP, yang masing-masing turun 1,51%, 0,35%, 2,35%, dan 1,45%.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Rabu (17/7/2024) ke level 7.224,22. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada rentang 7.207-7.265.
Tercatat, 299 saham menguat, 269 saham melemah, dan 369 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar IHSG terpantau pada posisi Rp12,18 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Saham ADRO, BBRI, SMGR Bawa Indeks Bisnis-27 Menguat Pagi Ini
Saham ADRO, BBRI, SMGR menjadi motor pergerakan Indeks Bisnis-27 pada pembukaan Jumat (5/7/2024). [337] url asal
#adro #bbri #smgr #saham-adaro #bisnis-27 #pergerakan-ihsg #indeks-bei #indeks-bursa #indeks-bisnis #excl #brpt #pergerakan-ihsg #ihsg-hari-ini
(Bisnis.Com - Market) 05/07/24 09:30
v/9727232/
Bisnis.com, JAKARTA —Indeks Bisnis-27 dibuka pada zona hijau dengan menguat 0,79% ke level 556,50 pada perdagangan hari ini, Jumat (5/7/2024). Saham-saham seperti ADRO, BBRI, hingga SMGR menguat pada pembukaan perdagangan pagi ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini naik 4,36 poin. Indeks bergerak di kisaran 555,14 hingga 556,60 sepanjang perdagangan.
Dari 27 konstituen, terdapat 18 saham yang dibuka di zona hijau, 3 saham stagnan, dan 6 saham lainnya parkir di zona merah.
Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) menjadi salah satu saham yang menguat sesaat setelah pembukaan. Saham ADRO naik 1,05% atau 30 poin ke level Rp2.890. Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga naik 1,46% ke level Rp4.860 sesaat setelah pembukaan.
Emiten lainnya yang juga menguat dalam indeks ini di antaranya BBCA, BRIS, SMGR, hingga JSMR. Saham-saham tersebut menguat masing-masing 1,02%, 1,61%, 1,27%, dan 0,95%.
Sementara itu, saham-saham yang melemah dalam indeks ini adalah saham-saham seperti AKRA yang turun 0,32% ke level Rp1.575, ICBP melemah 0,24%, hingga INKP yang turun 0,84%.
Adapun, konstituen yang bergerak stagnan di Indeks Bisnis-27 pada pembukaan pagi hari ini adalah salah satunya saham PT XL Axiata Tbk. (EXCL) pada level Rp2.210 per saham.
Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka menguat pada Jumat (5/7/2024) pada level 7.248. Sesaat setelah perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada rentang 7.244 hingga 7.256.
Sebanyak 485 juta saham ditransaksikan dengan nilai transaksi mencapai Rp296 miliar. Tercatat, 149 saham menguat, 113 saham melemah, dan 670 saham bergerak di tempat.
Adapun, kapitalisasi pasar IHSG terpantau pada posisi Rp12.440 triliun pada awal perdagangan Jumat (5/7/2024).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
