Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan bersih US$49,7 miliar. Menjadi salah satu Konglomerat yang menyertai Prabowo ke China. [465] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah konglomerat Indonesia seperti Prajogo Pangestu, Tomy Winata hingga Franky Widjaja terpantau menyertai lawatan kenegaraan Prabowo Subianto ke China akhir pekan ini. Prajogo, bos dari Barito Grup itu diketahui merupakan orang terkaya di Indonesia saat ini.
Melansir data Forbes Real Time Billionaire, Minggu (10/11/2024), Prajogo Pangestu berada di urutan ke-27 orang terkaya di dunia dengan nilai bersih kekayaan atau net worth mencapai US$49,7 miliar.
Kekayaan bersih itu turut menempatkan pendiri Grup Barito itu sebagai orang terkaya nomor 1 di Indonesia, mengungguli Budi Hartono, Michael Hartono dan Low Tuck Kwong.
Seperti diketahui kekayaan bersih dari Budi Hartono & Michael Hartono masing-masing sebesar US$25,8 miliar dan US$24,8 miliar. Sementara itu, nilai bersih kekayaan Low Tuck Kwong sebesar US$25 miliar.
Prajogo Pangestu, mengendalikan secara langsung beberapa emiten kelas kakap di antaranya PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), PT. Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) hingga PT Petrosea Tbk. (PTRO).
Sebagian besar emiten Prajogo Pangestu itu bergerak di pembangkit energi baru terbarukan (EBT) serta tambang batu bara dan mineral logam.
Sementara itu, sejumlah analis menilai keseluruhan saham afiliasi Prajogo Pangestu itu bakal tumbuh solid di tengah ekspektasi penurunan suku bunga dan pinjaman untuk proyek energi baru terbarukan (EBT).
“Jika melihat historikal karakteristik dari tahun ke tahun memang valuasinya selalu lebih tinggi,” kata Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Dimas Krisna Ramadhani saat dihubungi, Rabu (23/10/2024).
Dari sisi teknikal, Dimas melihat, CUAN & BREN memiliki potensi upside lebih signifikan ketimbang emiten grup Barito lainnya. Selain itu, dia menambahkan, PTRO turut memiliki potensi serupa.
Selain Prajogo Pangestu, taipan lain yang ikut lawatan Prabowo Subianto ke China di antaranya Arsjad Rasjid, Tomy Winata, Franky Oesman Widjaja, Garibaldi 'Boy' Thohir, Anindya Bakrie hingga adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo.
"Merupakan suatu kehormatan untuk bergabung dengan para pemimpin bisnis Indonesia di Jamuan Kenegaraan, Great Hall of People, Beijing, Republik Rakyat Tiongkok," kata Arsjad, dikutip dari akun instagramnya, Minggu (10/11/2024).
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto membeberkan sejumlah kontrak bisnis antara perusahaan China dan Indonesia bakal diteken dengan nilai investasi lebih dari US$10 miliar atau Rp155,7 triliun.
Rencanannya, kontrak bisnis itu bakal diteken Kamar Dagang dan Industri (Kadin) kedua negara pada Minggu malam (10/11/2024).
Sejumlah kontrak bisnis itu disampaikan Prabowo saat membuka pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Li Qiang pada Sabtu (9/11/2024) di Great Hall of the People Beijing.
Pertemuan bilateral itu sekaligus menjadi kunjungan kenegaraan perdana Prabowo ke China sebagai presiden terpilih usai dilantik pada 20 Oktober 2024 lalu.
“Saya pikir ini menunjukkan kolaborasi yang erat dan juga partisipasi serta integrasi yang meningkat antara perusahaan-perusahaan Tiongkok dengan perusahaan-perusahaan Indonesia,” kata Prabowo dikutip dari kanal youtube Sekretariat Presiden.
Bisnis.com, JAKARTA - Asia telah menjadi rumah bagi keluarga-keluarga terkaya di dunia, salah satunya keluarga Hartono yang menempati posisi kedua setelah keluarga Ambani.
Mengutip Forbes, keluarga Hartono memiliki kekayaan bersih US$48 miliar atau Rp782 triliun, menempati peringkat kedua di antara orang terkaya di Asia.
Kekayaan keluarganya bermula dari Grup Djarum, pemain industri rokok, salah satu yang terbesar di Indonesia. Selain itu, dua pewaris Grup Djarum, Budi dan Michael Hartono telah memperluas kerajaannya dengan berinvestasi di berbagai bidang.
Beberapa investasi besarnya antara lain ke Bank Central Asia, bank swasta terbesar di Indonesia, dan ke berbagai bisnis, mencakup bidang elektronik, properti, dan agribisnis.
Profil Keluarga Hartono
Kekayaan Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono dimulai dari perusahaan rokok yang dibangun oleh ayahnya, Oei Wie Gwan.
Oei Wie Gwan mendirikan perusahaan rokok Djarum pada 21 April 1951 di Kudus, Jawa Tengah. Setelah kebakaran besar dan Djarum ditinggal pemiliknya pada 1963, perusahaan tersebut kemudian mewariskan perusahaan tersebut kepada kedua anaknya, Hartono Bersaudara.
Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah pada 2 Oktober 1939. Besar di kota tempat ayahnya membesarkan usaha rokok, dia menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro, Semarang pada 1959.
Sementara itu, adiknya, Robert Budi Hartono lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 28 April 1940. Robert menempuh pendidikan di tempat yang sama dengan kakaknya, di Universitas Diponegoro Semarang, dan mengambil jurusan Teknik Elektro.
Namun, keduanya tidak menyelesaikan studinya dan memilih fokus membantu ayahnya di Djarum setelah ayahnya meninggal dunia, yang ternyata membawa mereka menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.
Menjadi salah satu perusahaan produsen rokok terbesar di Indonesia, perusahaan ini telah tumbuh pesat di bawah kepemimpinan Hartono bersaudara. Namun, Hartono bersaudara, R. Budi dan Michael memperoleh sebagian besar kekayaan mereka dari investasi di Bank Central Asia.
Bank ini merupakan bank swasta terbesar di Indonesia. Kepentingan mereka kini beragam, termasuk elektronik, properti, dan agribisnis.
Kepemilikan keluarga ini juga meliputi merek elektronik populer Polytron dan real estat utama di Jakarta. Bisnis keluarga Hartono juga telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Bisnis.com, JAKARTA — Asia merupakan rumah bagi beberapa keluarga terkaya di dunia seperti Ambani dan Hartono dengan kekayaan yang sudah dibangun dari generasi ke generasi.
Keluarga-keluarga ini mendulang kekayaan dari diversifikasi investasi mereka di berbagai sektor, termasuk energi, real estate, teknologi, dan keuangan.
Selain itu, pengaruh mereka tidak hanya pada dunia bisnis, tetapi juga pada bidang sosial dan budaya. Berikut ini sederetan keluarga-keluarga terkaya di Asia, menyoroti asal-usul mereka, kerajaan bisnis, dan kontribusi mereka kepada masyarakat.
1. Keluarga Ambani
Keluarga Ambani, dipimpin oleh Mukesh Ambani, adalah keluarga terkaya di Asia dengan kekayaan bersih sekitar US$123,7 miliar. Kekayaan mereka berasal dari Reliance Industries, konglomerat yang bergerak di bidang petrokimia, penyulingan, minyak, telekomunikasi, dan ritel.
Mukesh Ambani tinggal di Antilia, gedung pencakar langit 27 lantai di Mumbai, salah satu tempat tinggal pribadi termahal di dunia.
Pengaruh keluarga ini terhadap perekonomian India sangat besar, dengan Reliance Industries menjadi pemain utama dalam lanskap industri di negara tersebut.
Mukesh Ambani
2. Keluarga Hartono
Keluarga Hartono di Indonesia, memiliki kekayaan bersih US$48 miliar, menempati peringkat kedua di antara orang terkaya di Asia. Kekayaan keluarganya bermula dari Grup Djarum, pemain besar di industri rokok.
Kakak beradik Budi dan Michael Hartono memperluas kerajaannya dengan berinvestasi di Bank Central Asia, bank swasta terbesar di Indonesia. Bisnis mereka kini meluas, mencakup bidang elektronik, properti, dan agribisnis. Ketajaman bisnis keluarga Hartono telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Michael Bambang Hartono
4. Keluarga Kwok
Keluarga Kwok dari Hong Kong menguasai kekayaan sebesar US$40,4 miliar, terutama melalui Sun Hung Kai Properties.
Didirikan oleh Kwok Tak-seng pada 1963, perusahaan ini adalah salah satu pengembang properti terbesar di Hong Kong, dengan fokus pada real estate komersial dan residensial.
Keluarga tersebut menghadapi perselisihan internal, namun kerajaan bisnis mereka tetap kuat. Sun Hung Kai Properties terkenal dengan gedung pencakar langitnya yang ikonik dan proyek perumahan mewah, yang membentuk cakrawala Hong Kong.
5. Keluarga Chearavanont
Keluarga Chearavanont di Thailand, yang memiliki kekayaan US$36,6 miliar, terkenal dengan Grup Charoen Pokphand mereka. Konglomerat ini beroperasi di bidang agribisnis, ritel, dan telekomunikasi.
Didirikan oleh Chia Ek Chor dan Choncharoen Chiaravanont, grup ini telah berkembang menjadi salah satu konglomerat terbesar di dunia. Pengaruh mereka meluas ke seluruh Asia, dengan investasi yang signifikan di China dan negara-negara lain. Usaha bisnis keluarga Chearavanont yang besar juga telah memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi Thailand.
6. Keluarga Yoovidhya
Keluarga Yoovidhya, dengan kekayaan bersih US$36 miliar, terkenal karena menciptakan minuman energi Red Bull. Chaleo Yoovidhya mendirikan merek tersebut bersama pengusaha Austria Dietrich Mateschitz. Grup TCP milik keluarga mengawasi produksi dan distribusi Red Bull dan minuman lainnya.
Kesuksesan mereka di pasar global menjadikan keluarga Yoovidhya salah satu keluarga terkaya di Thailand. Popularitas Red Bull juga telah mengubah keluarga ini menjadi kekuatan bisnis global.
7. Keluarga Cheng
Keluarga Cheng dari Hong Kong, yang memiliki kekayaan US$22,1 miliar, mengendalikan New World Development dan Chow Tai Fook. Didirikan oleh Cheng Yu-tung, New World Development adalah pemain utama di bidang real estate, infrastruktur, dan jasa.
Chow Tai Fook, peritel perhiasan terkemuka, terkenal dengan produk berkualitas tinggi dan jaringan toko yang luas.Usaha bisnis keluarga Cheng telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Hong Kong, menjadikan mereka salah satu keluarga paling berpengaruh di kawasan ini.