JAKARTA, investor.id – Lalisa Manoban, penyanyi asal Thailand yang popular sebagai anggota dari BlackPink band perempuan Korea Selatan (Korsel), membuat popularitas Labubu melejit. Ia menunjukkan kecintaannya pada Labubu, karakter dalam boneka “The Monsters” keluaran Pop Mart.
Lisa terlihat di medsos memeluk boneka Labubu, juga memakai kantungan tas Labubu. Unggahan ini memicu banyak orang muda bersedia mengantre berjam-jam untuk membeli boneka lucu namun seram tersebut. Penggemarnya di Thailand, Indonesia, dan negara Asia Tenggara lainnya khususnya, menunjukkan banyak ketertarikan.
Labubu bukanlah koleksi murah. Penjualan secara blind box ditawarkan antara US$ 20-30 atau sekitar Rp 304-456 ribu untuk satu boneka, sedangkan koleksi edisi terbatas bisa mencapai US$ 400-1.200 atau sekitar Rp 6-18,2 juta.
Labubu digantung di tas sebagai gantungan kunci dan orang-orang memajang patungnya di rumah mereka. Namun, apa sebenarnya Labubu dan mengapa semua orang begitu terobsesi dengannya?
Seniman kelahiran Hong Kong bernama Kasing Lung menciptakan Labubu sebagai bagian dari lima karakter dalam The Monsters. Konon, dia terinspirasi cerita rakyat Nordik, dan memberikan lisensi karyanya pada Pop Mart.
Dalam dongeng Nordik, ada monster baik dan jahat dan karakter lainnya termasuk Zimomo, Tycoco, Spooky, dan Pato.
Meskipun gigi bergerigi dan seringai licik Labubu memberikan kesan pertama yang nakal, karakter tersebut sebenarnya adalah orang baik hati yang selalu ingin membantu orang lain sambil secara tidak sengaja melakukan hal-hal buruk.
Karakter tersebut juga berharap dapat menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih positif.
"Apa pun kesulitan yang kita hadapi, kita harus tersenyum seperti Labubu dan tentu saja, kita akan menjadi bahagia," demikian bunyi salinan publisitas.
Pada 2019, merek kotak buta Pop Mart menandatangani perjanjian lisensi eksklusif dengan Kasing dan pendapatan yang diperoleh dari seri pertama memecahkan rekor penjualan dalam kategori mainan seni.
Daya tarik Labubu adalah pada kombinasi bentuknya yang imut (cute), tetapi sekaligus juga berkesan seram (creepy). Dalam beberapa dasawarsa terakhir, popularitas seni cute-creepy ini meningkat, terutama dalam rancangan model mainan anak, film, dan seni lainnya.
Di Jepang, kata “kawaii” secara harafiah berarti lucu, manis dan menggemaskan, seperti makna cute dalam Bahasa Inggris. Namun pada 1970-an berkembang budaya dan seni kawaii horor, yaitu keimutan yang mengandung elemen aneh, absurd, dan menyeramkan.
Karakter Hello Kitty, sepintas menampilkan sosok kucing cantik, tetapi wajahnya yang tanpa ekspresi bagi sebagian orang berkesan menyeramkan.
Bukan hanya di Jepang, perancang mainan yang menggunakan boneka vinil pada 1900-an mulai mengeluarkan mainan dengan tema cute-creepy. Misalnya Tim Burton dengan karakter-karakter aneh ciptaannya, seperti dalam film The Nightmare Before Christmas dan Corpse Bride.
Labubu yang banyak digemari oleh gadis-gadis ini dianggap sebagai perlawanan terhadap sterotipi gender tentang kecantikan tradisional macam boneka Barbie yang imut dan bertubuh langsing, tinggi, dengan rambut pirang.
Sebagai monster yang imut, Labubu mempunyai gigi-gigi runcing yang menyembul di antara senyumnya. Matanya bulat lebar dan kedua telinganya panjang runcing mirip kelinci. Bentuk yang aneh ini bertentangan dengan konsep boneka yang biasanya dibeli untuk menghibur dan menjadi teman, dipeluk, bahkan dibawa tidur.
Alasan orang menyukai boneka seram karena kehadirannya menawarkan sensasi unik, ketakutan yang terkendali, mistis, atau ketakutan yang menyenangkan.
Ada istilah psikologi horor, yaitu kengerian yang datang dari sesuatu yang tampaknya tidak berbahaya, bahkan familiar, namun bisa menjadi menyeramkan. Misalnya boneka dengan mata yang kosong, wajah tanpa ekspresi, atau senyum aneh.
Ketertarikan orang pada kombinasi keimutan dan keseraman secara psikologis bisa dijelaskan dalam konsep uncanny valley, yaitu reaksi emosi manusia terhadap objek yang terlihat hampir manusiawi.
Ilmuwan robot dari Jepang Masahiro Mori pada 1970 memperkenalkan konsep tersebut, sosok yang mirip manusia tetapi mengandung elemen tidak wajar, sehingga bisa menimbulkan ketidaknyamanan.
Manusia tertarik pada hal-hal yang memunculkan konflik emosional atau paradoks dan ketegangan, itu sebabnya film horor dan cerita yang menyeramkan laris manis. Orang mau membayar untuk menonton karena menikmati sensasi yang mendebarkan dan memacu adrenalin.
Popularitas Labubu, juga boneka dan mainan seram lainnya seperti tamagochi, Toy’s R, Annable, terjadi karena peran media sosial. Semakin banyak sosok idola dan influencer memamerkan koleksinya, maka penggemar mereka juga semakin tertarik.
Para kolektor ataupun influencer mengunggah video ke media sosial (medsos), saat mereka unboxing belanja Labubu secara daring untuk koleksi blind box. Ketegangan sudah dimulai, karena membeli produk tanpa mengetahui akan mendapat seri Labubu.
Boneka cute and creepy menjadi simbol gabungan antara hal baik dan buruk, konsep positif dan negatif. Ini mencerminkan aspek kehidupan yang kompleks, mengekspresikan ketidakpastian hidup, sesuatu yang terlihat aman, tetapi bisa berbahaya, sesuatu yang resonan dalam pikiran manusia.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News