#30 tag 24jam
Larangan Tembakau Bantu Cegah 1,2 juta Kematian Akibat Kanker Paru
Studi terbaru menyebutkan menghapus generasi perokok bisa selamatkan 1,2 juta jiwa dari kematian akibat kanker paru pada 2095. [721] url asal
#tembakau #kanker-paru #merokok
(Bisnis.Com - Terbaru) 09/10/24 16:35
v/16204436/
Bisnis.com, JAKARTA -- Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa menciptakan generasi tanpa perokok melalui pelarangan tembakau dapat mencegah 1,2 juta kematian akibat kanker paru di seluruh dunia.
Studi simulasi yang telah diterbitkan dalam jurnal The Lancet Public Health ini merupakan salah satu yang pertama dalam jenisnya. Penelitian ini dilaksanakan oleh para peneliti dari Universitas Santiago de Compostela dan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), bekerja sama dengan para ahli global.
Studi tersebut mengusulkan bahwa pelarangan penjualan rokok dan produk tembakau lainnya kepada individu yang lahir antara 2006 dan 2010 dapat menyebabkan penurunan signifikan dalam kematian akibat kanker paru pada 2095.
Temuan penelitian ini menekankan bahwa membangun "generasi bebas tembakau" dapat secara signifikan mengurangi jumlah kematian akibat kanker paru-paru terkait rokok di masa mendatang.
Saat ini, rokok merupakan penyebab utama kematian yang dapat dicegah secara global, yang berkontribusi terhadap lebih dari dua pertiga dari 1,8 juta kematian akibat kanker paru setiap tahun.
“Kanker paru merupakan pembunuh utama di seluruh dunia, dan dua pertiga kematian terkait dengan satu faktor risiko yang dapat dicegah, yaitu dengan mencegah rokok,” kata penulis utama penelitian, Julia Rey Brandariz dari University of Santiago de Compostela, dilansir Earth.com, Selasa (8/10/2024).
Menurut Brandariz, hal ini tidak hanya dapat menyelamatkan banyak nyawa, tetapi juga dapat mengurangi beban sistem kesehatan dalam merawat dan merawat orang yang sakit akibat merokok.
Meskipun ada potensi dampak, saat ini tidak ada negara yang memiliki undang-undang yang melarang penjualan tembakau kepada kaum muda.
Upaya penting seperti di Selandia Baru untuk melarang penjualan tembakau kepada individu yang lahir pada atau setelah 2009 bahkan baru-baru ini dicabut.
Sebagian besar penelitian sebelumnya tentang pembatasan tembakau berfokus pada manfaat kesehatan tanpa membahas potensinya untuk mengurangi kematian.
Namun, studi ini menjadi yang pertama kali mengkaji dampak jangka panjang dari generasi bebas tembakau terhadap mortalitas kanker paru, dengan fokus pada individu yang lahir antara 2006 dan 2010, sejalan dengan usia legal untuk membeli tembakau di sebagian besar negara.
Para peneliti menggunakan data historis dari 82 negara dalam Basis Data Mortalitas WHO dan menerapkannya pada basis data GLOBOCAN 2022, platform statistik kanker global IARC, untuk memprediksi tingkat kematian kanker paru di masa mendatang bagi individu yang lahir selama periode ini.
Jumlah kematian akibat kanker paru yang dapat dicegah akibat merokok juga dihitung menggunakan data dari studi sebelumnya terhadap bukan perokok.
Dari analisis yang dilakukan, menunjukkan bahwa menghilangkan kebiasaan merokok di antara generasi ini dapat mencegah sekitar 1,2 juta kematian akibat kanker paru-paru di 185 negara.
Hal ini mewakili 40,2% dari total kematian akibat kanker paru yang diperkirakan terjadi pada kelompok ini pada 2095.
Studi tersebut juga memperkirakan bahwa hampir setengah dari kematian akibat kanker paru di kalangan pria tepatnya 45,8% atau 844.200 dari 1,8 juta kematian, dapat dicegah, sementara hampir sepertiga dari kematian pada wanita, tepatnya 30,9% atau 342.400 dari 1,1 juta kematian dapat dihindari.
Masalahnya, meskipun tingkat merokok di negara-negara berpendapatan tinggi telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, kanker paru-paru tetap menjadi penyebab utama kematian dan penyakit.
"Namun, di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, yang populasi kaum mudanya tumbuh pesat, dampak pelarangan penjualan tembakau bisa jadi lebih besar," kata penulis studi Isabelle Soerjomataram dari Badan Internasional untuk Penelitian Kanker.
Soerjomataram mencatat bahwa salah satu alasan mengapa penghapusan rokok dapat menyelamatkan banyak nyawa di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah adalah karena populasi mereka cenderung lebih muda daripada negara-negara berpendapatan tinggi.
“Merokok juga masih sangat umum di banyak negara ini, sementara angkanya telah menurun di banyak negara berpendapatan tinggi," imbuhnya.
Namun, para penulis penelitian menyadari masih ada keterbatasan dari studi ini, yakni ketidakmampuan untuk memperhitungkan faktor-faktor seperti pasar gelap atau masalah kepatuhan.
Penelitian ini juga tidak memperhitungkan rokok elektrik atau perubahan tingkat kanker paru di antara mereka yang bukan perokok karena adanya perbaikan dalam perawatan kesehatan.
Namun, dengan fokus penelitian pada rokok tembakau, temuan tersebut menjadi dasar kuat untuk kebijakan bebas tembakau yang bertujuan untuk mengurangi kematian akibat kanker paru dan meningkatkan hasil kesehatan global.
“Intinya, kami memperkirakan bahwa lebih dari 1,1 juta kematian akibat kanker paru-paru di 185 negara dapat dicegah dalam satu kelompok kelahiran 5 tahun jika kebiasaan merokok dihilangkan,” tulis para peneliti.
Oleh karena itu, para peneliti menegaskan agar adanya penerapan langkah-langkah pengendalian tembakau dari pemerintah tiap-tiap negara untuk membantu mengurangi prevalensi merokok.5
Kanker Paru: Tipe, Gejala, dan Faktor Risiko
Ini dia gejala, tipe dan faktor risiko tinggi terkena Kanker Paru-paru [445] url asal
#kanker-paru #kanker-paru-pada-anak #gejala-kanker-paru #tipe-kanker-paru
(Bisnis.Com) 04/08/24 09:15
v/13216336/
Bisnis.com, JAKARTA – Kanker paru-paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh pembelahan sel yang tidak terkendali pada paru-paru.
Pada saat membelah, terkadang sel tersebut akan mengalami perubahan atau mutasi–yang menyebabkannya terus memperbanyak diri.
Sel-sel yang rusak akan membelah secara tidak terkendali dan pada akhirnya membuat organ-organ tubuh Anda tidak berfungsi secara optimal. Dilansir dari Cleveland Clinic, berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang kanker paru:
Jenis kanker paru-paru
Kanker paru-paru biasanya dapat terjadi di saluran udara–bronkus atau bronkiolus–atau kantung udara kecil–alveoli. Kanker paru-paru biasanya memiliki dua jenis utama, yaitu kanker paru-paru non-sel kecil dan kanker paru-paru sel kecil.
1. Kanker paru non-sel kecil (NSCLC)
Kanker ini merupakan jenis yang paling umum–mencakup lebih dari 80% kasus kanker paru–termasuk adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa.
2. Kanker paru sel kecil (SCLC)
Kanker paru jenis ini tumbuh lebih cepat dan lebih sulit diobati. Jenis ini sering ditemukan sebagai tumor paru yang relatif kecil–yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jenis ini meliputi karsinoma sel kecil.
Kanker paru-paru juga dapat dikategorikan berdasarkan stadiumnya. Hal ini dapat dilihat dari ukuran tumor awal, seberapa jauh penyebarannya, dan sudah atau belumnya kanker tersebut menyebar ke organ lain. Secara umum, stadium kanker paru-paru dapat dibagi menjadi stadium 0, I, II, II, dan IV.
Gejala
Kebanyakan gejala kanker paru-paru mirip dengan penyakit lain–yang tidak terlalu serius. Banyak yang tidak mengalaminya hingga penyakit tersebut berkembang. Beberapa gejala tersebut adalah:
- Batuk dalam jangka waktu yang lama–atau semakin parah seiring berjalannya waktu.
- Sesak napas.
- Rasa tidak nyaman atau nyeri pada dada.
- Mengi (muncul suara seperti siulan pada saat bernapas).
- Batuk berdarah (hemoptisis).
- Suara serak.
- Kehilangan selera makan dan penurunan berat badan.
- Kelelahan dan sakit bahu.
- Pembengkakan pada wajah, leher, lengan, atau dada bagian atas.
- Pupil yang kecil dan kelopak salah satu mata terkulai.
Faktor risiko
Merokok merupakan faktor risiko paling berpengaruh. Namun, Anda juga dapat berisiko terkena kanker paru-paru meskipun Anda bukan perokok. Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, berikut beberapa faktor yang dapat membuat Anda berisiko terkena kanker paru-paru:
- Riwayat keluarga, risikonya dua kali lebih besar dibandingkan seseorang yang tidak memiliki riwayat keluarga kanker paru-paru.
- Terpapar asap rokok orang lain. Meskipun jumlahnya lebih sedikit, zat yang dihirup masih merupakan zat yang sama.
- Terpapar zat-zat berbahaya, seperti radon, asbes, uranium, dan lain-lain.
- Suplemen vitamin, beta karoten dianggap dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.
Cara pencegahan
- Anda dapat mengikuti beberapa cara berikut untuk mengurangi faktor risiko:
- Hindari paparan asap rokok dan zat-zat lain yang dapat membahayakan paru-paru Anda.
- Mengonsumsi makanan sehat dan menjaga berat badan.
- Melakukan pemeriksaan jika Anda berisiko tinggi. (Rafi Abid Wibisono)
Seberapa Umum Kanker Paru-paru Terjadi pada Orang yang Tidak Merokok?
Orang yang tidak merokok kanker paru-paru masih bisa terjadi, ini risikonya [339] url asal
#kanker-paru #paru #kanker #kanker-paru-paru
(Bisnis.Com) 30/07/24 09:55
v/12627604/
Bisnis.com, JAKARTA - Kanker paru-paru masih menjadi salah satu kanker paling umum di dunia dan merupakan penyebab utama kematian akibat kanker.
Faktor risiko utama penyakit ini adalah merokok, dengan perkiraan saat ini menunjukkan bahwa merokok dikaitkan dengan sekitar 80% kematian akibat kanker paru-paru.
Namun, kanker paru-paru tidak hanya terjadi pada perokok. Sekitar 10-20% kanker paru-paru terdiagnosis pada orang yang bukan perokok, sering kali disebabkan oleh paparan faktor risiko lingkungan seperti radon, perokok pasif, asbes, knalpot solar, dan berbagai bahan kimia.
Dilansir dari timesofindia, Dr Prashant Saxena, Direktur Senior & Kepala Unit pulmonologi dan pengobatan tidur, Fortis mengatakan wanita secara statistik lebih mungkin terkena kanker paru-paru dalam kondisi ini dibandingkan pria.
Mutasi genetik yang mempengaruhi regulasi pertumbuhan sel juga dapat menyebabkan kanker paru-paru. Mutasi ini mungkin diturunkan dan diturunkan dalam keluarga, sehingga menyoroti pentingnya skrining genetik bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit dalam keluarga.
Baik perokok maupun bukan perokok mungkin mengalami gejala serupa, termasuk nyeri dada, sesak napas, batuk, mengi, infeksi paru-paru berulang, dahak berdarah, penurunan berat badan, demam, dan kehilangan nafsu makan.
Saat ini, belum ada pedoman standar untuk skrining kanker paru pada non-perokok. Meskipun demikian, individu dengan risiko lebih tinggi karena riwayat keluarga atau faktor risiko lainnya harus menjalani pemantauan cermat terhadap gejala yang mungkin memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Tes diagnostik awal mungkin melibatkan pemeriksaan darah, rontgen dada, CT scan, PET scan, dan evaluasi kelenjar paru-paru melalui bronkoskopi dan USG endobronkial. Kemajuan dalam pengurutan genom memungkinkan identifikasi mutasi genetik pada sel kanker, yang penting untuk memandu pengobatan dan menentukan prognosis.
Dewan tumor multidisiplin, yang terdiri dari berbagai spesialis, memainkan peran penting dalam menentukan jenis dan stadium tumor serta merekomendasikan pengobatan yang tepat. Pilihan pengobatan untuk kanker paru-paru bervariasi berdasarkan jenis dan stadiumnya dan mungkin termasuk kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, pembedahan, dan terapi bertarget.
Keberhasilan pengobatan kanker paru-paru memerlukan pendekatan yang terorganisir, berbasis tim, dan strategi holistik yang terintegrasi. Pengujian genom, pengurutan, dan penentuan stadium yang akurat merupakan komponen penting dalam mengelola penyakit dan merancang rencana pengobatan yang efektif.
Terobosan Teknologi EBUS dalam Deteksi Kanker Paru
EBUS adalah prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dan memperoleh sampel dari saluran pernapasan, paru-paru, dan kelenjar getah bening. [735] url asal
#rs-siloam #kanker-paru #info-tempo
(Bisnis Tempo) 15/07/24 19:16
v/10881011/
INFO BISNIS – Di Indonesia, kanker paru menjadi salah satu jenis kanker yang banyak terjadi. Faktor utama penyebabnya adalah aktivitas merokok. Namun, faktor lain seperti paparan asap, zat berbahaya seperti asbes, radon, dan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker paru.
Menurut dokter spesialis paru RS Siloam MRCCC Semanggi, Ginanjar Arum Desianti, untuk mendiagnosis kanker paru, langkah yang dapat dilakukan adalah rontgen dada, CT scan, sitologi dahak untuk mendeteksi sel-sel kanker dalam dahak, dan biopsi di jaringan yang dicurigai.
Arum pun memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai salah satu prosedur diagnosis kanker paru yaitu Endobronchial Ultrasound atau biasa dikenal dengan EBUS.
EBUS adalah prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dan memperoleh sampel dari saluran pernapasan, paru-paru, dan kelenjar getah bening.
Prosedur ini melibatkan penggunaan tabung kecil yang dilengkapi dengan kamera video dan ultrasound yang dimasukkan melalui mulut dan tenggorokan.
EBUS memiliki beberapa manfaat seperti memberikan sampel asli dari area yang dijangkau, menghasilkan gambar yang detail untuk evaluasi patologi, dan menyediakan pilihan anestesi sedang atau anestesi umum.
Proses EBUS juga relatif cepat dan sebagian besar pasien dapat pulang pada hari yang sama.
Menurut Arum, EBUS bisa menjadi alternatif pilihan diagnosis yang tepat karena tingkat ketepatan dan keberhasilan mencapai 95 persen.
“Dengan bantuan diagnosis EBUS, pasien tentunya akan mendapatkan proses pengobatan yang tepat sehingga kualitas hidup akan menjadi lebih baik,” ujar Arum.
Di bawah ini ada beberapa langkah yang dilakukan dalam prosedur EBUS.
Persiapan
Sebelum melakukan EBUS, pasien akan menjalani pemeriksaan pra-prosedur, termasuk pemeriksaan fisik dan riwayat medis. Pasien mungkin juga perlu berpuasa beberapa jam sebelum prosedur, sesuai dengan instruksi dokter.
Jika ada kondisi medis tertentu atau penggunaan obat-obatan tertentu, dokter akan memberikan instruksi khusus terkait persiapan.
Anestesi
EBUS dapat dilakukan dengan anestesi sedang atau anestesi umum, tergantung pada situasi dan preferensi pasien. Penting bagi pasien untuk mengikuti instruksi dokter terkait kebutuhan makan atau minum sebelum prosedur dilakukan.
Memasukkan Tabung Endobronchial Ultrasound
Setelah pasien dibius, dokter akan memasukkan tabung kecil yang dilengkapi dengan kamera dan probe ultrasound melalui mulut dan tenggorokan pasien.
Tabung ini akan mencapai saluran pernapasan, paru-paru, dan mungkin juga kelenjar getah bening di sekitarnya.
Pemantauan Visualisasi
Saat tabung EBUS dimasukkan, dokter akan menggunakan monitor untuk melihat gambaran langsung dari saluran pernapasan, paru-paru, dan kelenjar getah bening. Gambar ini akan membantu dokter dalam menemukan dan mengevaluasi area yang diperlukan.
Aspirasi Jarum Transbronkial (TBNA)
Selain visualisasi, dokter juga dapat melakukan teknik aspirasi jarum transbronkial (TBNA) selama EBUS. Teknik ini memungkinkan dokter mengambil sampel jaringan atau cairan dari paru-paru dan kelenjar getah bening di sekitarnya menggunakan jarum kecil.
Penutupan dan Pemulihan
Setelah prosedur selesai, tabung EBUS akan ditarik perlahan. Saat efek anestesi menghilang, pasien akan dipantau secara berkala untuk memastikan pemulihan yang baik.
Setelah EBUS, dokter akan menggunakan sampel yang diambil selama prosedur untuk analisis lebih lanjut dan mendiagnosis kondisi pasien.
Pada umumnya, pasien dapat pulang pada hari yang sama dengan prosedur, tetapi ini juga akan tergantung pada keadaan individu dan instruksi dokter.
Apabila ada gejala tidak biasa atau masalah setelah prosedur, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.
Setelah prosedur EBUS, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memastikan pemulihan yang optimal. Di bawah ini adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
Istirahat dan Pemulihan
Setelah prosedur EBUS, penting bagi pasien untuk istirahat yang cukup untuk memungkinkan tubuh pulih. Hindari aktivitas yang berat dan pastikan untuk tidur dengan baik.
Perawatan Luka
Pasien mungkin mengalami sedikit ketidaknyamanan atau sakit tenggorokan setelah prosedur. Minum air hangat dapat membantu meredakan gejala ini. Jika ada perdarahan atau infeksi, segera hubungi dokter.
Pengawasan Gejala
Pasien juga perlu memantau gejala-gejala yang tidak biasa seperti demam, batuk berdarah, atau sesak napas yang memburuk. Jika mengalami hal ini, segera berkonsultasi dengan dokter.
Pencegahan Infeksi
Pasien harus menjaga kebersihan diri untuk mencegah infeksi pasca-prosedur. Cuci tangan dengan sabun dan air dengan saksama, hindari kerumunan, dan hindari kontak dengan orang yang sedang sakit.
Pencegahan kanker paru sangat penting. Hindari hal-hal yang menyebabkan kanker paru-paru dan konsumsi nutrisi yang baik untuk kesehatan paru-paru, menjalani hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Menggunakan alat pelindung diri dari paparan bahan kimia juga dapat membantu dalam pencegahan kanker paru-paru.
Apabila Anda memiliki permasalahan mengenai paru-paru atau mengalami sesak dada, atau masalah pernapasan lainnya, dokter spesialis paru RS Siloam MRCCC Semanggi, Ginanjar Arum Desianti dapat menjadi pilihan yang tepat untuk berkonsultasi.
Anda bisa lakukan booking jadwal konsultasi dokter dengan mengunjungi https://www.siloamhospitals.com/cari-dokter atau mengakses aplikasi MySiloam atau menghubungi Contact Center 1-500-181. (*)
Terobosan Teknologi EBUS dalam Deteksi Kanker Paru
EBUS adalah prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dan memperoleh sampel dari saluran pernapasan, paru-paru, dan kelenjar getah bening. [966] url asal
#rs-siloam #kanker-paru #info-tempo
(Bisnis Tempo) 15/07/24 19:16
v/10872349/
INFO BISNIS - Kanker paru adalah kondisi kesehatan yang serius dan merupakan salah satu jenis kanker yang banyak terjadi di Indonesia. Faktor utama penyebabnya adalah aktivitas merokok, namun faktor lain seperti paparan asap (perokok pasif), zat berbahaya seperti asbes, radon, dan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker paru.
Menurut dr. Ginanjar Arum Desianti, Sp.P (K), dokter spesialis paru RS Siloam MRCCC Semanggi, kanker paru terjadi ketika sel-sel di dalam paru-paru berkembang secara tidak terkendali. Ada dua jenis utama kanker paru-paru, kanker paru primer, yang dimulai di paru-paru itu sendiri, dan kanker paru sekunder, yang merupakan penyebaran dari kanker di area tubuh lain.
“Gejalanya tidak selalu terlihat pada tahap awal, tetapi beberapa tanda awal yang sering muncul adalah sesak napas, suara serak, batuk terus-menerus dengan atau tanpa dahak dan darah, nyeri dada, serta kelelahan,” sebut dr. Arum, Senin, 15 Juli 2024.
Ketika kanker paru telah menyebar, gejala yang mungkin muncul termasuk sakit kepala, berat badan turun secara drastis, gangguan keseimbangan, mata dan kulit yang kekuningan, nyeri sendi dan tulang, serta pembengkakan kelenjar getah bening.
Untuk mendiagnosis kanker paru, beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah rontgen dada untuk melihat keadaan yang tidak normal, CT scan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail, sitologi dahak untuk mendeteksi sel-sel kanker dalam dahak, dan biopsi yang dilakukan melalui bronkoskopi untuk memperoleh sampel jaringan yang dicurigai.
Lebih lanjut, dr. Arum menyebutkan jika pengobatan kanker paru disesuaikan dengan jenis kanker dan tingkat penyebaran. Beberapa pilihan pengobatan meliputi operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi target, dan imunoterapi. Setiap pasien akan menerima metode pengobatan yang disesuaikan dengan kondisinya masing-masing.
Dalam pembahasan selanjutnya, setelah membahas secara singkat mengenai kanker paru, dr. Arum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai salah satu prosedur diagnosis kanker paru yaitu Endobronchial Ultrasound atau biasa dikenal dengan EBUS.
EBUS adalah prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dan memperoleh sampel dari saluran pernapasan, paru-paru, dan kelenjar getah bening. Prosedur ini melibatkan penggunaan tabung kecil yang dilengkapi dengan kamera video dan ultrasound yang dimasukkan melalui mulut dan tenggorokan.
EBUS memiliki beberapa manfaat, termasuk kemampuannya untuk memberikan sampel asli langsung dari area yang dijangkau, menghasilkan gambar yang detail untuk evaluasi patologi, dan menyediakan pilihan anestesi sedang atau anestesi umum. Proses EBUS juga relatif cepat dan sebagian besar pasien dapat pulang pada hari yang sama.
“EBUS bisa menjadi alternatif pilihan diagnosis yang tepat karena tingkat ketepatan dan keberhasilan mencapai 95 persen. Dengan bantuan diagnosis EBUS, pasien tentunya akan mendapatkan proses pengobatan yang tepat sehingga kualitas hidup akan menjadi lebih baik,” ujar dr. Arum.
Ada beberapa langkah yang dilakukan dalam prosedur EBUS antara lain:
1. Persiapan: Sebelum melakukan EBUS, pasien akan menjalani pemeriksaan pra-prosedur, termasuk pemeriksaan fisik dan riwayat medis. Pasien mungkin juga perlu berpuasa beberapa jam sebelum prosedur, sesuai dengan instruksi dokter. Jika ada kondisi medis tertentu atau penggunaan obat-obatan tertentu, dokter akan memberikan instruksi khusus terkait persiapan.
2. Anestesi: EBUS dapat dilakukan dengan anestesi sedang atau anestesi umum, tergantung pada situasi dan preferensi pasien. Penting bagi pasien untuk mengikuti instruksi dokter terkait kebutuhan makan atau minum sebelum prosedur dilakukan.
3. Memasukkan Tabung Endobronchial Ultrasound: Setelah pasien dibius, dokter akan memasukkan tabung kecil yang dilengkapi dengan kamera dan probe ultrasound melalui mulut dan tenggorokan pasien. Tabung ini akan mencapai saluran pernapasan, paru-paru, dan mungkin juga kelenjar getah bening di sekitarnya.
4. Pemantauan Visualisasi: Saat tabung EBUS dimasukkan, dokter akan menggunakan monitor untuk melihat gambaran real-time dari saluran pernapasan, paru-paru, dan kelenjar getah bening. Gambar ini akan membantu dokter dalam menemukan dan mengevaluasi area yang diperlukan.
5. Aspirasi Jarum Transbronkial (TBNA): Selain visualisasi, dokter juga dapat melakukan teknik aspirasi jarum transbronkial (TBNA) selama EBUS. Teknik ini memungkinkan dokter mengambil sampel jaringan atau cairan dari paru-paru dan kelenjar getah bening di sekitarnya menggunakan jarum kecil.
6. Penutupan dan Pemulihan: Setelah prosedur selesai, tabung EBUS akan ditarik perlahan. Saat efek anestesi menghilang, pasien akan dipantau secara berkala untuk memastikan pemulihan yang baik.
Setelah EBUS, dokter akan menggunakan sampel yang diambil selama prosedur untuk analisis lebih lanjut dan mendiagnosis kondisi pasien. Pada umumnya, pasien dapat pulang pada hari yang sama dengan prosedur, tetapi ini juga akan tergantung pada keadaan individu dan instruksi dokter. Apabila ada gejala tidak biasa atau masalah setelah prosedur, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.
Setelah prosedur EBUS, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memastikan pemulihan yang optimal. Di bawah ini adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
1. Istirahat dan Pemulihan: Setelah prosedur EBUS, penting bagi pasien untuk istirahat yang cukup untuk memungkinkan tubuh pulih. Hindari aktivitas yang berat dan pastikan untuk tidur dengan baik.
2. Perawatan Luka: Pasien mungkin mengalami sedikit ketidaknyamanan atau sakit tenggorokan setelah prosedur. Minum air hangat dapat membantu meredakan gejala ini. Jika ada perdarahan atau infeksi, segera hubungi dokter.
3. Pengawasan Gejala: Setelah EBUS, pasien perlu memantau gejala-gejala yang tidak biasa seperti demam, batuk berdarah, atau sesak napas yang memburuk. Jika mengalami hal ini, segera berkonsultasi dengan dokter.
4. Pencegahan Infeksi: Pasien harus menjaga kebersihan dan kebersihan diri untuk mencegah infeksi pasca-prosedur. Cuci tangan dengan sabun dan air dengan saksama, hindari kerumunan, dan hindari kontak dengan orang yang sedang sakit.
Pencegahan kanker paru sangat penting. Merokok adalah faktor risiko utama, oleh karena itu menghentikan kebiasaan merokok adalah langkah penting dalam pencegahan. Mengonsumsi nutrisi yang baik untuk kesehatan paru-paru, menjalani hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dengan dokter spesialis paru, dan menggunakan alat pelindung diri dari paparan bahan kimia juga dapat membantu dalam pencegahan kanker paru-paru.
Apabila Anda memiliki permasalahan mengenai paru-paru atau mengalami sesak dada, atau masalah pernapasan lainnya, dr. Ginanjar Arum Desianti, Sp.P (K) dapat menjadi pilihan yang tepat untuk berkonsultasi. Lakukan booking jadwal konsultasi dokter lebih mudah dengan mengunjungi [Siloam Hospitals](https://www.siloamhospitals.com/cari-dokter) atau mengakses aplikasi MySiloam atau menghubungi Contact Center 1-500-181.(*)
Cegah Kanker Paru Sejak Dini dengan Metode Low Dose CT Scan Thorax
Kanker paru-paru bisa dicegah sejak dini melalui pemeriksaan Low Dose CT scan Thorax (LDCT), terutama untuk individu dengan faktor risiko ya - Halaman all [726] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #low-dose-ct-scan #ldct #kanker-paru #sita-andarini #rs-mrccc-siloam #deteksi-dini #pengobatan #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 12/07/24 21:51
v/10564544/
JAKARTA, investor.id - Kanker paru-paru bisa dicegah sejak dini melalui pemeriksaan Low Dose CT scan Thorax (LDCT), terutama untuk individu dengan faktor risiko yang tinggi. LDCT merupakan salah satu metode skrining kanker paru yang efektif dan direkomendasikan oleh CDC (Centers for Disease Control and Prevention) serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dokter spesialis paru konsultan onkologi toraks dari RS MRCCC Siloam Semanggi dr Sita Andarini, Ph.D., Sp.P (K) menjelaskan bahwa LDCT memberikan dosis radiasi yang lebih kecil sehingga aman digunakan untuk seseorang yang memiliki risiko tinggi terkena kanker paru. "Low Dose CT scan Thorax memberikan dosis 1/7 radiasi jika dibandingkan dengan CT scan biasa, tanpa kontras dan hanya memerlukan waktu tiga sampai lima menit untuk pemeriksaannya, sehingga metode ini aman digunakan untuk seseorang yang memiliki risiko tinggi terkena kanker paru," ujar dr Sita dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (12/7/2024). Ia menjelaskan, pencegahan kanker paru pada dasarnya dapat dilakukan dengan mengadopsi gaya hidup sehat dan menghindari faktor-faktor yang meningkatkan risiko. Namun, masyarakat juga perlu memeriksakan diri sebagai upaya deteksi dini kanker, terutama bagi kalangan yang dekat dengan risiko utama meliputi perokok, paparan asap rokok, termasuk rokok elektrik, pajanan silika/asbes (risiko pekerjaan), riwayat fibrosis paru, serta riwayat kanker pada keluarga. Langkah diagnosis dan penerapan LDCT1. Anamnesis Menurut dr Sita Andarini, anamnesis merupakan tahap awal dalam proses diagnosis penyakit. Pada tahap ini, dokter akan melakukan wawancara dengan pasien untuk mengumpulkan informasi tentang faktor risiko, riwayat kesehatan, gejala yang dialami, dan faktor risiko yang mungkin terkait dengan kanker paru. Gejala seperti batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, penurunan berat badan, dan riwayat merokok, riwayat pajanan dan riwayat kanker akan menjadi fokus utama. Anamnesis yang teliti membantu dokter memahami kondisi pasien secara holistik dan memandu langkah selanjutnya dalam proses diagnosis dan pengobatan.
2. Skrining melalui LDCTLow Dose CT scan Thorax (LDCT) merupakan salah satu metode skrining yang efektif untuk mendeteksi kanker paru pada tahap awal. Metode ini menggunakan sinar-X dalam dosis radiasi rendah untuk menghasilkan gambaran detail paru, termasuk struktur dan tekstur jaringan paru.
Dibandingkan dengan rontgen toraks konvensional, Low Dose CT scan Thorax memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dalam mendeteksi kanker paru pada tahap awal, bahkan ketika tumor masih dalam bentuk lesi kecil yang sulit terlihat dengan metode lain. Selama prosedur, pasien akan diminta untuk berbaring di atas meja CT scan dan mesin akan mengambil serangkaian gambar detail paru dari berbagai sudut.
3. Patologi anatomi dan biopsi Setelah anamnesis dan pemeriksaan LDCT, langkah selanjutnya adalah menentukan lesi yang didapat dari LDCT. Pemeriksaan itu dapat berupa biopsi (atau prosedur untuk mengambil sampel jaringan) guna mendapatkan sediaan yang diperlukan dalam pemeriksaan patologi anatomi. Dalam biopsi, ada beberapa metode yang dapat digunakan, seperti biopsi jarum halus (transthoracic core biopsy), bronkoskopi, atau biopsi terbuka (thoracotomy). Sampel jaringan yang diambil akan dianalisis di laboratorium patologi untuk menentukan diagnosis yang akurat, termasuk mengetahui tipe kanker dan analisis molekuler kanker paru untuk menentukan terapi yang sesuai, atau personalized molecular therapy.
Manfaat dan risiko LDCT Manfaat utama LDCT adalah kemampuannya untuk mendeteksi kanker paru pada tahap awal. Pemeriksaan ini memungkinkan untuk dilakukannya intervensi dan pengobatan yang lebih efektif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan peluang kesembuhan bagi pasien. Selain itu, LDCT dapat digunakan untuk deteksi penyakit paru-obstruktif kronis (PPOK), emboli paru, dan pneumonia. Kendati demikian, masih ada risiko terkait dengan penggunaan radiasi. Dosis radiasi LDCT memang lebih rendah dibandingkan CT scan konvensional, namun ada kemungkinan paparan radiasi yang dapat meningkatkan risiko kanker di kemudian hari. Namun, manfaat deteksi dini kanker paru umumnya dianggap lebih besar daripada risiko ini, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terkena kanker paru. Seluruh langkah diagnosis dan terapi ini bisa didapatkan di Indonesia sesuai dengan panduan internasional dan Kementerian Kesehatan Indonesia. Grup RS Siloam melalui RS Siloam MRCCC Semanggi telah mengadopsi metode Low Dose CT scan Thorax sebagai bagian dari program skrining kanker paru. Saat ini, MRCCC telah dilengkapi peralatan medis canggih yang memungkinkan untuk dilakukannya Low Dose CT scan Thorax dengan akurasi tinggi. Selain itu, tim radiologis yang terlatih secara khusus telah disiapkan untuk membaca hasil Low Dose CT scan Thorax dan memberikan diagnosis yang tepat kepada pasien. Dengan metode skrining kanker paru seperti LDCT, diharapkan ada peningkatan dalam deteksi dini kanker paru dan peluang penyembuhan yang lebih baik.
Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News