#30 tag 24jam
Megathrust Mentawai Segmen "Bungsu" yang Punya Potensi Gempa Berkekuatan M8,9
Ancaman gempa dan tsunami di Sumbar ini bukan lagi bicara soal isu, tapi sudah bisa hal patut diwaspadai. [978] url asal
#megathrust-mentawai #gempa-bumi #gempa-megathrust #gempa-mentawai
(Bisnis.Com - Terbaru) 19/09/24 02:32
v/15207917/
Bisnis.com, PADANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Barat menyatakan megathrust Mentawai memiliki potensi terjadi gempa dengan kekuatan hingga magnitudo 8,9 dan menjadi ancaman besar bagi jutaan jiwa penduduk di Sumbar.
Juru Bicara BPBD Sumbar Ilham mengatakan megathrust Mentawai merupakan salah satu segmen dari 5 segmen yang terletak di wilayah Pulau Sumatra seperti di kepulauan wilayah Aceh, Nias, Bengkulu, dan Lampung.
"Untuk segmen Aceh, Nias, Bengkulu, dan Lampung, dari catatan para ahli kekuatannya telah berkurang yang telah terjadi sejak tahun 2000 dan terakhir 2007. Sekarang yang masih menyimpan kekuatan besar itu yakni di segmen wilayah Mentawai. Kekuatannya berpotensi M8,9 dan berpotensi diikuti tsunami," katanya, Rabu (18/9/2024)
Ilham menjelaskan untuk segmen di Mentawai ini tidak semua pulau-pulau di Mentawai yang punya potensi gempa yang cukup kuat. Dari data yang ada, pulau di Mentawai yang menyimpan potensi gempa dengan kekuatan M8,9 itu berada di Pulau Siberut dan Sipora.
"Kalau Pulau Pagai, baik yang utara maupun yang selatan, segmen itu kekuatannya telah menurun. Kendati demikian kami juga tidak bisa menjamin bahwa Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan aman, karena bicara dampak bencana alam ini tidak bisa dipastikan jangkauan dampaknya," tegas dia.
Melihat dari data berupa peta yang dihimpun terakhir di tahun 2022, segmen di beberapa titik wilayah Mentawai itu telah berkurang kekuatannya, yakni memiliki tanda berwarna merah.
Berbeda dengan kondisi yang berada di Pulau Siberut dan Pulau Sipora, masih sedikit terlihat adanya tanda berwarna merah. Artinya di dua pulau di Mentawai tersebut menjadi segmen yang menyimpan kekuatan gempa dengan kekuatan mencapai M8,9.
Menurutnya jika sewaktu-waktu terjadi gempa M8,9 yang bersumber dari segmen di Mentawai itu, maka dari perhitungan para ahli, ketinggian landaan tsunami di Mentawai diperkirakan lebih dari 10 meter, sementara landaan tsunami yang sampai di wilayah pantai di Sumbar contohnya di Padang lebih dari 6 meter.
Melihat dari kondisi pantai di Sumbar ini bervariasi, ada yang pantainya itu flat dan ada yang memiliki tebing yang cukup tinggi dari daratan, maka seandainya landaan tsunami lebih dari 6 meter, landaan atau air tsunaminya memiliki jangkauan diperkirakan lebih dari 5 km.
"Kami juga telah membuat zona aman tsunami itu dengan memberi tanda di jalan aspal berwarna biru. Titik zona aman yang BPBD tetapkan itu, sengaja dilebihkan dari titik aman menurut perkiraan ahli. Misalnya ahli bilang aman tsunami itu 5 km dari bibir pantai, maka kami buat 7 km dari bibir pantai," ucapnya.
Ilham menyatakan tujuan hal tersebut dilakukan, untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari perkiraan yang telah dilakukan kajian oleh para ahli terkait ancaman bencana alam megathrust Mentawai tersebut.
Dia menyampaikan untuk kondisi pantai yang memiliki pegunungan atau bangunan, maka akan turut berperan menahan, menjadi pagar, atau pemecah kekuatan landaan tsunami menuju daratan.
"Jadi kalau dekat pantainya ada pegunungan dan bangunan-bangunan, ada kemungkinan bisa membantu mengurangi atau menahan laju landaan tsunaminya," sebut dia.
Akan tetapi dari sekian banyak wilayah pantai di Sumbar ini, Pulau Siberut Mentawai yang terpantau memiliki kondisi pantai yang flat yang mencapai 7 km.
"Flat itu ya sama datar saja pantai dengan daratan, tidak ada hambatan seperti bangunan maupun pegunungan," katanya.
Kondisi tersebut diakui Ilham berpotensi dengan cepat landaan tsunami untuk sampai ke daratan. Khusus di Siberut itu, ada tempat ketinggian yang menjadi shelter bagi masyarakat, dimana jarak shelternya itu sekitar 3-4 km dari bibir pantai.
"Di Siberut itu kami bersama BNPB, BMKG, dan Dinas Sosial, juga telah mensosialisasikan ke masyarakat setempat agar memanfaatkan tempat ketinggian tersebut menjadi shelter," ungkapnya.
Tempat ketinggian yang dimaksud itu, yakni berupa bukit yang juga merupakan kawasan berkebunnya masyarakat setempat. Sehingga bila melakukan evakuasi ke tempat itu, masyarakat telah memiliki cadangan logistik untuk sementara waktu.
Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Megathrust Mentawai
Ilham menyampaikan ancaman gempa dan tsunami di Sumbar ini bukan lagi bicara soal isu, tapi sudah bisa hal patut diwaspadai, karena berdasarkan perkiraan para ahli dengan cara menghitung periode bencana tsunami, memang sudah tiba masanya bencana gempa dan tsunami melanda wilayah Sumbar ini.
Data yang dimiliki BPBD, terakhir gempa dan tsunami yang terjadi di Sumbar pada tahun 1797. Periodik terjadi bencana yang serupa itu menghitung dari kondisi terumbu karang di laut, gempa dan tsunami di Sumbar siklusnya itu per 200 tahun.
"Sekarang sudah lebih dari perhitungan periodik itu, makanya beberapa waktu lalu BMKG mengeluarkan informasi dan menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa dan tsunami megathrust Mentawai dan Selat Sunda," jelasnya.
Dikatakannya di Sumbar ini tindakan yang dilakukan yakni sosialisasi kepada masyarakat agar mereka tidak menanggapi informasi tersebut secara berlebihan.
Bahkan telah meminta kepada BPBD kabupaten dan kota untuk melakukan investigasi ke sejumlah bangunan baik yang dimiliki pemerintah maupun pihak swasta, yang bertujuan menghimpun data untuk mengukur kekuatan bangunan menghadapi ancaman gempa berkekuatan M8,9.
"BPBD kabupaten dan kota telah melakukan pendataan itu. Jadi kalau sudah tahu kemampuan bangunanya, kan bisa nanti diarahkan menjadi tempat evakuasi ke bangunan yang dinilai layak dan kuat menampung masyarakat," sebutnya.
"Kami memang tidak mendorong adanya pembangunan gedung khusus shelter yang baru. Tapi lebih kepada memanfaatkan tempat ketinggian yang dinilai aman dan layak jadi tempat evakuasi saat terjadi ancaman tsunami," sambung dia.
Selain itu, BPBD juga telah memasang rambu-rambu, jalur evakuasi, terkait upaya evakuasi saat menghadapi ancaman tsunami, di sejumlah kabupaten dan kota.
"Ancaman gempa dengan kekuatan M8,9 itu mungkin akan dirasakan di seluruh daerah di Sumbar, hanya saja kekuatannya saja akan berbeda di masing-masing daerah," jelasnya.
Sementara khusus untuk ancaman tsunami, lanjut Ilham, terdapat 7 kabupaten dan kota di Sumbar yang bakal turut terdampak. Mulai dari wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman Barat, dan yang paling berisiko itu di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Dari daerah yang berisiko terdampak tsunami itu, BPBD telah memasang 27 titik tanda biru atau zona aman tsunami. Kemudian melalui bantuan dari World Bank melalui BNPB juga telah dipasang sejumlah rambu evakuasi.
Selanjutnya telah membentuk desa kesiapsiagaan di 6 desa di Kabupaten Pesisir Selatan dan 6 desa di Kabupaten Padang Pariaman.
Ancaman Megathrust Mentawai dan Peringatan Gempa Padang pada 2009
Pemkor Padang intens melakukan kesiapsiagaan bencana untuk meminimalisir dampak gempa megathrust jika terjadi di Mentawai [670] url asal
#megathrust #gempa-megathrust #gempa-megathrust-mentawai #pemkot-padang #gempa-padang #gempa #gempa-bumi
(Bisnis.Com) 08/09/24 19:32
v/14929479/
Bisnis.com, PADANG - Pemerintah Kota Padang, Sumatra Barat, intens melakukan kesiapsiagaan bencana mulai dari memastikan kesiapan shelter hingga menghimbau masyarakat agar tetap tenang menanggapi ancaman gempa megathrust Mentawai.
Pj Wali Kota Padang Andree Algamar mengatakan bicara soal isu gempa megathrust sebenarnya sudah mencuat ke tengah publik sejak lama dan hal tersebut tidak harus disikapi secara berlebihan, namun upaya yang perlu dilakukan adalah mengajak masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
"Mitigasi dan kesiapsiagaan merupakan upaya yang perlu ditingkatkan. Begitupun untuk shelter, kami berharap masyarakat bisa dapat menjaga fasilitas yang ada, agar bisa dimanfaatkan kedepannya," katanya, Minggu (8/9/2024).
Dia menjelaskan saat ini di Padang terdapat sejumlah shelter yang siap menampung warga ketika terjadi bencana tsunami. Seperti shelter Darussalam di Kelurahan Bungo Pasang, shelter Nurul Haq di Komplek Jondul 4 Parupuk Tabing, Koto Tangah, dan shelter Wisma Indah Warta Bunda di Ulak Karang Utara.
Selain mengajak warga untuk mengoptimalkan shelter yang ada, Pemko Padang juga telah memperbarui rambu-rambu jalur evakuasi, dan memasang sirine peringatan tsunami di berbagai titik strategis.
"Jadi hal ini dilakukan agar warga memahami dan tidak panik ketika bencana terjadi, karena sudah rambu-rambu jalur evakuasi dan juga shelter yang memadai," ujarnya.
Selain meningkatkan kesiapsiagaan bencana alam, Pemkot Padang juga tengah mempersiapkan rencana memperingati bencana gempa 30 September yang pernah terjadi di sana dan telah merenggut ribuan nyawa.
Kalaksa BPBD Padang Hendri Zulviton menambahkan peringatan gempa tersebut dilaksanakan di Tugu Gempa, depan Museum Adityawarman, dan tahun 2024 ini merupakan peringatan bencana yang ke-15.
Dikatakannya kegiatan peringatan Gempa 30 September merupakan pengulangan sejarah yakni Kota Padang pernah luluh lantak akibat gempa besar pada 2009.
"Kegiatan itu disebut Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana ]HKB]," sebutnya.
Hendri menyebutkan bahwa HKB bukan hanya sekadar peringatan saja, namun juga melatih dan mengingatkan warga melakukan simulasi, bagaimana masyarakat bersiap menghadapi bencana.
"Peringatan HKB dimaknai untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana yang bisa terjadi kapan saja," tegasnya.
Gempa Megathrust Tinggal Tunggu Waktu?
Pembahasan mengenai potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebenarnya bukanlah hal baru, sudah lama, bahkan sudah ada sejak sebelum terjadi Gempa dan Tsunami Aceh 2004.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan bahwa munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona megathrust saat ini bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar.
"Kita hanya mengingatkan kembali keberadaan Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar [seismic gap] yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Seismic gap ini memang harus kita waspadai karena dapat melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu," ujarnya dikutip dari laman resmi BMKG.
Munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, sebenarnya tidak ada kaitannya secara langsung dengan peristiwa gempa kuat M7,1 yang berpusat di Tunjaman Nankai dan mengguncang Prefektur Miyazaki Jepang.
Menariknya, gempa yang memicu tsunami kecil pada 8 Agustus 2024 mampu menciptakan kekhawatiran bagi para ilmuwan, pejabat negara dan publik di Jepang akan potensi terjadinya gempa dahsyat di Megathrust Nankai.
Peristiwa semacam ini menjadi merupakan momen yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Sejarah mencatat, gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 (usia seismic gap 78 tahun), sedangkan gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757 (usia seismic gap 267 tahun) dan gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 (usia seismic gap 227 tahun).
Artinya kedua seismic gap kita periodisitasnya jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai, sehingga mestinya kita jauh Lebih serius dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya.
"Terkait rilis gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut 'tinggal menunggu waktu; yang kami sampaikan sebelumnya, hal ini dikarenakan kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar, tetapi bukan berarti segera akan terjadi gempa dalam waktu dekat," ujar Daryono.
Dikatakan 'tinggal menunggu waktu' disebabkan karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah rilis gempa besar semua, sementara Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hingga saat ini belum terjadi.
Antisipasi 2 Megathrust di Indonesia, Sudah Ratusan Tahun Tak Memicu Gempa Besar
Megathrust Selat Sunda dan Mentawai sudah ratusan tahun tidak dirilis [269] url asal
#megathrust #megathrust-selat-sunda #megathrust-mentawai #2-megathrust-di-indonesia
(Bisnis.Com) 14/08/24 16:55
v/14425690/
Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono memaparkan makna dari tinggal menunggu waktu dua megathrust di Indonesia.
Dalam akun instagramnya dia menuliskan jika tinggal menunggu waktu” bukan berarti segera akan terjadi dalam waktu dekat, karena kejadian gempa belum dapat diprediksi.
"Sehingga kami pun tidak tahu kapan akan terjadi," ujarnya
Dia menambahkan makna “menunggu waktu “ hal itu karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah release gempa besar (tinggal segmen tersebut yang belum lepas).
Dia menambahkan Megathrust Nankai terakhir gempa M8,4 thn 1946 (78 thn).
Hal itu membuat ilmuwan pejabat dan publik Jepang sudah khawatir dan begitu siaga.
Sementara itu, lanjutnya, "seismic gap" Selat Sunda sudah usia 267 tahun dan Mentawai-Siberut sudah usia 227 thn, sementara segmen-segmen lain sudah release.
"Tugas saya mengingatkan kewaspadaan," tambahnya.
Sebelumnya, Daryono mengatakan kekhawatiran ilmuwan Jepang terhadap Megathrust Nankai saat ini sama persis yang dirasakan dan dialami oleh ilmuwan Indonesia, khususnya terhadap “Seismic Gap” Megathrust Selat Sunda dengan Magnitudo 8,7 dan Megathrust Mentawai-Siberut magnitudo 8,9. Dia mengatakan rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata “tinggal menunggu waktu” karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar.
Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi, BMKG sudah menyiapkan system monitoring, prosesing dan diseminasi informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat. BMKG selama ini memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, drill, evakuasi, berbasis pemodelan tsunami kepada pemerintah daerah, stakeholder, masyarakat, pelaku usaha pariwisata pantai, industri pantai dan infrastruktur kritis (pelabuhan dan bandara pantai) yang dikemas dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes To School (BGTS) dan Pembentukan Masyarakat Siaga tsunami (Tsunami Ready Community).
Antisipasi 2 Megathrust di Indonesia, Sudah Ratusan Tahun Tak Melepaskan Gempa Besar
Megathrust Selat Sunda dan Mentawai sudah ratusan tahun tidak dirilis [269] url asal
#megathrust #megathrust-selat-sunda #megathrust-mentawai #2-megathrust-di-indonesia
(Bisnis.Com) 14/08/24 16:55
v/14415185/
Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono memaparkan makna dari tinggal menunggu waktu dua megathrust di Indonesia.
Dalam akun instagramnya dia menuliskan jika tinggal menunggu waktu” bukan berarti segera akan terjadi dalam waktu dekat, karena kejadian gempa belum dapat diprediksi.
"Sehingga kami pun tidak tahu kapan akan terjadi," ujarnya
Dia menambahkan makna “menunggu waktu “ hal itu karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah release gempa besar (tinggal segmen tersebut yang belum lepas).
Dia menambahkan Megathrust Nankai terakhir gempa M8,4 thn 1946 (78 thn).
Hal itu membuat ilmuwan pejabat dan publik Jepang sudah khawatir dan begitu siaga.
Sementara itu, lanjutnya, "seismic gap" Selat Sunda sudah usia 267 tahun dan Mentawai-Siberut sudah usia 227 thn, sementara segmen-segmen lain sudah release.
"Tugas saya mengingatkan kewaspadaan," tambahnya.
Sebelumnya, Daryono mengatakan kekhawatiran ilmuwan Jepang terhadap Megathrust Nankai saat ini sama persis yang dirasakan dan dialami oleh ilmuwan Indonesia, khususnya terhadap “Seismic Gap” Megathrust Selat Sunda dengan Magnitudo 8,7 dan Megathrust Mentawai-Siberut magnitudo 8,9. Dia mengatakan rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata “tinggal menunggu waktu” karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar.
Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi, BMKG sudah menyiapkan system monitoring, prosesing dan diseminasi informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat. BMKG selama ini memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, drill, evakuasi, berbasis pemodelan tsunami kepada pemerintah daerah, stakeholder, masyarakat, pelaku usaha pariwisata pantai, industri pantai dan infrastruktur kritis (pelabuhan dan bandara pantai) yang dikemas dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes To School (BGTS) dan Pembentukan Masyarakat Siaga tsunami (Tsunami Ready Community).