WASHINGTON, investor.id – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) AS menyetujui penjualan jet tempur F-35 ke negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yakni Rumania. Menurut laporan Pentagon, nilai kesepakatan tersebut mencapai US$ 7,2 miliar atau setara Rp 110,9 triliun.
Kontraktor utama untuk pesawat tersebut adalah raksasa pertahanan dan kedirgantaraan AS Lockheed Martin Inc., lapor Reuters, Sabtu (14/9/2024). Pesanan tersebut juga mencakup 33 mesin dari anak perusahaan RTX, Pratt & Whitney.
Kontrak tersebut masih harus disetujui oleh Kongres AS.
“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu NATO, yang merupakan kekuatan penting bagi stabilitas politik dan ekonomi di Eropa,” demikian bunyi pernyataan Departemen Luar Negeri tersebut, Sabtu.
Pengumuman kontrak tersebut muncul saat pilot Ukraina mulai berlatih minggu ini di sebuah pusat khusus di Rumania. Mereka menggunakan F-16, jet tempur buatan AS yang telah disetujui pemerintah AS untuk digunakan guna mengusir Rusia dari tanah Ukraina.
Rumania menempati posisi strategis di pintu gerbang Ukraina dan Laut Hitam. Wilayahnya juga digadang-gadang dijadikan sebagai pusat internasional untuk pelatihan F-16. Pihak Rumania meresmikan pusat pelatihan F-16 di pangkalan udara Fetesti pada November 2023, serta berjanji untuk juga melatih warga Ukraina di sana.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken bertemu dengan mitranya dari Rumania Luminita Odobescu pada Kamis (12/9/2024). Ia berterima kasih kepada Bucharest atas pengiriman sistem pertahanan rudal Patriot ke Ukraina.
Departemen Luar Negeri juga mengumumkan persetujuan pada Jumat (13/9/2024) atas penjualan tanker pengisian bahan bakar udara KC-46A senilai US$ 4,1 miliar, setara sekitar Rp 63,2 triliun, ke Jepang.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
KONTAN.CO.ID - RAF FAIRFORD, Inggris - Pemerintah Amerika Serikat akan membedah dengan cermat rencananya untuk platform Next Generation Air Dominance (NGAD).
Platform ini merupakan pengembangan dari keluarga pesawat tempur dan drone masa depan.
Menteri Angkatan Udara Frank Kendall pada hari Sabtu mengatakan, AS akan lebih cermat sebelum memutuskan apakah akan melanjutkannya.
Apalagi saat ini biaya penggantian F-22 di masa depan telah menjadi sorotan karena dianggap terlalu mahal.
Masing-masing penggantian pesawat tempur F-22 mencapai $300 juta atau tiga kali lipat dibandingkan dengan biaya pesawat tempur siluman F-35.
Meskipun demikian Kendall juga menyoroti ancaman yang terus berkembang, yang merujuk pada upaya China untuk mempersenjatai diri dengan cepat.
Atas pertimbangan itu, maka gagasan untuk menggunakan drone atau Collaborative Combat Aircraft (CCA) akan tetap menjadi bagian dari inisiatif yang diusulkan, katanya.
“Sebelum kami membuat komitmen yang hampir kami buat, kami ingin memastikan bahwa kami telah mendapatkan konsep desain yang tepat,” kata Kendall di Royal International Air Tattoo Inggris, pertunjukan udara militer terbesar di dunia.
Kepada wartawan Kendall menjelaskan, NGAD dirancang sebelum beberapa hal; Yakni Pertama, sebelum ancaman keamanan menjadi begitu parah; Kedua, sebelum CCA diperkenalkan; dan Ketiga, sebelum Amerika Serikat menghadapi beberapa masalah keterjangkauan dalam pembelian, yang saat ini mereka hadapi.
“Jadi kami akan mengkaji NGAD dengan cermat sebelum bergerak maju, namun rangkaian sistem yang mencakup platform berawak dan CCA serta sistem senjata dan komunikasi… masih merupakan konsep yang kami kejar,” katanya.
Angkatan Udara AS menghadapi biaya besar untuk memperbarui alat penangkal nuklir berbasis darat dan mengembangkan pesawat pengebom B-21.
“Sebelum kami berkomitmen pada anggaran tahun 2026, kami ingin memastikan bahwa kami berada di jalur yang benar,” kata Kendall kepada wartawan.
Analis yang menghadiri pertunjukan udara tersebut mengatakan kedalaman tinjauan tersebut menunjukkan bahwa Angkatan Udara ingin menyegarkan pandangannya tentang apakah NGAD tetap beradaptasi dengan baik terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh Tiongkok ketika jadwalnya memasuki tahun 2030-an.
“NGAD adalah serangkaian program di bawah payung kemampuan yang diinginkan Angkatan Udara agar dapat mencegah Tiongkok dengan lebih baik dan untuk berperang dan menang jika diperlukan,” kata Vago Muradian, editor Defense & Aerospace Report.
“China sedang mengubah cara mereka berperang. Jadi pertanyaan yang diajukan Angkatan Udara dengan anggaran terbatas adalah apakah puluhan miliar dolar adalah investasi yang tepat, atau adakah cara yang lebih baik untuk mencapai beberapa tujuan yang sama. ".
Boeing dan Lockheed Martin secara luas dipandang bersaing untuk memenangkan bagian inti pesawat tempur dari proyek tersebut.
Pemikiran ulang ini telah menarik perhatian di Eropa karena proyek GCAP tanpa awak milik Inggris, yang bekerja sama dengan Jepang dan Italia, mungkin akan mendapat sorotan dalam tinjauan pertahanan Inggris yang akan datang dan Perancis, Jerman dan Spanyol sedang mengerjakan proyek FCAS/SCAF.
Mitra di GCAP diharapkan memberikan informasi terkini pada pembukaan Farnborough International Airshow pada hari Senin.