KOMPAS.com - Genteng beton merupakan salah satu jenis material atap rumah yang biasa digunakan.
Material tersebut terbuat dari campuran pasir, semen, oksida besi, dan air yang dibentuk dengan panas dan tekanan tinggi.
Seperti material bangunan lainnya, genteng beton tentu memiliki kekurangan dan kelebihan.
Bagi Anda yang tertarik menggunakannya sebagai material atap rumah, pahami dahulu kelebihan dan kekurangan genteng beton sebagai berikut:
1. Tampilan dan fleksibilitas
Genteng beton yang dapat meniru tanah liat, kayu, kayu cedar, dan atap batu tulis, menawarkan fleksibilitas yang mengagumkan dan daya tarik yang lebih.
Dengan banyaknya corak dan perpaduan warna, genteng beton dapat disesuaikan dengan hampir semua gaya arsitektur.
Di samping itu, genteng beton memiliki tiga pilihan profil, yakni rendah atau datar, sedang, dan tinggi.
Dengan kedalaman minimal, profil datar memberikan tampilan bersih yang sesuai untuk hampir semua rumah.
Sementara di sisi lain, genteng dengan profil sedang membangkitkan pemandangan arsitektur mediterania. Lalu, genteng dengan profil tinggi, juga disebut high barrel, tampak seperti genteng terakota yang ditemukan di atap-atap Spanyol.
2. Daya tahan dan lama pakai
Atap genteng beton tahan terhadap serangga, pembusukan, dan angin kencang hingga 180 mil per jam.
Selain itu, genteng beton memiliki peringkat api Kelas A, dengan indeks penyebaran api 0 hingga 25.
Ini berarti bahwa, tidak seperti atap kayu, genteng beton jarang menyumbang kebakaran.
3. Ramah lingkungan dan hemat energi
Material genteng beton terbuat dari elemen yang tidak beracun, alami, dan dapat didaur ulang seperti pasir dan semen.
Belum lagi genteng ini jarang perlu diganti, yang selanjutnya berkontribusi pada pengurangan konsumsi energi.
Kualitas reflektif dan massa termalnya yang tinggi memungkinkan genteng beton menyerap, menyimpan, dan memancarkan panas, artinya biaya pemanas dan pendingin rumah lebih rendah.
Genteng yang dipasang langsung di atas reng atap, menciptakan saluran udara yang membentuk lapisan isolasi kedua.
1. Berat
Dengan berat 820 pon -1.200 pon per 100 kaki persegi, berat beton yang substansial memberi beban lebih besar pada struktur atap dibandingkan material lainnya.
Meskipun banyak merek menawarkan pilihan genteng yang ringan, berat per 100 kaki persegi masih sekitar 600 pon, jauh lebih berat daripada genteng sirap.
Anda juga akan memerlukan seorang insinyur struktur untuk menentukan apakah atap dapat menahan beban genteng beton dan mungkin membuat penguatan sebelum pemasangan, yang keduanya akan menambah biaya proyek.
2. Rentan rusak
Meskipun tahan terhadap api, angin kencang, dan pembusukan, genteng beton bukannya tidak bisa dihancurkan.
Ranting pohon yang tumbang, hujan es yang deras, dan lalu lintas pejalan kaki dapat membuat genteng retak. Sehingga memerlukan penggantian segera untuk menghindari terkena air pada lapisan bawah.
3. Warna pudar
Seiring berjalannya waktu, paparan unsur-unsur alam dan sinar UV akan menyebabkan warna genteng beton yang lebih cerah, seperti oranye atau merah, memudar.
Meskipun bukan masalah besar, Anda akan menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam mencocokkan genteng baru dengan bagian atap lainnya saat mengganti genteng beton.