#30 tag 24jam
Pria 39 Tahun Ikut Khitanan Massal di Palembang, Dapat Hidayah Mimpi Salat Langsung Mualaf
Pria 39 tahun ikut khitanan massal di Palembang hingga mencuri perhatian emak-emak yang mengantar anaknya. Pria tersebut baru mualaf karena mendapat hidayah. - Bagian all [217] url asal
#khitanan-massal #mualaf #kota-palembang #hidayah #anak-anak
(iNews - Terkini) 27/09/24 15:40
v/15629733/
PALEMBANG, iNews.id - Yayasan Masjid Majelis Taklim Sultan Agung menggelar kegiatan khitanan massal di Kelurahan I Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel), Jumat (27/9/2024). Kegiatan bakti sosial ini bekerja sama dengan TNI untuk anak-anak, baik dari golongan warga mampu maupun tidak mampu.
Acara ini disambut antusias para orang tua dan anak-anak sekitar maupun jemaah Majelis Taklim Sultan Agung. Sepanjang kegiatan tangisan anak-anak bersahutan menghiasi jalannya khitanan massal tersebut. Untuk penyemangat dan hiburan, anak-anak yang telah berkhitan diberikan hadiah berupa suvenir dan uang saku.
Menariknya di antara puluhan anak-anak, ada satu pria dewasa yang ikut dikhitan. Pria tersebut bernama Muhammad Jefri berusia 39 tahun warga Sako Baru.
Dia sempat menjadi perhatian para emak-emak yang datang mengantarkan anak mereka dikhitan. Bahkan emak-emak di lokasi sampai meminta untuk berfoto bersama.
Muhammad Jefri menceritakan dia merupakan seorang mualaf. Dia meminta dikhitan yang menjadi sunah bagi umat Muslim.
"Sudah sudah 6 bulan mempelajari Islam. Saya dikasih hidayah mimpi salat. Saat itu juga saya memutuskan masuk Islam," katanya.
Ketua Majelis Taklim Sultan Agung Ustaz Fauzi mengatakan, khitanan massal ini menjadi program tahunan untuk membantu masyarakat.
"Jadi hari ini kita ada bakti sosial khitanan massal. Alhamdullilah ada seorang mualaf baru sebulan lalu dan minta dikhitan hari ini," ucapnya.
Editor: Donald Karouw
Mercellus Williams sebelum Dieksekusi Mati: Jadi Mualaf, Tulis Puisi Palestina - kumparan.com
Mercellus Williams sebelum Diekskusi Mati di Amerika Serikat: Jadi Mualaf, Tulis Puisi tentang Palestina [544] url asal
#amerika #internasional #palestina #mualaf #islam
(Kumparan.com - News) 26/09/24 14:32
v/15587157/
Missouri mengeksekusi mati Marcellus "Khaliifah" Williams, seorang pria kulit hitam berusia 55 tahun, pada Selasa (24/9).
Menurut otoritas penjara di Missouri, Williams dinyatakan meninggal pada pukul 18:06 malam waktu setempat.
Dia dieksekusi dengan cara disuntik mati, meskipun bukti yang digunakan dalam kasusnya masih dipertanyakan.
Di penjara, Williams memeluk Islam dan mengubah namanya menjadi Khaliifah ibn Rayford Daniels.
Dia juga dikenal sebagai imam di penjara dan dijuluki "Khaliifah," yang berarti "pemimpin" dalam bahasa Arab.
Salah satu karya yang dia ditinggalkannya dalam penjara adalah sebuah puisi tentang anak-anak Palestina.
Dalam puisi tersebut, Williams menggambarkan penderitaan anak-anak Palestina di tengah kekerasan, penghancuran, dan penindasan.
Ia menyebutkan drone, pesawat, bom, dan tank yang menghancurkan rumah, lingkungan, serta rumah sakit yang menjadi sasaran.
Katanya, meski hidup di bawah teror dan penindasan setiap hari, anak-anak Palestina tetap menunjukkan senyuman yang tangguh.
Dengan kata-katanya, Williams mengakui keberanian dan ketangguhan anak-anak tersebut di tengah tragedi yang terus melanda mereka.
Ini puisi selengkapnya.
The Perplexing Smiles of the Children of Palestine
despite the actions of the few,
and excessive retaliation,
drones, planes, bombs, tanks, rubble, buildings demolished,
vanished houses and neighborhoods, hospitals targeted,
U.N. shelters disrespected, murder, death,
deliberate killing of noncombatants,
babies buried alive, amputations,
hunger and political starvation,
lack of or no water, strategic sanitation,
daily terror, and terrorized daily,
military maneuvering, moving here and there,
to return back again to nowhere,
trauma with all its manifestations,
international parleys and hesitation,
defiance to the realization of two nations,
global aid thwarted, global amnesia,
siblings and relatives gone forever,
parental worries -
in the face of apex arrogance
and ethnic cleansing by any definition...
still your laughter can be heard
and somehow you are able to smile
O resilient Children of Palestine!
Williams telah dipenjara selama 23 tahun, hampir setengah dari hidupnya.
Ia dihukum atas tuduhan pembunuhan Felicia Gayle, seorang jurnalis kulit putih berusia 42 tahun dari pinggiran kota St. Louis pada 1998. Namun itu merupakan kejahatan yang dia klaim tidak pernah dilakukannya.
Kasus ini menarik perhatian dunia karena adanya seruan dari berbagai pihak, termasuk keluarga korban dan kantor jaksa, yang menentang eksekusi tersebut.
Menurut pengacara Williams, DNA dari tempat kejadian tidak sesuai dengan Khaliifah dan bukti lainnya dihancurkan atau terkontaminasi oleh negara bagian Missouri.
Selain itu, juri dalam persidangan Williams didominasi oleh orang kulit putih, dengan 11 dari 12 juri berkulit putih, sementara hanya ada satu juri kulit hitam.
Jaksa menyingkirkan enam dari tujuh calon juri kulit hitam, dengan alasan salah satu dari mereka "terlihat seperti saudara" Williams.
Kelompok hak-hak sipil mengkritik bias rasial yang terlibat dalam kasus Williams serta eksekusi lainnya di seluruh Amerika Serikat.
Menurut data investigasi Al Jazeera, orang kulit hitam di AS tujuh kali lebih mungkin dihukum secara salah atas tuduhan pembunuhan dibandingkan orang kulit putih, sering kali akibat kesalahan polisi dan pejabat.
Di negara yang hanya 13 persen penduduknya berkulit hitam, 37 persen dari mereka yang dipenjara atau dipenjara adalah orang kulit hitam. Dari jumlah total terdakwa yang dieksekusi di AS, 34 persen di antaranya adalah orang kulit hitam.
Putra Williams, Marcellus Williams Jr., mengatakan bahwa ayahnya tidak ingin eksekusi ini memicu kekerasan, melainkan dijadikan pelajaran bahwa kejadian serupa dapat menimpa pria kulit hitam tak bersalah lainnya di AS.
Dia berharap ayahnya dikenang karena semangatnya, puisinya, dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
Kisah Filsuf Prancis Masuk Islam, Temukan Hidayah di Aljazair
Roger Garaudy merupakan seorang filsuf Prancis abad ke-20. [517] url asal
#kisah-mualaf #mualaf-prancis #roger-garaudy #hidayah-allah
(Republika - Khazanah) 14/08/24 11:31
v/14405980/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jean Charles Garaudy atau yang biasa disapa Roger Garaudy merupakan seorang filsuf dari Prancis. Lahir pada 17 Juli 1913 di Marseille, dirinya tumbuh dalam lingkungan Kristen. Sewaktu mahasiswa, penulis buku Promesses de l'Islam (Janji-Janji Islam) ini terpikat pada pemikiran marxisme dan komunisme.
Karena aktivitasnya yang anti-pemerintah fasis, Roger Garaudy muda sempat mendekam di tahanan. Ia bahkan pernah dipenjara di Aljazair, yang kala itu dijajah negara Barat. Justru, di sanalah dirinya menemukan hidayah Illahi. Saat berusia 69 tahun, alumnus Sorbonne itu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Bagaimanapun, filsuf yang juga dosen pada University of Clermont-Ferrand dan Poitiers ini bukan sekadar mualaf. Pemikirannya tentang Islam sudah bermunculan jauh sebelum hidayah Allah itu datang.
Ini berpadu dengan rentetan pengalaman hidupnya yang sejak remaja terpikat pada gerakan-gerakan politik emansipatif. Konteksnya adalah Eropa dalam paruh awal abad ke-20.
Peradaban Barat mengalami dua perang akbar. Garaudy berusia 26 tahun ketika Jerman melancarkan serangan kilat (blitzkrieg) atas Polandia sehingga memicu Perang Dunia II. Fasisme menyeruak bagaikan virus dan mendesak negara-negara Barat ke situasi terburuknya.
Garaudy muda tergugah. Ia meyakini, kewajiban kaum muda-terdidik bukan hanya memahami, melainkan juga mengubah realitas agar sesuai dengan keadilan. Dalam masa itu, paham marxisme dan komunisme menyebar luas di Eropa sebagai antitesis kapitalisme. Berbeda dengan ayahnya yang ateis dan tidak percaya agama, Garaudy memilih Kristen.
"Pun berbeda dengan ayahnya yang konservatif dalam politik, ia memilih bergabung dengan partai revolusioner, yaitu Partai Komunis Prancis (pada 1933)," tulis Muhsin al-Mayli dalam biografi tentang Roger Garaudy, Pergulatan Mencari Islam (terjemahan bahasa Indonesia, 1996).
Walaupun menduduki posisi penting di PKP, Garaudy tetap berpegang teguh pada agama Kristen. Menurutnya, tidak ada kontradiksi antara pembebasan kelas sosial, sebagaimana visi Karl Marx, dan iman Kristen.
Garaudy juga menimba ilmu filsafat di Aix dan Strasbourg. Kemampuan akademisnya terbilang di atas rata-rata. Sebagai penulis, dirinya telah menghasilkan lebih dari 50 buku tentang filsafat politik dan marxisme--serta belakangan Islam.
Nazi Jerman akhirnya berhasil menduduki Prancis. Imbasnya bagi Garaudy, pada September 1940, ia dan sejumlah rekan antifasisme ditahan.
Mereka digelandang ke sebuah kompleks penjara di kawasan gurun Aljazair. Hukuman itu berlangsung 33 bulan lamanya.
Namun, inilah awal Garaudy menekuni agama-agama di luar Kristen. Di negeri asing itu, ia banyak menghabiskan waktu dengan belajar Taurat, Injil, dan Alquran. Inilah kesempatan pertamanya berinteraksi langsung dengan orang-orang Muslim.
Pada Maret 1941, sejumlah tahanan politik melakukan pemberontakan di kompleks tersebut, tetapi cepat dipadamkan. Komandan penjara begitu murka. Semua yang terlibat dibariskan di lapangan terbuka.
Di bawah terik matahari gurun, komandan itu menyuruh regu algojo yang berkebangsaan Aljazair untuk menembak mati mereka. Namun, seluruh algojo menolaknya.
Awalnya, Garaudy heran dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Sebab, cekcok mulut antara komandan dan para algojo terjadi dalam bahasa Arab--hal yang masih begitu asing baginya.
Belakangan, Garaudy mengetahui pokok persoalannya. Para algojo itu membangkang instruksi sang komandan karena kehormatan sebagai Muslim melarang mereka melepaskan tembakan kepada orang-orang yang tak bersenjata.
"Inilah kali pertama saya mengenal Islam dalam sebuah kejadian penting dalam hidupku. Dan, ini ternyata lebih banyak memberiku pelajaran daripada studi 10 tahun di Sorbonne (Prancis)," kenang Garaudy, seperti dicatat al-Mayli.
Tak Ada yang Bisa Jelaskan soal Ruh Selain Islam, Alexander Jadi Mualaf
Alexander menjadi mualaf setelah Islam menerangkan soal ruh. [365] url asal
#ruh #mualaf #kisah-mualaf #alexander-russel-web #islam #masuk-islam
(Republika - Khazanah) 13/08/24 05:13
v/14338039/
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dia bernama lengkapAlexander Russel Webb. Dia adalah seorang mualaf yang sebelumnya memegang teguh doktrin-doktrin lama tentang ketuhanan maupun sekularisme yang dia anut. Berkenalan dengan Islam, cahaya Illahi masuk ke relung jiwanya melalui jalur intelektualitas yang ia geluti.
Berdasarkan buku Tujuh Mualaf yang Mengharumkan Islam karya Tofik Pram dijelaskan, Russel mulai tertarik dengan Islam saat dirinya mempelajari agama-agama timur.
Dia membaca buku-buku karya Mill, Kant, Locke, Hegel, Fitchte, Huxley yang kesemuanya membahas tentang protoplasma (unsur-unsur atom dalam pembentukan jasad makhluk hidup).
Namun demikian, dia tak mendapati seorang pun yang dapat menerangkan tentang jiwa/ruh sesudah jasad manusia mati.
Setelah mengenal Islam, dia pun menyadari bahwa selain jasad terdapat hal krusial yang juga dimintai pertanggung jawaban kelak usai kematian.
Proses perkenalan kepada Islam pun terus dia jalankan. Dia juga menegaskan dan memilih Islam sebagai agama yang dia anut dan percaya.
Dia menyebut bahwa ketika memilih menjadi seorang Muslim, hal itu bukan karena ikut-ikutan buta atau dorongan emosi semata.
Akan tetapi, memeluk Islam adalah hasil dari penelitian dan pelajaran yang sungguh-sungguh, jujur, tekun, dan bebas yang disertai penelidikan mendalam olehnya. Dia menyimpulkan, inti dari ajaran Islam adalah akidah yang murni yaitu berserah kepada Allah SWT.
Adapun tanda penjelmaan berserah diri adalah melalui shalat. Islam mengajak pada persaudaraan dan kecintaan umat manusia di seluruh dunia agar dapat berbuat baik pada sesama.
Berlatar belakang sebagai seorang intelektual, semangat Islam itulah yang kemudian ditelurkan Russel dalam aksi.
Dialah tokoh penting yang membangun Islamic Center di New York. Islamic Center yang didirikannya ini terbukti banyak membantu pendirian masjid dan perpustakaan-perpustakaan Islam di Amerika.
Adapun sumber pendanaan pendirian Islamic Center kala itu bersumber dari Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Dari ikhtiar Russel inilah Islam mulai bertumbuh di kota-kota Amerika.
Alexander Russel juga akhirnya didaulat sebagai wakil utama Islam di konferensi agama-agama tingkat dunia yang didakan di Chicago, pada 1893. Dia juga lah yang menjadi juru bicara Islam di Amerika pada masanya.
Bahkan, banyak pemikir-pemikir terkemuka yang telah menyimak paparannya perihal pengaruh Islam terhadap keadaan sosial pada 1893. Inilah ihwal pokok ajaran Islam yang dia sampaikan dan mempengaruhi pemikiran penulis besar, Mark Twain.
Cerita Davina Karamoy Pindah Agama Ikuti Keluarga
Cerita Davina Karamoy Pindah Agama Ikuti Keluarga [273] url asal
#davina-karamoy #agama-davina-karamoy #davina-karamoy-mualaf #davina-karamoy-agama #artis-mualaf
(MedCom) 05/08/24 22:20
v/13425809/
Jakarta: Artis Davina Karamoy mengenang momen ketika dirinya memutuskan menjadi mualaf. Keputusan Davina untuk memeluk agama Islam rupanya mengikuti jejak sang ibu, kakak dan adiknya.Ibunda Davina memang berperan besar ketika bintang film Ipar Adalah Maut itu menjadi mualaf. Ketika Davina sakit, ibunya meminta sang anak membaca salah satu ayat Alquran. Setelah itu, Davina merasakan kondisinya menjadi lebih baik.
"Pertama kali wudhu, tapi masih dalam agama sebelumnya, diajarin sama adik aku. Jadi, mereka, kakak adik aku duluan (mualaf), aku paling terakhir," kata Davina Karamoy di YouTube Rans Entertainment.
"Pas (wudhu) bagian kepala, kok tiba-tiba tangan aku ada kerikil, kotorlah pokoknya. Aku jadi, 'hah kok gue kotor banget' pada saat itu. Di situ mulai merasa ada yang aneh, kok baru mulai wudhu, 'emang gue sekotor ini ya?' Padahal wudhu air biasa saja," lanjutnya.
| baca juga: Davina Karamoy Ungkap Sosok Rani Asli di Film Ipar Adalah Maut |
Keputusan Davina makin mantap berpindah keyakinan juga terjadi ketika dia menghafal surat pendek yang ada di Alquran. Tanpa diduga, Davina mendapat tawaran akting dan karier yang baik.
"Momen ketiga pas aku belajar surat-surat pendek, kayak Al-Falaq, An-Nas, sama Al-Fatihah. Baru ngapalin tiga surat itu, tiba-tiba di awal karier aku dapat tawaran seminggu berapa hari syuting, di mana aku dulu bisa enam bulan sekali syutingnya. Di situ merasa kok doanya diijabah," katanya.
Setelah mantap pindah keyakinan, Davina menyampaikan niatnya itu kepada sang ibu. Mereka tentu senang Davina memutuskan menjadi mualaf.
Dia juga bersyukur sang ayah mau menerima keputusannya. Ayah Davina sendiri saat ini masih berbeda keyakinan dengan anak-anaknya.
"Papa sudah terima aja sih harusnya. Bhinneka Tunggal Ika ya," tutupnya.
(ELG)
Coba Cari kesalahan Alquran, Mualaf Lamaan Ball: Tuhan Jika Engkau Ada, Bimbinglah Aku
Mualaf Lamaan Ball memeluk Islam setelah melakukan pendalaman [617] url asal
#mualaf-lamaan-ball #kisah-mualaf #cerita-mualaf #lamaan-ball #alquran #mengkaji-alquran #mualaf #memeluk-islam #syahadat
(Republika - Khazanah) 05/08/24 06:06
v/13332509/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Beberapa orang yang masuk Islam lebih suka menyebutnya sebagai pembalikan karena setiap orang dilahirkan dalam keadaan alamiah Islam, tunduk pada kehendak Allah, dan daripada berpaling dari sesuatu, mereka menyatakan bahwa menerima Islam berarti kembali ke keadaan asli manusia.
Lamaan menyadari bahwa terkadang kepastian datang dari satu kejadian yang tidak dapat diulang ketika Anda menginginkannya. Mimpi itu menggemakan dengan kuat situasi seseorang yang sangat percaya kepada Tuhan namun tidak mampu meyakinkan orang lain tentang keberadaan Tuhan dan tidak mampu memberikan bukti-bukti yang diminta. Tuhan memang tidak terlihat, tetapi ada bukti-bukti yang jelas bagi mereka yang mau melihat dan mendengarkan.
“Sebagian sebagai hasil dari mimpi ini dan refleksi lainnya, saya ingat membuat sebuah doa kecil untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dengan mengatakan "Tuhan, jika Engkau ada, bimbinglah Aku’,” kata dia mengenang.
Selama beberapa bulan berikutnya Lamaan terus bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya tentang kehidupan, Tuhan, wahyu dan isu-isu semacam itu.
Satu isu yang dia rasa sangat penting adalah perlunya wahyu untuk membimbing manusia menuju perilaku yang baik. Akhirnya dia menyadari bahwa agar manusia dapat terlibat dalam usaha yang tulus dan serius untuk mencapai perilaku yang baik, termasuk mencoba untuk belajar yang benar dan yang salah, mereka harus terlebih dahulu menerima kebutuhan moral untuk melakukannya.
Wahyu diperlukan setidaknya untuk alasan ini. Karena tanpanya tidak akan ada hubungan yang dapat dibuktikan antara apa yang ada dan apa yang harus kita lakukan. Berusaha untuk mencapai pemahaman yang baik tentang apa yang benar dan salah itu sendiri merupakan kebaikan moral inti yang harus kita perhatikan.
Lamaan bergumam, ini tentu saja merupakan argumen yang berputar-putar, bagi mereka yang bersikeras bahwa tidak ada moral yang baik dan tidak ada moral yang buruk, bahwa tidak ada Tuhan yang menghakimi hal-hal seperti itu, bagi orang-orang seperti itu tidak ada motivasi untuk mencoba mencari tahu apa yang benar atau salah.
Jadi kita memiliki dua kemungkinan yang jelas, menerima bahwa ada moral yang benar dan moral yang salah dan secara implisit menghakimi hal tersebut, atau menyangkal bahwa ada pertanggungjawaban moral dan kemudian tidak perlu berusaha untuk mengarahkan hidup Anda untuk melakukan kebaikan.Kedua posisi tersebut saling menguatkan.
Pada saat itu, dengan memahami dikotomi ini, Lamaan memutuskan bahwa saya, sebagai manusia, tidak dapat menjalani kehidupan yang sia-sia seperti yang disiratkan oleh pilihan kedua.
Dia juga tidak bisa duduk di pagar lebih lama lagi. Pada suatu malam, ketika sedang sendirian di kamar kos, dia menyimpulkan bahwa imannya percaya kepada Allah, bahwa berdasarkan apa yang dia ketahui tentang agama-agama yang berbeda, Islam jauh lebih masuk akal daripada sistem kepercayaan lainnya.
“Saya menuliskan kesaksian iman kepada Islam, syahadat, di atas kertas dan menandatanganinya. Saya sekarang menjadi seorang Muslim,” kata dia.
Dia melanjutkan, slama sekitar satu bulan berikutnya, dia membaca Alquran (dalam bahasa Inggris) dengan sikap "Jika saya tidak dapat menemukan apa pun di sini yang saya tahu salah, maka saya akan tetap berpegang teguh padanya. Materi lainnya masih bisa diperdebatkan".
Ketika membaca Alquran, Lamaan menjadi semakin yakin dengan keputusannya dan tidak menemukan apa pun yang membuatnya ragu. Selama beberapa tahun berikutnya, dia terus berpikir dengan hati-hati tentang segala sesuatu yang dia terima dan membuat kemajuan berdasarkan alasan yang kuat.
Terkadang, Lamaan melakukan kesalahan, tetapi dia tetap berpendapat bahwa hidup adalah tentang belajar. Kesalahan hanyalah bagian dari cara kita berkembang.
Kuncinya, untuk pembelajaran yang baik, seperti halnya pemikiran yang baik, pertama-tama adalah mengakui bahwa menjadi baik adalah tentang moral. Memiliki moral mengharuskan kita untuk percaya bahwa Tuhan ada sebagai penentu akhir dari apa yang baik secara moral. Siapa lagi yang bisa memenuhi syarat?
“Hidup saya telah berubah dan saya tidak pernah menoleh ke belakang lagi sejak saat itu tanpa mengucapkan "Alhamdulillah...saya seorang Muslim," ujar dia.
Nasihat Pertama Ustadz Yazid Jawas untuk Mualaf
Ada hal wajib yang menurut Ustadz Yazid Jawas harus dilakukan mualaf. [158] url asal
#ustadz-yazid-jawas #mualaf #islam #doa #sholat #syahadat #kisah-mualaf
(Republika - Khazanah) 18/07/24 05:39
v/11145845/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Almarhum Ustadz Yazid Jawas dalam sebuah kajiannya pernah mengatakan apa yang harus dilakukan oleh seseorang ketika baru jadi mualaf. Menurut dia, jika seseorang telah ucap dua kalimat syahadat maka harus mengerjakan sholat wajib.
"Nabi ketika ada orang masuk islam, di samping ajarkan tauhid, maka mengarjakan sholat yang pertama kali," ujar Ustadz Yazid.
"Kalau dia masuk islam jam 10 maka Dzuhur dia sudah wajib sholat. Kalau dia menjelang maghrib masuk islam, dan dia ucap dua kalimat syahadat maka maghrib wajib sholat. Dan terus itu kewajibannya sampai dia meninggal dunia," ujar Ustadz Yazid.
Menurut Ustadz Yazid, jangan sampai seseorang yang telah mualaf, tidak diajarkan tentang sholat. Tidak boleh ada penundaan bagi mualaf untuk segera belajar sholat.
"Kalau dia belum bisa baca apa apa gapapa, baca saja Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Setelah Takbiratul ikram baca aja Subhanallah Alhmdulilillah," ujar Ustadz Yazid.
Menurut Ustadz Yazid, kalau sudah bisa, nanti dilanjutkan dengan belajar wudhu dan lainnya. Termasuk, belajar tauhid.
Mulanya Amr Bin Ash Memeluk Islam
Sebelum berislam, Amr bin Ash pernah memburu kaum Muslimin yang hijrah. [489] url asal
#kisah-sahabat-nabi #kisah-nabi #kisah-rasulullah-saw #kisah-mualaf #amr-bin-ash #penakluk-mesir
(Republika - Khazanah) 14/07/24 11:25
v/10737680/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai tokoh Quraisy, Amr bin 'Ash me lihat Islam sebagai upaya menggugat stabilitas di tengah masyarakat Makkah. Satu tindakannya yang tercatat sejarah adalah menghalangi budi baik penguasa Ha basyah, Raja Najasyi, yang menerima se kelompok kaum Muslim hijrah ke negeri itu.
Hijrahnya kaum Muslim ke sana atas anjuran Rasulullah, yang memahami Raja Najasyi sebagai penganut Nasrani yang taat. Peristiwa itu berlangsung sekitar tujuh tahun sebelum hijrahnya Rasulullah ke Yastrib (Madinah).
Kala itu, rombongan Muslim yang dipimpin Ja'far bin Abu Thalib sudah tiba di Habasyah. Namun, ketakutan masih meliputi mereka karena para petinggi musyrikin Quraisy justru menyusul. Adalah Amr bin Ash yang memimpin orang-orang ini untuk menghadap kepada Raja Najasyi.
Tujuannya, agar sang raja bersedia mengusir Ja'far bin Abu Thalib dan rombongan dari negeri Habasyah. Di sini, Amr bin Ash begitu optimistis karena kemampuan diplomasinya dan hubungan persahabatannya dengan elite Kerajaan Habasyah.
Sesampainya di istana Habasyah, Amr bin Ash menyampaikan maksud kedatangannya langsung kepada Raja Najasyi.
Sang Raja tidak langsung menyerahkan orang-orang Islam pencari suaka itu. Dengan bijaksana, Raja Najasyi memper hadapkan Amr bin Ash dengan Ja'far bin Abu Thalib. Tujuannya, agar Raja Najasyi dapat berlaku adil dalam menilai siapa sesungguhnya yang paling benar dalam urusan ini.
Untuk memenangkan argumentasinya, kepada Raja Najasyi, Amr bin Ash menyatakan, orang-orang Islam itu memiliki pandangan yang berbeda mengenai Maryam, ibunda Nabi Isa AS.
Sebagai seorang Nasrani yang saleh, Raja Najasyi cukup terkejut. Akan tetapi, Ja'far bin Abu Thalib ternyata mampu menjelaskan bagaimana Islam memuliakan sosok Maryam dan putranya, Nabi Isa AS.
Itu khususnya setelah Ja'far membacakan kepada sang raja Alquran Surah Maryam ayat ke-14. Belum selesai ayat tersebut dibacakan, air mata Raja Najasyi berderai haru. Para pendeta kerajaan juga meneteskan air mata karena hati mereka tergugah keindahan ayat tersebut.
"Demi Allah, tidak ada perbedaan barang sehelai rambut pun antara ajaran Isa bin Maryam dan Nabi kalian," kata Raja Najasyi.
Setelah itu, penguasa Habasyah tersebut meminta Amr bin 'Ash dan para pemuka Quraisy agar berhenti mengganggu kaum Muslim.
"Pergilah kalian semua! Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan orangorang (Muslim) ini kepada kalian!" seru sang raja.
Peristiwa tersebut terngiang di benak Amr bin 'Ash. Raja Najasyi memang sudah mengetahui adanya nabi akhir zaman. Sempat pula sang penguasa Habasyah itu bertanya kepada Amr, mengapa pula tidak beriman kepadanya, Rasulullah?
Rupanya, perenungan ini mendorongnya terus bertanya-tanya. Apakah benar Rasulullah semata-mata mengincar kedudukan politik di Makkah? Saat itu, situasi antara umat Islam dan kaum musyrik sudah cukup berubah.
Basis kekuasaan kaum Muslim berpusat di Madinah, sedangkan kaum musyrik Makkah terus mengadakan persekutuan demi menyudutkan Rasulullah. Namun, pelbagai upaya tidak membuahkan hasil. Alih-alih begitu, fajar kemenangan semakin nyata bagi umat Rasulullah SAW.
Pada tahun kedelapan Hijriyah atau sekira enam bulan sebelum Pembebasan Makkah (Fath Makkah), Amr bin Ash menghadap kepada Nabi SAW di Madinah. Di hadapan beliau, ia menyatakan diri memeluk Islam. Turut serta bersamanya adalah Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah.
Mualaf Tammy Menangis Mendengar Adzan dan Lihat Sholat Jamaah, Ini yang Dia Rasakan
Mualaf Tammy terkagum dengan aturan yang ada dalam Islam [656] url asal
#mualaf #kisah-mualaf #mualaf-masuk-islam #tammy-perkins #mualaf-amerika-serikat #muslim #islam-di-mesir
(Republika - Khazanah) 14/07/24 06:35
v/10715781/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Tammy Perkins, mualaf kelahiran New Hampshire tumbuh dan besar di lingkungan yang tak beragam. Kota yang terletak di timur laut Amerika Serikat itu adalah kota Kristen kulit putih yang sangat kecil.
“Saya ingat sejak usia yang sangat muda, 5 atau 6 tahun, saya mulai berjalan kaki ke gereja lokal sendirian. Orang-orang di gereja itu benar-benar mengayomi saya dan mengajari saya tentang Tuhan,” kata dia, dikutip dari About Islam, Ahad (14/7/2024).
Dia terlahir dari keluarga miskin. Ibunya mengirim Tammy dan saudara-saudaranya ke gereja untuk makan, karena gereja akan memasak makanan untuk orang miskin. “Gereja selalu menjadi bagian dari hidup saya,” kata dia.
Tinggal di sebuah kota kecil dengan pengawasan orang tua yang minim, masa puber adalah masa yang sulit baginya. Hidup terasa membosankan sebagai seorang remaja dan saya membuat pilihan yang buruk. Pada usia 15 tahun Tammy hamil. Belum menikah dan hamil. “Pada saat saya berusia 19 tahun, saya memiliki dua anak perempuan,” kata dia.
Dia merasa terberkati dengan kehadiran anak-anak perempuan yang cantik. Dia telah menempuh jalan yang buruk dan putri-putrinya membutuhkannya. “Jadi saya melangkah maju dan saya mencoba yang terbaik untuk melakukan yang terbaik bagi mereka,” kata dia.
Setelah peristiwa 9/11, Tammy mengaku menjadi sangat konservatif secara politik. Dia menghabiskan banyak waktu menonton berita FOX dan mendengarkan radio. “Saya pikir saya tahu segalanya tentang Islam!,” ujar dia.
Kenyataannya, dia belum pernah bertemu dengan seorang Muslim dalam hidupnya, tetapi entah bagaimana dengan mendengarkan berita, dia pikir tahu segalanya.
“Siapapun yang ingin membela Islam kepada saya, saya akan segera meninggikan suara saya. Saya bertindak seolah-olah saya tahu segalanya, dan saya sangat yakin dengan diri saya sendiri, saya benar-benar berpikir bahwa saya lebih tahu dari mereka,” kata dia.
Namun sekarang, bertahun-tahun kemudian, dia menyadari bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.
"Saya tidak terlalu baik. Saya tidak tahu apa-apa. Apa yang saya asumsikan sebagai seorang Muslim adalah orang Arab. Satu-satunya gambaran dan opini yang saya miliki adalah apa yang dikatakan dan ditunjukkan Fox News kepada saya,” kata dia mengisahkan.
Setelah beberapa puluh tahun, kedua putrinya baru saja lulus dari sekolah menengah atas, dan tidak seperti negara-negara Muslim di mana anak perempuan tinggal bersama sampai mereka menikah, putri-putrinya pindah segera setelah mereka lulus.
Seperti kebanyakan...
Tammy menginginkan kehidupannya lebih teratur. Dia merasa merasa ingin memiliki struktur dalam hidup. Sholat lima waktu dalam pandangannya, memberikan semua itu.
"Saya membutuhkan aturan. Aturan seperti tidak boleh minum alkohol dan tidak boleh berhubungan dengan laki-laki sebelum menikah," kata dia.
Dia menyadari, alkohol selalu ada dalam hidupnya dan tidak pernah memberikan sesuatu yang baik bagi dia. Dan berhubungan dengan laki-laki sebelum menikah tidak pernah membawa kebahagiaan baginya, justru membuat dirinya kesepian dan merasa tidak cukup baik.
Setelah satu pekan berada di Mesir, Tammy akhirnya memutuskan Bersyahadat. Saya harus menjadi seorang Muslim," ujar dia.
Setelah memeluk risalah Allah SWT ini, Tammy mengaku ada dua pelajaran yang paling berharga menuju Islam adalah bahwa bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun, saat-saat paling kelam yang dia pikir tidak akan bisa keluar darinya, Allah tidak pernah meninggalkannya
"Saya yang sekarang, saya tidak akan pernah menduga lima tahun yang lalu bahwa saya akan berada di sini. Lima tahun yang lalu, saya pikir saya tahu segalanya. Aku sangat salah," kata dia.
"Berpeganglah pada harapan, berpeganglah pada Allah, karena sungguh Dia luar biasa, dan Dia akan menarik Anda keluar dari sana," ujar dia menambahkan.
Pelajaran lain yang dia petik adalah memberikan kebaikan, bahkan kepada orang yang jahat kepada Anda. Berbuat baiklah karena hal itu akan mengubah hati.
"Jika seseorang tidak mengulurkan tangan kepada saya di saat-saat tergelap, entah di mana saya berada. Tapi seseorang melakukan sesuatu yang baik untuk saya dan itu mengubah seluruh cara pandang saya," tutur dia.
"Berbuat baiklah di mana pun Anda bisa. Ketika Anda melihat seseorang mengalami hari yang berat, berikanlah kebaikan. Kebaikan yang Anda berikan dapat mengubah hidup seseorang," kata dia menambahkan.
Sumber: aboutislam
Mualaf Bertanya, Bolehkah Berdoa dalam Bahasa Inggris?
Mualaf memerlukan bimbingan keislaman dan dukungan untuk motivasi diri. [420] url asal
#mualaf #doa-bahasa-inggris #sholat #mualaf-belajar-islam
(Republika - Khazanah) 11/07/24 06:24
v/10387358/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdoa adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan di mana seseorang memohon, bersyukur, memuji, atau berdialog dengan Tuhan. Dalam doa, orang dapat menyampaikan harapan, kekhawatiran, permintaan bantuan, dan rasa syukur mereka.
Berdoa bisa dilakukan secara pribadi atau bersama-sama dalam kelompok, dan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Intinya, doa adalah cara untuk memperkuat hubungan spiritual dan mencari bimbingan serta kedamaian batin.
Namun, banyak juga masyarakat dunia yang kini menjadi mualaf. Salah satu mualaf, Safiyyah Ally kemudian bertanya, bolehkah berdoa menggunakan bahasa Inggris?
Menjawab pertanyaan ini, Dr. Shabir Ally dari //Let the Quran Speak// menjelaskan, pada dasarnya doa dibolehkan diucapkan dalam berbagai bahasa.
"Jawaban sederhananya adalah ya. Dan itu berdasarkan fakta bahwa Tuhan mengerti semua bahasa," ujar Shabir dilansir dari laman aboutislam, Rabu (10/7/2024).
Sejak kemunculan Islam, kaum muslimin telag berdoa dalam bahasa Arab. Sampai saat ini, umat Islam pun telah mempertahankannya sebagai ekspresi yang digunakan oleh Nabi SAW dalam doanya.
"Dan tentu saja, Alquran benar-benar dipertahankan dalam bahasa Arab untuk dimasukkan ke dalam doa-doa," ucap Shabir.
Memang ada keindahan ketika seluruh umat Islam menggunakan bahasa Arab dalam doanya. Namun, hal itu tidak mengharuskan umat Islam berdoa menggunakan bahasa Arab.
Imam Abu Hanifah, salah seorang ulama yang hebat, juga telah menyatakan bahwa orang-orang dapat berdoa dalam bahasa Persia. Dan dia mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang asli Persia, hendaknya shalatnya menggunakan bahasa Persia sekalipun dia tahu sedikit bahasa Arab.
"Karena ketika mereka berdoa dalam bahasa mereka sendiri, doa tersebut akan lebih bermakna bagi mereka," kata Shabir.
Namun meski demikian, sudah menjadi hal lumrah bagi umat Islam untuk mengajarkan anak-anak mereka berdoa dalam bahasa Arab meskipun mereka bukan penutur bahasa Arab. Dan terkadang mereka tidak tahu apa yang mereka katakan. Mereka hanya menghafal kata-katanya.
Lalu, bagaimana sekarang ini seseorang bisa berdoa dalam bahasa Inggris?
Nah, sebagian besar buku panduan sholat umat Islam telah ditulis dengan apa yang dimaksud. Pertama-tama, kalau memang ditujukan untuk pembaca berbahasa Inggris, semua penjelasan dan petunjuknya pasti ditulis dalam bahasa Inggris.
Tetapi bila menyangkut apa yang harus dibaca, apa yang harus dibaca ditulis dalam tiga cara. Seringkali pada awalnya ditulis dalam aksara Arab. Kedua, kata-kata bahasa Arab dieja menggunakan aksara Inggris. Dan kemudian yang ketiga, ada terjemahan bahasa Inggrisnya.
Jadi, seseorang yang baru masuk Islam dapat mulai dengan melafalkan terjemahan bahasa Inggrisnya. Kemudian mungkin pada tahap kedua, seseorang mungkin mulai melafalkan kata-kata bahasa Arab, mengikuti aksara Inggris.
"Dan mungkin kemudian hari seseorang akan belajar bahasa Arab, agar dapat membaca huruf Arab juga," jelas Shabir.
5 Pembenci Islam Jadi Mualaf, Dapat Hidayah dari Video Youtube Hingga Sepakbola
Mereka yang dahulu terkenal sebagai pegiat paham Islamofobia ini mendapat hidayah. [2,209] url asal
#mualaf #pembenci-islam-jadi-mualaf #joram-van-klaveren #alquran #islamofobia-jadi-mualaf #hidayah-bagi-islamofobia #paham-islamofobia #para-mualaf #mualaf-dapat-hidayah #mualaf-di-eropa #islam-di-erop
(Republika - Khazanah) 10/07/24 08:38
v/10310767/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hidayah tak mengenal suku bangsa, ras dan warna kulit. Saat Allah sudah menyentuh jiwa dengan keindahan Islam, sosok yang tadinya keras hati dan penuh benci pun menjadi Muslim. Sudah terbukti banyak sekali mereka yang bahkan secara fisik 'terstigma' sebagai anti Islam karena berkulit putih, bermata biru dan tinggal di Eropa jatuh ke pangkuan agama yang dibawa Rasulullah SAW.
Mereka yang dahulu terkenal sebagai pegiat paham Islamofobia ini mendapat cahaya hidayah hingga menjadi mualaf. Berikut lima diantaranya yang dirangkum Republika.
1. Joram Van Klaveren
Joram Van Klaveren adalah seorang penulis buku anti Islam. Ia menjadi tangan kanan Geert Wilders, yang menyusun pesan-pesan Partai Kebebasan (PVV) yang menggambarkan Islam sebagai agama “kebohongan” dan mendorong agar Alqur’an dan masjid dilarang di Belanda.
Tetapi itu dulu, Joram van Klaveren kini adalah seorang mualaf dan saat ini terus berupaya secara aktif membongkar mitos-mitos yang dulu pernah ia gembar-gemborkan tentang Islam
“Hal-hal yang saya bantu kembangkan masih ada, mereka masih menggunakan alat yang saya berikan kepada mereka,” katanya kepada Guardian. “Saya benar-benar mendengar mereka mengatakan hal-hal yang saya buat,” lanjutnya yang dipublikasikan pada Jumat (3/5/2024).
Buku anti Islam karyanya, kembali mencuat di Belanda dalam beberapa bulan terakhir, ketika PVV muncul sebagai partai dengan suara terbanyak dalam pemilu Belanda baru-baru ini, sejalan dengan lonjakan platform nativis dan populis di seluruh Eropa. “Saya berada dalam politik anti-Islam selama 12 tahun, jadi saya harus melawan narasi ini setidaknya selama 12 tahun untuk menyamakan kedudukan,” kata pria berusia 45 tahun itu.
Dibesarkan dalam keluarga Protestan yang sangat religius di Amsterdam, Van Klaveren mengatakan kekhawatiran awalnya terhadap Islam dipengaruhi oleh gerejanya. Citra Islam di matanya semakin memburuk setelah peristiwa 11 September dan pembunuhan tragis sutradara film Theo van Gogh oleh seorang Muslim yang menggambarkan dirinya sebagai seorang jihadis, yang kemudian mendorong Van Klaveren untuk bergabung dengan partai Wilders pada 2010.
Sejak itu, ia mulai aktif dalam gerakan melarang kehadiran masjid-masjid dan alquran di Belanda. Ia juga melakukan segala cara untuk melarang sekolah Islam dan pelajaran bahasa Arab di Belanda. “Saat itu, saya pikir itu adalah hal yang baik karena kami memerangi Islam,” imbuhnya.
Van Klaveren kemudian memutuskan hubungan dengan Geert Wilders pada tahun 2014 setelah rapat umum, di mana pemimpin PVV bertanya kepada pendukungnya apakah mereka menginginkan “lebih sedikit warga Maroko” di negara tersebut. Bagi Van Klaveren, hal itu tampaknya merupakan langkah yang terlalu jauh. “Saya berpikir, ya, saya harus keluar karena sekarang ini sudah menjadi masalah etnis.”
Dia mendirikan partainya sendiri, tetapi gagal mendapatkan satu kursi pun dalam pemilu nasional. Van Klaveren kemudian keluar dari dunia politik, dan menetapkan tujuan untuk menyelesaikan sebuah buku yang telah dia tulis bertahun-tahun sebelumnya. Dia pun membayangkan buku itu sebagai sebuah buku besar akademis yang akan mengungkap ancaman yang ditimbulkan oleh Islam.
Demi bukunya itu, Van Klaveren terjun langsung mencari tahu lebih banyak tentang Islam. Namun semakin dia mendalami ajaran Islam, semakin membuatnya tertarik pada Islam.
Hanya saja, ketertarikannya saat itu ia hempaskan karena pekerjaannya sehari-hari di sebuah stasiun radio evangelis. Lagi-lagi ketika keingin tahuannya tentang Islam mulai kembali menggelitiknya. Dia harus bergulat dengan statusnya sebagai suara umat Kristen konservatif.
Akhirnya hidayah Allah datang. Dia lantas meninggalkan bukunya dan meletakkannya di rak buku di rumahnya.Ketika itu, tiba-tiba buku-bukunya berjatuhan ke lantai. Van Klaveren lantas mengambil sebuah mushaf Alquran yang turut jatuh. Saat ia mengambilnya, Alquran tersebut terbuka dan tepat di surat Alhajj ayat 46.
“Terjemahannya berbunyi: ‘Bukan mata yang buta, tapi hati,’ dan saya berpikir: 'Ya, ini benar-benar masalah saya,” ujar Klaveren.“Kedengarannya seperti dongeng, tapi itu benar-benar terjadi,” tegasnya.
Selanjutnya pada 2019, ia mengumumkan perpindahan agamanya ke publik. Ia sengaja mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi seorang Mualaf sebagai kesempatan untuk meluruskan apa-apa yang telah dibuatnya di masa lalu, tentang anti Islam.
“Dia bilang ‘kamu juga punya tanggung jawab. Karena kamu menghasut kebencian (terhadap Muslim)’,” kata Van Klaveren mengenang nasihat gurunya.
2. Arthur Wagner
Seorang politisi terkemuka dari Alternative for Germany (AfD) telah masuk Islam dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin di partai anti-Muslim tersebut. Arthur Wagner, yang merupakan anggota terke mu ka partai sayap kanan di negara bagian Jerman timur di Bran denburg, mengundurkan diri karena 'alasan pribadi'.
Meskipun Arthur Wagner keluar dari jabatan kepemimpinan AfD di Brandenburg, dia tetap menjadi anggota partai. AfD merupakan partai yang menilai Islam tidak sesuai dengan konstitusi Jerman dan meng ingin kan larangan terhadap menara masjid dan burqa yang menutupi wajah.
AFD menjadi partai terbesar ketiga Jerman di parlemen setelah pemilihan umum September 2017 lalu, dilansir di Huffington Post, Kamis (25/1). Partai anti- Muslim ini mengatakan bahwa hak tersebut merupakan hak konstitusional kebebasan beragama, terlepas dari kehidupan baru Wagner.
"Wagner juga bisa memilih agama lain," ujar Daniel Friese, juru bicara partai. "Wagner mengundurkan diri pada 11 Januari dari dewan negara atas kemauannya sendiri. Baru, setelah itu, diketahui bahwa dia telah masuk Islam," jelas Friese.
Sementara itu, Wagner me nolak berkomentar mengenai sta tus mualafnya. "Itu urusan pribadi saya," katanya. Di negara bagian Brandenburg, Wagner fokus pada gereja dan komunitas iman, menurut media milik pemerintah, Deutsche Welle.
AfD mulai menonjol pada 2015 dengan masuknya pengungsi dan migran ke Eropa. Par tai ini bekerja untuk menarik orang-orang Jerman dengan memicu ketakutan akan perom bak an budaya dan ancaman ter ha dap gaya hidup Jerman aki bat kedatangan migran.
Partai tersebut terpilih se bagai anggota Bundestag atau par lemen untuk pertama kalinya de ngan memenangkan 12,6 per sen suara dalam pemilihan fede ral September 2017. Mereka mem promosikan kebijakan, se perti pemulangan 500 ribu peng ungsi Suriah yang tinggal di Jer man, mengklaim bahwa perang saudara Suriah hampir berakhir. Berita tersebut memicu ce mooh pada media sosial. Banyak pengguna Twitter yang menyerang Wagner karena masuk Islam setelah menjadi pimpinan partai yang telah mencerca keha diran Muslim di Jerman.
Mantan ketua kelompok sayap kanan..
5. Isa Chris Skellorn
Perasaan benci mewarnai perjumpaan awal Isa Chris Skellorndengan Islam. Lelaki asal Leeds, Inggris, itu semula menganggap agama tersebut sebagai sesuatu yang asing (alien) bagi orang-orang Britania dan Eropa umumnya.
Waktu itu, ia memandang ajaran Nabi Muhammad SAW sangat mengancam eksistensi kebudayaan Barat. Untuk mengekspresikan kebenciannya, Chris Skellorn cukup aktif di internet. Melalui akun media sosialnya, ia menyebarkan hasutan-hasutan yang bernada Islamofobia. Tujuannya untuk meyakinkan orang-orang, Islam adalah virus yang menakutkan bagi kehidupan modern.
Di satu sisi, ketika belum menjadi seorang mualaf, Chris mudah terpengaruh pelbagai pemberitaan tentang terorisme yang acap kali disangkutpautkan dengan Islam.
Sebagai contoh, serangan teroris di London pada 7 Juli 2005. Peristiwa nahas itu menelan 52 korban jiwa dan mengakibatkan ratusan orang luka-luka. Oleh berbagai media massa, para pelaku bom bunuh diri itu dicap sebagai kelompok teroris Islamis.
Di sisi lain, Chris sendiri memiliki pengalaman buruk saat masih muda. Sebagai siswa SMA, ia termasuk korban perundungan (bullying). Dan, beberapa perundungnya adalah anakanak keturunan Pakistan yang satu sekolah dengannya. Berkali-kali, ia menerima hantaman dan pukulan dari mereka sehingga membuatnya trauma.
Begitu lulus dari SMA, cara pandang Chris terhadap dunia makin monokrom. Baginya, semua orang Islam adalah musuh yang mesti dienyahkan. Ajaran agama ini baginya hanyalah pendatang yang tidak pantas berada di Inggris, tanah airnya.
Di bangku kuliah, ia diajak seorang kawannya untuk bergabung dengan gerakan Liga Pertahanan Inggris (English Defence League/EDL). Organisasi yang didirikan lima tahun sesudah Peristiwa Bom London itu menganut paham politik sayap-kanan ekstrem. Ideologinya, antara lain, adalah Islamofobia.
Bagai gayung bersambut, Chris merasa sangat cocok dengan EDL. Sejak terdaftar sebagai anggota gerakan tersebut, ia pun aktif dalam berbagai unjuk rasa anti-Islam. Pemuda itu bertemu dengan banyak orang sebayanya yang juga menaruh antipati terhadap Muslimin.
“Awalnya, aku tidak tahu bahwa itu (EDL) adalah sebuah organisasi. Kupikir, aku hanya berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran denganku mengenai masalah besar yang dihadapi kita semua, yakni Islam,” ujar Isa Chris Skellorn kepada Leeds Live, seperti dikutip Republika.co.id beberapa waktu lalu.
Lingkaran pertemanannya di EDL mengubah pribadinya. Chris mulai menyukai minuman keras, bahkan menenggak khamar sampai mabuk. Ia pun tidak ragu-ragu untuk mengonsumsi narkoba. Komunikasinya dengan orang tua tidak lagi baik.
Chris menceritakan pengalaman pertamanya ikut demonstrasi EDL di Leeds. Sebelum turun ke jalan, ia ikut dengan kawan-kawannya untuk membicarakan isi orasi yang hendak disampaikan dalam aksi.
Yang jelas, spanduk dan baliho yang akan dikibarkan mesti memuat pesan anti- Islam yang kuat. Rasanya waktu itu aku sangat antusias. Ikut demonstrasi seperti ikut menonton pertandingan sepak bola di stadion, katanya.
Dua tahun lamanya Chris menjadi anggota EDL Leeds. Belakangan, ia menyadari bahwa dalam masa itu dirinya hanya membebek para petinggi organisasi. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk mengenal atau mencari tahu sendiri segala hal tentang Islam.
Chris awalnya mengira, Islam adalah agama yang seharusnya dipeluk oleh orang-orang non- Eropa saja. Barulah sesudah lewat dua tahun aktif di EDL, ia mafhum bahwa Muslim bukanlah identik dengan kebangsaan tertentu.
Katakanlah, Arab ternyata tidak sama dengan Islam. Bahkan, di dunia Arab pun ada banyak pemeluk Kristen, misalnya.
Pada faktanya, negara dengan jumlah Muslimin terbanyak justru bukan negeri mana pun di Timur Tengah, melainkan Indonesia sebuah republik di Asia Tenggara.
"Islam adalah agama yang mengatasi golongan etnis, kebangsaan, ras, atau warna kulit. Selama dua tahun di sana (EDL), aku hanya menerima dan menerima apa kata orang. Aku belum sampai pada kesadaran, sesungguhnya banyak yang tidak kupahami tentang Islam," ucapnya.
Sampailah ia pada pengujung tahun ketiga sebagai seorang simpatisan gerakan Islamofobia itu. Chris mulai berani untuk mempertanyakan banyak hal tentang ideologi EDL. Pertama-tama, ia hendak menggali, sebenarnya adakah sesuatu sungguh-sungguh berasal dari ajaran Islam yang pantas dibenci oleh dirinya dan manusia pada umumnya?
Benih kesadaran
Chris Skellorn perlahan-lahan menjauh dari berbagai aktivitas EDL. Sebaliknya, ia kian aktif menjelajah internet guna menemukan sumbersumber pengetahuan tentang Islam.
Tidak puas dengan itu, penggemar olah raga sepak bola itu juga menyambangi beberapa toko buku di Leeds. Tujuannya adalah mendapatkan buku-buku tentang ajaran agama tauhid ini, termasuk mushaf Alquran plus terjemahan dan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW
Pada 2013 terjadi perpecahan di tataran pimpinan EDL. Salah seorang tokohnya, Tommy Robinson, memutuskan untuk keluar. Keputusan itu dipengaruhi kedekatannya dengan kelompok pemikir Muslim yang moderat, yakni The Quilliam. Think tank itu berdiri pada 2008. Beberapa inisiatornya adalah kalangan akademisi, seperti Ed Husain dan Maajid Nawaz.
Namanya merujuk pada sosok Abdullah Quilliam (1856-1932), seorang mualaf yang mendirikan masjid pertama di Inggris. Tokoh asal Liverpool itu lahir dengan nama lengkap Willian Henry Quilliam. Putra seorang bangsawan lokal itu menjadi Muslim usai mengunjungi Maroko pada 1887.
Hingga 2010, Chris memang tertarik untuk mempelajari Islam secara mandiri. Namun, dirinya masih mengidap kecanduan akan narkoba dan miras. Hal itu cenderung menghalanginya untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
Bahkan, mulai 2015 dirinya sempat terperosok lagi pada paham Islamofobia. Pada 7 Januari di Paris, Prancis, terjadi penembakan terhadap sejumlah editor Charlie Hebdo. Kejadian itu dilatari kegusaran terhadap karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat media massa satir tersebut.
Siapa sangka, hidayah Allah menerangi hatinya dengan jalan berbeda. Pada suatu malam, Chris menemukan sebuah video di Youtube mengenai status Yesus (Nabi Isa). Tayangan itu menegaskan bahwa Nabi Isa adalah seorang utusan Tuhan, bukan anak Tuhan".
Chris senang menyaksikan video itu karena sejak kecil dirinya pun dididik dengan pemahaman demikian. Semula, ia mengira tayangan itu dibuat oleh sebuah denominasi Nasrani. Keesokan harinya, dirinya bekerja seperti biasa dan pulang larut malam.
Chris pun memanggil taksi. Dalam perjalanan pulang, ia pun menuturkan video yang ditontonnya kemarin. Ternyata, sopir kendaraan ini adalah seorang Muslim. Menanggapi cerita Chris, pengemudi itu menyatakan bahwa Islam mengajarkan, Nabi Isa adalah utusan Allah. Dan, Tuhan tidak beranak, tidak pula diperanakkan. "Begitu tahu dia (sopir taksi) adalah orang Islam, langsung aku katakan, 'Kamu Muslim, kamu teroris!' Tidak disangka, dia tersenyum saja mendengar perkataanku," kenang Chris.
Sampai di depan rumahnya, Chris pun turun dari taksi. Sambil menerima bayaran, sopir tersebut dengan tenang berkata kepadanya, Coba Anda tonton hingga tuntas video itu. Beberapa hari berlalu. Karena kejadian di taksi itu, Chris berupaya untuk tidak lagi menonton video tersebut.
Namun, hatinya justru merasa terpanggil untuk menyimak hingga tuntas tayangan di Youtube itu. Seolah-olah hatiku berkata, aku harus mencari tahu kebenaran, ujarnya.
Masuk Islam
Beberapa pekan lamanya, Chris Skellorn meng ikuti kajian yang diadakan saluran Youtube itu. Ia pun makin yakin akan kebenaran risalah Islam.
Agama ini mengajarkan, Nabi Isa adalah salah satu dari sekian banyak orang mulia yang menjadi utusan Allah SWT di sepanjang sejarah. Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Risalah yang dibawa beliau berlaku hingga akhir zaman kepada seluruh umat manusia.
Inilah yang menjelaskan, Islam mengatasi segala identitas suku, bangsa, dan warna kulit. Akhirnya, Chris condong pada keyakinan agama ini.
Suatu hari, ia merekam dirinya sendiri yang sedang berlatih melafalkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Ternyata, video itu kemudian disebarluaskan oleh seorang kawannya yang aktivis EDL ke khalayak luas.
Awalnya, Chris merasa malu untuk mengakui nya. Bahkan, ia beberapa kali menyatakan bahwa video itu hanya editan. Di berbagai platform medsos, ia menulis, "Saya bukan Muslim!"
Akan tetapi, lama kelamaan ia makin sering merenung. Sejak serius mempelajari Islam, dirinya tanpa disadari mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, semisal mabukmabukan atau mengonsumsi narkoba. Dengan penuh kesadaran, ia pun membulatkan tekad untuk menjadi Muslim.
Chris lalu memulai kontak dengan komunitas pemuda Masjid Raya Leeds. Mereka antusias sekali begitu mendengar ada yang hendak masuk Islam.
Tidak lama kemudian, mantan aktivis Islamofobia ini mengucapkan, "Asyhaduan Laa Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah."
5 Pembenci Islam Jadi Mualaf, Dapat Hidayah dari Quran, Video Youtube Hingga Sepakbola
Mereka yang dahulu terkenal sebagai pegiat paham Islamofobia ini mendapat hidayah. [2,209] url asal
#mualaf #pembenci-islam-jadi-mualaf #joram-van-klaveren #alquran #islamofobia-jadi-mualaf #hidayah-bagi-islamofobia #paham-islamofobia #para-mualaf #mualaf-dapat-hidayah #mualaf-di-eropa #islam-di-erop
(Republika - Khazanah) 10/07/24 08:38
v/10281944/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hidayah tak mengenal suku bangsa, ras dan warna kulit. Saat Allah sudah menyentuh jiwa dengan keindahan Islam, sosok yang tadinya keras hati dan penuh benci pun menjadi Muslim. Sudah terbukti banyak sekali mereka yang bahkan secara fisik 'terstigma' sebagai anti Islam karena berkulit putih, bermata biru dan tinggal di Eropa jatuh ke pangkuan agama yang dibawa Rasulullah SAW. Mereka yang dahulu terkenal sebagai pegiat paham Islamofobia ini mendapat cahaya hidayah hingga menjadi mualaf. Berikut lima diantaranya yang dirangkum Republika.
1. Joram Van Klaveren
Joram Van Klaveren adalah seorang penulis buku anti Islam. Ia menjadi tangan kanan Geert Wilders, yang menyusun pesan-pesan Partai Kebebasan (PVV) yang menggambarkan Islam sebagai agama “kebohongan” dan mendorong agar Alqur’an dan masjid dilarang di Belanda.
Tetapi itu dulu, Joram van Klaveren kini adalah seorang mualaf dan saat ini terus berupaya secara aktif membongkar mitos-mitos yang dulu pernah ia gembar-gemborkan tentang Islam
“Hal-hal yang saya bantu kembangkan masih ada, mereka masih menggunakan alat yang saya berikan kepada mereka,” katanya kepada Guardian. “Saya benar-benar mendengar mereka mengatakan hal-hal yang saya buat,” lanjutnya yang dipublikasikan pada Jumat (3/5/2024).
Buku anti Islam karyanya, kembali mencuat di Belanda dalam beberapa bulan terakhir, ketika PVV muncul sebagai partai dengan suara terbanyak dalam pemilu Belanda baru-baru ini, sejalan dengan lonjakan platform nativis dan populis di seluruh Eropa. “Saya berada dalam politik anti-Islam selama 12 tahun, jadi saya harus melawan narasi ini setidaknya selama 12 tahun untuk menyamakan kedudukan,” kata pria berusia 45 tahun itu.
Dibesarkan dalam keluarga Protestan yang sangat religius di Amsterdam, Van Klaveren mengatakan kekhawatiran awalnya terhadap Islam dipengaruhi oleh gerejanya. Citra Islam di matanya semakin memburuk setelah peristiwa 11 September dan pembunuhan tragis sutradara film Theo van Gogh oleh seorang Muslim yang menggambarkan dirinya sebagai seorang jihadis, yang kemudian mendorong Van Klaveren untuk bergabung dengan partai Wilders pada 2010.
Sejak itu, ia mulai aktif dalam gerakan melarang kehadiran masjid-masjid dan alquran di Belanda. Ia juga melakukan segala cara untuk melarang sekolah Islam dan pelajaran bahasa Arab di Belanda. “Saat itu, saya pikir itu adalah hal yang baik karena kami memerangi Islam,” imbuhnya.
Van Klaveren kemudian memutuskan hubungan dengan Geert Wilders pada tahun 2014 setelah rapat umum, di mana pemimpin PVV bertanya kepada pendukungnya apakah mereka menginginkan “lebih sedikit warga Maroko” di negara tersebut. Bagi Van Klaveren, hal itu tampaknya merupakan langkah yang terlalu jauh. “Saya berpikir, ya, saya harus keluar karena sekarang ini sudah menjadi masalah etnis.”
Dia mendirikan partainya sendiri, tetapi gagal mendapatkan satu kursi pun dalam pemilu nasional. Van Klaveren kemudian keluar dari dunia politik, dan menetapkan tujuan untuk menyelesaikan sebuah buku yang telah dia tulis bertahun-tahun sebelumnya. Dia pun membayangkan buku itu sebagai sebuah buku besar akademis yang akan mengungkap ancaman yang ditimbulkan oleh Islam.
Demi bukunya itu, Van Klaveren terjun langsung mencari tahu lebih banyak tentang Islam. Namun semakin dia mendalami ajaran Islam, semakin membuatnya tertarik pada Islam.
Hanya saja, ketertarikannya saat itu ia hempaskan karena pekerjaannya sehari-hari di sebuah stasiun radio evangelis. Lagi-lagi ketika keingin tahuannya tentang Islam mulai kembali menggelitiknya. Dia harus bergulat dengan statusnya sebagai suara umat Kristen konservatif.
Akhirnya hidayah Allah datang. Dia lantas meninggalkan bukunya dan meletakkannya di rak buku di rumahnya.Ketika itu, tiba-tiba buku-bukunya berjatuhan ke lantai. Van Klaveren lantas mengambil sebuah mushaf Alquran yang turut jatuh. Saat ia mengambilnya, Alquran tersebut terbuka dan tepat di surat Alhajj ayat 46.
“Terjemahannya berbunyi: ‘Bukan mata yang buta, tapi hati,’ dan saya berpikir: 'Ya, ini benar-benar masalah saya,” ujar Klaveren.“Kedengarannya seperti dongeng, tapi itu benar-benar terjadi,” tegasnya.
Selanjutnya pada 2019, ia mengumumkan perpindahan agamanya ke publik. Ia sengaja mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi seorang Mualaf sebagai kesempatan untuk meluruskan apa-apa yang telah dibuatnya di masa lalu, tentang anti Islam.
“Dia bilang ‘kamu juga punya tanggung jawab. Karena kamu menghasut kebencian (terhadap Muslim)’,” kata Van Klaveren mengenang nasihat gurunya.
2. Arthur Wagner
Seorang politisi terkemuka dari Alternative for Germany (AfD) telah masuk Islam dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin di partai anti-Muslim tersebut. Arthur Wagner, yang merupakan anggota terke mu ka partai sayap kanan di negara bagian Jerman timur di Bran denburg, mengundurkan diri karena 'alasan pribadi'.
Meskipun Arthur Wagner keluar dari jabatan kepemimpinan AfD di Brandenburg, dia tetap menjadi anggota partai. AfD merupakan partai yang menilai Islam tidak sesuai dengan konstitusi Jerman dan meng ingin kan larangan terhadap menara masjid dan burqa yang menutupi wajah.
AFD menjadi partai terbesar ketiga Jerman di parlemen setelah pemilihan umum September 2017 lalu, dilansir di Huffington Post, Kamis (25/1). Partai anti- Muslim ini mengatakan bahwa hak tersebut merupakan hak konstitusional kebebasan beragama, terlepas dari kehidupan baru Wagner.
"Wagner juga bisa memilih agama lain," ujar Daniel Friese, juru bicara partai. "Wagner mengundurkan diri pada 11 Januari dari dewan negara atas kemauannya sendiri. Baru, setelah itu, diketahui bahwa dia telah masuk Islam," jelas Friese.
Sementara itu, Wagner me nolak berkomentar mengenai sta tus mualafnya. "Itu urusan pribadi saya," katanya. Di negara bagian Brandenburg, Wagner fokus pada gereja dan komunitas iman, menurut media milik pemerintah, Deutsche Welle.
AfD mulai menonjol pada 2015 dengan masuknya pengungsi dan migran ke Eropa. Par tai ini bekerja untuk menarik orang-orang Jerman dengan memicu ketakutan akan perom bak an budaya dan ancaman ter ha dap gaya hidup Jerman aki bat kedatangan migran.
Partai tersebut terpilih se bagai anggota Bundestag atau par lemen untuk pertama kalinya de ngan memenangkan 12,6 per sen suara dalam pemilihan fede ral September 2017. Mereka mem promosikan kebijakan, se perti pemulangan 500 ribu peng ungsi Suriah yang tinggal di Jer man, mengklaim bahwa perang saudara Suriah hampir berakhir. Berita tersebut memicu ce mooh pada media sosial. Banyak pengguna Twitter yang menyerang Wagner karena masuk Islam setelah menjadi pimpinan partai yang telah mencerca keha diran Muslim di Jerman.
Mantan ketua kelompok sayap kanan..
5. Isa Chris Skellorn
Perasaan benci mewarnai perjumpaan awal Isa Chris Skellorndengan Islam. Lelaki asal Leeds, Inggris, itu semula menganggap agama tersebut sebagai sesuatu yang asing (alien) bagi orang-orang Britania dan Eropa umumnya.
Waktu itu, ia memandang ajaran Nabi Muhammad SAW sangat mengancam eksistensi kebudayaan Barat. Untuk mengekspresikan kebenciannya, Chris Skellorn cukup aktif di internet. Melalui akun media sosialnya, ia menyebarkan hasutan-hasutan yang bernada Islamofobia. Tujuannya untuk meyakinkan orang-orang, Islam adalah virus yang menakutkan bagi kehidupan modern.
Di satu sisi, ketika belum menjadi seorang mualaf, Chris mudah terpengaruh pelbagai pemberitaan tentang terorisme yang acap kali disangkutpautkan dengan Islam.
Sebagai contoh, serangan teroris di London pada 7 Juli 2005. Peristiwa nahas itu menelan 52 korban jiwa dan mengakibatkan ratusan orang luka-luka. Oleh berbagai media massa, para pelaku bom bunuh diri itu dicap sebagai kelompok teroris Islamis.
Di sisi lain, Chris sendiri memiliki pengalaman buruk saat masih muda. Sebagai siswa SMA, ia termasuk korban perundungan (bullying). Dan, beberapa perundungnya adalah anakanak keturunan Pakistan yang satu sekolah dengannya. Berkali-kali, ia menerima hantaman dan pukulan dari mereka sehingga membuatnya trauma.
Begitu lulus dari SMA, cara pandang Chris terhadap dunia makin monokrom. Baginya, semua orang Islam adalah musuh yang mesti dienyahkan. Ajaran agama ini baginya hanyalah pendatang yang tidak pantas berada di Inggris, tanah airnya.
Di bangku kuliah, ia diajak seorang kawannya untuk bergabung dengan gerakan Liga Pertahanan Inggris (English Defence League/EDL). Organisasi yang didirikan lima tahun sesudah Peristiwa Bom London itu menganut paham politik sayap-kanan ekstrem. Ideologinya, antara lain, adalah Islamofobia.
Bagai gayung bersambut, Chris merasa sangat cocok dengan EDL. Sejak terdaftar sebagai anggota gerakan tersebut, ia pun aktif dalam berbagai unjuk rasa anti-Islam. Pemuda itu bertemu dengan banyak orang sebayanya yang juga menaruh antipati terhadap Muslimin.
“Awalnya, aku tidak tahu bahwa itu (EDL) adalah sebuah organisasi. Kupikir, aku hanya berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran denganku mengenai masalah besar yang dihadapi kita semua, yakni Islam,” ujar Isa Chris Skellorn kepada Leeds Live, seperti dikutip Republika.co.id beberapa waktu lalu.
Lingkaran pertemanannya di EDL mengubah pribadinya. Chris mulai menyukai minuman keras, bahkan menenggak khamar sampai mabuk. Ia pun tidak ragu-ragu untuk mengonsumsi narkoba. Komunikasinya dengan orang tua tidak lagi baik.
Chris menceritakan pengalaman pertamanya ikut demonstrasi EDL di Leeds. Sebelum turun ke jalan, ia ikut dengan kawan-kawannya untuk membicarakan isi orasi yang hendak disampaikan dalam aksi.
Yang jelas, spanduk dan baliho yang akan dikibarkan mesti memuat pesan anti- Islam yang kuat. Rasanya waktu itu aku sangat antusias. Ikut demonstrasi seperti ikut menonton pertandingan sepak bola di stadion, katanya.
Dua tahun lamanya Chris menjadi anggota EDL Leeds. Belakangan, ia menyadari bahwa dalam masa itu dirinya hanya membebek para petinggi organisasi. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk mengenal atau mencari tahu sendiri segala hal tentang Islam.
Chris awalnya mengira, Islam adalah agama yang seharusnya dipeluk oleh orang-orang non- Eropa saja. Barulah sesudah lewat dua tahun aktif di EDL, ia mafhum bahwa Muslim bukanlah identik dengan kebangsaan tertentu.
Katakanlah, Arab ternyata tidak sama dengan Islam. Bahkan, di dunia Arab pun ada banyak pemeluk Kristen, misalnya.
Pada faktanya, negara dengan jumlah Muslimin terbanyak justru bukan negeri mana pun di Timur Tengah, melainkan Indonesia sebuah republik di Asia Tenggara.
"Islam adalah agama yang mengatasi golongan etnis, kebangsaan, ras, atau warna kulit. Selama dua tahun di sana (EDL), aku hanya menerima dan menerima apa kata orang. Aku belum sampai pada kesadaran, sesungguhnya banyak yang tidak kupahami tentang Islam," ucapnya.
Sampailah ia pada pengujung tahun ketiga sebagai seorang simpatisan gerakan Islamofobia itu. Chris mulai berani untuk mempertanyakan banyak hal tentang ideologi EDL. Pertama-tama, ia hendak menggali, sebenarnya adakah sesuatu sungguh-sungguh berasal dari ajaran Islam yang pantas dibenci oleh dirinya dan manusia pada umumnya?
Benih kesadaran
Chris Skellorn perlahan-lahan menjauh dari berbagai aktivitas EDL. Sebaliknya, ia kian aktif menjelajah internet guna menemukan sumbersumber pengetahuan tentang Islam.
Tidak puas dengan itu, penggemar olah raga sepak bola itu juga menyambangi beberapa toko buku di Leeds. Tujuannya adalah mendapatkan buku-buku tentang ajaran agama tauhid ini, termasuk mushaf Alquran plus terjemahan dan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW
Pada 2013 terjadi perpecahan di tataran pimpinan EDL. Salah seorang tokohnya, Tommy Robinson, memutuskan untuk keluar. Keputusan itu dipengaruhi kedekatannya dengan kelompok pemikir Muslim yang moderat, yakni The Quilliam. Think tank itu berdiri pada 2008. Beberapa inisiatornya adalah kalangan akademisi, seperti Ed Husain dan Maajid Nawaz.
Namanya merujuk pada sosok Abdullah Quilliam (1856-1932), seorang mualaf yang mendirikan masjid pertama di Inggris. Tokoh asal Liverpool itu lahir dengan nama lengkap Willian Henry Quilliam. Putra seorang bangsawan lokal itu menjadi Muslim usai mengunjungi Maroko pada 1887.
Hingga 2010, Chris memang tertarik untuk mempelajari Islam secara mandiri. Namun, dirinya masih mengidap kecanduan akan narkoba dan miras. Hal itu cenderung menghalanginya untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
Bahkan, mulai 2015 dirinya sempat terperosok lagi pada paham Islamofobia. Pada 7 Januari di Paris, Prancis, terjadi penembakan terhadap sejumlah editor Charlie Hebdo. Kejadian itu dilatari kegusaran terhadap karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat media massa satir tersebut.
Siapa sangka, hidayah Allah menerangi hatinya dengan jalan berbeda. Pada suatu malam, Chris menemukan sebuah video di Youtube mengenai status Yesus (Nabi Isa). Tayangan itu menegaskan bahwa Nabi Isa adalah seorang utusan Tuhan, bukan anak Tuhan".
Chris senang menyaksikan video itu karena sejak kecil dirinya pun dididik dengan pemahaman demikian. Semula, ia mengira tayangan itu dibuat oleh sebuah denominasi Nasrani. Keesokan harinya, dirinya bekerja seperti biasa dan pulang larut malam.
Chris pun memanggil taksi. Dalam perjalanan pulang, ia pun menuturkan video yang ditontonnya kemarin. Ternyata, sopir kendaraan ini adalah seorang Muslim. Menanggapi cerita Chris, pengemudi itu menyatakan bahwa Islam mengajarkan, Nabi Isa adalah utusan Allah. Dan, Tuhan tidak beranak, tidak pula diperanakkan. "Begitu tahu dia (sopir taksi) adalah orang Islam, langsung aku katakan, 'Kamu Muslim, kamu teroris!' Tidak disangka, dia tersenyum saja mendengar perkataanku," kenang Chris.
Sampai di depan rumahnya, Chris pun turun dari taksi. Sambil menerima bayaran, sopir tersebut dengan tenang berkata kepadanya, Coba Anda tonton hingga tuntas video itu. Beberapa hari berlalu. Karena kejadian di taksi itu, Chris berupaya untuk tidak lagi menonton video tersebut.
Namun, hatinya justru merasa terpanggil untuk menyimak hingga tuntas tayangan di Youtube itu. Seolah-olah hatiku berkata, aku harus mencari tahu kebenaran, ujarnya.
Masuk Islam
Beberapa pekan lamanya, Chris Skellorn meng ikuti kajian yang diadakan saluran Youtube itu. Ia pun makin yakin akan kebenaran risalah Islam.
Agama ini mengajarkan, Nabi Isa adalah salah satu dari sekian banyak orang mulia yang menjadi utusan Allah SWT di sepanjang sejarah. Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Risalah yang dibawa beliau berlaku hingga akhir zaman kepada seluruh umat manusia.
Inilah yang menjelaskan, Islam mengatasi segala identitas suku, bangsa, dan warna kulit. Akhirnya, Chris condong pada keyakinan agama ini.
Suatu hari, ia merekam dirinya sendiri yang sedang berlatih melafalkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Ternyata, video itu kemudian disebarluaskan oleh seorang kawannya yang aktivis EDL ke khalayak luas.
Awalnya, Chris merasa malu untuk mengakui nya. Bahkan, ia beberapa kali menyatakan bahwa video itu hanya editan. Di berbagai platform medsos, ia menulis, "Saya bukan Muslim!"
Akan tetapi, lama kelamaan ia makin sering merenung. Sejak serius mempelajari Islam, dirinya tanpa disadari mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, semisal mabukmabukan atau mengonsumsi narkoba. Dengan penuh kesadaran, ia pun membulatkan tekad untuk menjadi Muslim.
Chris lalu memulai kontak dengan komunitas pemuda Masjid Raya Leeds. Mereka antusias sekali begitu mendengar ada yang hendak masuk Islam.
Tidak lama kemudian, mantan aktivis Islamofobia ini mengucapkan, "Asyhaduan Laa Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah."