KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Empat jet tempur F-22 generasi kelima dari Skuadron Tempur Ekspedisi ke-27 Pangkalan Gabungan Langley-Eustis, Virginia, Amerika Serikat atau AS mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, Indonesia pada Selasa (6/8).
Kedutaan Besar AS untuk Indonesia dalam keterangan tertulis, Selasa (6/8), menyebutkan, ini menandai pertama kalinya jet tempur F-22 generasi kelima AS ini mendarat di Indonesia.
Kunjungan Angkatan Udara AS, yang telah direncanakan sebelumnya dengan koordinasi Pemerintah Indonesia, memungkinkan pilot dan tim pemeliharaan pesawat untuk meningkatkan pengetahuan akan operasi wilayah udara Indonesia.
"Dan menguji kemampuan pengisian bahan bakar cepat," sebut Kedutaan Besar AS untuk Indonesia.
Satu pesawat C-130 dari Garda Nasional Udara Amerika Serikat juga mendarat di Bali satu hari sebelumnya untuk mempersiapkan operasi pengisian bahan bakar cepat atawa rapid "hot pit" refueling untuk jet tempur F-22.
Pada November 2023, Menteri Pertahanan AS Austin dan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto menandatangani Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang bersejarah.
Dan, membahas cara-cara untuk memperluas kesempatan pelatihan, meningkatkan pertukaran pendidikan, serta meningkatkan kesadaran domain maritim.
Angkatan Udara AS melakukan pelatihan dan kegiatan secara rutin dengan Indonesia untuk lebih mengembangkan kemampuan operasional dan memastikan kawasan Indo Pasifik yang bebas dan terbuka.
KONTAN.CO.ID - RAF FAIRFORD, Inggris - Pemerintah Amerika Serikat akan membedah dengan cermat rencananya untuk platform Next Generation Air Dominance (NGAD).
Platform ini merupakan pengembangan dari keluarga pesawat tempur dan drone masa depan.
Menteri Angkatan Udara Frank Kendall pada hari Sabtu mengatakan, AS akan lebih cermat sebelum memutuskan apakah akan melanjutkannya.
Apalagi saat ini biaya penggantian F-22 di masa depan telah menjadi sorotan karena dianggap terlalu mahal.
Masing-masing penggantian pesawat tempur F-22 mencapai $300 juta atau tiga kali lipat dibandingkan dengan biaya pesawat tempur siluman F-35.
Meskipun demikian Kendall juga menyoroti ancaman yang terus berkembang, yang merujuk pada upaya China untuk mempersenjatai diri dengan cepat.
Atas pertimbangan itu, maka gagasan untuk menggunakan drone atau Collaborative Combat Aircraft (CCA) akan tetap menjadi bagian dari inisiatif yang diusulkan, katanya.
“Sebelum kami membuat komitmen yang hampir kami buat, kami ingin memastikan bahwa kami telah mendapatkan konsep desain yang tepat,” kata Kendall di Royal International Air Tattoo Inggris, pertunjukan udara militer terbesar di dunia.
Kepada wartawan Kendall menjelaskan, NGAD dirancang sebelum beberapa hal; Yakni Pertama, sebelum ancaman keamanan menjadi begitu parah; Kedua, sebelum CCA diperkenalkan; dan Ketiga, sebelum Amerika Serikat menghadapi beberapa masalah keterjangkauan dalam pembelian, yang saat ini mereka hadapi.
“Jadi kami akan mengkaji NGAD dengan cermat sebelum bergerak maju, namun rangkaian sistem yang mencakup platform berawak dan CCA serta sistem senjata dan komunikasi… masih merupakan konsep yang kami kejar,” katanya.
Angkatan Udara AS menghadapi biaya besar untuk memperbarui alat penangkal nuklir berbasis darat dan mengembangkan pesawat pengebom B-21.
“Sebelum kami berkomitmen pada anggaran tahun 2026, kami ingin memastikan bahwa kami berada di jalur yang benar,” kata Kendall kepada wartawan.
Analis yang menghadiri pertunjukan udara tersebut mengatakan kedalaman tinjauan tersebut menunjukkan bahwa Angkatan Udara ingin menyegarkan pandangannya tentang apakah NGAD tetap beradaptasi dengan baik terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh Tiongkok ketika jadwalnya memasuki tahun 2030-an.
“NGAD adalah serangkaian program di bawah payung kemampuan yang diinginkan Angkatan Udara agar dapat mencegah Tiongkok dengan lebih baik dan untuk berperang dan menang jika diperlukan,” kata Vago Muradian, editor Defense & Aerospace Report.
“China sedang mengubah cara mereka berperang. Jadi pertanyaan yang diajukan Angkatan Udara dengan anggaran terbatas adalah apakah puluhan miliar dolar adalah investasi yang tepat, atau adakah cara yang lebih baik untuk mencapai beberapa tujuan yang sama. ".
Boeing dan Lockheed Martin secara luas dipandang bersaing untuk memenangkan bagian inti pesawat tempur dari proyek tersebut.
Pemikiran ulang ini telah menarik perhatian di Eropa karena proyek GCAP tanpa awak milik Inggris, yang bekerja sama dengan Jepang dan Italia, mungkin akan mendapat sorotan dalam tinjauan pertahanan Inggris yang akan datang dan Perancis, Jerman dan Spanyol sedang mengerjakan proyek FCAS/SCAF.
Mitra di GCAP diharapkan memberikan informasi terkini pada pembukaan Farnborough International Airshow pada hari Senin.