#30 tag 24jam
Investor Asing di Industri Perbankan Tanah Air Makin Ramai, Persaingan Kian Ketat
Kehadiran investor asing bakal kembali meramaikan industri perbankan di Indonesia. [548] url asal
#bank-digital #industri-bank-digital #tyme-group #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Uang) 09/10/24 19:31
v/16211619/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kehadiran investor asing bakal kembali meramaikan industri perbankan di Indonesia. Yang terbaru, ada bank asal Afrika Selatan yang bakal segera melebarkan sayapnya di tanah air.
Mengutip dari fintechnews.com, Tyme Group, bank digital pertama dari benua hitam tersebut dikabarkan masuk Indonesia dengan produk andalannya, Merchant Cash Advance. Indonesia menjadi negara keempat bagi Tyme dalam berekspansi dengan produk andalan tersebut yang menyasar pasar UMKM.
Kabar rencana Tyme masuk Indonesia sejatinya sudah terdengar pada April tahun ini. Dalam wawancaranya dengan Dealstreetasia, Coenraad Jonker, CEO TymeBank bilang pilihan Indonesia sebagai pasar utama ditegaskan oleh pengalaman positif Jonker dengan regulator lokal dan komitmen negara untuk membuat layanan keuangan lebih mudah diakses.
Kala itu, ia bilang pihaknya bermaksud untuk memperkenalkan produk Merchant Cash Advance di Indonesia sebelum akhir tahun ini.
“Indonesia adalah pasar yang ideal untuk model kami,” ujarnya kala itu.
Adapun, hal tersebut juga telah dikonfirmasi oleh Timothy Delahunty yang memperbarui profil linkedin-nya dengan jabatan sebagai CEO GoTyme Capital Indonesia.
Timothy bilang GoTyme akan segera meluncur dalam waktu dekat.
“Seperti dilansir oleh Fintech News Singapore kami akan segera meluncurkan pembiayaan bisnis yang fleksibel di salah satu pasar UKM paling dinamis di Asia Tenggara,” tulis Timothy dikutip, Rabu (9/10).
Sebagai informasi, Timothy baru saja memperbarui profil linkedin-nya dengan jabatan CEO pada Oktober 2024. Sebelumnya, ia merupakan Direktur Operasional sekaligus Keuangan di Bank Commonwealth Indonesia.
Hanya saja, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae bilang bahwa pihaknya belum mengetahui rencana masuknya Tyme ke Indonesia. Bahkan, ia bilang pembicaraan dengan OJK belum terjadi.
“Nggak tahu, belum jelas, kalau bank digital mestinya ke saya,” ujarnya kepada KONTAN, Rabu (9/10).
Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) Rustati Suri Pertiwi mengungkapkan bahwa pihaknya mengaku hal ini meningkatkan layanan perbankan kepada segmen UMKM. Mengingat, Bank Raya juga merupakan bank digital yang fokus menggarap segmen tersebut.
Namun, ia mengingatkan bahwa bank harus paham akan karakteristik dari segmen UMKM di Indonesia. Menurutnya, bukan tidak mungkin ada sedikit perbedaan dengan wilayah lain, sehingga dapat menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.
Selain itu, ia juga bilang penyaluran kredit, termasuk kredit digital, tidak hanya mengenai pemberian kreditnya, tetapi bagaimana cara menjaga agar penyaluran kredit tersebut dapat dilakukan dengan hati-hati dengan sistem monitoring yang menyeluruh sehingga kualitas aset dapat tetap terjaga.
“Saat ini kita sudah mempunyai produk yag sesuai dengan target market yang kita tuju, di mana target market tersebut saat ini ada di dalam ekosistem BRI Group,” ujarnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ekonom senior sekaligus pendiri Segara Institute, Piter Abdullah berpendapat bank asing yang mau masuk ke Indonesia tidak akan mudah untuk bersaing khususnya di pasar ritel, seperti UMKM.
Ia bilang pasar ritel di banyak negara umumnya dikuasai oleh bank domestik yang memang memiliki keunggulan daya saing, terutama dari sisi pemahaman budaya. Ia juga melihat meskipun potensi pasar UMKM memang cukup besar, sejauh ini sudah dikuasai oleh bank domestik seperti BRI, BTPN, hingga PNM.
“Bank-bank asing banyak yang gagal,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan bilang juga tetap ada sisi positif dari masuknya investor asing ke industri perbankan di Indonesia. Terutama, ada investasi yang masuk ke Indonesia dan menunjukkan pasar keuangan Indonesia masih bagus.
Net Interest Margin (NIM) Bank Digital Tambah Gemuk, Ada yang Sampai 22%
Tekanan profitabilitas yang terjadi pada industri perbankan tampaknya tak dirasakan oleh bank-bank digital. [462] url asal
#bank-digital #pasar-bank-digital #industri-bank-digital #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 12/08/24 20:45
v/14316727/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan profitabilitas yang terjadi pada industri perbankan tampaknya tak dirasakan oleh bank-bank digital. Sebab, rasio profitabilitas bank digital, terlebih rasio Net Interest Margin (NIM) yang dicatat terlihat tetap besar dan beberapa naik.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2024 menunjukkan bahwa rasio NIM perbankan secara keseluruhan turun ke level 4,57%, lebih rendah dari posisi yang sama pada tahun sebelumnya di 4,80% dan akhir tahun 2023 di 4,81%.
Namun, di tengah situasi ini, beberapa bank digital berhasil mencatatkan NIM yang mencapai dua digit.
Misalnya, PT Bank Amar Indonesia Tbk, yang pada semester I-2024 mencatatkan NIM sebesar 22,9%, naik signifikan dari 17,33% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
David Wirawan, Senior Vice President Finance Amar Bank, menjelaskan bahwa hasil tersebut diperoleh karena model bisnis Amar Bank yang berbeda dengan bank konvensional lainnya.
Amar Bank fokus pada segmen UMKM dan individu yang masih kurang terlayani (underserved), yang umumnya memiliki profil risiko lebih tinggi.
David menyebutkan bahwa untuk mengimbangi risiko tersebut, Amar Bank menerapkan suku bunga yang lebih tinggi.
Sesuai informasi di situs resminya, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) Amar Bank untuk kredit mikro mencapai 17%, sedangkan untuk kredit korporasi dan ritel sebesar 11%.
Meskipun demikian, Amar Bank tetap berkomitmen menjalankan penyaluran pinjaman secara prudent dan terus mendukung sektor UMKM melalui inovasi teknologi dan digital untuk meningkatkan personalisasi layanan dan pengelolaan transaksi yang aman.
Dalam paruh pertama tahun 2024, Amar Bank mencatat laba bersih sebesar Rp 97,79 miliar, naik 15% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa bank masih berada di jalur yang tepat untuk mencapai kinerja yang solid.
Tidak hanya Amar Bank, PT Allo Bank Indonesia Tbk juga mencatatkan peningkatan NIM pada Juni 2024 menjadi 8,99%, dibandingkan dengan 8,52% pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, peningkatan ini didorong oleh penyaluran kredit digital ritel, seperti paylater dan pinjaman tunai dengan limit kecil dan tenor pendek, yang memiliki bunga lebih tinggi dibandingkan segmen kredit dengan plafon lebih besar.
SBDK Allo Bank untuk kredit konsumsi non KPR tercatat sebesar 16,26%, sedangkan untuk segmen korporasi sebesar 9,25%.
Indra menambahkan bahwa kenaikan NIM ini mencerminkan kemampuan Allo Bank dalam mengelola Aktiva Produktif dengan optimal, namun tetap menjaga prinsip kehati-hatian untuk mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan.
Struktur aset Allo Bank cukup beragam dan didanai oleh deposito yang berkelanjutan serta didukung oleh permodalan yang kuat untuk mendukung aspirasi pertumbuhan di masa depan.
Meskipun ada beberapa bank digital yang mengalami penurunan NIM, seperti PT Bank Seabank Indonesia yang NIM-nya turun dari 19,07% pada semester I-2023 menjadi 15,82% pada tahun ini, bank-bank tersebut masih memiliki NIM yang jauh di atas rata-rata industri.
Melihat Permodalan Bank-bank Digital di Semester I-2024, Siapa yang Paling Kuat?
Dari 11 bank digital, rata-rata kondisi modal inti bank digital naik secara tahunan (year on year/yoy). [822] url asal
#modal-inti-bank #bank-digital #industri-bank-digital #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Uang) 08/08/24 20:14
v/13822145/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank-bank digital terlihat makin agresif dalam menjalankan ekspansi bisnisnya. Terlihat dari pertumbuhan kinerjanya hingga transformasi layanan dan produk. Tentunya hal ini tidak terlepas dari posisi permodalan yang kuat.
Kontan merangkum 11 bank digital dengan kondisi permodalannya di semester I-2024. Dari 11 bank tersebut, rata-rata kondisi modal inti bank digital naik secara tahunan (year on year/yoy).
Namun rasio kecukupan modal untuk menanggung risiko kerugian bank atau Capital Adequacy Ratio (CAR) dari bank-bank digital tersebut menurun secara tahunan (year on year/yoy).
Hal ini sebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kualitas portofolio kredit, hingga perubahan suku bunga.

Dari 11 bank digital tersebut, PT Bank Allo Indonesia Tbk (Allo Bank) tercatat memiliki modal inti yang terbesar, yakni mencapai Rp 6,9 triliun, naik 2,78% secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara secara kondisi rasio kecukupan modal untuk menanggung risiko kerugian bank atau Capital Adequacy Ratio (CAR), Allo Bank memiliki kecukupan modal yang sehat dan kuat, sebesar 77,43% per Juni 2024. Angka ini menurun dari posisi periode tahun lalu yang sebesar 81,83% per Juni 2023.
Sementara itu secara rasio CAR, tertinggi ditempati oleh Superbank dengan CAR sebesar 237,91% per Juni 2024, menurun dari posisi tahun lalu (yoy) yang sebesar 285,16%.
Presiden Direktur Allo Bank Indra Utoyo menilai, dengan kondisi permodalan dan ekuitas saat ini, bank masih mampu menghadapi setiap risiko serta mendukung ekspansi bisnis bank di masa depan.
“Dengan demikian, kami belum memiliki rencana untuk melakukan penambahan modal lagi secara inorganik melalui Aksi Korporasi pada tahun 2024,” ungkap Indra kepada Kontan.
Lebih lanjut Indra tetap optimistis pada pertumbuhan kredit Allo Bank tumbuh single digit hingga akhir tahun 2024, di tengah kondisi makro ekonomi yang penuh tantangan seperti saat ini.
“Target pertumbuhan ini sesuai dengan komitmen kami untuk menjaga kepentingan dan memberikan nilai unggul bagi seluruh stakehoders kami tanpa mengorbankan prinsip dan praktik perbankan yang prudent dengan tetap waspada dan berhati-hati,” ungkap Indra.
Adapun per Juni 2024, Kredit Allo Bank tumbuh 7,94% yoy mencapai Rp 8,02 triliun. otal Sejalan dengan itu total aset Allo Bank tercatat Rp 13,64 triliun pada semester I-2024, meningkat 5,98% yoy.
Posisi selanjutnya ada PT Bank Jago Tbk yang mencatat modal inti sebesar Rp 6,61 triliun pada semester I-2024, menurun 6,47% yoy. Posisi CAR per Juni 2024 tercatat masih kuat, yakni sebesar 50,28%, meskipun telah menurun dari 72,83% per Juni 2023 lalu.
Selanjutnya ada PT Bank Jasa Jakarta atau yang dikenal saat ini dengan nama Bank Saqu juga memiliki permdoalan yang kuat. Di sisi lain mengingat Bank Saqu belum merilis kinerjanya untuk periode semester I-2024, posisi permodalan bank ini hanya terlihat per Maret 2024, dengan jumlah modal inti sebesar Rp 6,54 triliun.
Sementara itu posisi rasio kecukupan modal juga tinggi di angka 143,30% per Maret 2024, meski turun dari periode tahun lalu Rp 197,51%. Namun bank ini baru saja mendapatkan suntikan modal dari induknya PT Astra Internation Tbk (ASII) sebesar Rp 444,81 miliar pada 27 Juni 2024 lalu.
Presiden Direktur Bank Saqu, Leo Koesmanto mengatakan, suntikan modal tersebut digunakan untuk memperkuat bisnis dan investasi teknologi pengembangan Bank Saqu ke depannya.
Leo juga menyebut, saat ini pihaknya akan fokus mengembangkan fitur-fitur dan layanan yang sesuai kebutuhan nasabah. Meksipun memang Bank Saqu saat ini masih belum menawarkan fitur kredit pinjaman, dan masih pada produk simpanan tabungan dan deposito, dan kemudahan transaksi lainnya.
“Tentunya sebagai bank, tidak hanya akan menawarkan produk simpanan deposito saja, kedepan akan ada fitur kredit juga, tetapi secara bertahap dan masih dikembangkan,” ungkap Leo kepada Kontan.
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) juga telah melakukan penambahan modal dengan right issue, dan menerbitkan sebanyak 1,31 miliar saham dengan Harga pelaksana Rp 300 per saham. Sehingga aksi korporasi ini diharapkan bisa menghimpun dana segar senilai Rp 393,5 miliar.
Adapun posisi modal inti BNC per Juni 2024 tercatat sebesar Rp 3,30 triliun, naik 1,25% yoy. Posisi CAR juga menguat dari 31,76% menjadi 32,12% per Juni 2024.
Direktur Bisnis BNC Aditya Windarwo mengatakan, dana yang terhimpun dari right issue ini nantinya akan dipergunakan salah satunya untuk ekspansi bisnis. Maklum saja, BNC sudah mulai fokus menyasar segmen nasabah korporasi.
“Kami pilih segmen korporasi yang bisa menambah kemampuan untuk menambah ekosistem. Selain berikan kredit, kami juga minta untuk Kerjasama payroll. Tapi kami tetap hati-hati masuk dalam menyalurkan kredit, karena nilainya besar, dan kalau macet dampaknya juga besar ke BNC," kata Aditya.
Adapun sampai bulan Juli 2024, BNC telah menyalurkan Kredit Modal Kerja senilai total Rp 350 miliar kepada beberapa nasabah korporasi. Aditya mengatakan, ke depan penyaluran kredit akan semakin masif dengan membidik nasabah korporasi dari berbagai lini industri yang potensial.
Di sisi lain, pada semester I-2024, BNC telah menyalurkan kredit sebesar Rp 9,01 triliun pada semester I-2024, menurun 10,9% yoy.
Tak Hanya Andalkan Ekosistem, Bank Digital Garap Penyaluran Kredit Secara Mandiri
Bank digital kini mulai menggarap penyaluran kredit secara mandiri. [468] url asal
#bank-digital #bank-jago #pasar-bank-digital #industri-bank-digital #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 29/07/24 19:49
v/12555387/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Keberadaan bank digital di Indonesia erat kaitannya dengan dukungan ekosistem yang dimiliki. Meski demikian, ekosistem tampaknya tak selalu menjadi penopang dalam operasional bisnis bank digital.
Ambil contoh, PT Bank Jago Tbk yang saat ini berencana mengembangkan penyaluran kredit secara langsung melalui aplikasi yang dimiliki.
Sebagaimana diketahui, selama ini Bank Jago hanya mengandalkan penyaluran kredit melalui channeling dengan terbesar melalui ekosistemnya, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (Goto).
Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, seperti ekosistem dan perusahaan lainnya, Bank Jago menyalurkan kredit sebesar Rp 15,7 triliun per akhir semester I-2024. Angka tersebut tumbuh dibanding periode yang sama tahun lalu.
Direktur Kepatuhan & Corporate Secretary Bank Jago Tjit Siat Fun bilang sejatinya kolaborasi dengan ekosistem merupakan cara yang efektif bagi bank digital untuk memberikan pembiayaan kepada nasabah lebih luas.
Namun demikian, ia menyadari bahwa kebutuhan nasabah akan pembiayaan masih besar dan masih terdapat segmen yang belum terlayani melalui kolaborasi.
“Melihat kondisi tersebut, kami mengembangkan pembiayaan langsung berbasis aplikasi,” ujarnya.
Ia melihat penyaluran kredit secara langsung maupun chaneling memiliki risiko masing-masing. Namun dalam menyalurkan kredit, Afun menegaskan pihaknya selalu mengukur risiko-risiko secara berkala dengan mempelajari perkembangan data, perilaku, dan tren.
”Sehingga bisa mengantisipasi potensi kualitas kredit yang memburuk,” tambahnya.
Sebagai informasi, keberadaan ekosistem yang dimiliki juga sejatinya mendukung Bank Jago dari sisi funding. 66% jumlah nasabah funding Bank Jago berasal dari mitra ekosistem Goto dan platform reksadana Bibit.
Sedikit berbeda, Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Indra Utoyo mengungkapkan bahwa strategi utama Allo Bank dalam meningkatkan fungsi intermediasi masih dilakukan melalui pembiayaan langsung ke nasabah melalui mobile banking application Allo Bank.
“Dengan skema direct lending, Bank dapat memberikan bunga yang kompetitif langsung ke nasabah dan mempertahankan margin yang atraktif dibandingkan dengan skema channeling melalui fintech,” ujar Indra.
Di sisi lain, ia menilai bahwa credit risk exposure melalui skema penyaluran kredit secara langsung dapat lebih dikelola dengan baik daripada mengandalkan credit underwriting standard milik fintech rekanan.
Alasannya, Allo Bank dapat memastikan tidak hanya proses akuisisi dan marketing, tetapi juga proses credit underwriting untuk menjaga kualitas kredit berjalan sesuai dengan ketentuan internal dan risk appetite bank.
Sebagai informasi, penyaluran kredit Allo Bank per Juni 2024 mencapai Rp 8,02 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, penyaluran kreditnya hanya senilai Rp 7,43 triliun.
Sementara itu, Direktur Astra Financial Suparno Djasmin mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya terus mengembangkan produk bank digitalnya, Bank Saqu yang dimiliki PT Bank Jasa Jakarta. Menurutnya, keberadaan Bank Saqu turut didukung dengan ekosistem Astra.
Hingga Juni 2024, pengguna Bank Saqu mencapai 1,1 juta pengguna. Adapun, target Bank Saqu hingga tahun ini bisa menambah pengguna baru hingga mencapai 1,8 juta.
”Kalau produk direct lending kita akan segera luncurkan dalam waktu dekat,” ujarnya.
Intip Rekomendasi Saham Bank Digital Usai Rilis Kinerja Semester I-2024
para analis memberikan rekomendasi saham untuk saham bank digital [771] url asal
#bank-digital #rekomendasi-saham #pasar-bank-digital #industri-bank-digital #saham-bank-digital #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 29/07/24 06:22
v/12490980/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah bank digital cetak kinerja moncer di semester I-2024. Hingga saat ini, setidaknya ada tiga bank digital yang sudah rilis kinerja yakni PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR), PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO).
Dari ketiga bank digital tersebut, Bank Raya cetak pertumbuhan laba bersih tertinggi, yakni mencapai 115,90% secara tahunan. Di mana, laba bersih Bank Raya capai Rp 20,02 miliar di semester I-2024.
Bank Jago menyusul dengan pertumbuhan laba bersih 23,32% YoY menjadi Rp 49,97 miliar pada semester I-2024. Sementara, laba bersih Bank Amar tumbuh 15% YoY menjadi Rp 97,79 miliar di periode Januari-Juni 2024.
Perlu diketahui bank digital dikenal paling getol memberikan bunga simpanan tinggi. Tentunya, untuk membalikkan biaya dana dan mencatatkan pendapatan bunga, bank digital juga harus memberikan bunga kredit yang tinggi pula.
Hal ini dapat terlihat dari pendapatan bunga bersih bank digital yang tumbuh dua digit sampai semester -2024. Tertinggi ada Bank Amar dengan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 34,55% yoy mencapai Rp 540,57 miliar.
Sejalan dengan itu penyaluran kredit Bank Amar juga tumbuh 25,27% YoY mencapai Rp 2,8 triliun di periode yang sama. SVP Finance Bank Amar Dabid Wirawan mengatakan, tahun ini pihaknya akan fokus pada bisnis ritel dan segmen UMKM.
“Kami mempertahankan fokus bisnis kami pada ritel dan mengembangkan segmen UMKM, dan juga embedde banking bersama partner strategis,” ungkap David.
Sementara itu, Bank Raya mencatat pertumbuhan NII sebesar 17,51% YoY menjadi Rp 274,77 miliar. Penyaluran kredit Bank Raya sebesar Rp 6,78 triliun atau tumbuh 12,15% YoY.
Baik Bank Amar dan Bank Raya, sama-sama memiliki fokus bisnis di segmen UMKM.
Meski begitu, secara nilai jumlah, NII Bank Jago masih yang terbesar, yakni mencapai Rp 709,07 miliar, atau tumbuh 14,94% YoY pada semester I-2024.
Pertumbuhan kredit Bank Jago juga yang tertinggi, yakni naik 40,16% YoY menjadi Rp 15,67 triliun di semester I-2024. Hal ini mengingat Bank Jago memiliki ekosistem yang kuat.
“Sebagai bank yang menggabungkan cara-cara digital dengan strategi bisnis dan fundamental yang kuat, Bank Jago menjaga pertumbuhan bisnis yang positif dengan tetap mempertahankan kualitas yang baik. Ini semakin memperkuat keyakinan kami bahwa inovasi dan kolaborasi dengan ekosistem digital merupakan model bisnis yang tepat untuk Bank Jago,” ujar Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung.
Di sisi lain, rasio margin bunga bersih Bank Jago tercatat menurun, dari 10,46% menjadi 7,32% per Juni 2024. Tak lain karena beban bunga yang meningkat.
Sementara Bank Raya dan Bank Amar malah mencatatkan kenaikan NIM, masing-masing ke level 4,31% dan 22,90% per Juni 2024.
Di sisi pencadangan, hanya Bank Jago yang mencatatkan penurunan nilai pencadangan pada semester I-2024, yakni menyusut 48,80% yoy menjadi Rp 167,16 miliar. Sedangkan, Bank Amar dan Bank Raya yang menaikkan pencadangannya, masing-masing sebesar 15,83% dan 60%.
Maklum kredit ke sektor UMKM memang dikenal memiliki risiko yang tinggi. Tak ayal kedua bank tersebut menaikkan pencadangannya.
Ini juga yang membuat rasio NPL Bank Amar dan Bank Raya tinggi, dengan masing-masing naik ke level 8% dan 4,14% per Juni 2024. Dibandingkan Bank Jago yang rasio NPL hanya 0,38%.
Melihat dari kinerja ketiga bank digital tersebut, sejumlah analis saham menilai prospek menarik untuk koleksi saham bank digital.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta mengatakan, meski tidak terlalu likuid jika dibandingkan Bank KBMI 4, namun bank digital masih punya peluang untuk terus bertumbuh dan meningkatkan kinerjanya.
“Non KBMI 4 seperti bank digital lebih menitikberatkan pada prospek kebijakan pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia pada awal kuartal IV 2024, sehingga ini akan memperkuat likuiditas perbankan nasional, termasuk bank digital berupaya menunjukkan performa likuiditasnya,” ungkap Nafan kepada Kontan.
Lebih lanjut Nafan memberikan rekomendasi untuk hold saham ARTO dengan target harga Rp 2.800 dan AGRO dengan target harga Rp 280.
Sementara itu Associate Director of Research and InvestmentPilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, dukungan dari ekosistem bank digital akan memengaruhi kinerjanya.
Jika ekosistem kuat dan terus berkolaborasi hingga dapat memberikan multiplier effect, hal ini akan menjadi dorongan positif bagi perusahaan tersebut.
"Karena kuncinya adalah membangun ekosistem yang mampu memberikan nilai manfaat bagi industri yang ada saat ini. Untuk menjadi perhatian, kami cenderung masih menyukai ARTO," ungkap Nico.
Tak Mau Kalah Bersaing, Beberapa Bank Digital Pertimbangkan Kenaikan Bunga Simpanan
Persaingan bunga simpanan tinggi kembali memanas di industri bank digital. [430] url asal
#bank-digital #industri-bank-digital #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-perbankan
(Kontan-Keuangan) 24/07/24 20:00
v/11959444/
Reporter: Adrianus Octaviano, Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan bunga simpanan tinggi kembali memanas di industri bank digital. Langkah satu bank menaikkan bunga simpanan seringkali diikuti oleh bank-bank digital lainnya.
Kondisi ini diperparah dengan ketatnya likuiditas di sektor perbankan, terlihat dari peningkatan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 84,8%.
Super Bank Indonesia: Pemain Baru yang Agresif
PT Super Bank Indonesia, bank digital milik grup EMTEK, menjadi yang paling agresif menawarkan bunga simpanan tinggi.
Bank ini, yang baru mulai beroperasi tahun ini, berusaha menjaring banyak nasabah baru dengan menawarkan produk deposito dengan bunga 7,5% per tahun dan setoran minimal Rp 500.000.
Selain itu, produk Celengan by Superbank menawarkan bunga tertinggi hingga 10% per tahun.
"Kami optimis dapat mendukung pengelolaan finansial nasabah secara aman dan mudah serta membantu mereka menikmati keuntungan simpanan mereka secara optimal," ujar Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan.
Allo Bank: Menyesuaikan dengan Kondisi Pasar
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), bank milik CT Corp, sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan suku bunga deposito.
Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, menyebutkan bahwa saat ini bunga simpanan tertinggi yang ditawarkan Allo Bank adalah sekitar 6% untuk deposito dan 6,5% untuk simpanan AlloGrow.
"Kami akan mengumumkan lebih lanjut dalam waktu dekat," ujar Indra.
Menurutnya, penyesuaian tingkat suku bunga produk pendanaan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan makroekonomi, terutama ketidakpastian global yang tinggi dan kecil kemungkinan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turun tahun ini.
Bank Neo Commerce: Strategi Bunga Tinggi
Direktur Bisnis PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), Aditya Windarwo, menyatakan bahwa penawaran bunga tinggi sudah menjadi strategi bank digital untuk menarik masyarakat menyimpan dana di bank digital.
BBYB menawarkan berbagai produk deposito seperti Deposito WoW dan Deposito Flexi dengan bunga mulai dari 5,50% hingga 8% per tahun.
"Bunga 8% itu menjadi strategi gimmick menarik nasabah untuk menyimpan dananya," ujarnya.
Saat ini, BBYB lebih fokus menawarkan bunga tinggi kepada nasabah korporasi dengan kewajiban untuk mengunci simpanannya dalam jangka panjang.
Bank Raya: Fokus pada Likuiditas dan Dana Pihak Ketiga
Direktur Keuangan PT Bank Raya Indonesia Tbk, Rustarti Suri Pertiwi, menyadari pentingnya memperhatikan kondisi persaingan di pasar dalam menentukan strategi suku bunga simpanan.
Meski demikian, Bank Raya juga menekankan pentingnya kondisi likuiditas yang memadai.
Hingga Mei 2024, LDR Bank Raya tercatat sebesar 83,14% dan diperkirakan tetap terjaga di kisaran tersebut hingga Juni 2024.
"Strategi Bank Raya ke depan akan terus mengoptimalkan pengumpulan dana pihak ketiga dari komunitas-komunitas yang selama ini sudah dibangun," tegas Pertiwi.
Saat ini, bunga deposito tertinggi di Bank Raya ada di kisaran 6%.
Pemilik Bank Digital Ramai Suntik Dana, Intip Kondisi Permodalannya!
Seperti apa kondisi permodalan bank digital setelah menerima suntikan dana dari pemegang sahamnya untuk memperkuat modal? [709] url asal
#bank-digital #modal-bank-digital #bnc #superbank #industri-bank-digital #permodalan-bank-digital #pemilik-bank-digital
(Bisnis.Com - Finansial) 12/07/24 15:04
v/10533820/
Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah bank digital seperti Superbank dan PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC telah menerima suntikan dana dari pemegang sahamnya untuk memperkuat modal pada tahun ini. Adapun, seperti apa kondisi permodalan bank digital itu sejauh ini?
Bank digital milik PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), yakni Superbank misalnya mendapat tambahan investasi sebesar Rp1,2 triliun dari pemegang sahamnya, yaitu Grab, Singtel, dan KakaoBank.
"Kami dapat injeksi total Rp1,2 triliun karena pemegang saham kami mau kasih kepercayaan lebih," kata Direktur Keuangan Superbank Melisa Hendrawati dalam media visit pada Kamis (11/7/2024) di Wisma Bisnis Indonesia.
Penambahan modal dari pemegang saham juga dilakukan seiring dengan langkah Superbank yang sedang banyak berinvestasi meliputi infrastruktur, SDM, hingga sistem. Tujuannya, agar bisa memberikan layanan produk keuangan yang mudah, cepat, aman dan terpercaya bagi nasabah.
Selain itu, emiten bank digital BBYB menambah tebal kantong modalnya melalui aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) VII atau right issue sebanyak 1,31 miliar lembar.
Adapun, harga pelaksanaan right issue kali ini sebesar Rp300 per saham, sehingga seluruhnya berjumlah sebanyak Rp393,5 miliar. Right issue akan digelar pada 16 Juli 2024 – 22 Juli 2024.
"Kami merasa aksi korporasi right issue ini akan berdampak strategis untuk perseroan dalam mendukung peningkatan kinerja yang lebih optimal," kata Direktur Bisnis BNC Aditya Windarwo.
Pemegang saham BBYB, yakni PT Akulaku Silvrr Indonesia akan melaksanakan seluruh haknya dan membeli seluruh sisa saham baru yang tidak diambil bagian oleh pemegang saham lain secara tunai diatas harga pasar saat ini.
Selain itu, PT Bank Jasa Jakarta (BJJ) atau Bank Saqu juga mendapatkan suntikan modal dari pemegang sahamnya PT Astra International Tbk. (ASII) melalui PT Sedaya Multi Investama (SMI) atau Astra Financial sebesar Rp444,81 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, ASII memberitahukan adanya transaksi afiliasi antara anak usahanya yakni SMI dengan BJJ pada 27 Juni 2024. Obyek transaksi adalah sebagian saham baru BJJ sebanyak 130.586 lembar dengan nilai per saham sebesar Rp3.406.31, yang diambil bagian oleh SMI.
Manajemen ASII menjelaskan transaksi afiliasi itu dilakukan dengan tujuan untuk memberikan dukungan pendanaan kepada BJJ, yang akan digunakan oleh BJJ untuk keperluan umum korporasi. "Bagi SMI, pelaksanaan transaksi dapat memberikan manfaat finansial berupa dividen sebagai imbal hasil investasi di BJJ," tulis ASII di keterbukaan informasi pada pekan lalu (1/7/2024).
Kondisi Permodalan Bank Digital
Seiring dengan suntikan modal para pemegang sahamnya, bank digital telah membukukan kondisi permodalan yang kuat meskipun memiliki modal inti kecil. Rata-rata bank digital memang masuk ke dalam kategori bank dengan modal inti (KBMI) I dan II.
Salah satu bank digital, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) misalnya mencatatkan modal inti Rp6,7 triliun pada Maret 2024, atau masuk ke dalam kategori KBMI II.
PT Allo Bank Tbk. (BBHI) memiliki modal inti Rp6,79 triliun pada Maret 2024 dan masuk ke dalam kategori KBMI II.
Bank digital besutan Astra, Bank Saqu memiliki modal inti Rp6,54 triliun dan masuk KBMI II. Sementara, Superbank masuk ke dalam KBMI I dengan modal inti Rp4,95 triliun. Lalu, BNC memiliki modal inti Rp3,41 triliun dan masuk ke dalam KBMI I.
Namun, bank digital rata-rata memiliki rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang tebal. Superbank misalnya mencatatkan CAR mencapai 178,4% per Maret 2024, jauh di atas rata-rata industri yang mencapai 25%.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan permodalan bank sangat kuat sehingga mampu menopang likuiditas. “Dari loan [kredit] ini dibiayai oleh capital semuanya. Jadi, deposit tidak membiayai loan-nya," ujarnya.
Superbank memang memiliki loan to deposit ratio (LDR) yang berada di level 515,13% per Maret 2024. Namun, likuiditas bank tetap terkendali karena modal yang kuat.
Sama seperti Superbank, Bank Jago pun memiliki permodalan kuat dengan CAR di level 55,02% per Maret 2024. Alhasil, likuiditas yang ketat dilihat dari LDR Bank Jago berada di level 108,5% tetap bisa dikendalikan.
Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung mengatakan posisi likuiditas Bank Jago saat ini masih aman. "Hal ini tidak lepas dari tingginya permodalan kami," katanya dalam public expose pada beberapa waktu lalu.
Bank digital lainnya seperti Allo Bank pun memiliki permodalan kuat dengan CAR di level 88,24% per Maret 2024. Lalu, BBYB memiliki CAR 31,95% per Maret 2024. Bahkan, Bank Saqu memiliki CAR di level 143,3% per Maret 2024.
Persaingan Makin Ketat, Bank Digital Ramai-ramai Gelar Aksi Korporasi Tahun Ini
Sejumlah bank digital ramai-ramai lakukan aksi korporasi di tahun ini dengan berencana untuk melakukan penambahan modal. [1,120] url asal
#bank-digital #industri-bank-digital #saham-bank-digital #bank-digital-superbank #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Uang) 09/07/24 19:33
v/10217026/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Di tengah ketatnya persaingan, sejumlah bank digital ramai-ramai lakukan aksi korporasi di tahun ini dengan berencana untuk melakukan penambahan modal.
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) misalnya yang belum lama ini melanjutkan aksi korporasi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. BNC telah resmi mendapatkan Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Jumat, 28 Juni 2024.
BNC dengan ini melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) kepada para pemegang saham dengan skema PMHMETD VII sebanyak Rp 1,31 miliar saham baru atas nama dengan nilai nominal Rp 100 setiap saham. Jumlah tersebut setara dengan 9,82% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Harga pelaksanaan adalah sebesar Rp 300 per saham.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama, PT Bank Neo Commerce Tbk Aditya Windarwo, mengatakan, jumlah dana yang akan diterima perseroan melalui rights issue ini mencapai Rp 393,5 miliar.
Dana dari rights issue akan dialokasikan untuk memperkuat struktur permodalan dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Melalui permodalan yang lebih kokoh, BNC bermaksud untuk meningkatkan penyaluran pinjaman dan mengembangkan inovasi untuk menjawab tantangan pasar.
Dalam PUT ini, setiap pemegang saham yang memiliki 700 juta lembar saham lama yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) pada 10 Juli 2024 pukul 16:00 WIB mempunyai 76,26 juta HMETD dimana setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru.
Pemegang Saham Pengendali Perseroan, PT Akulaku Silvrr Indonesia memberikan komitmen sebagai Pembeli Siaga, yang akan membeli seluruh sisa saham baru yang tidak diambil bagian oleh pemegang saham lainnya.
"Kami merasa aksi korporasi rights issue ini akan berdampak strategis untuk perseroan dalam mendukung peningkatan kinerja yang lebih optimal. Pada rights issue ini, PT Akulaku Silvrr Indonesia selaku Pemegang Saham Pengendali Perseroan memberikan komitmen menjadi standby buyer. Artinya, PT Akulaku Silvrr Indonesia akan melaksanakan seluruh haknya dan membeli seluruh sisa saham baru yang tidak diambil bagian oleh pemegang saham lain secara tunai di atas harga pasar saat ini," jelas Aditya dalam siaran pers, belum lama ini.
Tentunya kata Aditya hal ini menunjukkan komitmen PT Akulaku Silvrr Indonesia untuk mendukung Bank Neo Commerce khususnya dalam meningkatkan pelayanannya kepada seluruh nasabah dan mewujudkan cita-cita inklusi keuangan di tanah air.
Selanjutnya ada Superbank yang mendapatkan suntikan modal untuk investasi sebesar Rp 1,2 triliun dari pemegang sahamnya, yaitu Grab, Singtel, dan KakaoBank.
Tambahan investasi yang disetorkan oleh ketiga pemegang saham ini akan mendukung Superbank dalam meningkatkan layanan dan inovasi produk untuk memenuhi kebutuhan finansial dan gaya hidup nasabah yang beragam.
Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur Superbank mengatakan, investasi ini menegaskan keyakinan dan dukungan pemegang saham terhadap visi dan potensi pertumbuhan Superbank, yang baru saja menjadi bank pertama di Indonesia yang memberikan akses kepada jutaan pengguna dan mitra Grab untuk membuka rekening, menabung, dan menggunakan rekening sebagai metode pembayaran langsung di aplikasi Grab tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.
"Kami sangat mengapresiasi kepercayaan para pemegang saham dalam mendukung upaya kami untuk terus membuat produk dan layanan perbankan digital yang inovatif dan relevan. Tambahan investasi ini akan memperkuat kami dalam memperluas layanan finansial inklusif dan pembiayaan yang mudah diakses oleh lebih banyak nasabah ritel dan UMKM underbanked di Indonesia," kata Tigor.
Didukung oleh ekosistem yang terdiri dari para pemain industri utama seperti Emtek Group, Grab, Singtel, dan KakaoBank, tambahan investasi ini akan secara signifikan memperkuat kapabilitas dan daya saing Superbank di pasar Indonesia.
Belum lama ini, PT Bank Jasa Jakarta (BJJ) atau Bank Saqu juga mendapatkan suntikan modal dari pemegang sahamnya PT Astra International Tbk. (ASII) melalui PT Sedaya Multi Investama (SMI) atau Astra Financial senilai Rp 444,81 miliar.
ASII mengumumkan transaksi afiliasi antara anak usahanya, yakni SMI dengan BJJ, pada 27 Juni 2024. Obyek transaksi adalah sebagian saham baru BJJ sebanyak 130.586 lembar dengan nilai per saham sebesar Rp3.406.31, yang diambil bagian oleh SMI.
Manajemen ASII menerangkan, transaksi afiliasi itu dilakukan dengan tujuan untuk memberikan dukungan pendanaan kepada BJJ, yang akan digunakan untuk keperluan umum korporasi.
"Bagi SMI, pelaksanaan transaksi dapat memberikan manfaat finansial berupa dividen sebagai imbal hasil investasi di BJJ," tulis ASII di keterbukaan informasi.
Berbeda dengan Krom Bank, dalam menghadap persaingan dengan bank digital lainnya, Krom Bank tidak hanya menawarkan suku bunga deposito yang tinggi, tetapi juga fokus menghadirkan fleksibilitas fitur dan layanan. Hal ini akan membuat nasabah lebih nyaman bertransaksi dan mengelola keuangan di bank digital serta lebih loyal terhadap layanan perusahaan.
Anton Hermawan, Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk menyebutkan bahwa bank digital perlu merancang layanan yang memiliki nilai tambah selain penyediaan bunga deposito yang tinggi, sehingga mampu bersaing di industri.
"Meskipun pertumbuhan industri bank digital masih berada pada tahap awal, namun Krom Bank melihat bahwa bank digital perlu memiliki unique value proposition untuk lebih menarik target market dan unggul di pasar," katanya.
Sementara itu, PT Bank Jago Tbk (ARTO) mengaku sampai saat ini belum berencana untuk menambah modal mengingat kondisi likuiditas masih cukup baik dan kecukupan modal masih sangat besar dengan capital adequacy ratio (CAR) mencapai 55% per kuartal I-2024.
Direktur Kepatuhan & Corporate Secretary Bank Jago Tjit Siat Fun mengatakan, Bank Jago akan terus fokus dalam mengembangkan Aplikasi Jago (Jago App) dan fitur-fiturnya dan tertanam di dalam ekosistem digital Indonesia.
"Dengan aspirasi untuk meningkatkan kesempatan tumbuh berjuta orang melalui solusi keuangan digital yang berfokus pada kehidupan, Bank Jago mengembangkan Aplikasi Jago (Jago App) yang dirancang untuk dapat tertanam di berbagai ekosistem digital, serta dapat disesuaikan (customized) dan dipersonalisasi (personalized) sesuai dengan kebutuhan masing-masing nasabah," jelasnya.
Ke depan, dalam menghadapi persaingan dengan bank digial lain, Bank Jago akan terus memperdalam kolaborasi dengan ekosistem digital yang sudah ada, seperti ekosistem GoTo, Bibit dan Stockbit, dan BFI Finance, serta memperluas kolaborasi dengan ekosistem yang baru untuk terus memberikan produk dan layanan keuangan kepada nasabah.
"Kami tentu juga berkomitmen meningkatkan kinerja dan memperkuat kondisi fundamental bank untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas," imbuhnya.
Di sisi lain, Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menilai, prospek kinerja bank digital ke depan masih berat karena super Apps milik big banks seperti BBCA, BMRI, BBNI dan BBRI juga menawarkan fitur yang serupa dengan segala kelebihannya, sehingga bank digital disebut Yaki masih harus banyak mengeluarkan promo-promo untuk menggaet DPK.
"Ke depan masih akan berat potensinya selain karena masih harus banyak berikan promo-promo untuk menggaet DPK dan menyalurkan kredit dalam bentuk paylater/kartu kredit dan lainnya yang membuat margin bank digital tertekan, kejadian serangan siber juga masih menjadi perhatian masyarakat. Jadi masih harus di waspadai kinerjanya," tuturnya.
Walau demikian, Yaki menyebut saham ARTO, AGRO dan BBYB paling menarik dengan dukungan induk usahanya. Oleh karena itu, Yaki merekomendasikan saham ARTOtrading buy target Rp 2.670, AGROtradingbuy target Rp 268 - Rp 270, dan BBYBtrading buy target Rp 280 - Rp 290.