#30 tag 24jam
Forum Internasional Dai Asia Tenggara, Konsolidasi Dakwah Islam Moderat di Negara Asean
Islam di negara-negara Asean mempunyai sejumlah kesamaan sejarah dan karakter [1,246] url asal
#forum-internasional-dai-asia-tenggara #islam-asia-tenggara #islam-di-asia-tenggara #muslim-asia-tenggara #dakwah-asia-tenggara #islam-moderat #moderasi-islam
(Republika - News) 28/07/24 13:07
v/12418551/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Umat Muslim di Asia Tenggara adalah jumlah penduduk Muslim terbesar kedua di dunia. Berdasarkan laporan Crescent Rating bersama Mastercard, jumlah umat Muslim di dunia mencapai 2 miliar jiwa pada 2022.
Jumlah tersebut mewakili 25 persen populasi dunia dan tersebar di lebih dari 200 negara. Sebagian besar atau 67 persen penduduk muslim berada di wilayah Asia. Secara rinci, proporsi penduduk muslim di Asia Selatan sebesar 35,6 persen, Asia Tenggara 13,8 persen, Asia Barat 12,7 persen, Asia Tengah 3,4 persen, dan Asia Timur 1,5 persen.
Fakta Islam di Asia Tenggara
Selain itu, Islam telah pula menjadi suatu kekuatan sosial yang patut diperhitungkan di kawasan ini. Namun demikian, bagi dunia luar, Asia Tenggara bukan wilayah yang langsung terbayang ketika membicarakan dunia Islam.
Kajian tentang Islam umumnya masih diidentikkan dengan Islam Timur Tengah. Hal ini mengindikasikan bahwa informasi tentang Islam dan dakwah Islam di Asia Tenggara masih relatif kurang.
Islam di Asia Tenggara unik sekaligus bervariasi. Seperti di Indonesia negaranya berdasarkan Pancasila, Malaysia dan Brunei Darussalam Islam merupakan agama mayoritas dan Islam sebagai dasar negaranya.
Menurut data Statista, perkiraan populasi Muslim di Indonesia pada 2020 mencapai 87 persen dari total populasi. Penduduk muslim di negara Petro Dollar, Brunei Darussalam ini mencapai 75 persen dari populasi. pemeluk Islam di Malaysia mencapai 66 persen dari populasi.
Selain itu, minoritas Muslim dapat ditemukan di Singapura terdapat 15 persen orang Muslim dari seluruh jumlah penduduk; di Filipina 5,1 peren dari total penduduk; penduduk Thailand 5,7 persen beragama Islam; di Myanmar ada 3,8 persen beragama Islam; dan di Laos kurang dari -1 persen yang beragama Islam dari seluruh jumlah penduduknya.
Secara geografis, kawasan Asia Tenggara merupakan tempat yang unik dan menarik bagi perkembangan agama-agama dunia, sehingga hampir seluruh agama terutama agama besar pernah singgah dan mendapat pengaruh di beberapa tempat di kawasan ini, termasuk agama Islam.
Di Asia Tenggara Agama Islam dan budaya Melayu menyatu padu. Bertalian nilai-nilai agama dengan kebudayaan Melayu bukan hanya pada periode paling awal kedatangan Islam dan masa berdirinya kesultanan-kesultanan Islam, tetapi keduanya juga saling menyatu dan berkait berkelindan hingga saat ini.
Hal ini, bukan karena sebagian besar penganut Islam di kawasan ini terdiri dari etnis Melayu, tetapi karena agama Islam yang mempunyai dasar filosofis dan rasional yang kuat, telah berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan Melayu.
Islam bagi orang Melayu bukan hanya sebatas keyakinan, tetapi telah menyatu dengan identitas sosial-budaya, mempengaruhi aspek pendidikan, ekonomi, politik, hukum dan semua aspek kehidupan.
Perkembangan Islam
Di negara-negara minoritas Muslim, perkembangan Islam relatif terhambat dibanding di negara-negara mayoritas Muslim. Hal ini tak dapat dipisahkan dari kebijakan pemerintah yang relatif tidak mendukung. Minoritas Muslim menghadapi problem harus hidup berdampingan secara damai dengan non-Muslim.
Mereka berada dalam..
Kedua, soal terorisme yang kian mengarah kepada sekelompok umat Islam yang berhaluan radikal. Kesemuanya itu sebenarnya disebabkan oleh pemahaman agama yang tekstual, rigid, fanatik, kaku dan politis, sehingga agama hanya diperjuangkan secara simbolik-formalistik, bukan lagi aspek substansialnya.
Ditambah lagi, dengan faktor di luarnya, seperti penguasa (rezim) dan intervensi asing yang selalu meminggirkan aspirasi mereka dalam mengembangkan dan mewujudkan tujuan-tujuan luhur agama.
Sayangnya, keyakinan kuat membela agama ini tidak dibarengi dengan pertimbangan yang bijak tentang dampak yang akan ditimbulkan dari aksi-aksi kekerasan yang dilakukan umat.
Padahal, jika umat Islam mau berpikir lebih panjang, tidak akan melakukan aksi-aksi kekerasan. Ketidakmampuan melakukan perubahan sosial diekspresikan dengan aksi balasan yang luar biasa dahsyatnya bagi citra Islam sebagai agama yang cinta perdamaian.
Tak ayal lagi, semuanya itu menjadikan wajah Islam dipersepsikan secara keseluruhan sebagai Islam radikal dan Islam teroris. Padahal, wajah radikal Islam tidak menjadi mayoritas umat Islam. Mereka hanyalah bagian kecil dari jumlah Islam yang mayoritas menganut wasathiyatul Islam atau Islam moderat.
Membangun Wajah Islam yang Ramah dan Damai
Ada dua hal yang perlu kita lakukan untuk membangun wajah Islam yang ramah dan damai di Asia Tenggara.
Pertama, kampanye dakwah Wasathiyatul Islam (Islam moderat) di tengah Masyarakat dunia, khususnya di Asia Tenggara. Hal itu dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai agama dalam komunitas plural secara lebih toleran, terutama di kalangan generasi muda.
Bukankah sasaran generasi muda sekarang ini sudah diambil oleh kelompok radikal atau libral dalam setiap dakwahnya? Hal itu dibuktikan dengan para pelaku pengeboman dan agen sekularisasi selalu dilakukan oleh generasi muda.
Dakwah Wasathiyatul Islam (Islam moderat) tidak lagi diorientasikan kepada masyarakat secara umum, tetapi difokuskan kepada generasi muda di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah yang menjadi sasaran utama kelompok ekstrim kanan dan ekstrem kiri.
Kedua, menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik secara keseluruhan.
Hal itu dilakukan untuk memberikan bukti konkret betapa wacana moderat mampu menciptakan kondisi masyarakat yang ideal, bermoral dan berkualitas. Selama ini, mereka yang berhaluan radikal sering kali mengeluarkan kesimpulan bahwa tidak bermoralnya kehidupan masyarakat disebabkan bangsa tidak menjalankan syariat Islam, seperti masa klasik Islam.
Karena itulah, kondisi masyarakat yang baik dapat menjadi bukti objektif betapa wasathiyatul Islam (Islam moderat) yang mayoritas dapat menciptakan kondisi yang baik bagi kehidupan masyarakat.
Yakni, tidak ada korupsi, terjaminnya keadilan sosial, dan keluar dari krisis. Untuk mewujudkan kondisi masyarakat seperti itu memang sangatlah berat, tetapi usaha keras untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan bangsa dapat mengurangi kegalauan dan kerisauan beberapa kalangan.
Inilah yang menjadi cita-cita kita bersama dalam membangun citra Islam sebagai agama yang ramah dan damai di bumi Asia Tenggara dengan wujud konkret kepedulian kita untuk mengampanyekan wacana moderat di tengah masyarakat.
Merancang masa depan Islam Asia Tenggara tidaklah mudah, tetapi kita tetap harus berusaha mewujudkannya. Salah satu bentuknya adalah mengikat perjuangan kita dan dakwah Islamiyah dalam Forum Tokoh Dakwah di Asia Tenggara yang diharapkan dapat mengantarkan silaturrahim (sambung keluarga) menjadi shillatul fikri (menyambung pemikiran) sehingga kita dapat melakukan harmonisasi gerakan dakwah (tansiqul harakah ad-da’awiyah) se-Asia Tenggara menuju bumi yang damai atas pondasi Wasathiyatul Islam dan tercapai tujuan Negeri yang Sejahtera penuh pengampunan dari Allah SWT.
Pendirian Forum Internasional Da’i Asia Tenggara
Alhamdulillah, pada hari Kamis, tanggal dua puluh lima Juli dua ribu dua puluh empat di Jakarta, telah diselenggarakan Forum Internasional Da’i Asia Tenggara (ASEAN), yang diselenggarakan oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia.
Forum ini dihadiri oleh para dai dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara anggota ASEAN, dengan tujuan untuk memperkuat silaturahmi, meningkatkan sinergi, dan merumuskan strategi dakwah yang efektif di kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat dan mengarusutamakan al wasathiyah al islamiyah.
Berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan bersama, para peserta forum sepakat untuk mendirikan International Da’i Forum of Southeast Asia dengan tujuan sebagai berikut:
Pertama, meningkatkan koordinasi dan kolaborasi antardai di Asia Tenggara dalam rangka memperkuat dakwah Islam berbasis al wasathiyah al islamiyah. Kedua, Membangun platform untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan strategi dakwah yang efektif.
Ketiga, mendorong pengembangan sumber daya manusia da’i di Asia Tenggara melalui pelatihan, seminar, dan program pengembangan lainnya. Keempat, Menjadi wadah untuk membahas isu-isu strategis terkait dakwah di Asia Tenggara dan merumuskan solusi bersama.
Kelima, Memperkuat peran dai dalam membangun masyarakat yang damai, sejahtera, dan berakhlak mulia.
Forum tersebut telah diluncurkan di Istana Wapres RI yang mendapatkan respon positif dan dukungan dari Wapres Prof Dr KH Ma’ruf Amin. Deklarasi pendiriannya ditandatangani oleh para tokoh sebagai berikut: KH Anwar Iskandar (Indonesia), Datuk Hasanuddin Bin Mohd Yunus (Malaysia), Arif Abdullah Sagran (Timor Leste), Abdul Sa Lam (Vietnam), Mohammed Swaleh (Myanmar), Muhamad Nuzhan Bin Abdul Halim (Singapore), Muhammad Ilyas Yahprung (Thailand), Pengiran Ahmad Faris Ramadhani (Brunei Darussalam), Somboune Khan (Laos), Tn Abdel Jabbar Malado Macarimbor (Filipina), dan Tn Sarorn Thorn (Kamboja). Kita berharap semoga forum ini bisa berjalan dengan lancar dan menyebarkan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin di Asia Tenggara dan dunia.*
Di Hadapan Dai Asia Tenggara, Kiai Cholil Beberkan 2 Cara Bangun Wajah Islam Ramah
Wajah Islam ramah Islam di Asia Tenggara tercoreng aksi terorisme [463] url asal
#islam-asia-tenggara #dakwah-islam-asia-tenggara #asia-tenggara #islam-di-asia-tenggara #moderasi-islam #islam-moderat #majelis-ulama-indonesia
(Republika - Khazanah) 25/07/24 23:18
v/12106765/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Wajah Islam di Asia Tenggara pada dasarnya adalah Islam yang ramah. Namun perwajahan tersebut dirusak dengan aksi-aksi terorisme yang dituduhkan kepada Islam. Akibatnya, citra positif Islam pun tercederai dengan stima negatif tersebut.
Padahal, menurut Ketua Majelis Ulama Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, Islam di Asia Tenggara dengan populasi kedua tertinggi di Asia ini mempunyai kekuatan sosial yang patut diperhitungkan di kawasan ini.
Data Crescent Rating bersama Mastercard, Menyebut proporsi penduduk muslim di Asia Selatan sebesar 35,6 persen, Asia Tenggara 13,8 persen, Asia Barat 12,7 persen, Asia Tengah 3,4 persen, dan Asia Timur 1,5 persen.
Dia mengatakan, ada dua hal yang perlu kita lakukan untuk membangun wajah Islam yang ramah dan damai di Asia Tenggara. Pertama, kampanye dakwah wasathiyatul Islam (Islam moderat) di tengah Masyarakat dunia, khususnya di Asia Tenggara.
Hal itu dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai agama dalam komunitas plural secara lebih toleran, terutama di kalangan generasi muda. Bukankah sasaran generasi muda sekarang ini sudah diambil oleh kelompok radikal atau libral dalam setiap dakwahnya.
Hal itu dibuktikan dengan para pelaku pengeboman dan agen sekularisasi selalu dilakukan oleh generasi muda.
“Dakwah Wasathiyatul Islam (Islam moderat) tidak lagi diorientasikan kepada masyarakat secara umum, tetapi difokuskan kepada generasi muda di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah yang menjadi sasaran utama kelompok ekstrem kanan dan ekstrem kiri,” kata dia dalam Konferensi Internasional Dai Asia Tenggara di Jakarta, Kamis (25/7/2024).
Kedua, menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik secara keseluruhan. Hal itu dilakukan untuk memberikan bukti konkret betapa wacana moderat mampu menciptakan kondisi masyarakat yang ideal, bermoral dan berkualitas.
Dia menyebut, selama ini, mereka yang berhaluan radikal sering kali mengeluarkan kesimpulan bahwa tidak bermoralnya kehidupan masyarakat disebabkan bangsa tidak menjalankan syariat Islam, seperti masa klasik Islam.
Karena itulah, kondisi masyarakat yang baik dapat menjadi bukti objektif betapa wasathiyatul Islam (Islam moderat) yang mayoritas dapat menciptakan kondisi yang baik bagi kehidupan masyarakat.
Yakni, tidak ada korupsi, terjaminnya keadilan sosial, dan keluar dari krisis. Untuk mewujudkan kondisi masyarakat seperti itu memang sangatlah berat, tetapi usaha keras untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan bangsa dapat mengurangi kegalauan dan kerisauan beberapa kalangan.
“Inilah yang menjadi cita-cita kita bersama dalam membangun citra Islam sebagai agama yang ramah dan damai di bumi Asia Tenggara dengan wujud konkret kepedulian kita untuk mengampanyekan wacana moderat di tengah masyarakat,” kata dia,
“Merancang masa depan Islam Asia Tenggara tidaklah mudah, tetapi kita tetap harus berusaha mewujudkannya. Salah satu bentuknya dalah mengikat perjuangan kita dan dakwah Islamiyah dalam Forum Tokoh Dakwah di Asia Tenggara,” ujar dia menambahkan.
Hadir dalam Konferensi yang mengangkat tema “Strengthening Islamic Moderation and Coordinating the Preaching Movement in Southeast Asia’ beberapa pemuka agama dari berbagai negara, diantaranya perwakilan dari Malaysia, Myanmar, Timor Leste, Thailand, Laos, Brunei Darussalam, Laos, dan juga Vietnam.
LBM NU DKI Jakarta- Pelajar Patani Sepakati Pentingnya Jaringan Islam Moderat Nusantara
Indonesia dan Patani mempunyai hubungan kuat jaringan Islam moderat [643] url asal
#lbm-nu-dki-jakarta #pelajar-patani #jaringan-islam-moderat #islam-moderat #islam-di-patani #patani-thailand-selatan #thailand-selatan
(Republika - Khazanah) 15/07/24 09:46
v/10831371/
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA— Hubungan antara ulama Indonesia dan Patani, Thailand Selatan sudah terjalin sejak lama melalui pertalian sanad keilmuan. Tercatat, hubungan tersebut setidaknya sudah ada sejak sekitar abad ke-18 Masehi.
Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Internasional bertajuk “Membincang Wasthiyyah Islam dalam ASEAN Studies” di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang diselenggarakan Persatuan Mahasiswa Islam Patani di Indonesia (PMIPTI) Yogyakarta bekerjasama dengan Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LBM PWNU) DKI Jakarta, bertempat di Gedung Moh Yamin FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (13/7/2024).
Ketua LBM PWNU DKI Jakarta, KH Mukti Ali Qusyairi, mengungkapkan, jaringan ulama Nusantara di Patani telah terbentuk melalui tradisi keilmuan Islam yang sama-sama bercorak Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
“Hubungan ulama Indonesia dan Patani itu hubungan guru dengan murid. Contohnya seperti Syekh Abdus Shamad Al-Jawi Al-Falimbani dari Indonesia yang menjadi guru bagi para ulama di Patani pada sekitar abad ke-18 lalu,” ungkapnya.
Kiai Mukti menambahkan, mayoritas muslim Indonesia dan Patani adalah penganut akidah Asy’ariyah dan bermazhab Syafi'i serta berpaham moderat.
“Sebanyak 20 sifat wajib dan 20 mustahil serta satu sifat mungkin bagi Allah, empat sifat wajib dan empat mustahil serta satu sifat basyariyah Rasul yang dikenal dengan akidah lima puluh yang diajarkan di pesantren Indonesia juga dijelaskan dalam kitab karya seorang ulama Patani yaitu Syekh Dawud bin Abdullah al-Fathani yang notabene murid dari Syekh Abdushomad al-Falimbani,” kata dia.
Dalam pandangan Asy’ari, lanjut Kiai Mukti, ditegaskan bahwa menegakkan negara Islam bukan bagian dari rukun Islam dan bukan pula rukun Iman sehingga sah Islam seseorang yang melaksanakan rukun Islam dan Iman meski hidup di negara yang tidak berbasis ideologi Islam.
“Karena itu, selama menjalankan rukun Islam dan Iman, maka sah dan kaffah Islamnya Muslim Patani sebagai minoritas di Thailand dan umat Muslim mayoritas Indonesia yang sama-sama hidup di negara yang tidak berideologi Islam,” tegasnya.
Ketua Divisi Kharijiyyah (Hubungan Internasional) LBM PWNU DKI Jakarta, KH Agus Khudlori, mengatakan seminar ini diselenggarakan dalam rangka meneruskan tradisi keilmuan dan jalinan ukhuwah Islamiyah yang telah dibangun oleh para ulama Indonesia dan Patani terdahulu.
Di samping itu, untuk menegaskan corak Islam moderat yang menjadi karakter Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja).
“Dalam mengimplementasikan prinsip wasathiyyah (moderasi) sebagaimana menjadi prinsip Aswaja NU, maka harus dibarengi dengan sikap tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), ‘adalah (keadilan), ukhuwah islamiyah dan hubbul wathan (cinta tanah air),” ungkapnya.
Kiai Khudlori menambahkan, sikap moderat dalam beragama merupakan tuntunan Islam dan memiliki landasan dalil dalam Alquran, yaitu surat Al-Baqarah ayat 143. Sikap moderat itu, lanjutnya, menjadi kunci penyebaran dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin sehingga bisa diterima oleh seluruh umat manusia.
“Tanpa adanya sikap moderat, mustahil Islam bisa tersebar luas seperti sekarang. Yang ada orang akan membenci Islam,” tandasnya.
Dia menegaskan, sikap mederat salah satunya dapat diperoleh melalui pemahaman yang mendalam terhadap ilmu fikih. Sebab, melalui pemahaman yang luas terhadap fikih, seseorang akan menjadi luwes dalam berpikir dan bersikap. Tidak kacamata kuda.
“Sikap moderat bisa dimulai dari pemahaman yang baik terhadap fikih. Sebaliknya, radikalisme beragama juga bisa bermula dari pemahaman yang kurang baik terhadap fikih, karena menggunakan kaca mata kuda dalam memahami agama dan tidak mau menerima pandangan lain,” tegasnya.
Sementara itu, narasumber dari Patani, Murakib Abdulwahab, mengungkapkan Islam di Patani memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak abad ke-12 ketika Islam mulai masuk di wilayah itu. Kemudian, didirikan kerajaan Islam di Patani.
“Lalu pada abad ke-15, raja dan pembesar Patani memeluk agama Islam dan Patani berganti nama menjadi Negara Fatoni Darussalam,” ungkapnya.
Kemudian, lanjut Murakib, pada abad ke-18 yaitu sekitar tahun 1785 atau 1786 Kerajaan Patani ditaklukkan oleh Kerajaan Siam (Thailand).
“Kemudian pada Abad ke-20 (1902), sistem kesultanan raja Patani dihapus dan Patani menjadi bagian dari Negara Thailand. Pada abad ke-20 juga, yaitu pada 1909 berlaku perjanjian Anglosiamis antara Kerajaan Siam dan Inggris, dengan perjanjian ini Patani resmi menjadi bagian dari Thailand.
Kuliah Umum di UIN Bandung, Penasihat Grand Syekh Al-Azhar: Islam Hargai Perempuan
Islam menghormati kedudukan perempuan dalam peradaban [633] url asal
#markaz-tathwir #kedudukan-perempuan #keistimewaan-perempuan #islam-menghormati-perempuan #islam-menghargai-perempuan #islam-moderat #al-azhar-mesir #grand-syekh-al-azhar
(Republika - Khazanah) 13/07/24 20:56
v/10670748/
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Kuliah Umum Internasional #2 bertajuk Kepemimpinan Perempuan dalam Islam yang berlangsung di Aula Program Pascasarjana, Kampus II, Jumat (12/7/2024).
Dengan menghadirkan narasumber perempuan pertama Penasihat Grand Syekh Al- Azhar Mesir dan Direktur Markaz Tathwir (Pusat Pengembangan Pelajar dan Mahasiswa Asing Al-Azhar) Nahla Sabry El Seidy, dipandu Siti Sanah, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Arab dan penerjemah Engkos Kosasih.
Dalam sambutannya, Rektor Rosihon Anwar mengucapkan selamat datang kepada Nahla Sabry El Seidy, penasihat Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Zainul Hamdi, M Ag sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Abdul Muta'ali, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, Republik Arab Mesir, PSGA UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
"Saya ingin menyebutkan beliau secara khusus karena atase kebudayaan ini adalah lulusan UIN Bandung, Fakultas Syariah dan Hukum, kami sangat berbangga, salah satu alumni kita jadi atase kebudayaan, mudah-mudahan nanti jadi Duta Besar sekalian. Harapanya," jelas Rektor.
Selamat datang di Bandung, tempat Konferensi Asia Afrika, "Ahlan wasahlan di Bumi Pasundan, Kota Bandung diciptakan ketika tuhan sedang tersenyum, daerah lain tidak tahu?" paparnya.
Seminar ini sangat penting untuk memperkuat peran UIN Bandung sebagai pusat penyebaran Islam menuju kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
"Peran dan kepemimpinan perempuan dalam segala aspek kehidupan. PSGA sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mempersipkan kajian ilmiah bersama Prof Nahla Sabry El Seidy, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semuanya," ucap Rosihon.
Sementara itu, dalam paparannya, Nahla Sabry El Seidy mengatakan dalam ajaran Islam kedudukan perempuan dan laki-laki sama kecuali derajat ketaqwaan.
Nahla menegaskan Alquran dan hadis bahwa kedudukan perempuan mendapat apresiasi dalam bentuk al-musawah (persamaan derajat) dalam berbagai level eksistensi, kontribusi, dan partisipasi baik dalam level privat maupun publik.
“Bagaimana perempuan terlibat dalam proses kecerdasan umat, yang mana semua terjadi pada masa Nabi SAW, bahkan perempuan pun diperbolehkan dalam medan pertempuran, dan di luar itu perempuan berperan dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan sebagainya,” tegasnya.
Menurutnya, peran perempuan itu sangat vital, sangat strategis untuk mengembangkan kehidupan Islam dalam multi dimensinya.
Syariat Islam menjelaskan berkali-kali bagaimana peran perempuan dalam membangun masyarakat, bahwa perempuan sebagai mitra laki-laki, sebagaimana sabda Rasul SAW, bahwa wanita adalah mitra dari para kaum lelaki.
“Syariat Islam sebenarnya tidak mengenal istilah diskriminasi terhadap wanita, marginilisasi terhadap perempuan, sehingga perempuan dalam syariat Islam adalah unsur pokok akan terjadinya kebangkitan umat,” kata dia.
Dia melontarkan pertanyaan mengapa terjadi kemunduran? Terjadi marginilisasi perempuan? Jawabannya karena dua hal yaitu pertama, tidak komitmen mengikuti prinsip-prinsip agama yang sebenarnya mengagungkan peran perempuan.
Kedua, terjerumus dengan tradisi yang kurang baik, “Yang mendiskriminasikan wanita ini terjadi di beberapa kalangan,” paparnya.
Dia mengatakan, Al-Azhar mempunyai peran dalam merekontruksi pemahaman-pemahaman yang bersifat miskonsepsional. “Terkait bagaimana peran perempuan, Al-Azhar melihat bahwa diskriminasi perempuan atas nama agama adalah dilandasi dengan kebodohan,” kata dia.
Nahla juga memberikan rekomendasi dari kegiatan ini kepada para pimpinan kampus untuk melibatkan lebih banyak partisipasi perempuan dalam pembuatan kebijakan kampus dan memberikan peningkatan kapasitas perempuan dalam penggunaan teknologi.
Sebagai informasi, Kementerian Agama bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar meresmikan pembangunan Markaz Tathwir cabang Indonesia yang diresmikan di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Universitas Al-Azhar adalah kampus pencetak ulama yang memiliki pemahaman Islam moderat dan sebagai benteng Islam moderat yang tertua.
Kerja sama ini semakin meneguhkan hubungan baik antara Indonesia dengan Mesir, antara umat Islam Indonesia dengan umat Islam Mesir, dan antara Kementerian Agama RI dengan Universitas Al-Azhar.
Nahla sangat senang diundang ke UIN SGD Bandung yang memiliki banyak prestasi. Ia mengharapkan kerjasama berkelanjutan salah satunya adalah dengan mengadakan kuliah online antara universitas Al-Azhar dan UIN Bandung terutama dalam bidang pengajaran Bahasa Arab.
Nahla menegaskan bahwa pelajar Indonesia di Mesir memiliki karakter, akhlak yang baik.
Bertemu di Istana, Wapres dan Syekh Al Azhar Sepakat Pentingnya Islam Moderat
Wapres dan Syekh Al Azhar juga setuju perlunya lawan Islamofobia [432] url asal
#grand-syekh-al-azhar #kunjungan-grand-syekh-al-azhar #kisah-grand-syekh-al-azhar #islam-moderat #moderasi-beragama #al-azhar-mesir #al-azhar
(Republika - Khazanah) 11/07/24 12:26
v/10415622/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin dan Grand Syekh Al Azhar Mesir Ahmed Mohamed Ahmed El Tayeb menegaskan bahwa Islam bukanlah agama kekerasan.
Diketahui, Wapres menerima kunjungan Grand Syekh Al Azhar di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Wapres menyoroti pentingnya kerja sama dalam penyebaran Islam wasathiyyah untuk mengatasi tantangan, seperti Islamofobia. Ia menegaskan Islam bukanlah agama kekerasan, melainkan agama yang penuh kasih, toleran, dan menghormati perbedaan.
"Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama kekerasan. Sebaliknya, Islam agama yang penuh kasih, toleran, dan menghormati perbedaan," ucap Wapres.
Wapres juga menekankan perlunya pemahaman yang lebih baik terhadap Islam di kalangan non-Muslim, sambil mendesak tindakan tegas terhadap aksi-aksi kebencian terhadap Islam, seperti pembakaran Alquran.
"Kita perlu dorong adanya pemahaman yang lebih baik di antara negara-negara non-Muslim terhadap Islam. Di saat yang sama, kita juga perlu dorong mereka agar bertindak tegas terhadap aksi-aksi kebencian terhadap Islam seperti pembakaran Alquran," kata Wapres.
Senada, Grand Syekh Al Azhar juga menekankan pentingnya menyebarkan ajaran Islam wasathiyyah yang moderat ke dunia Barat untuk menciptakan harmoni antara dunia Barat dan Timur.
"Perlunya kita menyebarkan Islam wasathiyyah yang moderat di kalangan dunia Barat, agar nantinya antara dunia Barat dan dunia Timur kembali bisa berdampingan secara harmonis," ujarnya.
Dia juga menyoroti perlunya memerangi Islamofobia, terutama di kalangan anak muda, serta menyelenggarakan konferensi yang melibatkan tokoh politik dan agamawan untuk memperkuat pesan perdamaian Islam.
"Hubungan yang damai dan harmonis antara umat Islam dan non-Muslim harus dijaga, dan Islam tidak boleh dipandang sebagai agama kekerasan," kata Grand Syekh Al Azhar.
Grand Syekh Al Azhar mengapresiasi berbagai konferensi yang telah diselenggarakan Al Azhar dan organisasi lainnya untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar. Namun ia mengakui bahwa hasil yang diharapkan belum sepenuhnya tercapai.
"Sebenarnya telah banyak sekali konferensi-konferensi dan pertemuan yang diselenggarakan baik oleh Al Azhar terkait dengan isu atau persoalan ini, tetapi sayangnya hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang telah dikeluarkan, hasilnya tidak seperti yang diharapkan," ungkapnya Ahmad Al Tayyeb.
Dia pun mengharapkan adanya konferensi global yang dapat menyuarakan kesepakatan seluruh dunia Islam untuk memperkuat pesan perdamaian dan kebersamaan.
"Karena itu dalam pandangan saya pribadi bahwa yang sekarang perlu diprioritaskan adalah menyelenggarakan sebuah konferensi yang bisa menjadi kesepakatan seluruh dunia Islam sehingga nantinya suara atau pesan yang dikeluarkan dari konferensi ini adalah suara yang mewakili keseluruhan Islam di dunia," tuturnya.
Pertemuan kali ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Abu Dhabi pada Februari 2024, yang menekankan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Al Azhar dalam upaya menjaga kedamaian dan mempromosikan pemahaman yang benar tentang Islam di dunia internasional.
Bertemu Imam Besar Al-Azhar, Wapres: Kita Perlu Tunjukkan Islam Agama Penuh Kasih
Ma'ruf Amin menyoroti pentingnya kerja sama antara Indonesia dan Mesir untuk menyebarkan Islam yang moderat di tengah tantangan Islamofobia Halaman all [445] url asal
#wapres #ma-ruf-amin #islam-moderat #imam-besar-al-azhar #wakil-presiden-ma-ruf-amin #grand-syekh-al-azhar
(Kompas.com) 10/07/24 21:24
v/10343387/
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden (Wapres) RI Ma'ruf Amin menyoroti pentingnya kerja sama Indonesia dan Mesir dalam penyebaran Islam wasathiyyah atau Islam yang moderat untuk mengatasi tantangan seperti Islamofobia atau sikap kebencian terhadap orang-orang Islam.
Hal ini disampaikan Ma'ruf saat menerima Grand Syekh (Imam Besar) Al-Azhar Ahmad Muhammad Ahmad At Tayyeb Al Hassani, di Istana Wakil Presiden, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2024).
"Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama kekerasan. Sebaliknya, Islam agama yang penuh kasih, toleran, dan menghormati perbedaan," kata Ma'ruf, dikutip dari keterangan pers.
Wapres menekankan perlunya pemahaman yang lebih baik terhadap Islam di kalangan non-Muslim.
Namun, eks ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga mendesak adanya tindakan tegas terhadap aksi-aksi kebencian terhadap Islam, seperti pembakaran Al Quran.
"Kita perlu dorong adanya pemahaman yang lebih baik di antara negara-negara non-Muslim terhadap Islam,” kata Ma'ruf.
“Di saat yang sama, kita juga perlu dorong mereka agar bertindak tegas terhadap aksi-aksi kebencian terhadap Islam, seperti pembakaran Al Quran,” ucap dia.
Sementara itu, Grand Syekh Al-Azhar At Tayyeb Al Hassani juga menekankan pentingnya menyebarkan ajaran Islam yang moderat ke dunia barat untuk menciptakan harmoni antara dunia Barat dan Timur.
“Perlunya kita menyebarkan Islam wasathiyyah yang moderat di kalangan dunia Barat agar nantinya antara dunia Barat dan dunia Timur kembali bisa berdampingan secara harmonis," kata At Tayyeb Al Hassani
Grand Syekh Al-Azhar juga menyoroti perlunya memerangi Islamofobia, terutama di kalangan anak muda, serta menyelenggarakan konferensi yang melibatkan tokoh politik dan agamawan untuk memperkuat pesan perdamaian Islam.
"Hubungan yang damai dan harmonis antara umat Islam dan non-Muslim harus dijaga, dan Islam tidak boleh dipandang sebagai agama kekerasan," ucapnya.
Adapun pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Abu Dhabi pada Februari lalu.
Dalam pertemuan itu, Wapres dan Grand Syekh Al-Azhar sama-sama menekankan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama dalam upaya menjaga kedamaian dan mempromosikan pemahaman yang benar tentang Islam di dunia internasional.