JAKARTA, investor.id – Bos Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengharapkan ada aksi besar terkait penetrasi perusahaan-perusahaan dan anak usaha Badan Usaha Milik Negara alias BUMN untuk menjadi perusahaan tercatat di BEI.
Harapan Direktur Utama BEI itu tidak lepas dari rendahnya jumlah emiten BUMN baru di Bursa saat ini, yang berpotensi menjadi salah satu tantangan terbesar pasar modal Indonesia ke depan.
“Tahun depan, ada harapan besar 2025 beberapa anak perusahaan BUMN seperti dari Pertamina, Inalum, dan PTPN bisa mencatatkan sahamnya di BEI. Jika terealisasi, ini akan memperkuat kapitalisasi pasar dan meningkatkan likuiditas di bursa saham Indonesia,” jelas dia kepada media di Gedung BEI, Kamis (17/10/2024).
Anak perusahaan Pertamina yang dimaksud Iman itu merujuk kepada Pertamina Hulu Energi (PHE). Tahun lalu, PHE telah menunda rencananya untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.
Sedangkan PTPN, mengacu kepada subholding PalmCo dan SupportingCo yang dikabarkan segera melangsungkan IPO. Di luar itu, Kementerian BUMN juga santer diisukan segera membawa beberapa anak perusahaan BUMN lain untuk IPO seperti Neutra DC, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), kemudian PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports, sampai yang terbesar anggota BUMN Holding Industri Pertambangan atau MIND ID, Inalum.
Kinerja Emiten BUMN
Saat ini, Iman bilang, Indonesia hanya memiliki 14 BUMN yang terdaftar di bursa, jauh lebih sedikit ketimbang Malaysia dengan 28 BUMN. Apalagi, China dengan ratusan perusahaan pelat merah yang sudah go public.
Karena itu, perlu lebih banyak BUMN dan anak perusahaannya yang melantai di bursa untuk memperkuat pasar modal Indonesia. Di samping dapat membuka akses ke pendanaan publik, dengan go public, transparansi dan tata kelola perusahaan BUMN juga menjadi lebih baik.
Terbukti, kinerja IPO BUMN yang sudah tercatat di pasar modal menunjukkan performa positif. Berdasarkan data, tujuh dari 14 BUMN mencatatkan kenaikan harga saham sejak IPO. Sedangkan, tujuh lainnya mengalami penurunan. Anak perusahaan BUMN juga menunjukkan dinamika serupa, di mana sembilan perusahaan membukukan kenaikan harga saham dan 14 lainnya turun.
“Tapi menariknya, pertumbuhan keuangan mereka di mana laba perusahaan BUMN naik hingga 1.200%. Kemudian, dividen meningkat hampir 2.000%, dan kapitalisasi pasar naik 1.500% sejak IPO. Untuk anak perusahaan BUMN, laba naik 232%, dividen naik hampir 400%, dan kapitalisasi pasar tumbuh 87%," papar Iman.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News