#30 tag 24jam
Demi Nasabah, Adira Finance (ADMF) Rela Laba Ambles
Adira Finance (ADMF) menjelaskan alasan laba turun sampai 17% pada kuartal III-2024 dan arah bisnis ke depan. - Halaman all [811] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #adira-finance #admf #pt-adira-finance-multi-finance-tbk #laporan-keuangan-adira #pembiayaan-adira #emiten-multifinance #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 31/10/24 18:20
v/17284588/
JAKARTA, investor.id – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) atau Adira Finance melaporkan penurunan laba bersih sebesar 17% sampai dengan kuartal III-2024. Hasil ini diraup perusahaan usai memutuskan tak mentransmisikan penaikan biaya kredit dan beban bunga kepada nasabah.
“Mohon maaf (laba) Adira gak selalu bagus. Kalau Adira mau (laba) bagus, nanti nasabahnya bonyok karena kita naikin lending rate. Jadi, (laba turun) gak apa-apa, ini business cycle yang wajar,” ungkap Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila di Jakarta, pada Kamis (31/10/2024).
Berdasarkan laporan keuangan Adira Finance, laba bersih perusahaan turun 17,00% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2024. Sebagai perbandingan, laba bersih menyusut dari Rp 1,34 triliun menjadi Rp 1,11 triliun. Adapun salah satu penyebabnya adalah peningkatan beban bunga sebesar 34,94% (yoy).
Made menjelaskan, perusahaan lebih banyak melayani segmen nasabah menengah-bawah yang saat ini sedang menghadapi gangguan daya beli dan daya bayar. Siklus perekonomian yang kurang mendukung, ditambah situasi tahun politik yang tak menentu jadi tantangan tersendiri bagi kebanyakan nasabah dan Adira Finance itu sendiri.
Pertama-tama, kata dia, perusahaan memilih berupaya tak mengerek suku bunga ke nasabah, seiring era suku bunga tinggi belakangan ini. Kemudian, ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung membuat perusahaan harus melakukan pencadangan lebih besar sebagai tindakan kehati-hatian. Pada saat sama, perusahaan juga melakukan hapus buku (write off) untuk beberapa portofolio pembiayaan.
“Kalau ekonomi lagi jelek, pencadangan kita naik, itu ada aturannya lah. (Lalu) write off kita naik, jelas, banyak orang tidak mampu (bayar angsuran). Jadi apakah ini selamanya? Enggak, ini kondisi demand dan supply. Ini memang kondisi sedang challenging,” beber Made.
“Kita terima memang situasinya tidak kondusif tahun ini,” kata Made. Ia bilang, tekanan penjualan di industri otomotif ikut berimbas terhadap perusahaan yang 80% portofolionya pembiayaan kendaraan bermotor.
Made mengaku bahwa tahun ini perusahaan rela melewati fase memupuk profitabilitas yang lebih besar. Tapi, perusahaan juga tak berdiam diri menunggu perekonomian kembali membaik. Dalam hal ini, Adira Finance tengah menyiapkan strategi untuk bisa berlari kencang di masa mendatang.
Mesin Pertumbuhan Baru
Pada kesempatan sama, Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa menerangkan, pada tahun yang menantang ini perusahaan cukup selektif untuk menyalurkan pembiayaan. Hasilnya, pembiayaan baru turun 9% (yoy) menjadi Rp 27,8 triliun sampai kuartal III-2024.
Meski begitu, piutang pembiayaan (termasuk pembiayaan bersama) masih mampu bertumbuh sebesar 7% (yoy) menjadi Rp 56,6 triliun. Didukung pembiayaan syariah baru syariah yang melesat 21% (yoy) menjadi Rp 5,9 triliun dan pertumbuhan pembiayaan baru di segmen non otomotif menjadi Rp 6,8 triliun.
“Dengan piutang yang naik 7% tentu pendapatan kita naik (8,9% yoy), tetapi tekanan-tekanan ekonomi makro memberi dampak. Seperti orang mantab (makan tabungan), harga komoditas terganggu, itu menyebabkan misalkan di daerah Sumatera biaya kredit meningkat 38% dan biaya dana meningkat karena suku bunga meningkat,” urai Gani.
Di samping itu, kehati-hatian yang diterapkan perusahaan menghasilkan kualitas aset tetap terjaga di rentang memadai. Pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) termoderasi di level 2,2% pada akhir September 2024.
Gani yakin terhadap prospek ekonomi yang bakal lebih baik di sisa tahun ini dan tahun 2025 mendatang. Pembiayaan baru dipercaya meningkat dari Rp 2,5 triliun per bulan menjadi Rp 3 triliun per bulan sepanjang kuartal IV-2024. Kemudian, ekuitas Adira Finance juga dalam posisi kuat Rp 11,23 triliun untuk mendukung ekspansi usaha ke depan, termasuk prospek bisnis usai menaruh kepemilikan saham di Home Credit dan Mandala Finance (MFIN).
“Mungkin tidak hanya dilihat dari finansial saja, tapi bagaimana future expansion yang kita lakukan,” jelas Gani.
Di samping kinerja keuangan yang tertekan, emiten multifinance bersandi ADMF ini tetap melancarkan perluasan jaringan di seluruh Indonesia, khususnya di luar Pulau Jawa. Gani menjelaskan, wilayah perluasan yang dimaksud seperti Bungku, Lhokseumawe, Flores, dan beberapa daerah lainnya.
ADMF juga memastikan semakin banyak nasabah yang menggunakan layanan digital Adiraku sebagai sarana pembayaran. Jumlah pengguna naik dari 1,0 juta pada tahun lalu menjadi 1,1 juta pengguna. Dalam waktu dekat, perusahaan akan meluncurkan layanan digital terbaru.
“Kita juga ada barang digital (baru) yang nanti November 2024 akan kita undang lagi teman-teman dari media ... Adira sudah bersiap dan menyongsong bisnis baru,” jelas Gani.
Saat ini, Adira Finance juga tengah mempersiapkan mesin pertumbuhan baru, menyusul kesuksesan di segmen pembiayaan motor, mobil, dan cash loan. Segmen yang dimaksud adalah pembiayaan alat berat.
Perusahaan berharap langkah ini akan mampu membuat portofolio perusahaan semakin tangguh dalam situasi menantang sekalipun. Pembiayaan alat berat diungkapkan sudah tumbuh dua kali lipat dengan nominal sekitar Rp 800 miliar. Pertumbuhan dipercaya dapat berlari cepat dengan dukungan afiliasi MUFG dan Bank Danamon (BDMN).
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News