REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang Brigjen Joao Xavier Barreto Nunes menyatakan, siap membina Yohanes Ande Kalla alias Joni yang terkenal karena memanjat tiang agar bendera merah putih bisa dikerek ke atas. Joni yang mendaftar calon bintara TNI AD 2024 gagal lolos karena masalah tinggi badan. Joao pun siap membantu Joni agar bisa lolos seleksi menjadi prajurit TNI ke depannya.
"Saya akan bina dia, saya akan mempersiapkan dia nanti kemudian kita tanya dia, dia mau tes di mana, kan kita ada Bintara, ada Tamtama, dan ada Wamil, nah kalau mau Wamil kita akan arahkan ke Universitas Pertahanan (Unhan) Atambua, nanti akan kita arahkan," kata Joao saat ditemui di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/8/2024).
Joao menjelaskan, Joni pada dasarnya ingin menjadi prajurit TNI AD. Sayang setelah ia terkenal akibat aksi heroiknya viral pada 2018, tidak ada yang membinanya sejak dini agar mempersiapkan diri menjadi seorang prajurit TNI.
Joao pun mengaku, baru bertemu dengan Joni pada Maret 2024. Saat itu, ia sudah berpesan kepada Joni agar jika ingin menjadi prajurit TNI maka harus mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari.
Joao menjelaskan, memang selama 1,5 bulan terakhir ini, Dandim 1605/Belu Letkol Arh Suhardi sudah berusaha membantu dan mendidik Joni. Namun, hasilnya belum signifikan.
“Memang kemarin masalahnya di tinggi badan, Joni tinggi badan hanya 155,8 meter, sementara ada juga yang tinggi badannya 162,9 meter tetapi tidak lolos juga, padahal syaratnya 163 meter, ya kita tetap berpegang teguh pada syarat yang ada," ujar Joao.
Menurut Joao, jika saat tes Bintara tidak lulus karena tinggi badan, Joni akan disiapkan untuk mengikuti tes di Unhan Atambua melalui jalur khusus untuk tes kejuruan atau keahlian pada akhir Agustus 2024.
Joao menyebut, untuk menjadi tentara tidak perlu lagi harus berada di medan perang, tetapi di bidang lain, seperti bagian kejuruan lainnya. Dia mengatakan, Joni dalam hal fisik akan diberikan terapi khusus sehingga bisa meningkatkan tinggi badannya dalam beberapa sentimeter sehingga kelak bisa lolos masuk TNI.
"Ada terapi yang akan diberikan, saya sudah tanya-tanya dan bisa untuk meningkatkan tinggi badan, nanti akan kita terapkan ke Joni," ujar Joao.
Sementara itu Joni, mengaku akan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk TNI berikutnya di Unhan. Pasalnya, ia sangat ingin menjadi tentara. "Saya yang penting menjadi tentara, nanti saya akan mempersiapkan diri lebih baik lagi, sebagai persiapan untuk tes masuk nanti," ujar Joni.
Dijanjikan Jokowi lolos...
Sebelumnya, Joni yang viral karena memanjat tiang bendera saat HUT ke-73 RI di NTT pada 2018, mengagetkan publik lantaran gagal lolos TNI AD. Padahal, Joni sudah dijanjikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bisa daftar menjadi TNI kala diundang ke Istana. Joni ternyata gagal lolos seleksi prajurit Calon Bintara (Caba) PK Reguler TNI AD tahun anggaran 2024.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Kristomei Sianturi membenarkan alasan Joni gagal lolos seleksi TNI AD. Ternyata tinggi Joni masih di bawah standar. "Tidak memenuhi syarat dari aspek tinggi badan minimal 160 cm untuk daerah tertinggal," kata Kristomei di Jakarta, Selasa (6/8/2024).
Dalam rekrutmen prajurit TNI, normalnya tinggi badan minimal pria 165 sentimeter (cm) dan wanita 160 cm. Namun, ada kebijakan afirmasi di daerah tertinggi dan terluar, yaitu tunggi pria menjadi minimal 160 cm. Namun, tinggu Joni baru 155 cm. Atas alasan itu, ia mendorong Joni untuk bisa lebih mempersiapkan diri saat pendaftaran seleksi tahun depan.
Meski begitu, Kristomei tetap mengapresiasi penghargaan dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Mendikbud Muhadjir Effendy. Berkat aksi heroik Joni ketika upacara 17 Agustus 2018, ia pun bisa mengharumkan nama pribadi dan kampungnya.