Warga Kampung Bali di Tanah Abang, Jakarta Pusat, berusaha menatap ke depan, tak terus meratap setelah rumah mereka habis dilalap api. Halaman all [899] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Kampung Bali yang rumahnya hangus terbakar Sabtu lalu mulai menata kembali hidup mereka.
Mereka berupaya agar bisa berjalan terus tanpa meratapi apa yang sudah terjadi,
Sebagian memilih tinggal di pengungsian dan rumah-rumah tetangga, beberapa langsung mencari kontrakan, atau mengungsi ke rumah kerabat.
Anak Sekolah Terdampak
Kobaran api yang terjadi siang bolong itu menghanguskan semua barang-barang milik warga. Tidak ada satu pun yang berhasil diselamatkan kecuali baju yang menempel di badan.
Alhasil, beberapa anak yang Senin (8/7/2024) sudah mulai masuk sekolah, jadi tidak punya seragam.
Salah satunya, Ryan (15). Anak kelas 9 SMP ini kehilangan seragam, buku, sepatu, dan semua barang-barangnya karena rumahnya ludes terbakar.
“Baju-baju, sepatu, sama buku-buku pelajaran, hangus semua,” ungkap ibunda Ryan, Mira (48) saat ditemui di lokasi kebakaran, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (6/7/2024).
Kendati demikian, Mira mengaku pihak kelurahan dan RW setempat sempat melakukan pendataan.
Kabarnya, Ryan dan anak-anak sekolah yang terdampak akan mendapatkan seragam baru dari pemerintah kota.
Tapi, saat ditemui di hari Jumat, Mira mengaku belum mendapatkan seragam yang dimaksud.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Nurfadia (28), ibu empat orang anak yang rumahnya juga terbakar.
Nur mengatakan, tiga anaknya masih duduk di bangku SD. Dia pun sangat menyayangkan kebakaran yang terjadi. Apalagi, anak-anaknya baru dibelikan seragam baru.
“Sudah habis (kebakar). Padahal, baru beli seragam. Semuanya (hangus). Sepatu belum beli kemaren, untungnya. Kalau udah beli mah tambah nyesek (sakit hati),” imbuh Nurfadia.
Kenang-kenangan
KOMPAS.com/Shela Octavia Sisa motor kena kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Abu hitam menyelimuti bekas tempat tinggal 30 kepala keluarga (KK). Sejak garis polisi dibuka pada Rabu malam, beberapa warga pun kembali ke lokasi untuk mencari barang-barang mereka. Termasuk, Zulkarnain (65).
Setelah mengorek-ngorek sekitaran rumahnya sejak pagi, Zul baru bisa tersenyum ketika matahari sudah meninggi.
“Harta karun ini. Buat kenang-kenangan ajalah. Ini hidup saya,” ujar Zulkarnain sambil menunjukkan temuannya ketika ditemui di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (4/7/2024).
Saat itu, Zul memperlihatkan sebuah laptop yang telah hangus terbakar. Pelindung bagian belakang laptop sudah meleleh sehingga mesin di dalam terlihat jelas.
Selongsong baterainya pun sempat cocok dan tak lagi bisa dipasang di tempatnya meski Zul terus mencoba.
Pensiunan technical support ini mengaku sudah tiga tahun bergantung pada laptop yang telah hangus terbakar itu.
Sehari-harinya, Zul buka servis laptop. Tapi, dia lebih banyak mendapat permintaan untuk memindahkan file ke flashdisk atau mengisikan lagu ke ponsel tetangganya.
“Sehari-hari (kerjanya) kalau isi film, lagu. Di Roxy Mas udah enggak ada kan. Lumayan (dikasih) gocap (50 ribu),” jelas Zul.
Dia mengaku tidak membatasi jumlah lagu atau film untuk satu kali pengisian. Harga yang dipatok tetap sama, Rp 50 ribu sekali isi.
Meski sedih, Zul tampak tak ambil pusing soal laptopnya dan dua kardus cincinnya yang hangus terbakar.
Jualan Seng untuk Tambahan Dana
Satu hari sebelum warga melakukan kerja bakti massal, seng-seng bekas atap rumah sudah lebih dahulu diangkut keluar lokasi kebakaran.
Saat itu, sebuah truk sampah terlihat penuh dengan seng-seng bekas yang menggunung. Dua orang warga tampak sedang mengikat dan mengamankan seng itu agar tidak jatuh saat dibawa ke pembeli besi bekas.
“Diborongin. Nanti, duitnya dibagi ke (warga yang rumahnya terbakar),” ujar Sofi (35), salah satu warga.
Tak hanya atap seng, besi-besi lain yang bisa dijual kembali dikumpulkan oleh warga. Termasuk, sisa kerangka kulkas dengan freonnya yang sudah hangus terbakar.
Warga Berharap Pemerintah Bantu Bangunkan Rumah
Beberapa warga telah tinggal turun-temurun sebelum rumah mereka hangus terbakar. Salah satunya Zulkarnain. Dia mengaku keluarga sudah beberapa generasi tinggal di sana.
Dengan sertifikat tanah yang dipegangnya, dia menyampaikan harapan agar pemerintah dapat membantu warga untuk membangun kembali rumah mereka di lokasi tersebut.
"Kita biaya dari mana bisa bangun (rumah)? Saya minta bantuan dari mana saja lah. Paling tidak berdiri rumah," ujar Zulkarnain.
Dilema yang sama juga dirasakan oleh Nurjana, Ketua RW 08.
Dia mengatakan, dari 30 KK yang menetap di lokasi kebakaran itu, hanya 5 KK yang memegang sertifikat hak milik (SHM).
Nurjana mengatakan, dirinya dan kelurahan sudah mengajukan permintaan untuk bantuan itu kepada pemerintah.
"Kasihan tapi kalau yang punya sertifikat saja yang dibangunkan rumah," kata Nurjana saat ditemui di posko penyaluran bantuan tidak jauh dari lokasi kebakaran.
Dia mengaku merasa serba salah karena masyarakat yang tidak memegang SHM tentu akan protes padanya jika bantuan itu tidak merata ke semua warga yang terdampak.
Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono telah memberikan tanggapan terkait hal ini. Heru mengatakan, dinas terkait akan terlebih dahulu memeriksa ke lokasi kebakaran.
"Nanti kami lihat, ada dari BAZIS, BAZNAS, PMI, dari kolaborasi pihak swasta, (nanti) kami lihat (cek lokasi) ya," ucap Heru Budi usai kunjungan sembako murah di Bintaro Permai, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (5/7/2024).
JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Kampung Bali, Tanah Abang melakukan kerja bakti untuk membersihkan puing-puing dan barang mereka yang hangus terbakar, Jumat (5/7/2024).
Usai apel pagi, warga yang rumahnya terbakar bergegas mengambil karung dan memakai sarung tangan.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, warga dan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mulai kerja bakti sekitar pukul 07.30 WIB.
Sisa kayu kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Kayu-kayu pondasi yang telah menghitam satu persatu diangkut keluar lokasi kebakaran. Sisa seng yang belum sempat terangkut semalam, juga ikut dibersihkan.
Tidak lama, bahu kanan jalan pun dipenuhi tumpukan kayu-kayu hitam yang panjang dan besarnya bervariasi.
Warga bergotong-royong membersihkan lokasi kebakaran. Sebagian berada di lokasi kebakaran untuk membersihkan puing-puing.
Abu dan debu yang menempel di tanah diserok dengan sekop dan dimasukkan ke dalam karung.
Truk sampah mengangkut sisa kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Kayu-kayu dan karung-karung yang terisi setengah penuh pun ditaruh di sisi gang.
Kemudian, kayu dan karung ini diangkut ke mobil truk sampah yang telah terparkir di ujung gang.
Ibu-ibu mengangkut Sisa kayu kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Semua orang membagi tugas mengangkut kayu dan karung yang terkumpul. Ibu-ibu membawa kayu-kayu berukuran kecil hingga sedang.
Sisa kayu ukuran besar imbas kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Sementara, bapak-bapak menggotong potongan kayu yang ukurannya bisa mencapai tiga meter lebih.
“Bismillah,” ucap seorang bapak sebelum menaikkan kayu itu ke bahunya.
Ibu dan Anak Remaja Mengangkut Sisa kayu kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Beberapa kali, dua orang ibu terlihat ikut menggotong kayu yang ukurannya lebih besar ke arah truk sampah.
Seorang anak berbadan tinggi dan berisi pun ikut mengangkut puing.
Kantong-kantong berisi pasir, abu, dan sampah lainnya diangkut ke truk menggunakan troli. Setiap troli berangkat, dua atau tiga karung diantar dengan penuh sigap.
Sisa motor kena kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Dua rangka sepeda motor menjadi saksi bisu ganasnya lidah api. Tak ada lagi warna yang mengisi kedua motor ini kecuali warna orange karat besi.
Buku terbakar di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Beberapa lembaran buku tampak masih berwarna. Namun, halaman-halamannya tak lagi bisa dibolak-balik.
Tulisan di halaman itu pun tak lagi jelas terbaca karena ujung-ujungnya terbakar dan basah disiram air oleh pemadam kebakaran.
Dinding beberapa rumah yang menempel ke lokasi tampak gosong dan tak lagi beratap. Seng dan plastik kanopinya rapuh terkena api sehingga atap itu pun ambles saat kebakaran terjadi.
Anggota PPSU di lokasi kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)
Seorang anggota PPSU terlihat membereskan barang-barang yang terdampak kebakaran di lantai dua rumah yang masih selamat. Dia pun membuang puing-puing ke lokasi kebakaran agar lebih mudah diangkut yang lain.
Sembari bekerja, warga menyempatkan diri untuk bersenda gurau sejenak. Suasana pun terasa cair.
Salah satunya, ketika warga gotong-royong membagikan botol air. Setelah kardus-kardus itu selesai didistribusikan, salah satu warga menyeletuk.
“Kalau jeriken (galon air) ada di mana? Ada di rumah lu,” ucap salah satu warga yang disambut tawa warga di dekatnya.
Bocah bernama Ryan ikut kerja bakti membersihkan sisa rumahnya yang habis terbakar di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Halaman all [395] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Muhammad Ryan (15) ikut kerja bakti membersihkan sisa rumahnya yang habis terbakar di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Ryan yang saat ini baru duduk di bangku SMP membantu warga di tengah liburan sekolahnya.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, Ryan cukup sigap mengangkat puing-puing kayu yang hangus terbakar.
Tangannya pun menghitam karena terkena abu.
Meski terkadang lelah, Ryan patuh dan mengikuti arahan warga yang meminta bantuannya. Sesekali, dia bersenandung sembari mengangkut kayu dan berlalu-lalang.
“Mari kita bekerja, bedah rumah sendiri,” ujar Ryan menembang lagunya sendiri saat kerja bakti di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024).
Seperti tetangganya, barang-barang Ryan ludes terbakar.
Semua baju dan seragamnya tidak ada yang tersisa. Padahal, Senin pekan depan dia sudah harus masuk sekolah.
“Baju-baju, sepatu, sama buku-buku pelajaran, hangus semua,” ungkap ibunda Ryan, Mira (48).
Mira mengatakan, dirinya belum sempat membelikan seragam baru untuk Ryan.
Pasalnya, mereka masih sibuk mengurus rumah yang hangus terbakar.
Kendati demikian, Mira mengaku pihak kelurahan dan suku dinas (sudin) dinas sosial sudah mendata ukuran baju Ryan.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat juga telah menyerahkan sejumlah bantuan kepada warga yang terdampak, di antaranya seragam sekolah dan sepatu anak.
Namun, bantuan ini belum diterima oleh warga karena pengurus RT/RW masih fokus membereskan dampak usai kebakaran.
Diketahui, 16 rumah dilahap api di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penyebab kebakaran diduga karena korsleting.
Sebanyak 17 unit kendaraan pemadam kebakaran dan 51 petugas dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah.
Setibanya petugas di lokasi, api sudah membesar dan merembet ke sejumlah bangunan.
Setelah dilakukan penanganan selama sekitar 30 menit, kebakaran bisa dilokalisasi sekitar pukul 13.36 WIB.
Sekitar pukul 13.48 WIB, proses pemadaman memasuki pendinginan. Lalu, pukul 15.16 WIB proses pemadaman dinyatakan selesai.
JAKARTA, KOMPAS.com - Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menanggapi soal permintaan bantuan pembangunan rumah warga Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Warga Kampung Bali meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dapat membantu membangun kembali rumah mereka yang ludes terbakar pada Sabtu (29/6/2024) lalu.
"Nanti kami lihat, ada dari BAZIS, BAZNAS, PMI, dari kolaborasi pihak swasta, (nanti) kami lihat (cek lokasi) ya," ucap Heru Budi usai kunjungan sembako murah di Bintaro Permai, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (5/7/2024).
"Iya nanti dianalisa (dulu) sama dinas terkait ya," kata Heru.
Sebelumnya, 16 rumah dilahap api di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Sabtu (29/6/2024). Penyebab kebakaran diduga akibat korsleting.
Warga yang tinggal di sana berharap Pemprov DKI dapat membantu membangun kembali rumah mereka yang ludes terbakar.
"Kita biaya dari mana bisa bangun (rumah)? Saya minta bantuan dari mana saja lah. Paling tidak berdiri rumah," ujar warga yang rumahnya terbakar, Zulkarnain, saat ditemui di lokasi, Kamis (4/7/2024).
Warga telah mengajukan permintaan bantuan ini kepada pemerintah melalui RW dan kelurahan. Namun, hingga kini belum ada bantuan.
Oleh karena itu, Zulkarnain kurang yakin apakah nanti 30 kepala keluarga (KK) yang terdampak bisa mendapatkan rumah di lokasi semula.
"Tahu sendiri kalau minta pemerintah harus ada sertifikat. Ini kan rumah zaman dulu, enggak ada sertifikat," ujar dia.
Pasalnya, dari 30 keluarga yang menetap di lokasi kebakaran, hanya lima yang memegang sertifikat hak milik (SHM).
Sudah panik rumahnya hampir kena api, kelimpungan melihat warga histeris, Nurjana masih diminta untuk mendata total keluarga yang terdampak kebakaran. Halaman all [588] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua RW setempat, Nurjana (60), mengaku kelimpungan dan stres saat menghadapi kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Ia panik karena rumahnya berada sangat dekat dengan sumber api.
“Kalau (api masih berkobar hebat) 10 menit lagi dan kena angin, sudah kena rumah saya,” ujar Nurjana saat ditemui di posko penyaluran bantuan dekat lokasi kebakaran Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (4/7/2024).
Ketika kobaran api menggulung 16 rumah di kampungnya, Nurjana mengaku hanya sempat mengamankan surat-surat berharga seperti surat rumah dan ijazah anak-anaknya.
Sementara, suaminya buru-buru mengeluarkan dan mengamankan motor.
Selebihnya, tidak lagi dipikirkan oleh Nurjana dan suami.
Saat itu, Nurjana selaku ketua RW terpaksa menghadapi peristiwa kebakaran itu sendirian.
Ketua RT sedang tidak ada di lokasi karena sedang ada acara keluarga di Tangerang.
“Saya menghadapi sendiri, ya Allah. (Warga ada yang) nangis-nangis, ada yang jatuh. Saya lari-lari ke sana-sini, ada (warga) yang pingsan. Apa enggak stress,” kata Nurjana.
Ketika menceritakan kembali peristiwa pada Sabtu (29/6/2024), Nur justru tertawa keras. Dirinya masih tidak menyangka dengan kejadian yang dia dan warga Kampung Bali alami.
Sudah panik rumahnya hampir kena api, kelimpungan melihat warga-warganya, Nurjana masih diminta untuk mendata total keluarga yang terdampak kebakaran oleh kelurahan.
“Saya panik lihat api (malah) diminta data, saya lihat aja yang ada api-apinya,” imbuh Nurjana sambil tertawa.
Dia mengaku, karena saat itu panik dan situasi tidak mendukung, data yang diserahkan kepada pihak kelurahan akhirnya kurang tepat.
Pada pendataan awal, Nurjana mengatakan ada 11 kepala keluarga (KK) yang terdampak.
Namun, ketika api sudah padam dan situasi sudah lebih kondusif, Nurjana pun melakukan penghitungan ulang. Ternyata, ada 16 KK yang terdampak.
“Karena, (saat itu) saya yang (ambil) data, stres (menghadapi kebakaran). ‘Kalau ibu (lurah) di posisi saya, bagaimana?’ Bu lurah ketawa,” lanjut dia.
Nurjana mengatakan, kondisi saat ini sudah cukup terkendali. Bantuan yang diserahkan kepada masyarakat melaluinya juga masih cukup.
Namun, dia mengaku bingung terhadap permintaan warga yang meminta agar RW dan kelurahan bisa mengajukan permohonan bantuan membangun rumah yang hangus terbakar.
Nurjana mengatakan, dirinya dan kelurahan sudah mengajukan permintaan untuk bantuan itu kepada pemerintah.
Namun, dari 30 KK yang menetap di lokasi kebakaran itu, hanya lima KK yang memegang sertifikat hak milik (SHM).
"Kasihan tapi kalau yang punya sertifikat saja yang dibangunkan rumah," kata dia.
Dia mengaku merasa serba salah karena warga yang tidak memegang SHM tentu akan protes padanya jika bantuan itu tidak merata ke semua warga yang terdampak.
Diketahui, permukiman di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat terbakar diduga karena korsleting.
Sebanyak 17 unit kendaraan pemadam kebakaran dan 51 petugas dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah.
Setibanya petugas di lokasi, api sudah membesar dan merembet ke sejumlah bangunan.
Setelah dilakukan penanganan selama sekitar 30 menit, kebakaran bisa dilokalisasi sekitar pukul 13.36 WIB.
Sekitar pukul 13.48 WIB, proses pemadaman memasuki pendinginan. Lalu, pukul 15.16 WIB proses pemadaman dinyatakan selesai.
Laptop yang setengah hangus menjadi kenang-kenangan dari kebakaran yang melanda 16 rumah di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Halaman all [522] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Laptop yang setengah hangus menjadi kenang-kenangan dari peristiwa kebakaran yang melanda 16 rumah di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Laptop itu milik Zulkarnain (65), seorang warga yang rumahnya ikut terbakar pada Sabtu (29/6/2024).
Setelah mengorek-ngorek dan membolak-balik seng yang dilahap api, Zulkarnain keluar dari lokasi kebakaran sambil memegang sebuah laptop merek HP yang casing bagian belakangnya sudah meleleh.
“Harta karun ini. Buat kenang-kenangan ajalah. Ini hidup saya,” ujar pria yang biasa disapa Zul sambil menunjukkan temuannya ketika ditemui di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (4/7/2024).
Sambil mengobrol dengan beberapa warga yang juga sedang mencari barang-barang yang tersisa, Zul terus memerhatikan laptop dan tiga buah cincin yang telah berwarna hitam legam.
Sebuah hard disk tampak meleleh dan menyatu dengan bagian atas laptop.
Zul pun menarik paksa hard disk tersebut. Setelah lepas, Zul pun membersihkan sisa abu hitam yang menempel di sisi hardisk maupun di sela-sela laptop.
Sambil berjongkok di sisi jalan, tangan Zul sibuk memeriksa kondisi laptopnya. Baterai yang sudah terpapar api itu masih utuh dan lepas dari tempatnya.
Beberapa kali Zul berusaha memasang baterai itu, tapi besi pengaitnya sudah meleleh bersama plastik pelindung luar laptop.
“Tiga tahun yang lalu (punya laptop) ini. Kan buat data sehari-hari. Buat cari duit,” ungkap Zul.
Pensiunan tech support dari salah satu perusahaan komputer terbesar di Indonesia ini mengaku sehari-harinya buka servis laptop.
Namun, setiap hari dia lebih banyak mendapat permintaan untuk memindahkan file ke flashdisk atau mengisikan lagu ke ponsel tetangganya.
“Sehari-hari (kerjanya) kalau isi film, lagu. Di Roxy Mas udah enggak ada kan. Lumayan (dikasih) gocap (Rp 50.000),” jelas Zul.
Dia tidak membatasi jumlah lagu atau film untuk satu kali pengisian. Harga yang dipatok tetap sama, Rp 50.000 sekali isi.
Tak hanya laptop, Zul mengaku kehilangan dua kotak penuh cincin-cincinnya.
Setelah mencari-cari sejak pagi, dirinya hanya dapat menemukan tiga cincin yang seluruhnya telah menghitam.
Pria yang saat ini mengungsi di masjid dan rumah tetangga hanya berharap pemerintah dapat membantu warga untuk membangun kembali rumah mereka.
Dia berharap surat tanah yang dimilikinya cukup untuk membuktikan keberadaannya di kampung ini.
"Kita biaya dari mana bisa bangun (rumah)? Saya minta bantuan dari mana saja lah. Paling tidak berdiri rumah," kata dia lagi.
Diketahui, kebakaran permukiman di Kampung Bali diduga akibat korsleting.
Sebanyak 17 unit kendaraan pemadam kebakaran dan 51 petugas dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah.
Setibanya petugas di lokasi, api sudah membesar dan merembet ke sejumlah bangunan.