#30 tag 24jam
Menilik Kinerja Konstituen Indeks Kompas100 di tengah Lesu Pasar
Faktor ekonomi makro & kebijakan moneter mempengaruhi kinerja konstituen dalam indeks Kompas100, terutama dalam menekan permintaan dan daya beli. [1,381] url asal
#dana-asing #bursa-efek-indonesia #net-sell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #net-sell-asing #indeks-kompas100 #oktavianus-audi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Investasi ) 10/11/24 15:32
v/17987436/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks Kompas100 tercatat masih tertekan setelah rilis laporan kinerja emiten di kuartal III 2024. Mengutip laman Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks Kompas100 kinerjanya sudah merosot 4,42% sejak awal tahun alias secara year to date (YtD).
Di sisi lain, kondisi pasar memang tengah lesu. Salah satunya tercermin dari masih derasnya aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia.
Melansir RTI, dana asing sudah keluar dari bursa sebanyak Rp 6,04 triliun dan Rp 8,58 triliun YtD di pasar reguler. Sejumlah emiten konstituen Kompas100 juga tampak dilego besar-besaran oleh asing dalam sebulan terakhir.
Dari sektor perbankan, ada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang dilepas asing paling banyak dalam sebulan terakhir, yaitu Rp 4,3 triliun. Lalu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas asing Rp 1,6 triliun dalam sebulan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dilego asing Rp 1,2 triliun, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dijual asing Rp 138,5 miliar.
Di luar sektor perbankan, ada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang dijual asing Rp 268,7 miliar dalam sebulan, PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) dilego asing Rp 193,4 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dilepas asing Rp 174,8 miliar. Kemudian, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dijual asing Rp 110,4 miliar dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dilepas asing Rp 103,3 miliar dalam sebulan terakhir.
VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi melihat, terkoreksinya indeks Kompas100 tak terlepas dari respons kinerja konstituennya di kuartal III 2024 yang di bawah ekspektasi pasar.
“Selain itu, kontraksi kinerja indeks Kompas100 juga didorong aksi jual asing terhadap para konstituen,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (10/10).
Misalnya saja, laba bersih dari TLKM turun 30,4% secara tahunan alias year on year (YoY) di kuartal III 2024 dan dilepas asing Rp 1,8 triliun YtD.
Lalu, PT Astra International Tbk (ASII) yang pertumbuhan laba bersih hanya naik 0,63% YoY di kuartal III 2024 dengan net foreign sell Rp 2,75 triliun YtD. Pertumbuhan laba BBRI sebesar 2,44% YoY di kuartal III dan net foreign sell Rp 26,9 triliun YtD.
Kemudian, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengalami penurunan laba 28,2% YoY dan dijual asing Rp 465 miliar YtD. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) laba bersihnya turun 26,9% YoY dan dilepas asing Rp 509 miliar YtD.
Menurut Audi, faktor ekonomi makro dan kebijakan moneter mempengaruhi kinerja konstituen dalam indeks Kompas100, terutama dalam menekan permintaan dan daya beli, baik dalam negeri maupun global.
“Sehingga sektor kategori cyclical, seperti keuangan, industri, dan infrastruktur cenderung tertekan dan menekan ekspansi emiten,” paparnya.
Meski demikian, pemangkasan suku bunga yang dilakukan sejumlah bank sentral, termasuk Bank Indonesia (BI) akan menjadi sentimen positif untuk pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Sehingga, potensi emiten untuk kembali menggeliat terbuka kembali dengan didorong normalisasi cost of fund yang dapat meningkatkan permintaan dan ekspansi dari perusahaan.
Di sisi lain, pasca terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) memberikan spekulasi negatif di pasar saat ini. Sebab, kebijakan Trump dikhawatirkan meningkatkan tensi perdagangan internasional, khususnya dengan China.
Sehingga, pasar juga mengantisipasi jika pemangkasan suku bunga tidak sesuai dengan perkiraan atau bahkan butuh waktu lebih lama dari yang diperkirakan.
“Ini akan berdampak negatif untuk pasar saham, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Audi meyakini, kinerja indeks Kompas100 masih akan kembali mengalami penguatan hingga akhir 2024 seiring dengan beberapa sentimen di atas dan juga potensi dari kocok ulang portofolio investor menjelang window dressing.
Dalam 10 tahun terakhir, Audi melihat tren kinerja pasar di bulan November memang berpeluang mengalami penguatan hanya sebesar 30%, tetapi di bulan Desember sebesar 78%.
“Jika berdasarkan analisis teknikal, kami melihat peluang penutupan indeks Kompas100 di akhir 2024 pada rentang level 1.180-1.200 dan untuk IHSG pada level 7.700-7.800,” tuturnya.
Selain sektor keuangan, Audi melihat kinerja sektor bahan baku dan konsumer masih akan menarik. Dari sektor keuangan, Audi merekomendasikan beli untuk BBCA, BMRI, dan BRIS dengan target harga masing-masing Rp 11.150 per saham, Rp 7.200 per saham, dan Rp 3.140 per saham.
Di luar sektor keuangan, Audi merekomendasikan buy untuk ICBP dengan target harga Rp 14.00 per saham. Rekomendasi trading buy diberikan untuk ADMR, EMTK, dan CMRY dengan target harga masing-masing Rp 1.520 per saham, Rp 575 per saham, dan Rp 6.000 per saham.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat, penyebab utama penurunan kinerja indeks Kompas100 adalah hasil laporan keuangan emiten di kuartal III 2024 yang kurang sesuai ekspektasi.
“Terutama, dari emiten di sektor komoditas dan energi yang tertekan oleh fluktuasi harga global serta ketidakpastian makroekonomi,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (9/11).
Jika dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tekanan untuk indeks Kompas100 lebih berat. Asal tahu saja, IHSG ditutup menguat pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan lalu.
Pada hari Jumat (8/11) kemarin, IHSG menguat 43,33 poin atau 0,60% ke level 7.287,19. Namun, melansir RTI, IHSG turun 2,91% sepanjang pekan lalu.
Menurut Hendra, kinerja IHSG mendapatkan dukungan dari sektor keuangan yang relatif kuat.
“Sementara, sektor teknologi dan properti menjadi pemberat utama bagi Kompas100 akibat pengaruh suku bunga tinggi yang melemahkan daya beli konsumen dan menurunkan aktivitas pembiayaan,” paparnya.
Prospek kinerja emiten Kompas100 di kuartal terakhir 2024 diperkirakan akan lebih positif dengan beberapa katalis yang mendukung.
Sektor keuangan, teknologi, dan konsumer diprediksi memimpin kinerja indeks ini. Emiten seperti PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) di sektor media berpotensi mendapat dorongan dari peningkatan belanja iklan, sementara sektor perbankan juga akan diuntungkan oleh stabilitas suku bunga.
Namun, sektor energi dan bahan dasar, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di sektor pertambangan, mungkin akan menekan kinerja indeks Kompas100 jika harga komoditas global seperti nikel tidak pulih signifikan.
“Potensi pemulihan konsumsi domestik juga membawa sentimen positif bagi sektor konsumer, terutama untuk PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) di bidang pangan,” tuturnya.
Hendra memproyeksikan, IHSG akan berada di kisaran level 7.550-7.700 di akhir tahun 2024. IHSG pun diproyeksikan lebih stabil dibandingkan Kompas100, karena lebih terdiversifikasi sektor emitennya. Sementara, kinerja Kompas100 lebih terkonsentrasi pada emiten besar yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi.
Kinerja IHSG di kuartal IV 2024 diperkirakan mendapatkan dorongan dari sektor keuangan dan konsumer, terutama menjelang akhir tahun ketika belanja konsumen meningkat.
”Sementara itu, sektor teknologi dan energi berpotensi menjadi tantangan bagi indeks Kompas100 di tengah volatilitas harga komoditas dan tekanan eksternal,” ungkap dia.
Selain sektor keuangan, sektor konsumer tetap menjadi pilihan utama di kuartal IV, baik untuk Kompas100 maupun pasar modal secara keseluruhan.
Emiten seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) di sektor energi tetap menarik berkat kebijakan energi domestik yang stabil. Lalu, JPFA di sektor pangan juga menarik lantaran menunjukkan potensi pertumbuhan kinerja akibat permintaan konsumsi yang terus meningkat.
“Sektor konsumer dan energi secara keseluruhan diprediksi mendukung penguatan IHSG hingga akhir tahun,” katanya.
Hendra pun merekomendasikan beli untuk SCMA, ANTM, PGAS, dan JPFA dengan target harga masing-masing Rp 150 per saham, Rp 1.760 per saham, Rp 1.670 per saham, dan 1.875 per saham.
“Dengan melihat target IHSG yang berada di kisaran 7.550-7.700 hingga akhir tahun, investor dapat memanfaatkan potensi upside dari emiten-emiten dalam Kompas100 yang memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan menarik,” ungkap Hendra.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama melihat, pelemahan kinerja indeks Kompas100 dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terkait dengan potensi kemenangan Donald Trump pada Pemilu AS alias Trump Triumph.
Kebijakan proteksionisme di bawah kepemimpinan Trump nantinya akan menyebabkan sentimen negatif di pasar global. Misalnya, terkait wacana kenaikan tarif impor atas produk-produk China.
“Selain dari efek Trump, penurunan consumer price index (CPI) Tanah Air juga melemahkan kinerja konstituen Kompas100. Deflasi ini terjadi selama lima bulan berturut-turut. Kinerja PMI Indonesia juga terkontraksi selama empat bulan berturut-turut,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (10/11).
Untuk prospek emiten konstituen Kompas100 di sisa tahun 2024, kinerjanya akan cukup terdorong dengan adanya Pilkada 2024 pada 27 November nanti. Lalu, pada akhir tahun 2024, kinerja para emiten juga akan terbantu dengan adanya hari libur Natal dan Tahun Baru.
“Pilkada 2024 dan Natal akan meningkatkan pengeluaran pemerintah dan sekaligus menstimulus konsumsi domestik,” ungkapnya.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari The Fed yang kemungkinan masih akan menetapkan pelonggaran kebijakan moneter di akhir Desember 2024.
Trump Menang, Dana Asing Rp4,5 Triliun Kabur dari Pasar Saham RI
Dana asing sebanyak Rp4,5 triliun keluar dari pasar saham RI dalam sepekan perdagangan terakhir seiring dengan kemenangan Donald Trump di Pilpres AS. [450] url asal
#trump #donald-trump #pilpres-as #dana-asing #pasar-saham-ri
(Bisnis.Com - Market) 09/11/24 05:30
v/17842333/
Bisnis.com, JAKARTA — Dana asing sebanyak Rp4,5 triliun keluar dari pasar saham Indonesia dalam sepekan perdagangan terakhir seiring dengan kemenangan Donald Trump di kontestasi Pilpres Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam sepekan perdagangan sejak 4 November 2024 sampai 8 November 2024, tercatat nilai jual bersih atau net sell asing sebesar Rp4,5 triliun di pasar saham Indonesia.
Net sell asing pekan ini lebih besar dibandingkan net sell asing pekan sebelumnya atau dari 28 Oktober 2024 sampai dengan 1 November 2024 sebesar Rp2,64 triliun.
Dua pekan sebelumnya atau sepekan setelah pemerintahan baru Prabowo Subianto yakni 21 Oktober 2024 sampai dengan 25 Oktober 2024, terjadi juga net sell asing sebesar Rp3,62 triliun. Alhasil, dalam tiga pekan pemerintahan baru Prabowo Subianto bergulir, terjadi net sell asing secara berturut-turut di pasar saham Indonesia.
Meski begitu, pasar saham Indonesia masih mencatatkan nilai pembelian bersih atau net buy asing sebanyak Rp35,97 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Seiring dengan catatan net sell asing dalam sepekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) pun melemah 2,91% dalam sepekan perdagangan ke level 7.287,19 pada hari ini, Jumat (8/11/2024).
Adapun, dalam sepekan perdagangan ini, sejumlah saham bank jumbo mencatatkan net sell asing paling tinggi. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) misalnya mencatatkan net sell asing mencapai Rp1,25 triliun dalam sepekan.
Selain itu, net sell asing PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) mencapai Rp722,61 miliar dalam sepekan. Lalu, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan net sell asing Rp670,21 miliar dalam sepekan terakhir.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan outflow asing dari pasar saham Indonesia dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh sentimen kemenangan Trump dalam Pilpres AS. Namun, ke depan masih ada harapan dana asing masuk kembali ke pasar saham Indonesia.
"Kebijakan pelonggaran moneter The Fed ke depan, setidaknya sampai Trump dilantik Januari 2025 memberikan dorongan. Jadi masih ada harapan sampai akhir tahun. Ini sebenarnya bagus dalam memperkuat inflow," ujar Nafan, Jumat (8/11/2024).
Selain itu, proyeksi adanya window dressing pada akhir tahun ini memberikan sentimen positif selain kebijakan pelonggaran The Fed.
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan kemenangan Trump memang membawa pengaruh larinya dana asing dari emerging market. "Trump akan mengutamakan investasi dan pembangunan ke dalam negaranya sendiri," ujarnya, Rabu (6/11/2024).
Alhasil, menurutnya Indonesia harus lebih kompetitif untuk menjadi atraktif. "Di masa Trump pertama, FDI [foreign direct investment] Indonesia juga tidak meningkat signifikan, dibandingkan masa Biden," ujar Liza.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ini Alasan Dana Asing Kabur dari Pasar Saham RI saat Trump Menang Pilpres AS
Kemenangan Donald Trump di Pilpres AS membawa kekhawatiran larinya dana asing dari pasar saham RI. [407] url asal
#trump #donald-trump #kebijakan-trump #pasar-modal-ri #pilpres-as #presiden-as-trump #ihsg #kebijakan-ekonomi-as #dana-asing #modal-asing #net-sell-pasar-modal
(Bisnis.Com - Market) 07/11/24 18:23
v/17685210/
Bisnis.com, JAKARTA — Calon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memenangkan kontestasi Pilpres AS, mengalahkan pesaingnya Kamala Harris. Kemenangan Trump membawa kekhawatiran larinya dana asing dari pasar saham RI.
Dilansir dari Reuters, Trump tercatat telah meraih 294 suara elektoral (electoral college) mengungguli pesaingnya Kamala Harris. Untuk terpilih sebagai presiden, para kandidat harus meraih lebih dari 270 suara elektoral.
Perhitungan suara masih berlangsung di sejumlah negara bagian, seperti Nevada, Arizona, dan Maine. Namun, perolehan suara elektoral di atas 270 memastikan Trump untuk kembali menduduki Gedung Putih.
Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan kemenangan Trump akan memberikan dampak bagi pasar saham di emerging market khususnya, tidak terkecuali Indonesia. Saat ini pun, pasar saham Indonesia mengalami tekanan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (7/11/2024) di zona merah terimbas sentimen kemenangan Trump di Pilpres AS. IHSG turun 1,90% atau 140 basis poin ke level 7.459,59 setelah melewati sesi dengan gerak fluktuatif di kisaran 7.243 sampai 7.386,38.
Kemenangan Trump pun menurutnya membawa dampak larinya dana asing dari pasar saham Indonesia. Tercatat, nilai jual bersih atau net sell asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp1,15 triliun pada perdagangan hari ini.
"Mengapa terjadi capital outflow? Karena kebijakan Trump yang dianggap sebagai pro pertumbuhan, pro deregulasi, dan pro pasar," ujar Nico, Kamis (7/11/2024).
Kebijakan Trump menurutnya diyakini oleh pelaku pasar dan investor akan membuat perusahaan di AS bertumbuh dan berkembang. "Hal ini tentu saja membuat pelaku pasar dan investor keluar dari pasar negara berkembang dan kembali kepada pasar AS," ujar Nico.
Ke depan, dana asing masih berpotensi keluar. Menurutnya kebijakan Trump akan dinantikan karena tentu saja akan menimbulkan kontroversi termasuk di dalamnya perang dagang, proteksionisme perdagangan yang akan membuat prospek pemulihan global terganggu.
Selain itu, kebijakan Trump berpotensi untuk menaikkan kembali inflasi yang berpotensi mengurangi pemangkasan tingkat suku bunga The Fed ke depannya.
Meskipun, dana asing berpotensi kembali ke pasar saham Indonesia didorong sejumlah sentimen, seperti stabilitas ekonomi dalam negeri serta program-program dari pemerintahan baru yakni swasembada pangan dan energi. Ditambah, pemerintahan baru menargetkan pertumbuhan ekonomi untuk tumbuh 8%.
"Hal ini [pertumbuhan ekonomi tumbuh 8%] tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan baru, tetapi sekaligus memberikan ruang bagi beberapa sektor untuk tumbuh," ujar Nico.
Adapun, menurutnya sejauh ini capital outflow memberikan tekanan hampir di semua sektor. Ke depan, kebijakan pemerintahan baru kemungkinan berpotensi mengarahkan arus dana masuk ke pasar energi, pangan, keuangan, properti, consumer non-cyclical, consumer cyclical, serta healthcare.
Trump Menang, Arus Dana Asing Diperkirakan Masih Lanjut Keluar dari Pasar Obligasi
Arus keluar dana asing diperkirakan berlanjut di pasar obligasi untuk jangka pendek. Salah satu penyebabnya kemenangan Donald Trump. [576] url asal
#amerika-serikat #dana-asing #obligasi #donald-trump #dana-asing-di-indonesia #aliran-dana-asing #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #obligasi
(Kontan - Terbaru) 06/11/24 22:01
v/17606519/
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus keluar dana asing diperkirakan berlanjut di pasar obligasi untuk jangka pendek. Salah satunya kemenangan Donald Trump dari Partai Republik dalam pilpres Amerika Serikat (AS).
Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual mengatakan dengan kemenangan Trump maka potensi penurunan suku bunga berpotensi tidak drastis ke depannya. Maklum, kebijakan Trump dieskpektasikan dapat mendorong inflasi lebih tinggi ke depan.
Ditambah beberapa minggu terakhir pasar obligasi rally, yang tercermin dari keluarnya dana asing. "Jadi memang faktor eksternalnya kuat dan investor kembali repositioning," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (6/11).
Di saat yang sama, lanjut David, ekonomi AS alami perlambatan sehingga berpotensi alami stagflasi. Berdasarkan perhitungannya, inflasi AS bisa naik 0,5%-1% apabila AS menerapkan tarif untuk produk China.
Karenanya, arus keluar dana asing dari pasar obligasi diperkirakan masih akan berlanjut, setidaknya sampai ada katalis baru.
Di sisi lain, potensi penurunan suku bunga the Fed 50 basis poin pada November dan Desember masih akan berlanjut. Namun, hal itu dinilai bukan katalis baru, melainkan lebih dikarenakan the Fed melihat dari data ekonomi AS yang melambat.
"Sebab tidak diketahui juga apakah Trump langsung menerapkan kebijakannya sesuai janji kampanyenya," sebutnya.
Dus, kondisi 'Trump Rally' ini diperkirakan masih akan berlanjut setidaknya dalam dua pekan hingga satu bulan ke depan. Dengan demikian, David memperkirakan yield SUN acuan 10 tahun pada akhir tahun cenderung bertahan di level saat ini, dengan kisaran 6,6%-6,9%.
Sementara itu, sumber Kontan.co.id dari pasar modal dan keuangan menyebutkan dengan kemenangan Trump masih akan mendorong arus keluar dari pasar obligasi. Ia memperkirakan tren outflow akan berlangsung sepanjang November dan kemudian akan mengalami stabilisasi di bulan Desember.
Ini berkaca dari pilpres AS pada 2016, yang mana sebelum pengumuman Trump menang, di pasar obligasi terjadi inflow. Namun, saat pengumuman kemenangan Trump langsung terjadi outflow.
Menurut dia, katalis tercepat yang bisa diharapkan dari pemerintah. Misalnya seperti stimulus dan potensi corporate income tax menjadi 20% dari 22%. "Saya rasa bisa menjadi katalis untuk menarik dana asing karena langsung mempengaruhi bottomline korporasi," sebutnya.
Untuk Desember dinilai belum ada katalis. Namun, pasar mengharapkan adanya kejelasan mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia (APBN) lantaran dari penjelasan terakhir Sri Mulyani, budget dari non K/L lebih besar dibandingkan budget K/L yang mencerminkan adanya perubahan-perubahan ke depan.
"Kami rasa kejelasan itu bisa jadi salah satu katalis positif dan tentunya harus sebelum 2025," sambungnya.
Secara fundamental, ekonomi Indonesia masih cukup positif dengan inflasi yang rendah dan yield yang menarik. Bahkan riil yield lebih menarik dibandingkan negara lain, terutama dengan sesama investment grade BBB.
"Jadi outflow memang karena tekanan eksternal saja karena Indonesia tidak bisa lepas dari sentimen," sebutnya.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana melanjutkan tantangan untuk mendorong asing kembali masuk ke dalam negeri juga dari apakah rupiah bisa stabil. Jika tidak, tentunya investor akan mengalihkan dananya ke negara yang relatif stabil mata uangnya.
Selain itu yang perlu dicermati adalah stance the Fed ke depan serta ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan European Bank Central (ECP) dan Bank of England (BoE). "Setelah Trump yang menang mungkin jumlahnya tidak akan sebesar sebelumnya," katanya.
Meski begitu, Fikri menilai obligasi menjadi instrumen pertama yang akan merasakan inflow asing, khususnya obligasi dengan tenor panjang dengan dorongan ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed. Baru kemudian disusul SRBI, obligasi tenor pendek, dan saham menjadi yang terakhir.
"Untuk saham pasar masih akan melihat sektornya seperti apa dan dorongan dari pemerintah seperti apa," tutupnya.
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Pemicu Kabur Dana Asing hingga Angin Segar SUV 4x4
Selama dua pekan, pasar saham mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing. [885] url asal
#prabowo #dana-asing #mobil-suv #utang-bumn #penghiliran-nikel #industri-logam
(Bisnis.Com - Ekonomi) 06/11/24 07:19
v/17553980/
Bisnis.com, JAKARTA— Investor asing ramai-ramai menjual sahamnya sepanjang Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memerintah Indonesia. Selama dua pekan, pasar saham mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing.
Artikel bertajuk Sentimen Negatif yang Membuat Dana Asing Kabur menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.
Berikut ini sorotan utama Bisnisindonesia.id, Rabu (6/11/2024):
1. Sentimen Negatif yang Membuat Dana Asing Kabur—Rupiah Melemah di Era Prabowo
Investor asing ramai-ramai menjual sahamnya sepanjang Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memerintah Indonesia. Selama dua pekan, pasar saham mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat asing melakukan jual bersih sebesar Rp3,62 triliun sepanjang pekan pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. Pekan selanjutnya Rp2,64 triliun.
Meski terus-terusan terjadi net sell, pasar saham Indonesia masih mencatatkan nilai bersih pembelian atau net buy asing sebesar Rp38,25 triliun sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD).
Seiring dengan catatan net sell asing di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan setidaknya dalam dua pekan setelah Prabowo dilantik.
2. Utang Komplek Tujuh BUMN Sakit
Presiden Prabowo Subianto tak bisa santai di awal pemerintahaannya. Setidaknya ada satu masalah yang harus diselesaikan, yaitu penyehatan badan usaha milik negara atau BUMN.
Dari total 47 BUMN, 7 sedang dalam keadaan merugi, yakni PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS), PT Bio Farma (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), Jiwasraya, Perumnas, dan PNRI.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa pemerintah harus bekerja keras untuk membenahi tujuh BUMN tersebut. Hal ini bukan tanpa sebab. Masing-masing BUMN yang merugi itu memiliki kompleksitas masalah tersendiri.
Krakatau Steel, misalnya, sudah melaksanakan restrukturisasi utang sejak 2019 tetapi pemulihan kinerjanya tersandung oleh insiden kebakaran yang mengganggu operasional secara keseluruhan.
“Kami sedang mencari jalan, apakah dengan kondisi yang hari ini, setelah bekerja sama dengan POSCO, dengan menghasilkan Karakatau Steel yang positif, yang kebakar ini apa perlu dikerjasamakan juga. Ini kita sedang mencari jalan,” kata Erick saat rapat kerja dengan DPR, Senin (11/5/2024).
3. Asa Penghiliran Prabowo di Tangan MIND ID
Sekitar 5 kilometer dari arah timur Pantai Kijing, Desa Sungai Kunyit, Pontianak, Kalimantan Barat, sirine panjang terdengar nyaring dari perbukitan, akhir September lalu. Suara itu menandai berlanjutnya penghiliran bauksit oleh BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID.
Berjarak tidak kurang dari 100 km dari Kota Pontianak, Smelter Grade Alumina Refinery dibangun di area seluas 100 hektare. Fasilitasa pemurnian ini menjadi ujung tombak penghiliran komoditas bauksit di dalam negeri. Dana jumbo senilai Rp16 triliun dikucurkan untuk menyambung rantai pasok bijih bauksit menjadi aluminium.
Setelah melewati masa konstruksi 4 tahun, pabrik itu memulai pre-commissioning dengan injeksi perdana pada 24 September 2024. SGAR bakal beroperasi penuh pada awal 2025 dengan menyerap 3 juta ton bijih bauksit dan menghasilkan sedikitnya 1 juta ton alumina.
Produk ini menjadi salah satu bahan baku yang diinginkan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) untuk memproduksi aluminium di Kuala Tanjung, Sumatra Utara. Di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menggenggam izin usaha pertambangan bauksit di Kalimantan Barat, sekitar 30 km dari smelter.
Anggota Holding MIND ID itu kompak membentuk konsorsium di bawah kendali PT Borneo Alumina Indonesia. Keduanya sepakat membangun SGAR untuk menyambung rantai industri dari bauksit menjadi aluminium.
4. Mendorong Ekspansi Ekspor Produk Logam Konstruksi
Pemerintah berupaya mengungkit kinerja ekspor industri produk logam besi dan baja untuk sektor konstruksi dengan menfasilitasi lima pabrikan untuk berpameran di International Construction Week (ICW) & BuildXpo Malaysia 2024.
International Construction Week (ICW) & BuildXpo Malaysia 2024 di Kuala Lumpur, 22-24 Oktober 2024, merupakan pameran industri konstruksi terbesar di Malaysia denganruang pameran 10.000 m2 dan menampilkan sekitar 500 booth dengan 200 exhibitor.
Mengusung tema Envisioning the Future of Construction, BuildXpo 2024 menampilkan segmen dan tren industri utama, termasuk teknologi konstruksi, bahan konstruksi, peralatan konstruksi, mesin konstruksi, serta sistem dan layanan.
“Pameran ini merupakan ajang penting bagi Indonesia untuk mempromosikan industri logam dalam negeri sehingga bisa membuka peluang akses pasar dan kerja sama internasional,” kata Direktur Industri Logam Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya, Selasa (5/11/2024).
Adapun kelima produsen logam nasional yang menjadi peserta pameran adalah PT Auri Steel Metalindo, PT Golden Agin Nusa, PT Fumira, PT Sunrise Steel, dan PT Jakarta Cakratunggal Steel Mills. Delegasi Indonesia ini menampilkan beragam produk logam untuk kebutuhan konstruksi, seperti baja ringan, pintu baja, billet dan rod untuk konstruksi, serta genteng metal.
5. Angin Segar di Segmen Mobil Off-roader
Penjualan mobil bertipe sport utility vehicle (SUV) berpenggerak semua roda (all-wheel drive) sepanjang Januari-September 2024 tetap melaju kencang meski pasar otomotif tengah dilanda kelesuan.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan SUV all-wheel drive pada Januari-September 2024 meningkat kuat 25% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 7.842 unit menjadi 9.817 unit di pasar ritel.
Padahal, pada saat yang sama, pasar otomotif tengah mengalami perlambatan seiring dengan pelemahan daya beli kelas menengah dan rejim suku bunga pinjaman tinggi.
Sepanjang tiga kuartal pertama tahun ini, penjualan mobil turun 11,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 746.246 unit menjadi hanya 657.223 unit.
Berkebalikan dengan tren pasar melambat, segmen SUV 4x4 melaju lebih cepat. Bahkan, seluruh subsegmen mobil yang lekat sebagai kendaraan hobi tersebut mencatatkan penjualan yang bertumbuh.
Belum Satu Bulan Prabowo Dilantik, Mengapa Dana Asing Kabur dari Pasar Saham RI?
Pasar saham Indonesia mencatatkan net sell asing dalam dua pekan perdagangan berturut-turut sejak Prabowo Subianto dilantik jadi Presiden. [590] url asal
#prabowo #prabowo-presiden #dana-asing #pasar-saham-ri #net-sell-asing #bursa-efek-indonesia #bei
(Bisnis.Com - Market) 05/11/24 14:41
v/17507409/
Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham Indonesia mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing dalam dua pekan perdagangan berturut-turut sejak Prabowo Subianto dilantik jadi Presiden RI per 20 Oktober 2024.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepekan perdagangan setelah Prabowo dilantik yakni 21 Oktober 2024 sampai dengan 25 Oktober 2024, tercatat net sell asing di pasar saham sebesar Rp3,62 triliun.
Sepekan setelahnya atau pekan kedua pemerintahan baru Presiden RI Prabowo Subianto, yakni 28 Oktober 2024 sampai dengan 1 November 2024, terjadi net sell asing di pasar saham sebesar Rp2,64 triliun.
Meskipun, pasar saham Indonesia masih mencatatkan nilai bersih pembelian atau net buy asing sebanyak Rp38,25 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Adapun, seiring dengan catatan net sell asing di pasar saham, indeks harga saham gabungan mencatatkan pelemahan setidaknya dalam dua pekan setelah Prabowo dilantik. IHSG membukukan pelemahan sebesar 2,46% pada posisi 7.505,25 per akhir kepan lalu, Jumat (1/11/2024) dari 7.694,66 pada pekan sebelumnya.
Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (4/11/2024), IHSG pun mencatatkan pelemahan 0,34% ke level 7.479,5.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan terjadinya net sell asing dua pekan setelah Prabowo dilantik didorong oleh sejumlah faktor.
"Net sell asing karena memang pada waktu itu market bersikap hati-hati terkait dinamika deflasi Indonesia selama lima bulan berturut-turut," ujarnya, Selasa (5/11/2024).
Kemudian, terjadi tekanan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, terdapat spekulasi dalam kontestasi Pilpres AS. "Pasar spekulasi kalau Trump [Donald Trump] menang, itu sudah ter-priced-in, dengan adanya kenaikan indeks dolar AS. Ini juga pengaruhi pelemahan indeks saham Indonesia," tutur Nafan.
Adapun, sektor yang paling banyak mencatatkan nilai jual asing adalah sektor perbankan. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya mencatatkan net sell asing Rp962,34 miliar dalam sepekan terakhir.
Lalu, net sell asing atas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) mencapai Rp755,08 miliar dalam sepekan. Selain itu, net sell asing PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) mencapai Rp547,66 miliar dalam sepekan.
"Faktor-faktor yang mendorong pelemahan di perbankan adalah kinerja pertumbuhan kredit yang tidak memuaskan," ujar Nafan. Sebab, menurutnya sektor perbankan masih terkendala kebijakan ketat suku bunga acuan per kuartal III/2024.
Ia memproyeksikan aliran dana asing akan mulai mengalir per November 2024 serta Desember 2024 seiring dengan adanya window dressing ditambah dengan kepastian kontestasi Pilpres AS.
Sebelumnya, Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan pasar saham Indonesia masih akan menarik inflow dana asing. Sebab, fundamental pasar saham Indonesia masih kuat.
Terdapat beberapa sentimen positif seperti tren penurunan tingkat suku bunga The Fed dan Bank Indonesia (BI) yang akan memberikan indikasi bahwa pasar Indonesia sudah jauh lebih siap serta stabil.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memproyeksikan inflow dana asing ke pasar saham Indonesia masih akan mengalir deras pada akhir tahun ini.
"Tren inflow asing di Indonesia sudah dimulai sejak Juni 2024 dan mulai mencatatkan net buy secara ytd sejak bulan tersebut. Kami memandang optimistis inflow asing dapat terus bertambah," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi dalam jawaban tertulis pada beberapa waktu lalu (2/10/2024).
Optimisme OJK atas potensi derasnya dana asing masuk ke pasar saham Indonesia seiring dengan adanya sentimen-sentimen positif seperti berlanjutnya tren penurunan suku bunga The Fed dan suku bunga acuan BI pada kuartal IV/2024.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Dana Asing Minggat dari RI selama Seminggu, Totalnya hampir Rp5 Triliun
Minggatnya dana asing dari pasar keuangan domestik pada minggu ini utamanya berasal dari pasar SBN yang tercatat pulang kampung sebanyak Rp3,95 triliun. [472] url asal
#modal-asing #dana-asing #bank-indonesia #investasi #pasar-saham #surat-berharga-negara #rupiah
(MedCom - Ekonomi) 02/11/24 14:12
v/17365332/
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat dana-dana asing keluar dari pasar keuangan domestik selama sepekan ini. Berdasarkan data transaksi pada 28-31 Oktober 2024, dana dari investor asing (nonresiden) tersebut tercatat jual neto (outflow) sebanyak Rp4,86 triliun.Minggatnya dana asing dari pasar keuangan domestik pada minggu ini utamanya berasal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat pulang kampung sebanyak Rp3,95 triliun.
Begitu pula di pasar saham yang kabur dari Indonesia sebesar Rp2,53 triliun. Untungnya di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) modal asing menyerbu sebanyak Rp1,63 triliun.
"Selama 2024, berdasarkan data setelmen sampai dengan 31 Oktober 2024, nonresiden tercatat beli neto (inflow) sebesar Rp39,91 triliun di pasar saham, Rp43,51 triliun di pasar SBN, dan Rp200,00 triliun di SRBI," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dikutip dari rilis Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah, Sabtu, 2 November 2024.
Sementara berdasarkan data pada semester II-2024 hingga 31 Oktober 2024, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp39,57 triliun di pasar saham, Rp77,47 triliun di pasar SBN, dan Rp69,65 triliun di SRBI.
Adapun premi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia lima tahun naik ke level 68,69 basis poin (bps) per 31 Oktober 2024 dari 67,80 bps per 25 Oktober 2024. CDS merupakan indikator untuk mengetahui risiko berinvestasi di SBN.
Semakin besar skor CDS, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi. Sebaliknya jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga semakin rendah.
| Baca juga: Rupiah Masih Tak Sanggup Lawan Kedigdayaan Dolar AS hingga Jumat Sore |
Rupiah masih tak sanggup lawan dolar AS
Minggatnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik turut membuat nilai tukar rupiah takluk terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah masih tak sanggup melawan kedigdayaan mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Seperti diketahui, aliran modal asing di dalam negeri erat kaitannya dengan pergerakan nilai tukar. Sebab, salah satu faktor aliran modal asing adalah tingkat kepercayaan investor, yang juga menjadi salah satu faktor dalam pergerakan nilai tukar.
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 1 November 2024, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp15.732 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 34 poin atau setara 0,22 persen dari posisi Rp15.698 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp15.714 per USD. Rupiah melemah 25 poin atau setara 0,16 persen dari Rp15.689 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp15.723 per USD. Mata uang Garuda tersebut tergelincir 17 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.705 per USD.
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," tegas Ramdan.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(HUS)
Dana Asing Kabur Deras, IHSG Kena Tekanan Berat
Pilarmas menjelaskan, IHSG hari ini terkena tekanan berat karena derasnya dana investor asing keluar, rekomendasikan PSAB untuk sesi II - Halaman all [508] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #ihsg #ihsg-hari-ini #indeks-harga-saham-gabungan #penyebab-ihsg #dana-asing #outflow-asing #pilarmas #psab #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 28/10/24 13:22
v/17103263/
JAKARTA, investor.id– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 84,47 poin (1,1%) ke level 7.610,1 pada penutupan sesi I, Senin (28/10/2024). Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, IHSG hari ini terkena tekanan berat karena derasnya dana investor asing keluar atau outflow.
Pilarmas menjelaskan, Bank Indonesia (BI) menyampaikan periode 21-24 Oktober 2024 terjadi aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp 6,63 triliun. Aliran modal asing yang keluar dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) jauh lebih besar ketimbang yang masuk di Sekuritas Rupiah BI (SRBI). Secara rinci, dana asing yang keluar dari pasar saham sebanyak Rp 3,01 triliun serta pasar SBN Rp 4,53 triliun. Sedangkan yang masuk ke SRBI hanya sebesar Rp 0,91 triliun.
“Sehingga ini akan memberikan premi risiko investasi akan meningkat. Pasar berharap BI dan Pemerintah terus menjaga sinergi dalam mendukung ketahanan ekonomi dalam negeri,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Senin (28/10/2024).
Pilarmas mengatakan, penyebab terjadinya outflow asing tersebut adalah efek kenaikan imbal hasil Treasury AS 10 tahun naik ke sekitar 4,27% mencapai level tertinggi dalam tiga bulan di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap pemangkasan suku bunga lebih lanjut, kemungkinan memilih pemangkasan 25 basis poin yang lebih moderat dalam pertemuan mendatang.
Tidak hanya itu, lanjut Pilarmas, IHSG juga terseret pelemahan indeks saham Asia yang juga tertekan. Pasar tampaknya menilai prospek stimulus dari Bank Rakyat China (PBoC) yang melakukan langkah terbaru oleh otoritas moneter China untuk mendiversifikasi perangkat kebijakan moneternya, yang bertujuan untuk mempertahankan tingkat likuiditas yang wajar dalam sistem perbankan.
Hal ini mengingat PBoC meluncurkan instrumen moneter pasar terbuka baru untuk memastikan likuiditas dalam sistem perbankan. Di sisi lain pasar juga menantikan prospek stimulus fiskal China sehubungan laba yang diperoleh perusahaan industri, Biro Statistik Nasional China mengungkapkan bahwa industrial profits China turun 3,5% yoy menjadi 5.228,16 miliar Yuan.
Manufaktur China
Selanjutnya, Pilarmas menambahkan pasar pada pekan ini menantikan rilis data PMI Manufaktur China. Di sisi lain, pasar khawatir ketidakstabilan politik di Jepang, disaat koalisi yang berkuasa kehilangan mayoritas parlemen. Partai Demokrat Liberal dan mitra koalisinya Komeito kehilangan mayoritas mereka di majelis rendah, meningkatkan ketidakpastian politik dan ekonomi dan semakin mempersulit rencana normalisasi Bank Jepang.
“Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) akan memutuskan kebijakan moneter pada hari Kamis, meskipun diperkirakan akan mempertahankan kebijakan tidak berubah. Tentunya ini akan berdampak pada kebijakan ekonomi Jepang kedepannya,” papar Pilarmas.
Pada sesi pertama hari ini, saham-saham yang mengalami kenaikan SOSS, CITY, MTFN, BEBS, SONA. Sedangkan saham-saham yang mengalami penurunan terbesar MFIN, SUNI, CNKO, AMOR, TOSK.
Pilarmas merekomendasikan saham PSAB untuk perdagangan di sesi II. “Kami merekomendasikan PSAB dengan support dan resistance di level 302-330,” tutup Pilarmas.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Dalam Sepekan Ini, Rp 4,53 Triliun Dana Asing Masuk Indonesia dari SBN
Berdasarkan data setelmen hingga 24 Oktober 2024 (year to date/ytd), terjadi aliran modal asing yang masuk dari pasar SBN sebesar Rp 47,31 triliun. Halaman all [382] url asal
#jakarta #dana-asing #bank-indonesia
(Kompas.com) 27/10/24 21:00
v/17068875/
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mencatat sepanjang 21 sampai dengan 24 Oktober 2024 terjadi aliran modal asing keluar (capital outflow) pasar keuangan Indonesia sebesar Rp 6,63 triliun.
Aliran modal asing masuk melalui jual neto Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 4,53 triliun.
Kemudian aliran modal asing keluar melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) adalah Rp 910 miliar.
Sedangkan, aliran dana asing keluar melalui jual neto pasar saham senilai Rp 3.01 triliun.
"Berdasarkan data transaksi 19-22 Agustus 2024, nonresiden tercatat jual neto Rp 6,63 triliun," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya, dikutip Minggu (27/10/2024).
Dengan demikian, selama 2024, berdasarkan data setelmen hingga 24 Oktober 2024 (year to date/ytd), terjadi aliran modal asing yang masuk dari pasar SBN sebesar Rp 47,31 triliun.
Begitu pula pada pasar saham, secara keseluruhan tahun berjalan, tercatat total dana asing masuk melalui pasar saham mencapai Rp 44,48 triliun. Sedangkan modal asing masuk dari SRBI Rp 195,39 triliun.
Seiring dengan keluarnya dana asing pada perdagangan pekan ini, premi risiko investasi atau premi credit default swaps (CDS) Indonesia 5 tahun ada ke level 68,04 bps per 24 Oktober 2024, atau relatif naik dari sebelumnya di level 67,39 bps per 18 Oktober 2024.
Sementara itu, tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun naik ke level 6,75 persen.
Sedangkan yield surat utang AS atau US Treasury 10 tahun naik ke level 4,212 persen.
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," tutup Erwin.
Aliran Modal Asing Hengkang Rp 6,63 Triliun Pekan Terakhir Oktober 2024
Terjadi aliran modal asing keluar di pasar keuangan Indonesia sebesar Rp 6,63 triliun sepanjang pekan terakhir Oktober 2024. [270] url asal
#bank-indonesia #bank-indonesia-bi #dana-asing #dana-asing-di-indonesia #investor-asing #aliran-dana-asing #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #makroekonomi
(Kontan - Terbaru) 27/10/24 11:55
v/17053952/
Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aliran dana dari investor asing tercatat mulai hengkang dari pasar keuangan Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing sebesar Rp 6,63 triliun keluar (capital outflow) dari pasar keuangan lokal sepanjang pekan terakhir Oktober 2024.
Berdasarkan data transaksi periode 21 hingga 24 Oktober 2024 yang dihimpun Bank Indonesia (BI), aliran modal asing keluar dari pasar saham, dan Surat Berharga Negara (SBN).
“Terdiri dari jual neto sebesar Rp 3,01 triliun di pasar saham, dan jual neto sebesar Rp 4,53 triliun di pasar SBN,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/10).
Dalam waktu bersamaan, asing tercatat beli neto atau masuk ke pasar keuangan dalam negeri sebesar Rp 0,91 di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Seiring dengan hengkangnya asing dari pasar keuangan dalam negeri, premi risiko investasi di Indonesia juga meningkat. Ini terlihat dari premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 24 Oktober 2024 sebesar 68,04 bps, naik dibandingkan 18 Oktober 2024 sebesar 67,39 bps.
Dengan perkembangan ini, berdasarkan data setelmen dari awal tahun hingga 24 Oktober 2024, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp44,48 triliun di pasar saham, Rp47,31 triliun di pasar SBN dan Rp195,39 triliun di SRBI.
Sementara itu, bila dilihat pada semester-II 2024, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp44,14 triliun di pasar saham, Rp 81,27 triliun di pasar SBN dan Rp 65,04 triliun di SRBI.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ungkap Donny.
BI Catat Rp6,63 Triliun Modal Asing Kabur dari RI Pekan Ini
BI mencatat Rp6,63 triliun modal asing keluar dari Indonesia sepekan terakhir. [244] url asal
#modal-asing #aliran-dana-asing #asing-tarik-dana #investor-tarik-investasi-indonesia #pasar-keuangan-as #amerika-serikat #pasar-keuangan-domestik #bank-indonesia #bi #surat-berharga-negara #sbn #sekur
(Bisnis.Com - Ekonomi) 26/10/24 11:44
v/17011553/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat terjadinya aliran modal keluar sebesar Rp6,63 triliun dari pasar keuangan domestik pada pekan ini.
"Berdasarkan data transaksi 21—24 Oktober 2024, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp6,63 triliun," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso melalui siaran pers, dikutip pada Sabtu (26/10/2024).
Denny menjelaskan, dari jumlah tersebut, tercatat jual neto sebesar Rp3,01 triliun di pasar saham dan jual neto Rp4,53 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Sementara itu, pada periode yang sama, terjadi beli neto sebesar Rp0,91 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Denny mengatakan, sepanjang 2024 atau hingga 24 Oktober 2024, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp44,48 triliun di pasar saham, Rp47,31 triliun di pasar SBN, dan Rp195,39 triliun di SRBI.
Adapun, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 24 Oktober 2024 sebesar 68,04 bps, naik dibandingkan 18 Oktober 2024 sebesar 67,39 bps.
Tingkat imbal hasil SBN 10 tahun tercatat turun ke level 6,68% pada Jumat pagi (25/10/2024), dari level 6,75% pada Kamis (24/10/2024).
Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi (25/10/2024) dibuka pada level (bid) Rp15.580 per dolar Amerika Serikat (AS), dari level (bid) sebelumnya Rp15.575 per dolar pada Kamis (24/10/2024).
Denny mengatakan, dengan perkembangan tersebut, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Menilik Aliran Dana Asing Jelang Penentuan Arah Suku Bunga BI
para analis memberikan rekomendasi saham jelang penentuan arah suku bunga BI di pekan ini [1,266] url asal
#dana-asing #rekomendasi-saham #dana-asing-di-indonesia #aliran-dana-asing #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 15/10/24 21:42
v/16516524/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aliran dana asing masih keluar selama sepekan terakhir jelang gelaran Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis (17/10).
Melansir RTI, aliran dana asing di pasar reguler tercatat keluar Rp 1,73 triliun pada sepekan terakhir dan keluar Rp 2,9 triliun sejak awal tahun 2024.
Namun, pada perdagangan hari ini (15/10), aliran dana asing tercatat masuk Rp 289,52 miliar di pasar reguler.
Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, surat berharga negara (SBN) memang saat ini sedang dilirik oleh investor asing.
Kinerja pasar saham biasanya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sementara, saat ini ada peningkatan tensi geopolitik dan penurunan suku bunga yang mungkin tidak secepat yang diharapkan.
“Kondisi ini juga ditambah dengan adanya stimulus ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah China. Dengan kondisi seperti saat ini, maka pasar obligasi akan lebih dilirik investor,” ujarnya saat ditemui Kontan, Senin (14/10).
Alhasil, dalam beberapa minggu terakhir ini investor asing terlihat keluar dari pasar saham dan mulai masuk ke pasar obligasi, terutama ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Handy melihat, pasar obligasi pemerintah juga masih memiliki ruang untuk bertumbuh, setidaknya hingga akhir tahun 2024. Saat ini, porsi investor asing di SRBI masih ada di kisaran 27% dari total investor di instrumen ini.
“Ketika suku bunga turun, maka imbal hasil obligasi juga akan ikut. Kalau investor sudah punya obligasi di saat imbal hasilnya turun, harganya akan naik,” paparnya.
Menyambut hal ini, PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) meluncurkan Harga Pasar Wajar (HPW) Sekuritas Bank Indonesia yang terdiri dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
Direktur Utama PHEI, M. Kadhafi Mukrom mengatakan, peluncuran HPW instrumen Sekuritas Bank Indonesia merupakan bagian dari upaya kolektif untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional dan diharapkan dapat turut menciptakan iklim investasi yang kondusif dan transparan.
Dhafi menyampaikan, perhitungan dan penilaian harga pasar wajar instrumen Sekuritas Bank Indonesia ini melengkapi penilaian dan penetapan HPW atas EBUS dan surat berharga lainnya yang PHEI lakukan.
“Ini meliputi 1.304 seri jenis instrumen Efek bersifat utang dan Sukuk, baik yang diterbitkan oleh Pemerintah maupun korporasi dengan total jumlah outstanding mencapai Rp 7.552,23 triliun,” ujarnya saat ditemui Kontan dalam kesempatan yang sama.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti melihat, aksi jual asing sepanjang satu pekan terahir dipengaruhi oleh sentimen negatif yang masih berlanjut sejak akhir September kemarin, yaitu stimulus bank sentral China.
“Stimulus tersebut mendorong aliran uang dari beberapa pasar saham, termasuk Indonesia, ke pasar saham China,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (15/10).
Selain itu, adanya data ekonomi AS yang positif, di mana salah satunya adalah tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%. Hal tersebut memperkuat sentimen bahwa pasar tenaga kerja di Amerika tetap kuat, meskipun ada kekhawatiran resesi dari para analis pasar.
Belum lagi adanya risiko geopolitik, di mana konflik antara Israel dan Iran berpotensi menaikkan harga-harga komoditas minyak. Dampak negatif tersebut berpotensi untuk ekonomi kita sebagai negara net impor minyak akan lebih terasa.
“Terutama, pada emiten-emiten non energi, seperti manufaktur dan transportasi. Semakin tinggi biaya operasional akibat harga energi yang meningkat berpotensi mengganggu capaian laba bersih mereka,” ujarnya.
Oleh karena itu, Vinko berpandangan, investor cenderung beralih ke instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah (SBN) yang menawarkan stabilitas lebih tinggi ketimbang pasar saham.
Secara teori, penurunan suku bunga akan membuat surat-surat utang negara berkupon tinggi menjadi lebih menarik dan dikejar oleh banyak investor, termasuk para investor asing.
Selama imbal hasil surat-surat utang negara tersebut masih lebih menarik daripada pasar saham yang notabene berisiko lebih tinggi, dana asing bisa terus keluar dari pasar saham ke pasar obligasi.
Namun, aksi net sell asing di pasar saham ini diyakini bersifat sementara dan pasar saham akan tetap menarik ke depannya.
“Masih ada peluang kenaikan IHSG? menjelang window dressing dan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed pada bulan-bulan mendatang, yang bisa menjadi sentimen positif untuk inflow asing kembali ke IHSG,” tuturnya.
Menurut Vinko, sektor-sektor yang cenderung sensitif dan diuntungkan dari tren penurunan suku bunga adalah sektor perbankan dan sektor properti.
“Namun, investor sebaiknya tetap memperhatikan fundamental masing-masing emiten perbankan dan properti yang sedang dipegang. Sebab, fundamental perusahaan yang lebih lemah daripada rata-rata industrinya akan lebih rentan ditinggalkan oleh asing,” paparnya.
Dalam sebulan terakhir, sejumlah emiten juga mencatatkan aliran dana asing yang besar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masuk tiga besar emiten yang dilego asing paling banyak pada sebulan terakhir.
BBRI dilego asing sebesar Rp 7,7 triliun dalam sebulan terakhir, BMRI dilego asing Rp 1,6 triliun, dan BREN dilego asing Rp 1,3 triliun. Namun, kinerja harga saham BREN tercatat turun paling dalam, yaitu 43,10% dalam sebulan terakhir.
“Outflow asing di emiten ini lebih disebabkan oleh dikeluarkannya BREN dari indeks FTSE sejak 25 September 2024 lalu,” ungkapnya.
Kinerja saham BBRI turun 7,55% dan BMRI turun 4,81% dalam sebulan. Sebagai dua emiten penyokong kinerja IHSG, BBRI dan BMRI terdampak dari kebijakan Bank Sentral China yang mengakibatkan aliran keluar dana asing dari IHSG ke pasar saham China.
Namun, khusus untuk BBRI, ada faktor proyeksi pelemahan pertumbuhan laba untuk tahun 2024 yang dapat membuat para investor lebih pesimis terhadap emiten ini ketimbang emiten big banks lainnya.
“Dalam keterbukaan informasi terkait, pihak manajemen BBRI sudah menyatakan bahwa mereka lebih akan berfokus membenahi kualitas kredit mikro di sisa tahun 2024 ini,” tuturnya.
Selain ketiganya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga ikut dilego asing dalam jumlah besar dalam sebulan terakhir.
AMMN dilego asing Rp 166,3 miliar dan kinerja sahamnya turun 8,47% dalam sebulan terakhir. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kabar penjualan saham AMMN oleh empat direksinya yang kemungkinan disambut negatif oleh para investor asing.
“Selain itu, secara valuasi PER, AMMN memang tergolong masih sangat tinggi dibandingkan rata-rata emiten di industri yang sama,” ungkapnya.
Di sisi lain, salah satu emiten yang kinerja sahamnya tidak terdampak arus keluar investor asing adalah PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).
Kinerja saham BUKA sekitar 11,02% selama sebulan terakhir, meskipun dilego asing Rp 223,1 miliar. Sentimennya adalah rumor akuisisi Temu, e-commerce asal China, terhadap BUKA pada 7 Oktober 2024 lalu.
“Padahal, yang terjadi adalah PT Elang Mahkota Teknologi (EMTK) yang membeli 9,54% saham BUKA pada 9 Oktober 2024,” ujarnya.
Tren aliran dana asing hingga akhir 2024 dan awal 2025 sangat dipengaruhi oleh sentimen global, terutama kebijakan moneter AS dan Eropa.
Jika inflasi global mereda dan suku bunga mulai turun, ada peluang inflow asing akan kembali ke pasar saham, termasuk ke IHSG.
Vinko memproyeksikan, IHSG akan berada di kisaran 7.700 - 7.800 hingga akhir 2024, apabila berhasil breakout di atas area 7.563-7.630. Sentimen penggerak utamanya adalah faktor makroekonomi termasuk stabilitas inflasi, dan kebijakan suku bunga.
“Lalu, ditambah juga sentimen dari faktor fundamental pertumbuhan laba emiten yang memiliki pembobotan indeks terbesar di IHSG, seperti BBRI, BBCA, BMRI, BREN, TPIA, TLKM, dan AMMN, yang masing-masing berbobot di atas 4%,” tuturnya.
Vinko pun merekomendasikan buy on weakness untuk BBRI dengan target harga terdekat di Rp 5.200 per saham dan area beli di Rp 4.750 - Rp 4.800 per saham.
Rekomendasi buy on weakness juga diberikan untuk BMRI dengan target harga terdekat di Rp 7.070 per saham dan area beli di Rp 6.700 - Rp 6.770 per saham.