WASHINGTON, investor.id – Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) memberi peringatan soal utang yang tinggi dan pertumbuhan yang rendah tetap menjadi hambatan utama bagi ekonomi global.
Mengutip CNBC internasional, Kristalina Georgieva selaku Direktur Pelaksana IMF mengatakan kemajuan penting memang telah dicapai dalam pemulihan ekonomi global. Meskipun demikian, pemerintah negara-negara telah menjadi terlalu terbiasa meminjam. Padahal, ekonomi dalam pertumbuhan yang lemah sehingga menambah tantangan dalam membayar utang tersebut.
"Belum saatnya untuk berpesta. Ketika kita melihat tantangan di depan kita, yang terbesar adalah pertumbuhan yang rendah, utang yang tinggi. Di sinilah kita dapat dan harus melakukan yang lebih baik," katanya kepada Karen Tso, seperti dikutip CNBC internasional, Jumat (18/10/2024).
Georgieva tampak memuji pekerjaan bank sentral utama dalam menjinakkan inflasi. Namun ia juga mencatat pencapaian tersebut belum universal. Ekonomi beberapa negara juga terus berjuang dengan harga yang lebih tinggi, yang menambah ketidakpuasan sosial dan politik.
“Ekonomi besar yang sukses adalah yang telah melakukannya dengan sangat baik ... dan ada beberapa wilayah di dunia yang inflasinya masih menjadi masalah. Dampak harga yang lebih tinggi masih ada, dan membuat banyak orang di banyak negara merasa lebih buruk dan marah,” sebutnya.
Komentar tersebut muncul saat para menteri keuangan dan gubernur bank sentral akan bertemu pekan depan di Washington, Amerika Serikat (AS) untuk pertemuan tahunan IMF dan Grup Bank Dunia 2024. Mereka akan membahas topik-topik termasuk prospek ekonomi dunia, pengentasan kemiskinan, dan transisi energi hijau.
Georgieva memperingatkan perdagangan internasional tidak akan lagi menjadi mesin pertumbuhan seperti dulu, menyoroti maraknya kebijakan restriktif di antara banyak negara.
Pemerintah AS dan Uni Eropa (UE) telah bergerak untuk mengenakan serangkaian tarif hukuman terhadap China atas apa yang mereka anggap sebagai praktik perdagangan pemerintah China yang tidak adil.
“Apa yang kita lihat di AS, tetapi juga di tempat lain, adalah tekanan dari orang-orang yang merasa globalisasi tidak berhasil bagi mereka. Pekerjaan mereka hilang, komunitas mereka tidak diperhatikan, dan kekhawatiran atas alasan keamanan, sebagian besar didasarkan pada dampak pandemi, dan dampak agresi Rusia terhadap Ukraina. Mereka menjadikan prioritas keamanan nasional sebagai prioritas utama. Semua ini memang menciptakan lebih banyak lingkungan ketidakpercayaan dan sekarang ekonomi maju lebih banyak daripada pasar berkembang yang memimpin dalam langkah-langkah industrialis (dan) dalam langkah-langkah proteksionis,” kata Kristalina Georgieva.
Direktur pelaksana IMF itu sebelumnya telah memperingatkan terhadap pembatasan tersebut pada Juni 2024 ia mengatakan kecintaan yang tumbuh terhadap pembatasan, seperti tarif impor, merusak pembangunan internasional.
Pada Kamis (17/10/2024), ia menekankan kembali pesan itu dengan mengatakan langkah-langkah perdagangan balasan dapat merugikan pelaksana seperti halnya target mereka.
“Saran kami adalah, perhatikan dengan cermat biaya dan manfaatnya dan apa artinya itu dalam jangka menengah. Dan tentu saja kami melakukan bagian kami dengan menghitung biaya dan manfaat, dan menunjukkan siapa yang menanggungnya, karena tarif biasanya ditanggung oleh bisnis dan konsumen di negara yang memperkenalkannya,” sambung dia.
Georgieva juga menunjuk pada ketegangan geopolitik yang lebih luas sebagai salah satu risiko utama bagi stabilitas keuangan global.
“Kita semua sangat khawatir tentang konflik yang meluas di Timur Tengah dan potensinya untuk mengganggu stabilitas ekonomi regional dan pasar minyak dan gas global,” ucapnya.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News