#30 tag 24jam
Menilik Kinerja Konstituen Indeks Kompas100 di tengah Lesu Pasar
Faktor ekonomi makro & kebijakan moneter mempengaruhi kinerja konstituen dalam indeks Kompas100, terutama dalam menekan permintaan dan daya beli. [1,381] url asal
#dana-asing #bursa-efek-indonesia #net-sell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #net-sell-asing #indeks-kompas100 #oktavianus-audi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Investasi ) 10/11/24 15:32
v/17987436/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks Kompas100 tercatat masih tertekan setelah rilis laporan kinerja emiten di kuartal III 2024. Mengutip laman Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks Kompas100 kinerjanya sudah merosot 4,42% sejak awal tahun alias secara year to date (YtD).
Di sisi lain, kondisi pasar memang tengah lesu. Salah satunya tercermin dari masih derasnya aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia.
Melansir RTI, dana asing sudah keluar dari bursa sebanyak Rp 6,04 triliun dan Rp 8,58 triliun YtD di pasar reguler. Sejumlah emiten konstituen Kompas100 juga tampak dilego besar-besaran oleh asing dalam sebulan terakhir.
Dari sektor perbankan, ada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang dilepas asing paling banyak dalam sebulan terakhir, yaitu Rp 4,3 triliun. Lalu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas asing Rp 1,6 triliun dalam sebulan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dilego asing Rp 1,2 triliun, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dijual asing Rp 138,5 miliar.
Di luar sektor perbankan, ada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang dijual asing Rp 268,7 miliar dalam sebulan, PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) dilego asing Rp 193,4 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dilepas asing Rp 174,8 miliar. Kemudian, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dijual asing Rp 110,4 miliar dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dilepas asing Rp 103,3 miliar dalam sebulan terakhir.
VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi melihat, terkoreksinya indeks Kompas100 tak terlepas dari respons kinerja konstituennya di kuartal III 2024 yang di bawah ekspektasi pasar.
“Selain itu, kontraksi kinerja indeks Kompas100 juga didorong aksi jual asing terhadap para konstituen,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (10/10).
Misalnya saja, laba bersih dari TLKM turun 30,4% secara tahunan alias year on year (YoY) di kuartal III 2024 dan dilepas asing Rp 1,8 triliun YtD.
Lalu, PT Astra International Tbk (ASII) yang pertumbuhan laba bersih hanya naik 0,63% YoY di kuartal III 2024 dengan net foreign sell Rp 2,75 triliun YtD. Pertumbuhan laba BBRI sebesar 2,44% YoY di kuartal III dan net foreign sell Rp 26,9 triliun YtD.
Kemudian, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengalami penurunan laba 28,2% YoY dan dijual asing Rp 465 miliar YtD. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) laba bersihnya turun 26,9% YoY dan dilepas asing Rp 509 miliar YtD.
Menurut Audi, faktor ekonomi makro dan kebijakan moneter mempengaruhi kinerja konstituen dalam indeks Kompas100, terutama dalam menekan permintaan dan daya beli, baik dalam negeri maupun global.
“Sehingga sektor kategori cyclical, seperti keuangan, industri, dan infrastruktur cenderung tertekan dan menekan ekspansi emiten,” paparnya.
Meski demikian, pemangkasan suku bunga yang dilakukan sejumlah bank sentral, termasuk Bank Indonesia (BI) akan menjadi sentimen positif untuk pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Sehingga, potensi emiten untuk kembali menggeliat terbuka kembali dengan didorong normalisasi cost of fund yang dapat meningkatkan permintaan dan ekspansi dari perusahaan.
Di sisi lain, pasca terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) memberikan spekulasi negatif di pasar saat ini. Sebab, kebijakan Trump dikhawatirkan meningkatkan tensi perdagangan internasional, khususnya dengan China.
Sehingga, pasar juga mengantisipasi jika pemangkasan suku bunga tidak sesuai dengan perkiraan atau bahkan butuh waktu lebih lama dari yang diperkirakan.
“Ini akan berdampak negatif untuk pasar saham, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Audi meyakini, kinerja indeks Kompas100 masih akan kembali mengalami penguatan hingga akhir 2024 seiring dengan beberapa sentimen di atas dan juga potensi dari kocok ulang portofolio investor menjelang window dressing.
Dalam 10 tahun terakhir, Audi melihat tren kinerja pasar di bulan November memang berpeluang mengalami penguatan hanya sebesar 30%, tetapi di bulan Desember sebesar 78%.
“Jika berdasarkan analisis teknikal, kami melihat peluang penutupan indeks Kompas100 di akhir 2024 pada rentang level 1.180-1.200 dan untuk IHSG pada level 7.700-7.800,” tuturnya.
Selain sektor keuangan, Audi melihat kinerja sektor bahan baku dan konsumer masih akan menarik. Dari sektor keuangan, Audi merekomendasikan beli untuk BBCA, BMRI, dan BRIS dengan target harga masing-masing Rp 11.150 per saham, Rp 7.200 per saham, dan Rp 3.140 per saham.
Di luar sektor keuangan, Audi merekomendasikan buy untuk ICBP dengan target harga Rp 14.00 per saham. Rekomendasi trading buy diberikan untuk ADMR, EMTK, dan CMRY dengan target harga masing-masing Rp 1.520 per saham, Rp 575 per saham, dan Rp 6.000 per saham.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat, penyebab utama penurunan kinerja indeks Kompas100 adalah hasil laporan keuangan emiten di kuartal III 2024 yang kurang sesuai ekspektasi.
“Terutama, dari emiten di sektor komoditas dan energi yang tertekan oleh fluktuasi harga global serta ketidakpastian makroekonomi,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (9/11).
Jika dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tekanan untuk indeks Kompas100 lebih berat. Asal tahu saja, IHSG ditutup menguat pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan lalu.
Pada hari Jumat (8/11) kemarin, IHSG menguat 43,33 poin atau 0,60% ke level 7.287,19. Namun, melansir RTI, IHSG turun 2,91% sepanjang pekan lalu.
Menurut Hendra, kinerja IHSG mendapatkan dukungan dari sektor keuangan yang relatif kuat.
“Sementara, sektor teknologi dan properti menjadi pemberat utama bagi Kompas100 akibat pengaruh suku bunga tinggi yang melemahkan daya beli konsumen dan menurunkan aktivitas pembiayaan,” paparnya.
Prospek kinerja emiten Kompas100 di kuartal terakhir 2024 diperkirakan akan lebih positif dengan beberapa katalis yang mendukung.
Sektor keuangan, teknologi, dan konsumer diprediksi memimpin kinerja indeks ini. Emiten seperti PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) di sektor media berpotensi mendapat dorongan dari peningkatan belanja iklan, sementara sektor perbankan juga akan diuntungkan oleh stabilitas suku bunga.
Namun, sektor energi dan bahan dasar, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di sektor pertambangan, mungkin akan menekan kinerja indeks Kompas100 jika harga komoditas global seperti nikel tidak pulih signifikan.
“Potensi pemulihan konsumsi domestik juga membawa sentimen positif bagi sektor konsumer, terutama untuk PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) di bidang pangan,” tuturnya.
Hendra memproyeksikan, IHSG akan berada di kisaran level 7.550-7.700 di akhir tahun 2024. IHSG pun diproyeksikan lebih stabil dibandingkan Kompas100, karena lebih terdiversifikasi sektor emitennya. Sementara, kinerja Kompas100 lebih terkonsentrasi pada emiten besar yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi.
Kinerja IHSG di kuartal IV 2024 diperkirakan mendapatkan dorongan dari sektor keuangan dan konsumer, terutama menjelang akhir tahun ketika belanja konsumen meningkat.
”Sementara itu, sektor teknologi dan energi berpotensi menjadi tantangan bagi indeks Kompas100 di tengah volatilitas harga komoditas dan tekanan eksternal,” ungkap dia.
Selain sektor keuangan, sektor konsumer tetap menjadi pilihan utama di kuartal IV, baik untuk Kompas100 maupun pasar modal secara keseluruhan.
Emiten seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) di sektor energi tetap menarik berkat kebijakan energi domestik yang stabil. Lalu, JPFA di sektor pangan juga menarik lantaran menunjukkan potensi pertumbuhan kinerja akibat permintaan konsumsi yang terus meningkat.
“Sektor konsumer dan energi secara keseluruhan diprediksi mendukung penguatan IHSG hingga akhir tahun,” katanya.
Hendra pun merekomendasikan beli untuk SCMA, ANTM, PGAS, dan JPFA dengan target harga masing-masing Rp 150 per saham, Rp 1.760 per saham, Rp 1.670 per saham, dan 1.875 per saham.
“Dengan melihat target IHSG yang berada di kisaran 7.550-7.700 hingga akhir tahun, investor dapat memanfaatkan potensi upside dari emiten-emiten dalam Kompas100 yang memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan menarik,” ungkap Hendra.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama melihat, pelemahan kinerja indeks Kompas100 dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terkait dengan potensi kemenangan Donald Trump pada Pemilu AS alias Trump Triumph.
Kebijakan proteksionisme di bawah kepemimpinan Trump nantinya akan menyebabkan sentimen negatif di pasar global. Misalnya, terkait wacana kenaikan tarif impor atas produk-produk China.
“Selain dari efek Trump, penurunan consumer price index (CPI) Tanah Air juga melemahkan kinerja konstituen Kompas100. Deflasi ini terjadi selama lima bulan berturut-turut. Kinerja PMI Indonesia juga terkontraksi selama empat bulan berturut-turut,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (10/11).
Untuk prospek emiten konstituen Kompas100 di sisa tahun 2024, kinerjanya akan cukup terdorong dengan adanya Pilkada 2024 pada 27 November nanti. Lalu, pada akhir tahun 2024, kinerja para emiten juga akan terbantu dengan adanya hari libur Natal dan Tahun Baru.
“Pilkada 2024 dan Natal akan meningkatkan pengeluaran pemerintah dan sekaligus menstimulus konsumsi domestik,” ungkapnya.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari The Fed yang kemungkinan masih akan menetapkan pelonggaran kebijakan moneter di akhir Desember 2024.
Banyak Blue Chip, Ini Saham Pilihan Di Indeks Kompas100 untuk Akhir Tahun 2024
Analis rekomendasi beli saham BBCA dengan target Rp 12.000, BBNI Rp 6.825, BBRI di Rp 6.500 dan BMRI dengan target di Rp 8.800 [533] url asal
#bursa-efek-indonesia #indeks-kompas100 #pergantian-konstituen #periode-november-2024 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 30/10/24 07:21
v/17187646/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Analis rekomendasi beli saham-saham blue chip di Indeks Kompas100 di sisa akhir tahun 2024. Indeks Kompas100 adalah salah satu indeks yang tidak mengalami perubahan konstituen pada periode November 2024-Januari 2025.
Meski tidak ada penggantian konstituen, sejumlah saham di indeks Kompas100 masih bisa dicermati. Dari kinerja indeksnya, Kompas100 sudah menguat 0,43% sejak awal tahun hingga penutupan Selasa (29/10).
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer mengatakan sebagian besar saham yang tergabung dalam indeks Kompas100 masih didominasi oleh emiten yang memiliki fundamental kuat atau identik dengan saham blue chip.
"Sebagian besar emiten masih menjadi pemimpin pasar di industrinya karena itu indeks Kompas100 masih cukup relevan untuk kondisi dan sentimen sekarang ini," ucapnya kepada Kontan, Selasa (29/10).
Saat ini, penurunan tingkat suku bunga secara global menjadi salah satu katalis pendorong. Meski begitu, belakangan ini pergerakan pasar saham masih cukup volatil.
Dengan meningkatkan volatilitas di pasar saham, Miftahul bilang investor bisa tetap mempertahankan metode Dollar-cost averaging (DCA) pada saham yang berkinerja kuat dan valuasi yang masih fair to under value.
Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management mencermati dari penghuni konstituen Kompas100 ada beberapa saham yang kinerja fundamentalnya bagus dan tidak ada keyakinan untuk tumbuh.
Menurut dia, tekanan pada fundamental dan prospek usahanya akan berdampak pada harga saham yang terus turun dan sulit bangkit. Ini tercermin dari pergerakan saham yang sudah tertekan sejak awal 2024.
Seperti, PT Astra International Tbk (ASII) yang sepanjang tahun berjalan ini sahamnya sudah ambles 9,29%. Contoh lainnya ada PT Global Mediacom Tbk (BMTR) yang turun 18,66% secara year to date.
Saham lainnya ada EMTK, GGRM, HMSP,MTEL, NCKL, MAHA, MNCN, SMGR, INTP, SCMA, TLKM, TOWR, TBIG, UNVR atau secara umum ada di sektor otomotif, media, rokok, semen, menara dan telekomunikasi.
"Penurunan tidak lepas dari sektornya yang sudah memasuki masa senja industri sehingga sulit untuk tumbuh sehingga para fund manager akan mengurangi atau menghindari saham tersebut," kata Edwin.
Tonton:Pemerintah Akan Memburu Pengusaha Sawit Nakal Pengemplang Pajak
Saham Pilihan
Setelah mengetahui saham yang harus dihindari, Edwin menilai investor bisa fokus ke saham yang sektornya sedang naik untuk sisa tahun ini. Di perbankan ada BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, NISP, BRIS, BBTN.
Di sektor retail ada ACES dan AMRT. Kemudian di sektor konsumer MYOR, MAPI, MAPA, ULTJ, CMRY, INDF, ICBP. Lalu di sektor properti pilihannya ada di CTRA, SMRA, PWON, BSDE, PANI, SSIA.
Berikutnya untuk sektor unggas ada JPFA dan CPIN. Sektor energi bisa dicermati saham MEDC, ADRO, PTBA, ITMG, ELSA, PGEO. Selain itu, Edwin menilai PGAS, JSMR, AUTO dan GJTL juga bisa dicermati.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta dari penghuni Kompas100 saham favoritnya ada di ACES dengan target harga di Rp 1.200, TLKM di Rp 3.700, ASII di Rp 5.925, MAPI di Rp 1.925.
Lalu di sektor perbankan saham pilihan Nafan jatuh pada BBCA Rp 12.000, BBNI dengan target harga di Rp 6.825, BBRI di Rp 6.500 dan BMRI dengan target di Rp 8.800.
Sementara saham pilihan Kiwoom Sekuritas jatuh pada BBRI dengan target harga dalam tiga sampai enam bulan ke depan ada di Rp 6.000. Kemudian SMRA di Rp 800 dan BSDE di Rp 1.450.
Ini Daftar Saham Pilihan dari Indeks Kompas100 untuk Sisa Tahun 2024
Indeks Kompas100 untuk periode November 2024–Januari 2025 masih tetap sama alias tidak ada pergantian. [515] url asal
#bursa-efek-indonesia #indeks-kompas100 #pergantian-konstituen #periode-november-2024 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 29/10/24 19:46
v/17164412/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Di saat sejumlah indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) terjadi pergantian konstituen, indeks Kompas100 untuk periode November 2024–Januari 2025 masih tetap sama alias tidak ada pergantian.
Meski tidak ada penggantian konstituen, sejumlah saham di indeks Kompas100 masih bisa dicermati. Dari kinerja indeksnya, Kompas100 sudah menguat 0,43% sejak awal tahun hingga penutupan Selasa (29/10).
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer mengatakan sebagian besar saham yang tergabung dalam indeks Kompas100 masih didominasi oleh emiten yang memiliki fundamental kuat.
"Sebagian besar emiten masih menjadi pemimpin pasar di industrinya karena itu indeks Kompas100 masih cukup relevan untuk kondisi dan sentimen sekarang ini," ucapnya kepada Kontan, Selasa (29/10).
Saat ini, penurunan tingkat suku bunga secara global menjadi salah satu katalis pendorong. Meski begitu, belakangan ini pergerakan pasar saham masih cukup volatil.
Dengan meningkatkan volatilitas di pasar saham, Miftahul bilang investor bisa tetap mempertahankan metode Dollar-cost averaging (DCA) pada saham yang berkinerja kuat dan valuasi yang masih fair to under value.
Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management mencermati dari penghuni konstituen Kompas100 ada beberapa saham yang kinerja fundamentalnya bagus dan tidak ada keyakinan untuk tumbuh.
Menurut dia, tekanan pada fundamental dan prospek usahanya akan berdampak pada harga saham yang terus turun dan sulit bangkit. Ini tercermin dari pergerakan saham yang sudah tertekan sejak awal 2024.
Seperti, PT Astra International Tbk (ASII) yang sepanjang tahun berjalan ini sahamnya sudah ambles 9,29%. Contoh lainnya ada PT Global Mediacom Tbk (BMTR) yang turun 18,66% secara year to date.
Saham lainnya ada EMTK, GGRM, HMSP,MTEL, NCKL, MAHA, MNCN, SMGR, INTP, SCMA, TLKM, TOWR, TBIG, UNVR atau secara umum ada di sektor otomotif, media, rokok, semen, menara dan telekomunikasi.
"Penurunan tidak lepas dari sektornya yang sudah memasuki masa senja industri sehingga sulit untuk tumbuh sehingga para fund manager akan mengurangi atau menghindari saham tersebut," kata Edwin.
Saham Pilihan
Setelah mengetahui saham yang harus dihindari, Edwin menilai investor bisa fokus ke saham yang sektornya sedang naik untuk sisa tahun ini. Di perbankan ada BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, NISP, BRIS, BBTN.
Di sektor retail ada ACES dan AMRT. Kemudian di sektor konsumer MYOR, MAPI, MAPA, ULTJ, CMRY, INDF, ICBP. Lalu di sektor properti pilihannya ada di CTRA, SMRA, PWON, BSDE, PANI, SSIA.
Berikutnya untuk sektor unggas ada JPFA dan CPIN. Sektor energi bisa dicermati saham MEDC, ADRO, PTBA, ITMG, ELSA, PGEO. Selain itu, Edwin menilai PGAS, JSMR, AUTO dan GJTL juga bisa dicermati.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta dari penghuni Kompas100 saham favoritnya ada di ACES dengan target harga di Rp 1.200, TLKM di Rp 3.700, ASII di Rp 5.925, MAPI di Rp 1.925.
Lalu di sektor perbankan saham pilihan Nafan jatuh pada BBCA Rp 12.000, BBNI dengan target harga di Rp 6.825, BBRI di Rp 6.500 dan BMRI dengan target di Rp 8.800.
Sementara saham pilihan Kiwoom Sekuritas jatuh pada BBRI dengan target harga dalam tiga sampai enam bulan ke depan ada di Rp 6.000. Kemudian SMRA di Rp 800 dan BSDE di Rp 1.450.
Melongok Rekomendasi Saham Konstituen Indeks Kompas100, Mana yang Jadi Jagoan Analis?
Kinerja emiten konstituen indeks Kompas100 diperkirakan makin moncer di semester II 2024. [766] url asal
#kompas100 #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #indeks-kompas100 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 05:50
v/14254910/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maororitas kinerja emiten konstituen indeks Kompas100 di semester I 2024 mencatatkan kinerja positif. Di semester II 2024, kinerja keuangan emiten sektor perbankan, energi, dan kesehatan dinilai masih menjadi unggulan di antara yang lain.
Dari sektor perbankan misalnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat mengantongi laba bersih Rp 26,9 triliun pada semester I 2024, naik 11,1% secara tahunan alias year on year (yoy). PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp 29,7 triliun pada semester pertama tahun 2024, naik 0,95% YoY.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan laba bersih Rp26,6 triliun pada semester I 2024. Sementara, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatatkan laba bersih bank only Rp8,6 triliun pada periode Januari-Mei 2024, naik 2% YoY.
Dari sektor energi, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 300% YoY dari US$ 118,80 juta ke level US$ 475,25 juta. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) meraih laba bersih senilai US$ 200,99 juta, melejit setinggi 68,24% YoY.
Dari sektor kesehatan, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) mengantongi laba bersih sebesar Rp 343,15 miliar di semester I-2024, melonjak 69,59% YoY. Laba bersih PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) melesat 32,54% YoY menjadi Rp 600,56 miliar dari sebelumnya Rp 453,10 miliar. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat laba bersih pada semester I 2024 sebesar Rp 1,80 triliun, meningkat 18,42% YoY.
Melihat segi kinerja saham, SSIA terbang paling tinggi secara year to date (ytd). Saham SSIA naik 150% ytd, SMIL 141,32%, DOID 111,65%, TPIA 99,52%, dan AMMN naik 69,47%.
Sementara, saham PTMP turun paling dalam sejak awal tahun, yaitu 67,33% ytd. Lalu, BBYB turun 44,95%, BUKA 44,91%, SMGR 41,09%, dan GOTO 33,9%.
Pengamat Pasar Modal, Mayang Anggita melihat, lebih dari setengah emiten konstituen indeks Kompas100 mencatatkan pertumbuhan laba secara tahunan.
“Artinya di tengah kondisi global yang fluktuatif, emiten konstituen indeks Kompas100 dinilai cukup mampu bertahan,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (10/8).
Sejumlah sentimen global dan domestik memberikan dampak ke kinerja emiten konstituen Kompas100. Dari global, ada sentimen terkait keputusan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas.
“Sementara, dari dalam negeri, ada sentimen rilis data PDB Indonesia di angka 5,05%, serta rilis data consumer confidence dan data retail sales yang hasilnya positif. Bisa disimpulkan bahwa kondisi ekonomi kita cukup solid,” kata Mayang.
Di semester II nanti, ketika kondisi ekonomi global membaik dan ketegangan mulai mereda, ada kemungkinan untuk arus dana yang masuk masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ini bisa menjadi sentimen positif bagi para emiten dalam negeri, termasuk juga emiten konstituen Kompas100,” ungkapnya.
Mayang pun melihat emiten-emiten dari sektor perbankan akan berkinerja paling solid di semester II nanti. Selain dari hasil kinerja di semester I, jika dilihat dari kacamata teknikal, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memiliki tren jangka panjang bullish.
“Di tengah kondisi market yang cukup volatile, kami menyarankan untuk stay conservative dan disiplin dalam penerapan money management,” ujarnya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, pertumbuhan earning per share (EPS) terbesar pada semester I dicatat PT Timah Tbk (TINS). Lalu, menyusul JPFA, ESSA, TKIM, MARK, JSMR, MAHA, MEDC, ELSA, dan HEAL.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja Kompas100 dan para emiten konstituennya. Dari sisi makro, terjadi peningkatan permintaan domestik (ada jg permintaan dari luar) dan terjadinya kenaikan harga komoditas yang bersangkutan. Selanjutnya faktor spesifik perusahaan dikarenakan strategi bisnis yang efektif (efesiensi biaya) dan peningkatan efesiensi produksi.
Secara mayoritas, saham emiten konstituen indeks kompas1000 mengalami penguatan. Rinciannya, sebanyak 63 positif, 18 stagnan, dan 19 negatif. Kinerja para emiten di semester II kemungkinan bisa lebih positif.
“Ini jika dilihat dari sentimen peluang penurunan tingkat suku bunga The Fed yang kemungkinan akan diikuti juga oleh BI,” kata Sukarno.
Namun, prospek kinerja saham per emiten di semester II masih beragam. Sejumlah saham yang masih mencatatkan penurunan secara ytd pun memiliki peluang untuk kembali pulih dan mengurangi kerugian dibandingkan sebelumnya. Sektor basic material dan perbankan dinilai bisa memiliki peluang yang bagus di semester II.
Sukarno pun merekomendasikan buy untuk BSDE dengan target harga Rp 1.300 per saham, CTRA Rp 1.500 per saham, BBCA Rp 11.000 per saham, BBRI Rp 5.700 per saham, TLKM Rp 3.500 per saham, ASII 5.400 per saham, ICBP Rp 11.600 per saham, AMRT Rp 3.300 per saham, PGAS Rp 1.800 per saham, EXCL Rp 2.700 per saham, SMGR Rp 4.750 per saham, dan SIDO Rp 800 per saham.
Begini Prospek Kinerja dan Rekomendasi Saham Konstituen Kompas100 di Semester II
Kinerja emiten konstituen indeks Kompas100 diperkirakan makin moncer di semester II 2024. [775] url asal
#kompas100 #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #indeks-kompas100 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 11/08/24 14:35
v/14177287/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten konstituen indeks Kompas100 diperkirakan makin moncer di semester II 2024. Hal ini menyusul hasil rilis laporan keuangan para konstituen yang mayoritas mencatatkan kinerja positif.
Kinerja keuangan emiten sektor perbankan, energi, dan kesehatan dinilai masih menjadi unggulan di antara yang lain.
Dari sektor perbankan misalnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat mengantongi laba bersih Rp 26,9 triliun pada semester I 2024, naik 11,1% secara tahunan alias year on year (yoy). PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp 29,7 triliun pada semester pertama tahun 2024, naik 0,95% YoY.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan laba bersih Rp26,6 triliun pada semester I 2024. Sementara, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatatkan laba bersih bank only Rp8,6 triliun pada periode Januari-Mei 2024, naik 2% YoY.
Dari sektor energi, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 300% YoY dari US$ 118,80 juta ke level US$ 475,25 juta. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) meraih laba bersih senilai US$ 200,99 juta, melejit setinggi 68,24% YoY.
Dari sektor kesehatan, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) mengantongi laba bersih sebesar Rp 343,15 miliar di semester I-2024, melonjak 69,59% YoY. Laba bersih PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) melesat 32,54% YoY menjadi Rp 600,56 miliar dari sebelumnya Rp 453,10 miliar. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat laba bersih pada semester I 2024 sebesar Rp 1,80 triliun, meningkat 18,42% YoY.
Melihat segi kinerja saham, SSIA terbang paling tinggi secara year to date (ytd). Saham SSIA naik 150% ytd, SMIL 141,32%, DOID 111,65%, TPIA 99,52%, dan AMMN naik 69,47%.
Sementara, saham PTMP turun paling dalam sejak awal tahun, yaitu 67,33% ytd. Lalu, BBYB turun 44,95%, BUKA 44,91%, SMGR 41,09%, dan GOTO 33,9%.
Pengamat Pasar Modal, Mayang Anggita melihat, lebih dari setengah emiten konstituen indeks Kompas100 mencatatkan pertumbuhan laba secara tahunan.
“Artinya di tengah kondisi global yang fluktuatif, emiten konstituen indeks Kompas100 dinilai cukup mampu bertahan,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (10/8).
Sejumlah sentimen global dan domestik memberikan dampak ke kinerja emiten konstituen Kompas100. Dari global, ada sentimen terkait keputusan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas.
“Sementara, dari dalam negeri, ada sentimen rilis data PDB Indonesia di angka 5,05%, serta rilis data consumer confidence dan data retail sales yang hasilnya positif. Bisa disimpulkan bahwa kondisi ekonomi kita cukup solid,” kata Mayang.
Di semester II nanti, ketika kondisi ekonomi global membaik dan ketegangan mulai mereda, ada kemungkinan untuk arus dana yang masuk masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ini bisa menjadi sentimen positif bagi para emiten dalam negeri, termasuk juga emiten konstituen Kompas100,” ungkapnya.
Mayang pun melihat emiten-emiten dari sektor perbankan akan berkinerja paling solid di semester II nanti. Selain dari hasil kinerja di semester I, jika dilihat dari kacamata teknikal, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memiliki tren jangka panjang bullish.
“Di tengah kondisi market yang cukup volatile, kami menyarankan untuk stay conservative dan disiplin dalam penerapan money management,” ujarnya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, pertumbuhan earning per share (EPS) terbesar pada semester I dicatat PT Timah Tbk (TINS). Lalu, menyusul JPFA, ESSA, TKIM, MARK, JSMR, MAHA, MEDC, ELSA, dan HEAL.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja Kompas100 dan para emiten konstituennya. Dari sisi makro, terjadi peningkatan permintaan domestik (ada jg permintaan dari luar) dan terjadinya kenaikan harga komoditas yang bersangkutan. Selanjutnya faktor spesifik perusahaan dikarenakan strategi bisnis yang efektif (efesiensi biaya) dan peningkatan efesiensi produksi.
Secara mayoritas, saham emiten konstituen indeks kompas1000 mengalami penguatan. Rinciannya, sebanyak 63 positif, 18 stagnan, dan 19 negatif. Kinerja para emiten di semester II kemungkinan bisa lebih positif.
“Ini jika dilihat dari sentimen peluang penurunan tingkat suku bunga The Fed yang kemungkinan akan diikuti juga oleh BI,” kata Sukarno.
Namun, prospek kinerja saham per emiten di semester II masih beragam. Sejumlah saham yang masih mencatatkan penurunan secara ytd pun memiliki peluang untuk kembali pulih dan mengurangi kerugian dibandingkan sebelumnya. Sektor basic material dan perbankan dinilai bisa memiliki peluang yang bagus di semester II.
Sukarno pun merekomendasikan buy untuk BSDE dengan target harga Rp 1.300 per saham, CTRA Rp 1.500 per saham, BBCA Rp 11.000 per saham, BBRI Rp 5.700 per saham, TLKM Rp 3.500 per saham, ASII 5.400 per saham, ICBP Rp 11.600 per saham, AMRT Rp 3.300 per saham, PGAS Rp 1.800 per saham, EXCL Rp 2.700 per saham, SMGR Rp 4.750 per saham, dan SIDO Rp 800 per saham.
Simak Prospek Kinerja Indeks Kompas100 Usai Musim Rilis Laporan Keuangan
analis memberikan rekomendasi saham untuk indeks Kompas100 [707] url asal
#kompas100 #rekomendasi-saham #indeks-kompas100 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 11/08/24 14:35
v/14177288/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks Kompas100 dinilai tidak akan jauh berbeda dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di semester II 2024.
Pada penutupan perdagangan Jumat (9/8) lalu, IHSG ditutup di level 7.256. Sejak awal tahun alias year to date (ytd), kinerja IHSG masih terkoreksi 0,22%. Sementara, kinerja indeks Kompas100 turun 3,23% ytd.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, kinerja indeks Kompas100 yang masih mengalami penurunan disebabkan oleh sejumlah sentimen negatif di pasar.
“Penurunan kinerja indeks Kompas100 tidak terlepas dari sentimen negatif pasar global dan domestik. Apalagi, IHSG masih turun sebesar 0,22% secara ytd,” katanya kepada Kontan, Sabtu (10/8).
Di semester II, Nico melihat ada sejumlah sentimen positif yang berpotensi meningkatkan kinerja para emiten konstituen Kompas100. Di antaranya, potensi penurunan tingkat suku bunga The Fed, pelantikan presiden terpilih, pemilihan kabinet, pemilihan kepala daerah (pilkada), dan penurunan harga minyak bumi.
Sektor yang kemungkinan akan berkinerja baik di semester II adalah sektor keuangan, energi, consumer non-cyclical, dan basic material. Sementara, sektor kesehatan berpotensi menjadi pemberat kinerja indeks Kompas100 di semester II.
“Sektor properti dan otomotif juga akan naik lebih banyak apabila tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) dapat turun,” ungkapnya.
Nico pun merekomendasikan beli untuk ADMR dengan target harga Rp 1.800 per saham, AMRT Rp 3.300 per saham, AUTO Rp 2.900 per saham, BNGA Rp 2.200 per saham, BRIS Rp 2.900 per saham, BSDE Rp 1.300 per saham, ICBP Rp 13.400 per saham, MDKA Rp 3.050 per saham, dan MEDC Rp 1.800 per saham.
Lalu, beli untuk MYOR dengan target harga Rp 2.980 per saham, TLKM Rp 3.900 per saham, BBNI Rp 5.100 per saham, BBCA Rp 11.350 per saham, BMRI Rp 7.500 per saham, JSMR Rp 6.450 per saham, ULTJ Rp 2.700 per saham, dan CPIN Rp 5.800 per saham.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat mengatakan, kinerja indeks Kompas100 sebenarnya tak jauh berbeda dengan kinerja IHSG. Hal ini karena konstituen dalam Kompas100 punya syarat memiliki kapitalisasi pasar yang besar.
“Emiten dengan kapitalisasi pasar yang besar dampaknya juga besar ke IHSG. Alhasil, pergerakan Kompas100 mirroring pergerakan IHSG,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (11/8).
Melihat segi kinerja saham konstituennya, SSIA terbang paling tinggi secara year to date (ytd). Saham SSIA naik 150% ytd, SMIL 141,32% ytd, DOID 111,65% ytd, TPIA 99,52% ytd, dan AMMN naik 69,47% ytd.
Sementara, saham PTMP turun paling dalam sejak awal tahun, yaitu 67,33% ytd. Lalu, BBYB turun 44,95% ytd, BUKA 44,91% ytd, SMGR 41,09% ytd, dan GOTO 33,9% ytd.
Menurut Teguh, pergerakan saham masing-masing emiten pun dipengaruhi sentimen yang berbeda-beda. Misalnya, kenaikan SSIA disebabkan oleh aksi korporasi terkait kerjasama bisnis pada beberapa bulan lalu. Di sisi lain, kenaikan harga saham AMMN disebabkan oleh kenaikan harga komoditas dan kinerja perusahaan yang masih baik.
“Kinerja ini juga tak bisa dilihat secara sektoral. Misalnya saja, AMMN yang produksi emas, kinerja keuangan dan harga sahamnya naik, tetapi ARCI dan ANTM berbeda nasib. TPIA juga kinerjanya bagus, tapi bukan berarti semua emiten kimia kinerjanya bagu,” ungkapnya.
Di semester II, Teguh melihat kinerja pasar modal masih bisa membaik, meskipun tidak terlalu tinggi. Alasan utamanya karena masih tingginya volatilitas pasar saham akibat banyak sentimen global yang mempengaruhi secara negatif.
“Namun, penurunan suku bunga The Fed bisa jadi sentimen utama yang memberikan angin segar ke kinerja pasar modal global dan domestik, termasuk ke kinerja emiten Kompas100,” paparnya.
IHSG pun diproyeksikan hanya akan bergerak di level 7.000 – 7.200 hingga akhir tahun 2024. Terkait sektor unggulan, kinerja perbankan dan energi masih akan bagus hingga akhir tahun ini.
Teguh merekomendasikan beli untuk BBRI dengan target harga Rp 6.000 per saham, BBNI Rp 6.000 per saham, ASII Rp 6.000 per saham, ELSA Rp 800 – Rp 900 per saham, INDY Rp 2.000 – Rp 2.400 per saham, dan ABMM Rp 4.000 per saham.
Ada Kocok Ulang Konstituen Indeks KOMPAS100, Simak Rekomendasi Sahamnya
Sejumlah emiten konstituen Indeks KOMPAS100 terkena kocok ulang alias reshuffle. [829] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-ihsg #kompas100 #proyeksi-ihsg #ihsg-hari-ini #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #prediksi-ihsg-hari-ini #indeks-kompas100 #berita-nasional
(Kontan-Investasi) 28/07/24 17:51
v/12432566/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten konstituen Indeks KOMPAS100 terkena kocok ulang alias reshuffle. Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi mayor indeks KOMPAS100 untuk periode 1 Agustus hingga 31 Oktober 2024.
Dalam kocok ulang kali ini, BEI menukar 13 saham penghuni indeks KOMPAS 100. Asal tahu saja, Indeks KOMPAS100 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 100 saham yang memiliki likuiditas yang baik dan kapitalisasi pasar yang besar.
Ketiga belas saham yang baru masuk ke Indeks KOMPAS100 mulai awal Agustus adalah sebagai berikut. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Avia Avian Tbk (AVIA), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY).
Lalu, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), PT Mandiri Herindo Adiperkasa (MAHA), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), dan PT VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR).
Sementara, 13 saham yang keluar dari Indeks KOMPAS100 mulai awal Agustus adalah PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
Kemudian, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT Murni Sadar Tbk (MTMH), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia mengatakan, saham yang masuk dalam Indeks KOMPAS100 memiliki likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, serta fundamental dan kinerja yang baik.
“Perubahan dalam Indeks dapat mencerminkan perubahan dalam likuiditas perdagangan, misalnya sektor yang tengah aktif diperdagangkan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (26/7).
Melansir data BEI, kinerja Indeks KOMPAS100 masih turun 2,71% sejak awal tahun 2024. Helen melihat, penggerak indeks saat ini adalah masih ditunggunya rilis kinerja keuangan kuartal II 2024 serta data ekonomi global.
Helen pun merekomendasikan AVIA dengan target harga Rp 700 per saham.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi melihat, perubahan konstituen terjadi disebabkan tergerusnya kapitalisasi pasar yang disebabkan kinerja saham dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, frekuensi pasar yang rendah dan kinerja keuangan juga menyebabkan kocok ulang.
“Kami berpandangan dengan masuknya konstituen yang lebih besar secara kapitalisasi pasar dan frekuensi pasar dapat mendorong performance Indeks KOMPAS100,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (26/7).
Jika melihat bobot dari emiten yang baru atau kembali masuk ke dalam Indeks KOMPAS100, terlihat beberapa konsitituen memiliki kapitalisasi yang besar, seperti AMMN, BNGA, dan HMSP. Saat ini, kapitalisasi pasar AMMN senilai Rp 844,84 triliun, BNGA Rp 44,88 triliun, dan HMSP Rp 79,1 triliun.
Meskipun indeks KOMPAS100 turun 2,71% secara year to date (ytd), tetapi kinerjanya naik 0,43% dalam sehari pada perdagangan Jumat (26/7) lalu. Respons positif pasar pada perdagangan Jumat membuat kinerja Indeks KOMPAS100 sudah mulai bergerak di atas MA200.
Meski demikian, dengan bobot kapitalisasi Indeks KOMPAS100 mencapai 54% terhadap IHSG, maka menunjukkan risiko yang mirip dengan indeks utama.
“Jika rupiah tertekan, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan pelonggaran kebijakan moneter tidak sesuai target, maka dapat berdampak negatif terhadap Indeks KOMPAS100,” kata Audi.
Audi melihat, masuknya AMMN, BNGA, dan CMRY dapat memberikan sentimen menarik terhadap performa Indeks KOMPAS100.
“Selain itu, jika melihat frekuensi transaksi, kinerja Indeks KOMPAS100 cenderung akan meningkat. Ini didorong kinerja para emiten yang baru masuk, seperti AMMN yang transaksinya mencapai 585.000 kali dalam tiga bulan terakhir,” ujarnya.
Audi pun merekomendasikan hold untuk saham CMRY dengan target harga Rp 5.325 per saham. Saham BNGA direkomendasikan beli dengan target Rp 2.035 per saham. Sementara, saham AMMN direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 12.950 per saham.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama melihat, kinerja pergerakan harga saham para emiten yang baru masuk ke Indeks KOMPAS100 tengah mengalami peningkatan kinerja.
Sementara, emiten yang keluar dari Indeks KOMPAS100 saat ini juga tercatat mengalami penurunan performa, baik dari fundamental hingga harga saham.
“Peningkatan kinerja para konstituen pun bisa mempengaruhi kinerja Indeks KOMPAS100 bisa menjadi lebih likuid. Karena, kinerja Indeks KOMPAS100 ,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (28/7).
Sentimen negatif secara makro yang akan mempengaruhi kinerja Indeks KOMPAS100 ke periode selanjutanya adalah adanya resesi, stagflasi, inflasi, tensi geopolitik, dan disrupsi rantai suplai.
“Kinerja para emiten konstituen indeks ini juga dipengaruhi potensi penerapan pelonggaran moneter oleh bank sentral,” paparnya.
Dari emiten konstituen Indeks KOMPAS100, Nafan merekomendasikan accumulative buy saham PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target harga terdekat masing-masing Rp 860 per saham, Rp 1.330 per saham, Rp 4.640 per saham, Rp 5.150 per saham, Rp 5.050 per saham, Rp 26.900 per saham, dan Rp 2.520 per saham.
13 Saham Tergusur dari Indeks Kompas100 Periode Agustus-Oktober 2024
Pada evaluasi mayor kali ini, BEI menukar 13 saham penghuni indeks Kompas100. [310] url asal
#ihsg #lq45 #idx30 #idx80 #kompas100 #indeks-kompas100 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan) 25/07/24 22:34
v/12105995/
Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengocok ulang sejumlah indeks acuan untuk periode 1 Agustus hingga 31 Oktober 2024. Pada evaluasi mayor kali ini, BEI menukar 13 saham penghuni indeks Kompas100.
Indeks Kompas100 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 100 saham yang memiliki likuiditas yang baik dan kapitalisasi pasar yang besar.
Ada 13 saham yang keluar dari indeks Kompas100 mulai awal Agustus, yakni
- PT Adhi Karya Tbk (ADHI)
- PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO)
- PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA)
- PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN)
- PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA)
- PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA)
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
- PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS)
- PT Matahari Department Store Tbk (LPPF)
- PT Murni Sadar Tbk (MTMH)
- PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)
- PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON)
- PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM)
Sedangkan 13 saham yang masuk indeks Kompas100 periode 1 Agustus-31 Oktober 2024 adalah:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
- PT Avia Avian Tbk (AVIA)
- PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)
- PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
- PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY)
- PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
- PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)
- PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
- PT Mandiri Herindo Adiperkasa (MAHA)
- PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
- PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
- PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ)
- PT VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR)
"Periode efektif konsituen ini adalah 1 Agustus 2024 sampai dengan 31 Oktober 2024," ungkap Pande Made Kusuma Ari A, Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI dan Verdi Ikhwan, Kepala Divisi Riset BEI dalam pengumuman, Kamis (25/7).
Berikut konstituen indeks Kompas100 untuk periode 1 Agustus 2024 hingga 31 Oktober 2024.
| ABMM | BNGA | GOTO | MBMA | SIDO |
| ACES | BRIS | HEAL | MDKA | SILO |
| ADMR | BRMS | HMSP | MEDC | SMGR |
| ADRO | BRPT | HRUM | MIKA | SMIL |
| AKRA | BSDE | ICBP | MNCN | SMRA |
| AMMN | BTPS | INCO | MPMX | SMSM |
| AMRT | BUKA | INDF | MTEL | SRTG |
| ANTM | CMRY | INDY | MYOR | SSIA |
| ARTO | CPIN | INKP | NCKL | SSMS |
| ASII | CTRA | INTP | NISP | TBIG |
| AUTO | DOID | ISAT | PANI | TINS |
| AVIA | DSNG | ITMG | PGAS | TKIM |
| BBCA | ELSA | JPFA | PGEO | TLKM |
| BBNI | EMTK | JSMR | PNLF | TOWR |
| BBRI | ENRG | KIJA | PTBA | TPIA |
| BBTN | ERAA | KLBF | PTMP | ULTJ |
| BBYB | ESSA | MAHA | PTPP | UNTR |
| BFIN | EXCL | MAPA | PTRO | UNVR |
| BMRI | GGRM | MAPI | PWON | VKTR |
| BMTR | GJTL | MARK | SCMA | WIFI |