#30 tag 24jam
Perbankan Perlu Lebih Agile Hadapi Tantangan & Peluang Ekonomi Masa Depan
Transformasi menuju ekonomi hijau dan digital bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang emas [941] url asal
#perbankan-syariah #kinerja-perbankan #kilas #peluang-investasi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-perbankan
(Kontan-Keuangan) 03/08/24 19:30
v/13151537/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID -Bali, 2 Agustus 2024 Industri perbankan nasional sebagai salah satu sektor utama penopang ekonomi Tanah Air dinilai harus semakin agile dalam menghadapi tantangan dan peluang ekonomi di masa depan, sehingga kondisi ekonomi Indonesia semakin terjaga.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Bidang Organisasi Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) Hery Gunardi dalam acara Welcoming Dinner PERBANAS CFO FORUM II – 2024 di Bali pada Kamis (1/8). Hery yang juga menjabat Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI menjelaskan, dinamika ekonomi dan keuangan berubah cepat, baik di tataran global juga nasional.
Hal tersebut tentunya membuka tantangan dan peluang besar bagi industri perbankan. Seperti kinerja ekonomi global yang terfragmentasi serta penurunan inflasi yang tertahan oleh inflasi harga jasa menjadi isu utama.
Mengutip data world economic outlook dari International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan PDB dunia tahun ini diproyeksikan sekitar 3,2%.Pertumbuhan itu sama dengan tahun lalu, namun masih lebih kecil dibandingkan dengan 2021 dan 2022 yang masing-masing 6,5% dan 3,5%.

“Selain itu, eskalasi geopolitik menambah ketidakpastian yang membayangi prospek ekonomi di masa depan. Menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik global, beberapa negara, termasuk Amerika Serikat (AS), mengadopsi kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama atau higher for longer,” kata Hery.
Hery melanjutkan, pemilihan presiden di sejumlah negara pada 2024 dan tahun depan termasuk di AS, memperkuat pula ketidakpastian pada arah kebijakan moneter dan fiskal global. Kendati demikian, World Bank dan IMF memperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh 5,0% pada 2024. Proyeksi tersebut didukung oleh permintaan domestik.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Tanah Air tetap baik pada 2024 yaitu di rentang 4,7%-5,5%. Perkiraan tersebut tertopang konsumsi rumah tangga yang terjaga dan iklim investasi yang positif.
“Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap kuat meski terindikasi sedikit menurun pada kuartal II/2024. Terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen dan retail sales yang tumbuh relatif lebih lambat. Investasi juga diperkirakan tetap kuat sejalan dengan PMI Manufaktur yang tetap berada pada zona ekspansif,” lanjutnya menjelaskan.
Dia pun menyoroti bahwa di tengah kondisi suku bunga tinggi, likuiditas secara makro menurun. Namun, tetap memadai yang terindikasi dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) yang turun tetapi tetap tinggi. Likuiditas yang masih memadai secara makro, kata dia, mendorong intermediasi perbankan tetap tumbuh solid karena didukung kebijakan makro prudensial yang akomodatif.
Kendati demikian, tantangannya adalah pertumbuhan kredit akan diiringi dengan peningkatan Non Performing Loan (NPL). Hal ini tentu mendorong risiko penyaluran kredit yang patut untuk terus dipantau. Selain itu, tantangan likuiditas terutama terkait funding perbankan, ke depan perlu terus dicermati.
Data BI menunjukkan pertumbuhan kredit pada Juni 2024 tumbuh tinggi sebesar 12,36% secara tahunan/year on year (yoy). Pertumbuhan itu didorong kuatnya sisi penawaran dan permintaan terutama ditopang kredit korporasi. Adapun pertumbuhan DPK 8,45% yoy pada periode yang sama. Sedangkan loan to deposit ratio (LDR) 85,74%.
Hery pun menyebut ke depan kondisi imbal hasil dari SRBI sangat menarik sebagai upaya untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Penerbitan SBN pun tinggi mengingat banyaknya surat berharga negara yang jatuh tempo hingga 3 tahun ke depan.
“Maka perbankan perlu terus berinovasi untuk menarik funding yang selanjutnya digunakan untuk penyaluran kredit. Salah satu dampaknya adalah potensi peningkatan cost of fund perbankan. Peningkatan cost of fund berpotensi berdampak pada net interest margin perbankan yang menyempit,” katanya.
Ekonomi Hijau & Berkelanjutan
Hery lanjut menjelaskan, di sisi lain transisi menuju pembangunan yang lebih hijau dan berkelanjutan semakin mendesak dan meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini turut mendorong industri perbankan untuk memberikan pembiayaan yang selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.
Perumusan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pembiayaan hijau. Panduan tersebut, kata Hery, membantu perbankan mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang tergolong berkelanjutan untuk didanai. Tujuannya mendorong peningkatan pembiayaan yang hijau dan berkelanjutan.
“Sebagai penggerak utama intermediasi keuangan di Indonesia, perbankan memiliki peranan penting dalam transformasi pembangunan yang lebih berkelanjutan. Keseriusan perbankan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan ditandai dengan pertumbuhan portofolio kredit berkelanjutan dan pengembangan produk – produk keuangan berkelanjutan,” tuturnya.
Dalam hal ini, perbankan turut aktif menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasionalnya. Yaitu dengan menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan.
BI memperkirakan, terdapat kebutuhan pembiayaan sebesar US$281 miliar bagi Indonesia untuk mencapai target Nationally Determined Contributions (NDC) pada 2030. NDC sendiri adalah komitmen yang disusun oleh negara pihak yang meratifikasi Persetujuan Paris untuk berkontribusi pada penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
Data bank sentral pun terus memperlihatkan pertumbuhan pembiayaan hijau yang saat ini terfokus pada bank besar. Hingga Desember 2023 secara year to date (ytd) tumbuh 15,63%. Angkanya ada di kisaran Rp500 triliun dari 41 bank, yang mencakup 83,4% pangsa total kredit perbankan pada Desember 2023.
Adapun sektor yang dibiayai di antaranya renewable energy, pembangkit listrik tenaga hidro, transportasi hijau, hingga industri produk-produk ramah lingkungan.
Transformasi Digital
Selain itu, Hary pun mencermati transformasi digital di berbagai aktivitas yang memicu inovasi menjadi lebih cepat. Dia mengatakan, penggunaan teknologi digital membuka peluang bagi perbankan untuk meningkatkan efisiensi, mengembangkan produk baru, dan memberikan layanan yang lebih baik. Namun, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan, seperti ancaman serangan siber yang semakin canggih.
Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa dalam menghadapi dinamika ekonomi dan keuangan saat ini pelaku industri perlu mengadopsi gaya kerja yang agile untuk bergerak dan menanggapi perubahan dengan cepat.
Sebab, perbankan yang mampu beradaptasi dengan cepat akan memiliki keunggulan kompetitif dalam menghadapi tantangan. Juga akan mampu memanfaatkan peluang di tengah perubahan yang cepat di era yang semakin modern.
“Transformasi menuju ekonomi hijau dan digital bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang emas untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif,” pungkasnya.
Tak Mau Kalah Bersaing, Beberapa Bank Digital Pertimbangkan Kenaikan Bunga Simpanan
Persaingan bunga simpanan tinggi kembali memanas di industri bank digital. [430] url asal
#bank-digital #industri-bank-digital #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-perbankan
(Kontan-Keuangan) 24/07/24 20:00
v/11959444/
Reporter: Adrianus Octaviano, Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan bunga simpanan tinggi kembali memanas di industri bank digital. Langkah satu bank menaikkan bunga simpanan seringkali diikuti oleh bank-bank digital lainnya.
Kondisi ini diperparah dengan ketatnya likuiditas di sektor perbankan, terlihat dari peningkatan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 84,8%.
Super Bank Indonesia: Pemain Baru yang Agresif
PT Super Bank Indonesia, bank digital milik grup EMTEK, menjadi yang paling agresif menawarkan bunga simpanan tinggi.
Bank ini, yang baru mulai beroperasi tahun ini, berusaha menjaring banyak nasabah baru dengan menawarkan produk deposito dengan bunga 7,5% per tahun dan setoran minimal Rp 500.000.
Selain itu, produk Celengan by Superbank menawarkan bunga tertinggi hingga 10% per tahun.
"Kami optimis dapat mendukung pengelolaan finansial nasabah secara aman dan mudah serta membantu mereka menikmati keuntungan simpanan mereka secara optimal," ujar Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan.
Allo Bank: Menyesuaikan dengan Kondisi Pasar
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), bank milik CT Corp, sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan suku bunga deposito.
Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, menyebutkan bahwa saat ini bunga simpanan tertinggi yang ditawarkan Allo Bank adalah sekitar 6% untuk deposito dan 6,5% untuk simpanan AlloGrow.
"Kami akan mengumumkan lebih lanjut dalam waktu dekat," ujar Indra.
Menurutnya, penyesuaian tingkat suku bunga produk pendanaan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan makroekonomi, terutama ketidakpastian global yang tinggi dan kecil kemungkinan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turun tahun ini.
Bank Neo Commerce: Strategi Bunga Tinggi
Direktur Bisnis PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), Aditya Windarwo, menyatakan bahwa penawaran bunga tinggi sudah menjadi strategi bank digital untuk menarik masyarakat menyimpan dana di bank digital.
BBYB menawarkan berbagai produk deposito seperti Deposito WoW dan Deposito Flexi dengan bunga mulai dari 5,50% hingga 8% per tahun.
"Bunga 8% itu menjadi strategi gimmick menarik nasabah untuk menyimpan dananya," ujarnya.
Saat ini, BBYB lebih fokus menawarkan bunga tinggi kepada nasabah korporasi dengan kewajiban untuk mengunci simpanannya dalam jangka panjang.
Bank Raya: Fokus pada Likuiditas dan Dana Pihak Ketiga
Direktur Keuangan PT Bank Raya Indonesia Tbk, Rustarti Suri Pertiwi, menyadari pentingnya memperhatikan kondisi persaingan di pasar dalam menentukan strategi suku bunga simpanan.
Meski demikian, Bank Raya juga menekankan pentingnya kondisi likuiditas yang memadai.
Hingga Mei 2024, LDR Bank Raya tercatat sebesar 83,14% dan diperkirakan tetap terjaga di kisaran tersebut hingga Juni 2024.
"Strategi Bank Raya ke depan akan terus mengoptimalkan pengumpulan dana pihak ketiga dari komunitas-komunitas yang selama ini sudah dibangun," tegas Pertiwi.
Saat ini, bunga deposito tertinggi di Bank Raya ada di kisaran 6%.