JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden ketujuh Republik Indonesia (RI), Joko Widodo atau Jokowi, dan Presiden kedelapan RI Prabowo Subianto, sama-sama menggunakan jas demang dalam pelantikan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden terbaru RI di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Minggu (20/10/2024).
Begitu pula dengan Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin dan Wakil Presiden ke-14 Gibran Rakabuming Raka yang mengenakan tema baju adat serupa.
Apa kira-kira makna di balik pemilihan baju adat tersebut?
Pemilik Sanggar Nusantara Dot Com Bachtiar Jamaluddin menduga, pesan yang disampaikan oleh keempatnya berkaitan dengan pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Pemilihan baju Betawi masih rasa terima kasih kepada Jakarta yang sudah tidak lagi menjadi Ibu Kota,” tutur dia kepada Kompas.com, Minggu.
Adapun, jas demang atau jas tutup adalah pakaian adat Betawi. Sedangkan suku Betawi adalah kelompok etnik yang umumnya menduduki wilayah Jakarta.
Betawi adalah suku asli Jakarta yang sudah tinggal di Jakarta, dahulu bernama Batavia, sejak abad ke-18. Bahkan, asal mula nama suku itu berasal dari kata “Batavia” yang lambat laun berubah menjadi “Batavi” dan “Betawi”.
ANTARA FOTO/RIVAN AWAL LINGGA Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kiri) dan Wapres terpilih Gibran Rakabuming Raka (kanan) mengikuti pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2024-2029 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2024). Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan mengikuti sidang paripurna MPR pengucapan sumpah sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia masa bakti 2024-2029.Melalui jas demang, keempat tokoh politik Indonesia itu dipandang ingin menyampaikan apresiasi terhadap Jakarta yang telah mengemban tugas sebagai Ibu Kota secara resmi sejak tahun 1966.
“Kemudian, pemilihan jas tutup Palembang (kombinasi jas demang dan songket Sumatera Selatan) yang digunakan pak Prabowo melambangkan keberagaman kelompok etnik (di Indonesia),” ujar Bachtiar.
Adapun pesan serupa disampaikan oleh Jokowi pada pidato kenegaraan MPR, Agustus lalu. Ketika itu, presiden dua periode itu juga mengenakan busana adat serupa.
Dikonfirmasi oleh Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Abetnego Tarigan bahwa pilihan baju busana adat betawi karena Jokowi ingin berterima kasih kepada Jakarta yang telah menjadi Ibu Kota Negara, sekaligus menemaninya menghadapi berbagai tantangan bangsa selama 10 tahun pemerintahannya, seperti dilansir dari Kompas.
Kepraktisan
Kendati demikian, Bachtiar juga menduga bahwa pemilihan jas demang dilakukan demi kepraktisan. Pasalnya, cara menggunakan jas demang sama seperti jas pada umumnya.
Bedanya, jas demang terutama Ujung Serong dilengkapi dengan aksesori berupa rantai kuku macan atau jam saku pada saku kirinya.
Untuk bawahannya pun hanya menggunakan kain yang dipasang secara menyerong, serta celana bahan berwarna hitam.
Sedangkan jas demang yang digunakan Prabowo, yaitu Jas Tutup Palembang, dilengkapi dengan kain songket yang dipasang lurus. Aksesori bisa menggunakan rantai kuku macan atau jam saku.
“Tidak ada yang terlalu khusus terkait pesan yang disampaikan, hanya kepraktisan saja. Mereka pakai koleksi pribadi yang simpel yang mereka ada,” tutur Bachtiar.
Pemilihan jas demang juga kemungkinan dilakukan karena tampilannya yang formal, menyesuaikan dengan agenda pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terbaru yang formal.
“Jadi kepraktisan saja. Disesuaikan dengan acaranya yang formal, tidak seperti perayaan 17 Agustus yang mengangkat tema busana daerah,” Bachtiar berujar.