BEKASI, KOMPAS.com - Pimpinan Komisi III DPR RI mendatangi lokasi penemuan tujuh jasad remaja di Kali Bekasi, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi, Selasa (24/9/2024) siang.
Rombongan yang dipimpinan Wakil Ketua Komisi III Habiburokhman itu tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB.
Turut hadir di lokasi anggota Komisi III antara lain, Aboe Bakar Al Habsyi, I Wayan Sudirta, Nazaruddin Dek Gam, dan Arteria Dahlan.
Di lokasi, Habiburokhman meminta kepolisian untuk transparan dalam menanganai kasus tersebut.
"Kami ingin ini semua dilakukan penyelidikan yang transparan dan dicek latar belakangnya apa? Sampai kejadiannya seperti apa?" ujar Habiburokhman.
Setelah dari lokasi penemuan tujuh jasad, Haburokhman bersama rombongan kemudian bergeser ke sebuah gubuk yang menjadi lokasi berkumpulnya 60 remaja yang hendak tawuran.
Gubuk atau bedeng itu terletak di Jalan Cipendawa, tepatnya di depan PT Gudang Semen Merah Putih, Jatiasih.
Di sini, mereka juga sempat memasuki gubuk dan mengecek bantaran kali yang berada persis di belakang gubuk.
Diberitakan, kasus penemuan tujuh jasad remaja yang mengapung di Kali Bekasi, Jatiasih, Minggu (22/9/2024) pagi, perlahan mulai terungkap.
Mereka adalah remaja yang semula hendak melakukan aksi tawuran, tetapi kocar-kacir melarikan diri lantaran digerebek Patroli Perintis Presisi.
Kasat Reskrim Polres Metro Kota Bekasi Komisaris Audy Joize Oroh mengungkapkan ketujuh remaja itu merupakan bagian dari sekitar 60 remaja yang sedang berkumpul di gubuk di Jalan Cipendawa pada Sabtu (21/9/2024) pukul 03.00 WIB.
Gubuk atau bedeng itu terletak di Jalan Cipendawa, tepatnya di depan PT Gudang Semen Merah Putih, Jatiasih.
Mereka menggunakan sekitar 30 unit motor yang diparkir di dekat gubuk.
"Berdasarkan keterangan saksi, diperoleh fakta bahwa di tempat tersebut mereka ini melakukan aktivitas minum-minuman keras beralkohol," ujar Audy dalam konferensi pers di kantornya, Senin.
Diduga, aktivitas itu dilakukan sebelum aksi tawuran. Sebab, mereka juga membawa aneka jenis senjata tajam.
Sekitar pukul 03.30 WIB, tim Patroli Perintis Presisi melintasi jalan itu.
Melihat kehadiran polisi, para remaja takut serta melarikan diri ke berbagai arah. Ada yang berlarian ke perumahan warga. Ada pula yang kabur ke arah Kali Bekasi.
"Dari keterangan para saksi, ada beberapa orang yang meloncat ke Kali bekasi dan ada beberapa yang memang tidak berani untuk meloncat karena melihat kondisi tempat yang tidak memungkinkan dan gelap," ungkap Audy.
Polisi pun hanya bisa meringkus para remaja yang tidak berani menceburkan diri ke Kali Bekasi dan beberapa remaja yang kabur ke perumahan warga. Sementara itu, para remaja yang nekat terjun ke Kali Bekasi tidak dihiraukan lagi.
Total, polisi mengamankan 22 remaja pada dini hari itu. Tiga orang remaja di antaranya kedapatan membawa aneka senjata tajam.
Barang bukti yang diperoleh, yakni 21 bilah senjata tajam, 30 unit sepeda motor, dan 8 unit telepon genggam.
Rupanya, nasib nahas menimpa para remaja yang nekat melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke kali. Pada Minggu pagi, warga menemukan tujuh jasad remaja mengapun di Kali Bekasi.
Ketujuh jasad remaja itu kini masih disimpan di RS Bhayangkara Kramat Jati, Jakarta Timur. Perwakilan keluarga yang kehilangan anggotanya berdatangan untuk mengecek apakah salah satu di antaranya adalah anggota keluarganya atau bukan.
"Hari ini akan dilakukan otopsi terhadap tujuh jenazah di RS Polri yang hasilnya akan diinformasikan lebih lanjut," ujar Audy.
Pihak kepolisian berjanji menuntaskan kasus ini secara profesional. Salah satunya, yakni dengan menerapkan scientific crime identification dalam penyelidikannya serta melibatkan wadah profesi terkait lainnya.
"Proses ini akan dilakukan secara akuntabel untuk mengungkap waktu-waktu yang terjadi," ujar Audy.