Tiga emiten BUMN Karya yakni WSKT, PTPP hingga ADHI mencatatkan pembayaran kepada pemasok dan subkontraktor senilai Rp29,77 triliun pada kuartal III/2024. [538] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten BUMN Karya seperti WSKT, PTPP, dan ADHI mencatatkan total pembayaran kas kepada pemasok dan subkontraktor sebesar Rp29,77 triliun hingga kuartal III/2024.
Melansir laporan keuangan konsolidasi ketiga emiten, Senin (28/10/2024), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) menggelontorkan pembayaran terbesar yakni Rp13,38 triliun selama periode Januari hingga September 2024.
Sementara itu, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) mengakumulasikan pembayaran kas kepada pemasok dan subkontraktor sebesar Rp9,81 triliun. Adapun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mengucurkan dana senilai Rp6,57 triliun.
Pembayaran kas kepada pemasok dan subkontraktor tercatat menjadi salah satu beban terbesar dari pos arus kas aktivitas operasi ketiga emiten tersebut.
ADHI misalnya, mencatatkan penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp10,23 triliun pada semester I/2024. Namun, setelah dikurangi jumlah pengeluaran perseroan meraih surplus kas bersih dari aktivitas operasi Rp888,16 miliar.
Sebaliknya, PTPP dan Waskita Karya membukukan defisit kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi. PTPP secara rinci mencatatkan defisit kas bersih aktivitas operasi sebesar Rp1,39 triliun, sedangkan Waskita mencapai Rp3,5 triliun.
Hingga kuartal III/2024, ADHI memiliki saldo kas dan setara kas sebesar Rp1,9 triliun atau turun 40,09% year to date (YtD). Adapun kas PTPP naik 3,84% YtD menjadi Rp3,06 triliun dan Waskita mencatatkan Rp1,36 triliun atau turun 9,50%.
Terkait kinerja keuangan, ADHI mengakumulasikan laba bersih sebesar Rp69,32 miliar pada kuartal III/2024 atau melonjak 194,52% secara tahunan. Laba per saham juga ikut terkerek dari level Rp2,8 menjadi Rp8,25 per saham.
Salah satu kontributor laba bersih ADHI berasal dari pos bagian laba ventura bersama yang meraih Rp568,73 miliar atau tumbuh 104,87% dari tahun sebelumnya.
Sekretaris Perusahaan ADHI Rozi Sparta mengatakan bahwa saat ini perseroan tengah fokus mendorong produktivitas guna mencapai target yang ditetapkan pada 2024.
“Kami fokus untuk meningkatkan produktivitas untuk mencapai target produksi tahun 2024 dan juga secara aktif melakukan monitoring pencairan piutang proyek aktif,” ujarnya saat dihubungi Bisnis baru-baru ini.
Dia juga memperkirakan segmen pekerjaan yang berpotensi memberikan laba signifikan, antara lain jalan tol, bangunan air, railway, hingga gedung.
Di sisi lain, PTPP meraih laba tahun berjalan Rp77,45 miliar pada kuartal III/2024. Jumlah itu menurun 57% dari periode yang sama tahun lalu Rp180,12 miliar.
Meski demikian, perseroan dan entitas anak membukukan pendapatan usaha sebesar Rp14 triliun atau tumbuh 14,54% secara tahunan. Capaian tersebut ditopang segmen jasa konstruksi yang meraih Rp11,69 triliun, EPC sebesar Rp1,33 triliun, serta properti dan realti membukukan Rp503,6 miliar sepanjang kuartal III/2024.
Waskita sendiri menorehkan rugi bersih Rp3 triliun sepanjang periode Januari – September 2024, naik dari posisi tahun lalu yang mencatatkan kerugian Rp2,83 triliun. Rugi per saham juga meningkat dari Rp98,39 menjadi Rp104,22.
Sekretaris Perusahaan Waskita Ermy Puspa Yunita menyatakan perseroan berkomitmen terus melakukan efisiensi pada setiap lini bisnis, dengan mengoptimalisasi pengelolaan proyek hingga aspek sumber daya.
“Penerapan tersebut dilakukan sebagai bentuk penguatan implementasi tata kelola perusahaan yang bertanggung jawab dan manajemen risiko yang efektif dari holding hingga ke proyek,” kata Ermy dalam keterangan tertulis.
_______________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA – Empat saham BUMN Karya kompak mengalami kemerosotan selama 10 tahun kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi). Secara rata-rata, harga keempat emiten konstruksi merosot hingga 80%.
Jokowi mengakhiri kepemimpinannya setelah 10 tahun menjabat sebagai Presiden RI, sejak 20 Oktober 2014 hingga berakhir pada Minggu (20/10/2024). Kini, kepemimpinan telah beralih ke Prabowo Subianto.
“Saya sampaikan kepada Bapak Presiden, saya serahkan seutuhnya impian, harapan, cita-cita besar dari 280 juta rakyat Indonesia kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Jokowi di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Selama Jokowi menjabat Presiden selama 2014-2024, performa empat saham BUMN Karya turun signifikan di tengah masifnya pembangunan infrastruktur dalam negeri.
Keempat saham perusahaan pelat merah tersebut adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), dan PT PP (Persero) Tbk. (PTPP).
Berdasarkan data Bloomberg Terminal, ADHI menjadi emiten dengan penurunan harga saham paling dalam. Selama 24 Oktober 2014 hingga 18 Oktober 2024, saham ADHI mencatatkan penurunan 86,07% menuju level Rp304 per saham.
Saham ADHI pernah mencapai level tertingginya di angka Rp2.871 pada 30 Januari 2015, dan menorehkan level terendahnya di Rp192 pada 14 Juni 2024. Selama periode ini, harga saham perseroan rerata di level Rp1.273.
Berikutnya ada WIKA yang menurun 81,91% menjadi Rp412 per saham. Harga saham WIKA sempat mencapai posisi tertinggi di Rp2.947 pada 30 Januari 2015, sedangkan level terendahnya di Rp86 per saham saat 21 Juni 2024.
Saham WIKA diketahui sempat disuspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 Desember 2023 lantaran menunda pembayaran sukuk. Namun, setelah menyelesaikan kewajibannya, saham perseroan kembali diperdagangkan pada 30 April 2024.
Adapun, PTPP mencatatkan koreksi sebesar 80,12% selama periode perdagangan 24 Oktober 2014 – 18 Oktober 2024 menjadi Rp474 per saham. Menurut Bloomberg, rata-rata saham perseroan selama 10 tahun berada di level Rp1.933.
Harga saham PTPP pernah meraih level tertingginya pada 19 Agustus 2016, yang kala itu tembus Rp4.353 per saham. Di sisi lain, harga terendah saham BUMN Karya ini berada pada posisi Rp290 per 28 Juni 2024.
Di posisi akhir ada saham WSKT yang sejauh ini masih disuspensi BEI sejak 8 Mei 2023. Berdasarkan data Bloomberg, saham Waskita merosot 75,46% ke level Rp202 terhitung sejak 24 Oktober 2014 hingga tanggal suspensi.
Selama 2014 – 2023, saham WSKT sempat berada di level tertingginya yaitu Rp2.622 per saham dan mencapai posisi terendahnya di Rp202 pada 5 Mei 2023. Harga rata-rata saham Waskita bercokol di angka Rp1.352 per saham.
Suspensi saham WSKT disebabkan perseroan belum membayar Obligasi Berkelanjutan III Tahap IV Seri B Tahun 2019 yang bernilai Rp1,36 triliun. Obligasi itu merupakan satu-satunya utang yang belum dapat direstrukturisasi oleh perseroan.
Waskita diketahui telah merampungkan restrukturisasi 3 seri dari 4 obligasi senilai Rp3 triliun. Perseroan juga meraih persetujuan dari 21 kreditur perbankan perihal penyempurnaan master restructuring agreement (MRA) 2021 senilai Rp26,3 triliun.
IHSG
Kendati saham BUMN Karya WSKT, ADHI, WIKA dan PTPP mengalami pelemahan, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama 10 tahun pemerintahan Jokowi terpantau berada dalam tren penguatan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mejelaskan tren IHSG secara garis besar dalam 10 tahun terakhir mengalami kenaikan. Berdasarkan data Bloomberg, IHSG pada 20 Oktober 2014 berada pada level 5.040 dan ditutup pada posisi 7.735 pada Kamis (17/10/2024).
"Memang waktu Covid kita mengalami penurunan. Tetapi yang perlu kita apresiasi Jokowi bersama menterinya mampu melakukan pemulihan lebih cepat dan lebih baik, untuk mengejar ketertinggalan," kata Nico, Kamis (17/10/2024).
Menurut Nico, hal ini menjadi salah satu poin yang positif dalam pemerintahan Jokowi. Dia melanjutkan apabila berbicara mengenai pasar modal, maka pasar modal adalah reflektor ekonomi Indonesia.
"Karena kalau bursanya baik, berarti ekonomi kita selaras dengan kinerja ekonomi kita," ujarnya.
Nico melanjutkan selama 10 tahun terakhir, inflasi dan tingkat suku bunga tinggi, pasar modal menjadi salah satu alternatif tempat pendanaan. Menurutnya, hal tersebut terbukti selama 2 hingga 3 tahun terakhir nilai IPO pasar modal Indonesia mengalami kenaikan.
Sebagai informasi pada nilai IPO tertinggi BEI tercatat terjadi pada tahun 2021. Saat itu, 54 perusahaan melantai di BEI, dengan jumlah raihan dana sebesar Rp62,61 triliun.
Raihan dana IPO tinggi ini tak lepas dari aksi IPO jumbo PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA). BUKA kala itu meraih dana segar sebesar Rp21,9 triliun, yang juga menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah BEI.
Setelahnya, nilai IPO terbesar kedua terjadi pada tahun 2023, dengan nilai raihan dana sebesar Rp54,1 triliun.
Sementara itu, selama 10 tahun terakhir jumlah dana yang dihimpun oleh ratusan emiten baru dari pasar perdana saham juga terbilang fantastis. Apabila diakumulasi, 484 aksi IPO itu menggalang dana segar sebesar Rp233,54 triliun.
Pergerakan IHSG 10 Tahun Jokowi
Tahun
Kinerja Tahunan
IHSG
2014
22.90%
5.226
2015
-12.12%
4.593
2016
15.32%
5.296
2017
19.99%
6.355
2018
-2.53%
6.194
2019
1.69%
6.299
2020
-5.08%
5.979
2021
10.07%
6.581
2022
4.08%
6.850
2023
6.16%
7.272
Sept 2024
3.51%
7.527
Sumber: BEI, diolah.
______________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA – Tiga emiten BUMN Karya ADHI, PTPP dan WSKT mencatatkan total pembayaran kas kepada pemasok dan subkontraktor sebesar Rp18,40 triliun pada semester I/2024.
Jumlah itu dibayarkan oleh PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Sebagai catatan, PT Wijaya Karya (Persero) tidak termasuk karena belum merilis laporan keuangan kuartal II/2024.
Melansir laporan keuangan konsolidasi ketiga emiten, Sabtu (10/8/2023), ADHI tercatat menggelontorkan pembayaran terbesar yakni Rp8,79 triliun sepanjang Januari – Juni 2024. Jumlah itu meningkat 3,46% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sementara itu, PTPP mengakumulasikan pembayaran kas kepada pemasok dan subkontraktor sebesar Rp6,52 triliun atau turun 26,08% year-on-year (YoY). Adapun Waskita Karya mengucurkan dana Rp3,08 triliun, turun 44,08% YoY.
Pembayaran kas kepada pemasok dan subkontraktor merupakan salah satu beban terbesar dari pos arus kas aktivitas operasi dari tiap emiten BUMN Karya.
ADHI, misalnya, mencatatkan penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp10,23 triliun pada semester I/2024. Namun, setelah dikurangi jumlah pengeluaran – salah satunya pembayaran pemasok, perseroan meraih surplus kas bersih dari aktivitas operasi Rp1,07 triliun.
PTPP dan Waskita Karya justru membukukan defisit kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi. PTPP mencatatkan defisit kas bersih aktivitas operasi sebesar Rp367,97 miliar, sementara Waskita mencapai Rp1,45 triliun.
Meski demikian, sepanjang semester I/2024, ADHI memiliki arus kas setara kas sebesar Rp2,66 triliun atau turun 23,34% YoY. Di sisi lain, arus kas PTPP melonjak 50,73% YoY menjadi Rp4,32 triliun dan Waskita mencatatkan Rp1,87 triliun atau naik 8,74% YoY.
KEPERCAYAAN PUBLIK
Dalam perkembangan lain, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo menilai kepercayaan investor kepada BUMN Karya mulai pulih. Tecermin dari respons pasar terhadap obligasi yang dirilis ADHI dan PTPP beberapa waktu lalu.
Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan 2 Pefindo, Yogie S. Perdana, mengatakan kepercayaan pelaku pasar terhadap BUMN Karya mulai membaik. Hal ini dipicu perbaikan keuangan, serta skema baru pembayaran dalam proyek yang dikerjakan.
Sebagaimana diketahui, emiten BUMN Karya kini mendorong pembayaran proyek melalui skema progres bulanan. Kondisi itu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menerapkan metode turnkey alias pembayaran dilakukan ketika proyek telah rampung.
“Sebelumnya BUMN Karya cukup agresif dengan skema pembayaran turnkey dan agresif investasi di level proyek. Sekarang, sesuai arahan Kementerian BUMN fokus pada kompetensi sehingga skema pembayaran dengan pemilik proyek lebih wajar,” ujarnya.
Di sisi lain, Yogie menyatakan bahwa tumbuhnya kepercayaan investor terhadap BUMN Karya juga tecermin dari serapan obligasi yang dirilis ADHI dan PTPP pada semester I/2024.
“Sudah ada dua emiten karya yakni Adhi Karya dan PTPP yang menerbitkan obligasi dengan serapan yang cukup baik. Itu mengindikasikan bahwa level kepercayaan investor di sektor karya ini sudah membaik dari tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya.
ADHI diketahui telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV tahap pertama dengan nilai pokok Rp102,72 miliar. Aksi korporasi ini merupakan rangkaian dari Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan IV Adhi Karya dengan target dana sebesar Rp5 triliun.
Sementara itu, PTPP menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV PTPP Tahap I Tahun 2024 senilai Rp434,62 miliar. Aksi korporasi tersebut merupakan rangkaian dari penawaran umum dengan total target dana yang dihimpun sebesar Rp3 triliun.
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.