JAKARTA, investor.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan laba bersih sebesar US$ 16,7 juta pada kuartal II-2024, melesat 232% yoy atau melonjak 356% qoq. Alhasil, laba bersih sepanjang semester I-2024 mencapai US$ 20,4 juta atau melejit 204% yoy.
“Laba bersih Merdeka Battery Materials (MBMA) tersebut mencapai 43% dan 34% dari estimasi kami dan konsensus tahun ini,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus dalam risetnya.
Lonjakan laba bersih Merdeka Battery pada kuartal II-2024 didukung oleh kuatnya margin tunai nickel pig iron (NPI) sebesar US$ 1.166/ton atau naik 40% qoq, serta margin tunai nikel matte sebesar US$ 1.803/ton atau melesat 253% qoq.
Adapun pendapatan emiten berkode saham MBMA tersebut pada kuartal II-2024 relatif flat sebesar US$ 477 juta atau hanya naik 7,5% qoq. Meski begitu, pendapatan perseroan sepanjang Januari-Juni 2024 mencapai US$ 922 juta atau melejit 163% yoy. Pencapaian itu sekitar 51% dan 48% dari estimasi BRI Danareksa Sekuritas dan konsensus tahun ini.
Dalam earnings call, menurut Timothy, manajemen MBMA menjelaskan bahwa karena adanya keterlambatan dalam proses commissioning, proyek AIM (acid,iron,metal) bakal berkontribusi terhadap laba MBMA mulai tahun 2025, setelah menyelesaikan pabrik katoda tembaga pada akhir kuartal IV-2024.
Karena itu, BRI Danareksa Sekuritas memperhitungkan kontribusi AIM mulai tahun 2025 beserta biaya bunganya. Lebih jauh, AIM akan mendapatkan bijih pirit dari tambang tembaga Wetar sebagai bahan baku sebanyak 1-1,1 juta ton per tahun, yang akan dibanderol dalam rentang harga relatif tetap. “Dengan demikian, naik atau turunnya harga tembaga dan emas tidak akan memengaruhi biaya bahan baku,” jelas Timothy.
Sementara itu, MBMA merevisi turun panduan produksi NPI tahun ini sebesar 6-8% menjadi 80-85 kt, karena ada pemeliharaan di smelter RKEF Bukit Smelter Indonesia (BSID), yang diperkirakan memakan waktu sekitar 4 bulan. BRI Danareksa Sekuritas pun menurunkan target produksi NPI MBMA menjadi 82 ktpa dari sebelumnya 85 ktpa.
MBMA juga menghentikan rencana penambahan konverter nikel matte di salah satu smelter RKEF, karena profitabilitas nikel matte yang lebih rendah akibat penurunan harga nikel di London Metal Exchange (LME).
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Dengan berbagai faktor yang ada, BRI Danareksa Sekuritas menurunkan estimasi MBMA untuk tahun 2024-2025, karena pada semester II-2024 diperkirakan lebih lemah akibat koreksi harga nikel. Selain itu, BRI Danareksa Sekuritas telah memperhitungkan volume penjualan NPI dan bijih limonit yang lebih rendah, sesuai panduan terbaru.
BRI Danareksa Sekuritas juga memasukkan proyeksi keuangan AIM dan ESG, yang berujung pada penyesuaian estimasi EPS (earnings per share) MBMA 2024, 2025, dan 2026 sebesar -20,6%, 1,8%, dan -11,7% menjadi US$ 38 juta, US$ 115 juta, dan US$ 148 juta.
Meski begitu, saham MBMA tetap direkomendasikan buy karena potensi pertumbuhan dari proyek-proyek utama. Namun, target harga saham MBMA dipangkas menjadi Rp 650 dari sebelumnya Rp 700.
Risiko utamanya jika biaya tunai lebih tinggi, terjadi penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP), dan keterlambatan proyek.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News