#30 tag 24jam
Screen Time Berlebihan Sebabkan Mata Kering pada Anak
Penggunaan perangkat elektronik berlayar (screen time) secara kontinu dengan durasi lama berisiko buruk dapat menyebabkan mata kering. Mata kering yang tidak segera ditangani bisa menimbulkan peradan [818] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #screen-time #mata-kering #dry-eye #iritasi-mata #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 08/08/24 06:30
v/13747587/
JAKARTA, investor.id – Penggunaan perangkat elektronik berlayar (screen time) secara kontinu dengan durasi lama berisiko buruk dapat menyebabkan mata kering. Mata kering yang tidak segera ditangani bisa menimbulkan peradangan sehingga mengakibatkan kerusakan permukaan mata yang bersifat ringan hingga berat, temporer atau permanen.
“Screen time yang berlebih dapat memengaruhi dinamika berkedip anak, seperti berkurangnya frekuensi dan kelengkapan berkedip. Kondisi ini dapat meningkatkan kekeringan permukaan mata yang seiring waktu berpotensi memulai siklus dry eye. Meskipun tidak ada perbedaan mata kering berdasarkan usia, tetapi proses anamnesis pada pasien anak lebih sulit ketimbang pasien dewasa. Anak seringkali belum bisa mendeskripsikan keluhan yang dirasakan secara verbal. Ini yang menjadi tantangan,” kata Dokter Mata Kering dan Lensa Kontak, JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr Niluh Archi SR, SpM (dr. Manda) secara daring, baru-baru ini.
Dry eye, kata dr Niluh bersifat multifaktorial, merupakan penyakit atau kelainan pada permukaan mata yang ditandai dengan hilangnya keseimbangan komponen air mata, adanya ketidakstabilan air mata, peningkatan kekentalan atau osmolaritas, dan kerusakan atau peradangan pada permukaan mata.
Gejala yang dirasakan penderita dry eye umumnya dimulai dengan mata yang tidak nyaman - seperti mengganjal, sering merah, berair, terasa kering, sensasi berpasir, muncul kotoran, terasa lengket, serta kerap mengucek mata.
Dr Niluh Archi SR, SpM (dr Manda) melanjutkan, “Di sini kepekaan orang tua sangatlah krusial. Orang tua harus tanggap dan kritis jika mendapati anak mulai menunjukkan gejala-gejala mata kering. Termasuk segera memeriksakan ke dokter mata. Lebih dari itu, orang tua harus tegas memberlakukan batasan screen time kepada anak. Dengan disiplin menjalankan screen time yang bijak, harapannya anak bisa terhindar dari risiko mata kering.”
Capai 7 Jam Per Hari
Laporan “Revealing Average Screen Time Statistics” dari Backlinko mendapati rata-rata waktu tatap layar atau screen time masyarakat Indonesia mencapai 7 jam 38 menit per hari. Padahal, berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak di bawah 1 tahun dilarang menatap layar gawai. Untuk anak usia 1-3 tahun, screen time tidak boleh lebih dari 1 jam - dengan beberapa catatan. Khusus batita 1-2 tahun hanya boleh menatap layar yang berupa video chatting (untuk berkomunikasi).
Bagi anak usia 3-6 tahun (pra-sekolah), waktu screen time maksimal adalah satu jam per hari, dan semakin singkat semakin baik. Untuk anak usia 6-12 tahun (masa sekolah), screen time yang disarankan adalah maksimal 90 menit per hari. Untuk anak usia sekolah 12-18 tahun (sekolah menengah), waktu screen time tidak lebih dari 2 jam per hari.
Sayangnya, realita screen time anak masih jauh dari rekomendasi ideal tersebut. Sebagai gambaran, sebuah studi di Korea justru memperlihatkan bahwa 9,1% anak-anak berusia 9-12 tahun telah mengalami gangguan mata kering. Penggunaan ponsel pintar menjadi faktor pemicu. Anak-anak yang mengalami mata kering ternyata menggunakan ponsel pintar rata-rata selama 3,18 jam per hari. Sejalan penelitian itu, studi lain di Perancis juga mendapati bahwa anak berusia 7 hingga 19 tahun menghabiskan lebih dari 3 jam per hari untuk menatap layar.
Catatan JEC sendiri, di dua cabangnya (RS Mata JEC @ Kedoya dan JEC @ Menteng), selama 2022 terjadi lonjakan pasien dry eye sebesar 62% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara jumlah, dalam kurun empat tahun terakhir (2019-2022), JEC telah menangani lebih dari 4 ribu pasien gangguan mata kering.
“Jika tidak segera ditangani, kondisi dry eye kronis dapat mengakibatkan peradangan atau infeksi pada konjungtiva, peradangan pada kornea, ulkus kornea atau luka terbuka pada kornea. Dampak lanjutan mata kering yang belum tertangani tak jarang berupa pandangan kabur - yang membuat anak kesulitan membaca. Mengantisipasi itu, pemeriksaan mata secara dini dan berkala menjadi solusi untuk mencegah dampak mata kering pada anak,” tambah Dr Niluh Archi S. R., SpM (dr. Manda).
Pemeriksaan mata kering melalui JEC Dry Eye Service meliputi: Dry Eye Questionnaire, Schirmer Test (menilai volume air mata), Tear Break Up Time/TBUT (menilai stabilitas air mata), Ocular Surface Staining (menilai derajat peradangan), Meibography (menilai kondisi kelenjar Meibom di kelopak mata), TearLab® Osmometer (menilai kadar osmolaritas air mata), dan keratograph (alat bantu pemeriksaan yang digunakan untuk menilai permukaan mata serta stabilitas lapisan air mata).
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, tim ahli JEC Dry Eye Service akan memberikan penanganan yang sesuai. Mulai dari artificial tears substitute/lubricants hingga punctal plug pada kondisi berat untuk mengatasi volume air mata yang kurang; pemberian anti-inflamasi dan antibiotik tetes mata maupun orang untuk mengatasi peradangan dan kemungkinan infeksi pada mata; hingga pemberian autologous serum tetes mata untuk memperbaiki permukaan mata yang mengalami kerusakan.
“Melalui Bulan Peringatan Mata Kering, sekaligus dalam rangka Hari Anak Nasional, JEC berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kelainan mata kering yang semakin banyak ditemui pada anak-anak. Terlebih mengingat penggunaan gadget elektronik yang tak bisa dihindari dan berlangsung terus menerus. Mendukung itu, kehadiran JEC Dry Eye Service juga menjadi penguatan komitmen JEC Eye Hospitals & Clinics untuk terus berkontribusi mengoptimalkan penglihatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Tanah Air,” tutup Mubadiyah, S.Psi, MM.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Simak Pertolongan Pertama Sindrom Mata Kering pada Anak
Kasus anak yang terkena sindrom mata kering, makin banyak terjadi seiring peningkatan penggunaan gawai [393] url asal
#mata-kering #sindrom-mata-kering #cara-atasi-sindrom-mata-kering
(Bisnis.Com) 31/07/24 11:10
v/12727748/
Bisnis.com, JAKARTA - Sindrom mata kering semakin banyak diderita oleh anak-anak, terutama dengan penggunaan gawai pada anak yang semakin meningkat. Lantas seperti apa penanganan untuk anak yang terkena sindrom mata kering?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan sebanyak 36,99 persen anak-anak Indonesia berusia 5-15 tahun kini sudah memiliki ponsel.
Selain itu, 38,92 persen anak berusia 0-6 tahun di Indonesia telah menggunakan telepon seluler. Hal ini menegaskan bahwa paparan layar gawai sudah terjadi sejak masa anak-anak.
Dokter Mata Kering dan Lensa Kontak, JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Niluh Archi S. R., SpM (dr. Manda) menjelaskan, sindrom mata kering adalah penyakit mata yang sifatnya multifaktorial alias disebabkan oleh banyak faktor.
Sindrom mata kering ditandai dengan hilangnya keseimbangan lapisan air mata serta permukaan mata yang diikuti oleh gejala tertentu.
Beberapa gejala sindrom mata kering antara lain:
• Rasa mengganjal
• Mata sering merah
• Berair
• Terasa kering
• Sensasi berpasir
• Ada kotoran pada mata
• Mata terasa lengket
• Sering mengucek mata
Dr. Manda mengatakan, screen time yang berlebih dapat menjadi penyebab karena akan memengaruhi dinamika berkedip anak, seperti berkurangnya frekuensi dan kelengkapan berkedip.
Kondisi ini dapat meningkatkan kekeringan permukaan mata yang seiring waktu berpotensi memulai siklus sindrom mata kering.
Lalu bagaimana penanganan pertama jika anak terkena sindrom mata kering?
Dr. Manda mengatakan, apabila anak mengalami gejala seperti di atas, pengobatan pertama yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan obat tetes mata yang memiliki fungsi sebagai pengganti air mata atau air mata buatan.
"Tapi kita harus pintar-pintar memilih obat tetes yang memang fungsinya untuk mata kering. Jangan sampai obat yang digunakan oleh pasien itu bukan untuk mengobati mata kering, justru malah memperburuk kondisinya," paparnya.
Obat tersebut bisa dibeli di apotek atau toko obat umum tanpa perlu resep dokter. Namun, perlu dicatat pula agar tak mencoba terlalu banyak obat.
"Beli obat mata cukup satu saja, cari yang artificial tears. Kalau tidak cocok atau gejala tidak berkurang, segera bawa ke dokter mata" jelasnya.
Mata Kering sebagai Gejala Penyakit Lain
Selanjutnya, jika sudah diteteskan obat namun masih ada keluhan, orang tua harus membawa anak ke dokter mata untuk mengetahui kemungkinan penyakit mata lainnya seperti alergi atau infeksi.
Dr. Manda menegaskan bahwa sindrom mata kering tidak bisa disepelekan. Pasalnya, jika tidak segera ditangani, kondisi sindrom mata kering kronis dapat mengakibatkan penyakit lain seperti peradangan atau infeksi pada konjungtiva, peradangan pada kornea, ulkus kornea atau luka terbuka pada kornea.
Hindari Gejala Mata Kering pada Anak, Dampak Buruk Screen Time Berlebihan
Sindrom mata kering pada anak kerap terjadi imbas penggunaan gawai berlebihan [560] url asal
#mata-kering #sindrom-mata-kering #penyebab-mata-kering
(Bisnis.Com) 30/07/24 19:52
v/12678015/
Bisnis.com, JAKARTA - Di era digital seperti saat ini, sudah semakin banyak dan lumrah anak-anak menggunakan perangkat elektronik mulai dari televisi, komputer hingga ponsel pintar. Hal ini bisa mengganggu kesehatan mata pada anak, termasuk menyebabkan mata kering.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 sebanyak 36,99 persen anak-anak Indonesia berusia 5-15 tahun kini sudah memiliki ponsel.
Selain itu, 38,92 persen anak berusia 0-6 tahun di Indonesia telah menggunakan telepon seluler. Hal ini menegaskan bahwa paparan layar gawai sudah terjadi sejak masa anak-anak.
Laporan “Revealing Average Screen Time Statistics” dari Backlinko juga menunjukkan rata-rata waktu tatap layar atau screen time masyarakat Indonesia mencapai 7 jam 38 menit per hari. Padahal penggunaan perangkat elektronik berlayar secara terus menerus dengan durasi lama berisiko buruk pada kesehatan.
Salah satu gangguan pada mata yang umum terjadi adalah mata kering. Masalahnya, penyakit ini kerap tak disadari penderitanya.
Padahal, mata kering yang tidak segera ditangani bisa menimbulkan peradangan sehingga mengakibatkan kerusakan permukaan mata, baik yang bersifat ringan hingga berat, sementara, atau bahkan permanen.
Dokter Mata Kering dan Lensa Kontak, JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Niluh Archi S. R., SpM (dr. Manda) menjelaskan, sindrom mata kering adalah penyakit mata yang sifatnya multifaktorial alias disebabkan oleh banyak faktor.
Sindrom mata kering ditandai dengan hilangnya keseimbagan lapisan air mata serta permukaan mata yang diikuti oleh gejala tertentu.
Adapun, beberapa gejalanya antara lain:
• Rasa mengganjal
• Mata sering merah
• Berair
• Terasa kering
• Sensasi berpasir
• Ada kotoran pada mata
• Mata terasa lengket
• Sering mengucek mata
Masalahnya, lanjut dr. Manda, pada anak umumnya gejala tidak selalu terlihat jelas, salah satunya karena umumnya gejalanya lebih ringan dibandingkan dengan pasien dewasa.
Dr. Manda mengatakan, screen time yang berlebih dapat menjadi penyebab karena akan memengaruhi dinamika berkedip anak, seperti berkurangnya frekuensi dan kelengkapan berkedip.
Kondisi ini dapat meningkatkan kekeringan permukaan mata yang seiring waktu berpotensi memulai siklus dry eye.
“Di sini kepekaan orang tua sangatlah krusial. Orang tua harus tanggap dan kritis jika mendapati anak mulai menunjukkan gejala-gejala mata kering.Termasuk segera memeriksakan ke dokter mata. Lebih dari itu, orang tua harus tegas memberlakukan batasan screen time kepada anak. Dengan disiplin menjalankan screen time yang bijak, harapannya anak bisa terhindar dari risiko mata kering," paparnya dalam webinar, Selasa (30/7/2024).
Adapun, jika tidak segera ditangani kondisi sindrom mata kering kronis dapat mengakibatkan penyakit lain seperti peradangan atau infeksi pada konjungtiva, peradangan pada kornea, ulkus kornea atau luka terbuka pada kornea.
"Dampak lanjutan mata kering yang belum tertangani tak jarang berupa pandangan kabur, yang membuat anak kesulitan membaca. Oleh karena itu, sebagai langkap antisipasi, pemeriksaan mata secara dini dan berkala bisa menjadi solusi untuk mencegah dampak mata kering pada anak,” tambah dr. Manda.
Adapun, berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak di bawah 1 tahun dilarang menatap layar gawai sama sekali.
Kemudian, untuk anak usia 1-3 tahun, screen time tidak boleh lebih dari 1 jam dengan pendampingan dan catatan, khusus batita 1-2 tahun hanya boleh menatap layar yang berupa video chatting (untuk berkomunikasi).
Bagi anak usia 3-6 tahun (pra-sekolah), waktu screen time maksimal adalah satu jam per hari, dan semakin singkat semakin baik.
Selanjutnya, untuk anak usia 6-12 tahun (masa sekolah), screen time yang disarankan adalah maksimal 90 menit per hari dan untuk anak usia sekolah 12-18 tahun (sekolah menengah), waktu screen time disarankan tidak lebih dari 2 jam per hari.