#30 tag 24jam
Manufaktur Jateng: Secercah Asa dari Sektor Anyar
Masuknya industri elektronik, komponen baterai, hingga panel surya diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru. [899] url asal
#industri-elektronik #komponen-baterai #panel-surya #lapangan-kerja-baru #secerca-asa #sektor-anyar #fokus-nusantara
(Bisnis.Com) 12/10/24 11:56
v/16351707/
Bisnis.com, SEMARANG - Realisasi investasi di Jawa Tengah mulai nampak memberikan pengaruh besar pada keberagaman sektor industri pengolahan di wilayah tersebut.
Hingga paruh kedua tahun 2024, Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) serta Kawasan Industri Kendal (KIK) menjadi primadona masuknya investor di sektor baru manufaktur. Pada awal Oktober, Orbia Building & Infrastructure atau Wavin telah merampungkan proyek investasi senilai Rp825 miliar di KITB.
Di kawasan industri berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) itu, Wavin mendirikan pabrik pipa air berteknologi tinggi dengan pasar Asia Pasifik. Tak berselang lama, masih di KITB, PT Samator Indo Gas TBK. (AGII) juga telah mengoperasikan fasilitas Air Separation Plant (ASP) untuk memenuhi kebutuhan gas industri di dalam kawasan serta kebutuhan gas kesehatan di Jawa Tengah.
Di KIK, PT Hiron Indonesia Industry, perusahaan elektronik yang memproduksi lemari pendingin komersial, juga telah meresmikan fasilitas produksi yang nilai investasinya mencapai Rp820 miliar. KIK juga menjadi rumah dari pabrik katoda Lithium Iron Phospate (LFP) milik PT LBM Energi Baru Indonesia. Pabrik itu menanamkan investasi sebesar US$350 juta atau setara Rp5,4 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam kunjungannya ke KIK menyebut kehadiran pabrikan komponen baterai tersebut bakal memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia. Tak hanya itu, kehadiran PT LBM Energi Baru Indonesia juga menjadi bukti respon positif investor mancanegara akan potensi Indonesia.
"Banyak sekali yang sedang berjalan, yang orang senang melihat Indonesia karena kredibilitas negeri ini lebih baik," ucap Luhut pada Selasa (8/10/2024) pekan lalu.
Kehadiran industri-industri baru itu tentunya membawa harapan tersendiri buat Jawa Tengah. Terlebih di tengah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang masih terjadi hingga hari ini.
Data Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa hingga September 2024, tercatat 14.767 orang pekerja asal Jawa Tengah telah kehilangan pekerjaan. Jumlah tersebut jadi yang terbesar di Indonesia, dimana secara kumulatif jumlah pekerja yang mengalami PHK telah mencapai 52.993 orang.
Fenomena gelombang PHK di Jawa Tengah umumnya dirasakan oleh sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Bahkan, menurut Aulia Hakim, Sekretaris Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Provinsi Jawa Tengah, gelombang PHK mulai meluas ke sektor industri lainnya.
"Ini sudah merembet sampai ke sektor otomotif. Di bagian sub-kontraktor seperti kabel. Cuma kalau di Jawa Tengah, PHK masih di tekstil, garmen, alas kaki, beberapa farmasi dan mebel. Data di kami paling besar di garmen," ungkapnya kepada Bisnis.
Ada beberapa faktor yang disinyalir menjadi penyebab. Mulai turunnya permintaan baik di pasar global maupun lokal. Hingga faktor bahan baku yang dirasa langka dan terlalu mahal. Tentunya dua faktor tersebut hanyalah gambaran singkat dan cenderung menyederhanakan permasalahan yang ada.
Sebagaimana yang disampaikan Ekonom Universitas Diponegoro, Wahyu Widodo. "Maraknya perusahaan yang kolaps sehingga berkonsekuensi ke PHK bukan sekedar argumentasi karena demand turun, ada banyak faktor," ucapnya. Dari sekian banyak faktor yang saling berkaitan itu, Wahyu menjelaskan bahwa faktor mendasar yang menyebabkan ambruknya industri TPT di Jawa Tengah adalah masalah daya saing.
"Yang kolaps itu kalau dipetakan satu per satu, itu memang daya saingnya rendah. Sehingga, ketika ada kompetisi, apalagi saat permintaannya menurun, mereka akan terdampak lebih dulu," tambahnya.
Sektor Baru Tak Bebas RisikoKehadiran industri baru di Jawa Tengah tak berarti menyelesaikan masalah fundamental tersebut.
Wahyu menjelaskan bahwa Jawa Tengah yang selama ini mengandalkan sektor TPT sebagai pendorong utama lapangan usaha manufaktur mestinya telah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari sebelum melakukan transisi atau perluasan sektor industri.
Dia khawatir, tanpa persiapan yang cukup, alih-alih menciptakan lapangan kerja baru, kehadiran sektor industri baru itu justru menambah masalah bagi Jawa Tengah.
"Ingat, tenaga kerja itu market mechanism yang membebaskan siapapun yang memiliki kualifikasi untuk masuk ke dalam bursa tenaga kerja. Kalau Batang dan Kendal tidak bisa memberikan suplai yang dibutuhkan untuk match dengan industri, pengangguran bisa tidak menurun karena ternyata pekerjanya berasal dari luar daerah yang memang skill-nya match dengan yang dibutuhkan," jelas Wahyu.
Tantangan lain yang mesti diantisipasi adalah daya saing dari perusahaan-perusahaan baru tersebut. Hal tersebut juga diamini oleh Luhut.
Dalam konteks industri baterai kendaraan listrik, Luhut menyebut bahwa Indonesia telah memiliki daya tarik di mata investor lantaran menawarkan biaya investasi yang rendah dan aksesibilitas dengan material bahan baku. Wahyu melanjutkan bahwa upaya untuk meningkatkan daya saing perusahaan di Jawa Tengah mesti dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai opsi.
"Harus dikembalikan ke akar masalahnya. Apakah [perusahaan-perusahaan tersebut] akan merger dengan yang lain, atau membuat semacam holding, atau kah memperbaiki mesin. Itu harus dilihat semua," ucapnya.
Lebih lanjut, KITB serta KIK sebagai destinasi investasi unggulan Jawa Tengah juga perlu dipoles dengan hati-hati. Wahyu memperingatkan bahwa kedua kawasan industri tersebut mesti bisa berjalan beriringan.
"Jangan sampai ada prodding out, maksudnya jalan bareng tetapi yang satu mematikan yang lain. Jangan sampai seperti itu," tegasnya.
Wahyu memberikan contoh lewat pengembangan fasilitas pelabuhan di dua kawasan industri tersebut. Sejak awal diperkenalkan, KIK belum memiliki aksesibilitas pelabuhan secara langsung. Proyek pembangunan memang telah disiapkan, namun di saat yang sama, fasilitas serupa mulai dikebut pembangunannya di KITB.
"Kalau Kendal tidak [diselesaikan] dan Batang jadi prioritas, ini kemudian menjadi problem. Berarti yang di Kendal akan 'dikorbankan' sehingga margin transportasi dan lain-lainnya akan berbeda dengan Batang," lanjutnya.
Ketimbang berharap banyak pada sektor industri baru, Wahyu menyampaikan bahwa akan lebih bijak jika Pemerintah Provinsi Jawa Tengah fokus untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih berkelanjutan. Terlebih dengan visi Jawa Tengah sebagai penopang pangan dan manufaktur Nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045.
"Dari sisi industri itu masih jadi tantangan yang berat tanpa langkah strategis untuk membangun ekosistem," ucap Wahyu.
Industri Elektronik Dalam Negeri Revisi Target Pertumbuhan Tahun 2024, Ini Sebabnya
Industri elektronik dalam negeri terpaksa merevisi target pertumbuhan hingga akhir 2024. [429] url asal
#industri-elektronik #gabel #daniel-suhardiman #andry-adi-utomo #tekno-wibowo #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Industri) 01/10/24 18:06
v/15818758/
Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah derasnya arus produk elektronik impor, industri elektronik dalam negeri terpaksa merevisi target pertumbuhan hingga akhir 2024.
Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan industri mencapai 5%-10%, kini memprediksi stagnansi, terutama akibat persaingan ketat dengan produk impor.
Sekretaris Jenderal Gabel, Daniel Suhardiman, menyatakan bahwa industri elektronik tidak akan tumbuh pada tahun ini dibandingkan dengan kinerja tahun 2023.
"Sepertinya tahun ini industri tidak tumbuh dibandingkan tahun 2023," ungkap Daniel saat dihubungi oleh Kontan, Senin (01/10).
Penurunan Pasar Elektronik Kuartal III
Berdasarkan catatan Gabel, industri elektronik sempat menunjukkan pertumbuhan pada kuartal I-2024 dan kuartal II-2024.
Namun, pasar mengalami penurunan tajam sepanjang kuartal III-2024, dengan penurunan permintaan pasar elektronik sebesar 15% hingga 20%.
Salah satu faktor utama adalah meningkatnya volume produk impor yang berdampak pada berkurangnya lapangan kerja manufaktur dalam negeri.
Selain itu, Daniel menyebutkan bahwa tingkat utilitas pabrik elektronik dalam negeri saat ini berada pada angka 50%, sejalan dengan laporan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
"Ini karena persaingan harga dengan produk-produk impor, khususnya dari Tiongkok," jelasnya.
Dampak Serupa pada Produsen Elektronik Besar
Revisi target juga dilakukan oleh PT Sharp Electronics Indonesia (SEID). National Sales Senior General Manager, Andry Adi Utomo, menjelaskan bahwa perusahaan memperkirakan penurunan pertumbuhan hingga minus 7% pada tahun ini.
"Melihat permintaan pasar yang sedang lesu, kami melakukan koreksi penjualan terhadap produk-produk yang terdampak, dengan koreksi pertumbuhan minus 5% sampai 7%," ungkap Andry.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa penurunan permintaan juga berdampak signifikan pada utilitas pabrik Sharp, terutama di segmen LED TV yang mengalami penurunan utilitas lebih dari 25%, sementara segmen mesin cuci turun sekitar 10%.
Pandangan dari Polytron dan Optimisme Kuartal Terakhir
Direktur Komersial PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), Tekno Wibowo, juga mengonfirmasi penurunan pasar yang mulai terjadi pada Agustus 2024.
Menurutnya, daya beli konsumen yang melemah dan maraknya produk impor dengan harga murah telah mengganggu permintaan pasar elektronik lokal.
"Di pasar banyak merek yang tidak jelas dan mendistorsi permintaan pasar dengan penawaran harga murah," ujarnya.
Meskipun pasar sedang lesu, kapasitas produksi pabrik Polytron masih beroperasi pada tingkat 70%.
Tekno menyebutkan bahwa mereka tidak dapat langsung memotong produksi, yang dapat menyebabkan peningkatan inventori jika pasar tetap melemah.
Namun, Tekno masih optimis bahwa pasar dapat membaik pada kuartal terakhir 2024.
"Kami masih cukup optimis quarter terakhir bisa membaik dan tumbuh single digit dibandingkan tahun lalu," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menertibkan importasi barang elektronik, terutama yang masuk secara ilegal dan tidak sesuai dengan ketentuan.
"Diperlukan upaya lebih dari pemerintah untuk membenahi dan menertibkan importasi barang jadi yang masuk dengan cara ilegal," tutupnya.
Sanwa Musen Resmikan Pabrik Baru di Subang Smartpolitan Senilai Rp 160 Miliar
Sanwa Musen investasi sebesar US$ 10 juta atau Rp 160 miliar telah digunakan untuk membangun pabrik seluas dua hektare [631] url asal
#investasi #pabrik-baru #subang-smartpolitan #pasar-domestik #industri-elektronik #teknologi-produksi #produksi-massal #sanwa-musen #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Industri) 18/09/24 18:58
v/15190047/
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sanwa Musen Indonesia, anak perusahaan dari Sanwa Musen Co., Ltd. Jepang, gelar peresmian pabrik barunya yang berlokasi di Subang Smartpolitan pada Rabu, 18 September 2024.
Peresmian yang dilakukan oleh tenant pertama di Subang Smartpolitan ini menandai dimulainya babak baru bagi kawasan dalam mewujudkan konsep "Green, Smart, and Sustainable City".
Langkah ini juga dapat memperkuat posisi Subang sebagai koridor ekonomi baru yang strategis di Jawa Barat, Indonesia.
Sejak memulai produksi komponen elektronik seperti transformers, line filters, dan choke coils pada tahun 1996, Sanwa Musen Indonesia telah konsisten menghadirkan solusi-solusi teknologi terkini bagi industri elektronik.
Kini, dengan selesainya pembangunan pabrik baru di Subang Smartpolitan, perusahaan siap menjawab tantangan masa depan. Fasilitas produksi modern ini memungkinkan perusahaan untuk terus menghadirkan produk-produk berkualitas tinggi yang memenuhi kebutuhan pasar yang dinamis.
Investasi sebesar US$ 10 juta atau Rp 160 miliar telah digunakan untuk membangun pabrik seluas dua hektare yang dilengkapi dengan teknologi produksi mutakhir.
Dirancang untuk memproduksi 3.000.000 - 3.500.000 unit produk per bulan, pabrik ini akan memenuhi permintaan pasar domestik dan luar negeri, khususnya untuk Panasonic group.
Diproyeksikan, Sanwa Musen Indonesia siap memulai produksi massal pada Desember 2024 atau Januari 2025 dengan kapasitas produksi awal sebesar 50%.
Agenda hari ini secara resmi dibuka dengan prosesi serah terima pembangunan pabrik baru antara PT Takenaka Indonesia selaku kontraktor utama dan PT Sanwa Musen Indonesia.
Hadir dalam kesempatan ini jajaran komisaris dan direksi Sanwa Musen Co., Ltd. serta mitra strategis seperti PT Bank Resona Perdania dan PT Suryacipta Swadaya (Suryacipta).
Dalam sambutannya, Mr. Tadashi Kotani, Presiden Direktur Sanwa Musen Co., Ltd. menyampaikan ucapkan terima kasih kepada karyawan PT Sanwa Musen Indonesia dan semua yang hadir pada acara hari ini. Sanwa Musen berharap dapat terus mendapat kepercayaan dari para pelanggan terhadap pasokan produk dengan kualitas terbaik.
Dengan penuh sukacita, Suryacipta selaku pengembang dan pengelola Subang Smartpolitan - anak usaha dari PT Surya Semesta Internusa Tbk, menyambut peresmian pabrik baru Sanwa Musen Indonesia di Subang Smartpolitan. Keberhasilan ini semakin menegaskan potensi Subang Smartpolitan sebagai pusat koridor ekonomi baru Indonesi
Binawati Dewi, General Manager Sales & Tenant Relations Suryacipta mengucapkan pihaknya sangat bangga tenant pertamanya, Sanwa Musen Indonesia berhasil melaksanakan new factory ceremony hari ini.
"Kami yakin pencapaian ini dapat menginspirasi lebih banyak perusahaan-perusahaan kelas dunia untuk mendirikan investasinya di Subang Smartpolitan dan bersama-sama membangun ekosistem industri yang kuat di Indonesia, khususnya di Rebana Metropolitan," ujar Binawati, Rabu (18/9).
Dewi juga menambahkan bahwa proses pembelian lahan hingga pabrik Sanwa Musen Indonesia siap beroperasi relatif singkat, yakni kurang lebih dua tahun. Hal ini menunjukkan proses berinvestasi di Indonesia semakin ramah dan efisien.
Terlebih Subang Smartpolitan turut membantu prosesnya melalui layanan one-stop-service dimana Sanwa Musen Indonesia mendapat asistensi secara langsung sedari proses pra-investasi hingga operasional bisnis.
Sanwa Musen Indonesia yang kini berada di kawasan Subang Smartpolitan diharapkan dapat lebih optimal baik dari segi produksi, logistik maupun penjualan karena infrastruktur disekitar kawasan yang semakin mendukung.
Diketahui, Subang Smartpolitan akan memiliki akses langsung menuju Pelabuhan Patimban melalui Tol Akses Pelabuhan Patimban, dekat dengan Bandara Internasional Kertajati, serta terhubung dengan Tol Cikopo – Palimanan dan Tol Trans Jawa.
Selain itu, Subang Smartpolitan yang didesain sebagai kawasan berkonsep “Smart, Green, and Sustainable City” ini akan mengimplementasikan infrastruktur berbasis Internet of Things (IoT) di kawasan. Fasilitas ini dapat semakin mendukung aktifitas bisnis para tenant, terutama industri elektronik seperti Sanwa Musen Indonesia.
Di sisi lain, dengan bertambahnya industri baru di daerah Subang diproyeksikan dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya. Diantaranya peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta penyerapan dan peningkatan kualitas tenaga kerja di wilayah sekitar industri.
Sebab sesuai dengan visi Suryacipta “Building a Better Indonesia”, perusahaan berupaya agar setiap aktifitas bisnis yang dilakukan dapat memberikan dampak yang baik untuk Indonesia – terlebih bagi masyarakat disekitar unit bisnis.